Saturday , January 22 2022
Home / Budaya / Filsafat / Evolusi Darwin Versus Evolusi Rumi

Evolusi Darwin Versus Evolusi Rumi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Saudaraku terkasih, kajian tentang teori evolusi begitu sangat sensitif. Sebab perdebatan panjang di antara para ilmuwan sekitar teori tersebut sejak berabad-abad silam hingga kini masih terjadi.

Namun demikian, meski teori evolusi Darwin dianggap sebagai lokomotif pemikiran atheis, ternyata dalam dunia sufisme juga dikemukakan teori evolusi tapi dalam perspektif yang berbeda.

Seorang Sufi yang melontarkan teori evolusi tersebut adalah Syaikh Jalaluddin Muhammad Rumi, juga dikenal dengan nama Jalaluddin Muhammad Balkhi, atau sering pula disebut Rumi (30 September 1207 – 17 Desember 1273). Beliau menuliskan teori evolusi tersebut dalam bentuk syair yang ditulis dalam Kitab al-Matsnawi.

Teori ‘evolusi Rumi’ dengan gaya bahasa puisi tersebut justru sudah dimunculkan jauh berabad-abad sebelum Darwin. (Jangan-jangan Darwin hanya menyadur pemikiran Rumi lalu mendetilkannya lewat deskripsi ilmiah -pen)

Adalah sosok ilmuwan bernama Charles Darwin (w. 1882), seorang ahli biologi beraliran naturalis berkebangsaan Inggris. Setelah menemukan teori evolusinya yang terkenal itu Darwin tidak lagi menganggap bahwa makhluk-makhluk biologis yang ada di alam semesta ini sebagai hasil ciptaan Tuhan, melainkan semata-mata hasil mekanisme hukum seleksi alamiah (natural selection).

Pandangan seperti ini dalam paradigma keilmuan disebut positivisme. Positivisme sendiri awalnya dibidani oleh dua orang filosof Perancis, yaitu Henry Saint Simont (1760-1825) dan muridnya August Comte (1798-1857). Keduanya berperan menjadikan positivisme sebagai aliran filsafat ilmu yang begitu pervasive dan mendominasi wacana filsafat ilmu abad ke-20.

Positivisme menjadikan empirisme sebagai sumber filosofisnya yang memandang bahwa pengetahuan harus berawal dari verifikasi empiris. Di sini realitas adalah data. Di luar data, segalanya adalah asumsi atau hipotesa. Karena kemampuannya menjelaskan teori evolusi, Darwin merasa tidak membutuhkan lagi hipotesa tentang Tuhan pencipta.

Sebelum teori evolusinya, Darwin adalah seorang Theis (percaya Tuhan) dan pemeluk Kristen yang taat. Sebelumnya ia percaya bahwa fenomena alam yang teratur dan harmonis ini tidak lain hanyalah bukti (ayat) adanya Tuhan. Dalam wacana filsafat agama, argumen seperti itu disebut dalil inayah.

Namun setelah menemukan apa yang disebutnya sebagai hukum seleksi alamiah, Darwin meninggalkan argumentasinya itu dan kemudian menolak keberadaan Tuhan, karena terpengaruh oleh pandangan ilmiahnya. Dalam otobiografinya Darwin mengatakan :

“Dulu orang boleh mengatakan bahwa bukti terkuat adanya Tuhan Sang Pencipta adalah keteraturan dan harmoni alam. Namun setelah hukum seleksi alam ditemukan, kita tidak bisa lagi mengatakan bahwa engsel karang yang indah, misalnya, harus merupakan ciptaan agen di luar dirinya (Tuhan), seperti halnya kita mengatakan bahwa engsel pintu mestilah merupakan ciptaan seorang tukang”.

Dengan teorinya itu, Darwin telah menanggalkan dalil inayah yang semula dianutnya. Peran Tuhan sebagai pencipta dan pemelihara semesta digantikannya dengan natural selection. Sebuah pandangan keilmuan puncak yang umumnya terjadi dalam penganut positivisme. Sehingga dalam pernyataannya yang lain Darwin mengungkapkan :

“Secara perlahan-lahan, aku menjadi tak percaya pada agama Kristen sebagai wahyu ilahi. Ketidakpercayaan itu merayap di atasku secara perlahan-lahan, tetapi akhirnya sempurna”.

Sebagai salah satu aliran filsafat, ternyata positivisme berperan menghentikan filsafat dari kerja spekulatifnya mencari hakikat-hakikat ontologis maupun metafisis yang dijalani selama ribuan tahun. Dalam positivisme filsafat tidak memiliki cara kerja lain selain cara kerja sains.

Di sisi lain, yakni di kalangan Islam, doktrin evolusi juga pernah dianut dengan kuat oleh para filosof dari kalangan Mu’tazilah. Pemikiran filosofis atas persoalan tersebut antara lain dikemukakan oleh Hasan bin Haitam atau Ibnu Haitam sebagai berikut:

“Dalam wilayah alam benda yang ada, kerajaan mineral berada di tempat terbawah, menyusul kerajaan tetumbuhan, binatang dan akhirnya manusia. Manusia dengan badannya, ia termasuk dunia materi, sedangkan jiwanya termasuk bagian dunia immateri atau dunia spiritual. Di atas manusia hanya ada wujud yang benar-benar spiritual -para malaikat-di atasnya lagi hanya ada Tuhan. Tingkat yang terbawah dihubungkan dengan rantai kemajuan ke arah yang tertingi. Tapi jiwa manusia terus menerus berusaha keras menolak belenggu materi dan begitu bebas, jiwa itu naik menuju Tuhan dari mana ia sebenarnya berasal.”

Gagasan ini selanjutnya diungkapkan dengan indah oleh Jalaluddin Rumi dalam karyanya, al-Mastnawi:

“Aku mati sebagai mineral dan menjelma sebagai tumbuhan. Mati sebagai tumbuhan dan lahir kembali sebagai binatang. Aku mati sebagai binatang dan kini manusia. Kenapa aku harus takut? Maut tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku. Sekali lagi! Aku masih harus mati sebagai manusia dan lahir di alam para malaikat. Aku masih harus mati lagi, karena kecuali Tuhan, tidak ada sesuatu yang kekal abadi. Setelah kelahiranku sebagai malaikat, aku masih akan menjelma lagi dalam bentuk yang tak kupahami. Ah, biarkan diriku lenyap, memasuki kekosongan, kesenyapan. Karena hanya dalam kesenyapan itu terdengar nyanyian mulia. Kepada-Nya semua akan kembali”.

Para filsuf Muslim masa lalu tidak menolak konsep evolusi, termasuk Jalaluddin Rumi. Baik Darwin maupun Rumi sama-sama percaya pada evolusi, tetapi keduanya memiliki penjelasan yang berbeda. Jika Darwin membangun pandangannya berlandaskan fenomena empiris-materialistik, dan hukum seleksi alamiah yang bertangungjawab terhadap perkembangan evolutif alam semesta.

Sedangkan bagi Rumi, cinta alam kepada Tuhanlah yang mendorong alam berevolusi. Dalam konsep ini Rumi meletakkan wujud prima kuasa absulot yang dihubungkan dengan rantai yang tak putus-putus dengan ciptaanNya yang paling rendah. Jiwa abstrak yang terwujud dalam individu manusia senantiasa berjuang dengan penyucian hidup, disiplin diri, dan studi intelektual, untuk menggapai tujuan “Kesempurnaan”, yaitu untuk kembali ke Sumber tempat asalnya.

Untuk bisa memahami teori evolusi, kita tak perlu menjadi seorang atheis. Meski sama dalam gagasannya tentang ‘evolusi’, tapi jauh berbeda dalam proses.

Jika Darwin “berevolusi” dengan pandangan materialistiknya, maka Rumi “berevolusi” justru dengan “Cinta Tuhan”. Wallâhu A’lam bish-Shawâb.

__________________

Diinspirasi dari artikel yang ditulis oleh: Aliboron al-Banjary

 

About admin

Check Also

Allah Mengancam Fir’aun Lewat Mimpinya

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...