Home / Agama / Kajian / Dzikir, Do’a dan Wirid

Dzikir, Do’a dan Wirid

Oleh: Admin

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Doa, dzikir, dan wirid. Tiga kata yang tentu tidak asing di telinga kita. Namun, banyak yang tak semua kita pahami dari apa yang sering kita dengar.

Tulisan coba hadir untuk membahas lebih dalam terkait pengertian, definisi, dalil disyariatkannya, persamaan dan perbedaan antara ketiga hal tersebut.

Pengertian Doa Definisi secara bahasa dan istilah

1. Pengertian Doa

Untuk bisa memahami dengan lebih baik dan lengkap tentang hakikat doa, berikut ini adalah penjelasan tentang pengertian doa baik dari segi bahasa maupun dari segi istilah syar’i.

Pengertian doa secara bahasa

Secara bahasa kata الدعاء (doa) itu pada asalnya merupakan mashdar (kata benda yang dibentuk dari kata kerjanya) dari perkataan:

دَعَوْتُ الشَّيْءَ أَدْعُوْهُ دُعَآءً

(Da’autusy syaia ad’ûhu du’âan) maksudnya, anda menundukkan sesuatu untuk Anda dengan suara dan ucapan yang berasal dari Anda.” [Lihat Maqayîsul Lughah 2/279]

Ibnu Manzhur berkata:

دَعَا الرَّجُلَ دَعْوًا وَدُعَآءً: نَادَاهُ

Da’â ar-rajula da’wan wa du’âan” artinya adalah memanggilnya.

وَالْاِسْمُ: الدَّعْوَةُ، وَدَعَوْتُ فُلَانًا

”Bentuk isimnya adalah الدعوة (ad-da’wah) dan kalimat da’autu fulânan artinya adalah aku memanggilnya dan memintanya dipanggil.” [Lisânul ‘Arab, materi : د ع و][1]http://www.alminbar.net

Dari penjelasan di atas kata doa secara bahasa pada intinya berarti permohonan, permintaan atau panggilan.

Pengertian doa secara istilah

Al Khathabi berkata, ”Makna doa adalah seorang hamba memohon pemeliharaan kepada Rabb-nya ‘Azza wa Jalla dan meminta bantuan dari-Nya”.

Hakikat doa adalah menampakkan rasa sangat membutuhkan kepada Allah Ta’ala dan berlepas diri dari daya dan kekuatan yang dia miliki dan ini merupakan ciri penghambaan (‘ubudiyah) serta menyadari kerendahan manusia.

Dan di dalamnya terdapat makna pujian kepada Allah ‘Azza wa jalla serta menyandarkan kemurahan dan kedermawanan kepada-Nya.” [Sya’nud Du’â’ halman 3].

Ibnu Manzhur berkata,”(makna doa adalah) Meminta kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” [Lisânul ‘Arab, materi : د ع و]

2. Dalil disyariatkannya berdoa

Adapun dalil-dalil disyariatkannya berdoa kepada Allah terdapat dalam Al-Quran dan As Sunnah:

Dalil dari Al-Quran

Di dalam Al-Quran banyak ayat yang menunjukkan disyariatkannya berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berikut ini hanya sebagian saja yang kami sebutkan.

Al-Mukmin: 60

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ۞

”Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”

Al-A’raf: 55-56

ٱدْعُوا۟ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ ۞ وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَٰحِهَا وَٱدْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ ٱللّٰهِ قَرِيبٌ مِّنَ ٱلْمُحْسِنِينَ ۞

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Al-A’raf: 29

قُلْ أَمَرَ رَبِّى بِٱلْقِسْطِ ۖ وَأَقِيمُوا۟ وُجُوهَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَٱدْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ ۚ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ ۞

“Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. Dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepada-Nya)”.

Al-Baqarah: 186

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ ۞

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Ali Imran: 38

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُۥ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِى مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ فَنَادَتْهُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَهُوَ قَآئِمٌ يُصَلِّى فِى ٱلْمِحْرَابِ أَنَّ ٱللّٰهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَىٰ مُصَدِّقًۢا بِكَلِمَةٍ مِّنَ ٱللّٰهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ۞

“Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh”.

Dalil dari As-Sunnah/Hadits Nabi

Sedangkan dalil-dalil dari as-sunnah/hadits nabi yang menunjukkan disyariatkannya berdoa kepada Allah di antaranya adalah sebagai berikut:

وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللّٰهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ »

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,”Rasulullah ﷺ bersabda,’Siapa yang tidak meminta kepada Allah, Allah akan murka kepadanya.” [Hadits riwayat Ahmad 2/442, At-Tirmidzi 3373, Ibnu Majah 3827 dan Al-Hakim menshahihkannya 1/491. Adz-Dzahabi sepakat dengannya dan Al-Albani menilainya sebagai hadits hasan di dalam Al-Adab Al-Mufrad 512]

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْر، رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: إِنَّ الدُّعَآءَ هُوَ الْعِبَادَةُ، ثُمَّ قَرَأَ: « اُدْعُوْنِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ، إِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ [غافر: 60] » ، (رواه “أحمد” في “المسند” (18352)، و”البخاري” في “الأدب المفرد” (714).

Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,”Sesungguhnya doa adalah ibadah.” Kemudian beliau membaca:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ۞

“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” [Ghafir /Al-Mukmin: 60] [Hadits riwayat Ahmad di dalam Al-Musnad (18352) dan Al-Bukhari di dalam Al-Adab l-Mufrad (714)]

لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللّٰهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَآءِ

“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia bagi Allah Ta’ala dari doa” [Hadits riwayat At-Tirmidzi (3370), Ibnu Majah (3829) dan Ahmad (8748), Al-Albani menyatakan hadits ini hasan di dalam Shahih at-Tirmidzi (3370), dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Maksud dari hadits ini adalah tidak ada sesuatu dalam ibadah yang lebih utama di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dari doa, karena di dalam doa itu ada penampakan kelemahan dan ketundukan serta rasa sangat butuh kepada Allah dan mengakui kekuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala.[2]https://dorar.net/hadith/sharh/61134

Definisi Dzikir Menurut Bahasa dan Istilah

3. Contoh Doa

Berikut ini adalah contoh beberapa doa yang sering dibaca oleh Rasulullah ﷺ. Misalnya adalah doa agar diberi keteguhan hati dalam melazimi ketaatan kepada Allah Ta’ala:

اَللّٰهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

Allahumma musharrifal quluub sharrif quluubanaa ‘ala tha’atik.

“Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan kepada-Mu.” [Hadits riwayat Muslim no. 2654]

Contoh lain adalah doa yang dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ agar dibaca sebelum mengucapkan salam dari shalat:

اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Allahumma Innii A’udzubika Min ‘Adzaabi Jahannam, Wa Min ‘Adzaabilqabri, Wa Min Fitnatil mahyaa Wal mamaati, Wa Min Syarri Fitnatil Masiihiddajjaal. “Ya Allah! Aku berlindung kepadamu dari siksa Jahannam dan siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.” (Hadits riwayat Muslim, N0. 588)

4. Keutamaan Doa

Berdoa kepada Allah Ta’ala adalah amal shaleh yang memiliki begitu banyak keutamaan. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Berdoa adalah ibadah yang paling mulia di sisi Allah Ta’ala.

Rasulullah ﷺ bersabda:

« لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللّٰهِ تَعَالَى مِنْ الدُّعَاءِ ». [رواه أحمد والبخاري، وابن ماجة، والترمذي والحاكم وصححه، ووافقه الذهبي]

”Tidak ada sesuatu (ibadah) yang lebih mulia bagi Allah Ta’ala daripada doa.” [Hadits riwayat Ahmad, Al-Bukhari, Ibnu Majah, At-Tirmidzi dan Al-Hakim dan dia menshahihkan hadits ini dan Adz-Dzahabi sepakat dengannya.]

2. Berdoa merupakan keselamatan dari kelemahan dan tanda kecerdasan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

« أَعْجَزُ النَّاسِ مَنْ عَجَزَ عَنْ الدُّعَاءِ وَأَبْخَلُ النَّاسِ مَنْ بَخِلَ بِالسَّلَامِ ». [رواه ابن حبان وصححه الألباني]

”Orang yang paling lemah adalah orang yang lemah untuk berdoa. Dan orang yang paling bakhil adalah orang yang bakhil dengan salam.” [Hadits riwayat Ibnu Hibban dan al-Albani menshahihkan hadits ini.]

3. Doa merupakan sebab dihilangkannya bencana

Rasulullah ﷺ bersabda:

« مَنْ فُتِحَ لَهُ مِنْكُمْ بَابُ الدُّعَاءِ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَمَا سُئِلَ اللّٰهُ شَيْئًا يَعْنِي أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يُسْأَلَ الْعَافِيَةَ وَقَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللّٰهِ بِالدُّعَاءِ ». [رواه الترمذي وحسنه الألباني]

”Siapa di antara kalian yang dibukakan pintu doa maka dibukakan baginya pintu-pintu rahmat. Dan Allah tidak dimintai sesuatu yang lebih dia sukai daripada bila Dia dimintai ‘afiyah (keselamatan dari bencana di dunia dan akhirat). Sesungguhnya doa itu bermanfaat bagi apa yang sudah terjadi dan apa saja yang belum terjadi. Maka hendaklah kalian berdoa wahai hamba Allah!” [Hadits riwayat At-Tirmidzi dan Al-Albani menilai ini hadits hasan.][3]https://www.islambook.com/azkar/18/

5. Pengertian dzikir

Berikut ini penjelasan tentang pengertian dzikir baik ditinjau dari segi bahasa maupun ditinjau dari segi istilah syar’i.

Pengertian dzikir secara bahasa

Secara bahasa asal makna dzikir adalah tanbih (peringatan) tentang sesuatu. [Tahdzibul Asmâ’ wal Lughât (3/111)].

Dzikir mengandung makna:

Sesuatu yang berjalan di lisan, maksudnya apa yang diucapkan lisan. Dikatakan:

ذَكَرْتُ الشَّيْءَ أَذْكُرُهُ ذِكْرًا وَذُكْرًا

Dzakartusy syaia adzkuruhu dzikran wa dzukran

“Aku menyebut nama sesuatu itu atau aku berbicara tentang sesuatu tersebut”.

Hal ini seperti firman Allah Ta’ala:

ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا ۞

”(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria.” [Maryam: 2]

Menghadirkan sesuatu di dalam hati, lawan dari lupa. Allah Ta’ala berfirman saat mengisahkan pemuda (murid) Musa ‘alaihish shalatu was salam:

قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى ٱلصَّخْرَةِ فَإِنّى نَسِيتُ ٱلْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلاَّ ٱلشَّيْطَـٰنُ أَنْ أَذْكُرَهُ ۞

”Muridnya menjawab, ”Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.” [Al-Kahfi: 63]

Dzikir digunakan secara umum dalam banyak perkara, di antaranya adalah yang dinukil oleh Al-Qadhy ‘Iyadh dari Al-Harbi bahwasanya dia berkata, “Kata dzikir memiliki 16 pengertian: ketaatan, dzikir lisan, dzikir hati, pemberitahuan, penjagaan, keagungan, kemuliaan, kebaikan, wahyu, al-Qur’an, Taurat, Al-Lauh Al-Mahfuzh, lisan, tafakkur, berbagai shalat, dan satu shalat.”

Al-Qadhy ‘Iyadh juga menambahkan, “Dzikir juga bermakna taubat, keghaiban dan khutbah.” [Masyariqul Anwâr 1/269][4]http://www.alminbar.net/malafilmy/thekr/1.htm#1-1a

Pengertian dzikir secara istilah

Secara istilah syar’i, dzikir memiliki dua makna:

Makna umum

Makna umum ini mencakup setiap jenis ibadah berupa shalat, shiyam (puasa), haji, membaca al-Qur’an, memuji Allah, berdoa, tasbih, tahmid, tamjid dan berbagai jenis ketaatan lainnya.

Hal ini karena semua ketaatan tersebut dilakukan untuk berdzikir kepada Allah, mentaati-Nya dan beribadah kepada-Nya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

كُلُّ مَا تَكَلَّمَ بِهِ اللِّسَانُ وَتَصَوَّرَهُ الْقَلْبُ مِمَّا يُقَرِّبُ إِلَى اللّٰهِ مِنْ تَعَلُّمِ عِلْمٍ وَتَعْلِيْمِهِ وَأَمْرٍ بِمَعْرُوْفِ وَنَهْيِ عَنْ مُنْكَرٍ فَهُوَ مِنْ ذِكْرِ اللّٰهِ

“Apa saja yang diucapkan oleh lisan dan digambarkan oleh hati yang mendekatkan kepada Allah berupa belajar ilmu dan mengajarkannya, memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, maka hal itu termasuk dzikrullah.” [Majmu’ Al-Fatawa 10/661]

Syaikh Abdurrahman bin Sa’di berkata,”Bila dzikrullah itu disebutkan secara lepas (umum) maka meliputi apa saja yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah baik berupa aqidah, pemikiran, amal hati, amal anggota badan, memuji Allah, atau mempelajari ilmu yang bermanfaat dan mengajarkannya, dan seterusnya. Semua itu dzikrullah Ta’ala.” [Ar-Riyâdh An-Nadhrah hal. 245]

Makna khusus

Makna dzikir secara khusus adalah sebagai berikut:

Dzikrullah dengan lafazh-lafazh yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa membaca kitab Allah, atau menjalankan nama-nama Allah atau sifat-sifat-Nya yang tinggi pada lisan hamba atau hatinya dari apa yang terdapat di dalam kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala atau lafazh-lafazh yang datang melalui lisan Rasulullah ﷺ dan di dalamya terdapat pengagungan dan pensucian-Nya, serta mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.[Adzikru wa atsaruhu fi dunyal Muslim wa âkhiratihi, hal. 17-20]

Yang dikehendaki dari dzikir adalah kehadiran hati. Dengan demikian sudah selayaknya kehadiran hati itu menjadi tujuan dari orang yang berdzikir. Orang yang berdzikir akan berusaha keras untuk mewujudkan kehadiran hati, mentadabburi dzikir yang diucapkan dan memahami maknanya. [Al-Adzkar, hal. 31]

Ayat tentang Dzikir Dalam al-Quran dan Hadits

6. Dalil disyariatkannya berdzikir

Berikut ini dalil-dalil yang menunjukkan disyariatkannya berdzikir kepada Allah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dalil-dalil ini diambil dari keterangan Syaikh Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthani.[5]Adzikru wad Du’â’ wal ‘ilâj bir ruqa minal kitab was sunnah, Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, Bab Min Fadhailidz dzikri wa Majalisihi, hal. 9-12.

Dalil dari Al- Qur’an

Al-Baqarah: 152

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ ۞

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”

Al-Ahzab: 41

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ۞

“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.”

Ali Imran: 191

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّٰهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ۞

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Al-Munafiqun: 9

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ ۞

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”

An-Nur: 37

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ ۞

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.”

Al-A’raf: 205

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ ۞

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”

Al-Anfal: 45

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ۞

“Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.”

Al-Baqarah: 200

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۞

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat”.

Al-Jumu’ah: 10

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ۞

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

Ash-Shaffat: 143-144

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ ۞ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ ۞

“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.”

Hadits Disyariatkannya Dzikir Dalam Sunnah Nabi

Dalil dari As- Sunnah

Hadits Qudsi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata,’Rasulullah ﷺ bersabda:

يقولُ اللّٰهُ تَعالَى: أنا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بي، وأنا معهُ إذا ذَكَرَنِي، فإنْ ذَكَرَنِي في نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي، وإنْ ذَكَرَنِي في مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ في مَلَإٍ خَيْرٍ منهمْ، وإنْ تَقَرَّبَ إلَيَّ بشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إلَيْهِ ذِراعًا، وإنْ تَقَرَّبَ إلَيَّ ذِراعًا تَقَرَّبْتُ إلَيْهِ باعًا، وإنْ أتانِي يَمْشِي أتَيْتُهُ هَرْوَلَةً.

”Allah Ta’ala berfirman, ”Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya apabila dia mengingat-Ku (berdzikir kepadaku). Jika dia mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya di dalam diri-Ku”. Dan jika dia mengingat-Ku di sebuah kumpulan maka Aku mengingatnya di sebuah kumpulan yang lebih baik dari mereka. Jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa (dua hasta). Dan jika dia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku mendatanginya dengan bergegas (lebih cepat).” [Al-Bukhari 8/171 dan Muslim 4/2061. Lafazh hadits ini milik Al-Bukhari.]

Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

وعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ – صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : « سَبَقَ المُفَرِّدُوْنَ » قَالُوا : وَمَا الْمُفَرِّدُوْنَ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ ؟ قَالَ: « الذَّاكِرُوْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ » . (رواه مسلم.)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Al-Mufarridun telah mendahului.” Para sahabat bertanya, “Siapakah al-Mufarridun itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah.” [Hadits riwayat Muslim, no. 2062 dan selainnya]

Hadits dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu

وَعَنْ عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ بُسْرٍ – رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَجُلاً قَالَ : يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَليَّ، فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبْثُ بِهِ قَالَ : لاَ يَزالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللّٰهِ

Dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang pria berkata,” Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam ini telah banyak bagi saya, maka beritahulah saya sesuatu yang bisa saya pegang teguh (tekuni).” Beliau menjawab, “Hendaklah lisanmu selalu basah karena berdzikir kepada Allah.” [Hadits riwayat At-Tirmidzi dengan lafazhnya 5/458, Ibnu Majah 2/1246, Ahmad 4/188 dan Al-Hakim 1/495 dan dia menshahihkannya dan disepakati oleh Adz – Dzahabi. Lihat Takhrijul Kalim karya Al-Arnauth, hal. 28].

7. Contoh Dzikir

Dzikir yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ begitu banyak jumlahnya. Beliau senantiasa berdzikir dalam setiap kesempatan. Di antara contoh dzikir yang dianjurkan oleh Nabi ﷺ untuk kita baca adalah sebagai berikut:

1. Dzikir sehabis shalat wajib.

Yaitu dengan membaca:

سُبْحَانَ اللّٰهِ «33»، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ «33»، وَاللّٰهُ أَكْبَرُ «33»

Subhanallah 33 kali, Al-hamdulillah 33 kali dan Allahu Akbar 33 kali. Kemudian disempurnakan menjadi 100 dengan membaca:

لَآ إِلَـهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

Laa ilaha illallah wahdahu, laa syariikalah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir.

“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, dan Allah Maha Besar (33 x). Tidak ada Ilah (sesembahan berhak diibadahi dengan benar) kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan. Bagi-Nya pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” [Hadits riwayat Muslim no. 597]

2. Dzikir sebelum tidur

Dzikir sebelum tidur yang disunnahkan oleh Nabi Muhammad ﷺ adalah membaca surat Al-Ikhlash, Al-Falaq dan An-Naas, ayat kursi, dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah (285-286), membaca Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali dan Allahu Akbar 34 kali.

Juga ada beberapa dzikir lain di antaranya:

بِاسْمِكَ اللّٰهُمَّ أَمُوْتُ وَأَحْيَا

Bismika allahumma amuutu wa ahyaa.

“Dengan nama-Mu, ya Allah! Aku mati dan hidup.”

3. Dzikir saat jalanan menanjak dan menurun di perjalanan

Bila seseorang sedang bepergian kemudian jalannya menanjak naik maka hendaklah membaca takbir dan ketika jalanan menurun disunnahkan untuk membaca Subhanallah. Ini berdasarkan hadits Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

وَكَانَ النَّبِىُّ – صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَجُيُوْشُهُ إِذَا عَلَوُا الثَّنَايَا كَبَّرُوا وَإِذَا هَبَطُوا سَبَّحُوا

Nabi ﷺ dan pasukannya apabila melewati jalanan perbukitan yang menanjak, mereka bertakbir, dan apabila mereka turun, mereka bertasbih. [Hadits riwayat Imam Abu Daud 2601 dan dishahihkan oleh al-Albani]

8. Keutamaan Dzikir

Keutamaan dzikir sangatlah banyak. Di dalam kitab Al-Wabil Ash-Shayyib Minal kalimit Thayyib, Al Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah menjelaskan 79 keutamaan berdzikir kepada Allah. Dalam kesempatan kali ini, kami hanya menukil 3 hadits saja tentang keutamaan dzikir.

1. Dikelilingi malaikat, diliputi oleh rahmat, turunnya ketenangan dan disebut-sebut oleh Allah di antara makhluk di sisi-Nya.

Ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah dan Abi Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhuma. Mereka berdua menyaksikan Nabi ﷺ bersabda:

لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللّٰهَ إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمُ اللّٰهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ.

”Tidaklah sekelompok orang duduk sambil berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla kecuali Malaikat akan mengelilingi mereka, rahmat Allah akan meliputi mereka dan ketenangan akan turun kepada mereka, serta Allah akan menyebut-nyebut (nama-nama) mereka di antara makhluk yang ada di sisi-Nya.” [Hadits riwayat Muslim 4/2074 dan Syarhus Sunnah 5/10]

2. Perbedaan antara orang yang berdzikir kepada Allah dengan yang tidak berdzikir adalah seperti orang hidup dan mayit.

Ini berdasarkan hadits dari hadits dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu.

وَعَنْ أَبِي مُوْسَى الأَشْعَرِي – رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ – ، عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : « مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُهُ مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ » .( رَوَاهُ البُخَارِيُّ ) .

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ , beliau bersabda,”Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dan orang yang tidak berdzikir kepada Rabbnya adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.” [Al-Bukhari 7/167 dan Muslim 1/539. Lafazh hadits ini milik Al-Bukhari dan Syarhus Sunnah 5/14]

3. Berdzikir kepada Allah itu lebih baik dari berinfak dan berperang di jalan Allah

Ini berdasarkan hadits dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu.

وَعَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ – رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ – صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : « أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمالِكُمْ ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ ، وَخَيرٍ لَكُمْ مِنْ إنْفَاقِ الذَّهَبِ والفِضَّةِ ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أعْنَاقَكُمْ ؟ » قَالَوا : بَلَى ، قَالَ : « ذِكْرُ اللّٰهِ تَعَالَى »

Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,’Rasulullah ﷺ bersabda,’ Maukah kalian aku beritahu amal kalian yang paling baik dan paling suci di sisi Raja kalian (yaitu Allah Ta’ala), dan yang paling tinggi derajatnya untuk kalian, dan lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, serta lebih baik bagi kalian daripada kalian bertemu dengan musuh kalian lalu kalian menghantam leher mereka dan mereka menghantam leher kalian?” Para sahabat berkata, “Ya, tentu saja.” Beliau menjawab, “Berdzikir kepada Allah Ta’ala.” [Hadits riwayat At-Tirmidzi 5/458, Ahmad 6/447, Ibnu Majah 2/1245, Isnadnya shahih. Malik mengeluarkan hadits ini di Al-Muwatha’ 1/211, Al-Baghawi di dalam Syarhus Sunnah 5/16 dan Al-Hakim menshahihkannya dan Adz-Dzahabi sepakat dengannya 1/496. Lihat Takhrijul Kalim karya Al-Arnauth hal. 27.]

Pengertian Wirid Secara Bahasa dan Istilah

9. Pengertian Wirid

Berikut ini penjelasan wirid dari segi bahasa dan dari segi istilah syar’i. Untuk penjelasan wirid dari segi bahasa, kami sarikan dari penjelasan Dr. Rasyid Al-‘Umuri.

Selain itu juga kami tambahkan dari penjelasan Markazul Fatwa yang berada di bawah pengawasan Dr. Abdullah Al-Faqih Asy-Syinqithi.

Pengertian wirid secara bahasa

Makna bahasa dari الوِرْدُ (wirid) adalah putaran kedatangan air, ini asal maknanya. Makna lainnya adalah bagian dari waktu malam yang dipakai shalat oleh seseorang.

Selain itu juga bermakna bagian-bagian Al-Qur’an dan dzikir yang diambil oleh seseorang untuk dirinya sendiri dan dia tekuni. Makna yang seperti ini berdekatan dengan makna secara istilah.[6]https://islamanar.com/

Menurut penulis Lisanul ‘Arab (Ibnul Manzhur) wirid secara bahasa berarti satu bagian dari Al-Quran. Anda berkata:

قَرَأْتُ وِرْدِيْ

”Qara’tu wirdî: Aku membaca wiridku.” Jamaknya adalah أوراد (Aurâd). Hingga dia berkata:

Dikatakan kepada seseorang “setiap malam ada wirid yang dia baca” maksudnya ukuran yang sudah diketahui, bisa jadi sepertujuh, atau setengah atau yang semacam itu.

Dikatakan: قرأ ورده وحزبه (qara’a wirdahu wa hizbahu/dia membaca wiridnya dan hizibnya) itu satu makna. Kemudian wirid juga berarti bagian dari waktu malam yang seseorang shalat di dalamnya.” Sampai di sini keterangan Ibnul Manzhur.

Jadi secara umum wirid berarti dzikir dan shalat yang biasa dilakukan oleh seseorang.[7]https://www.islamweb.net

Pengertian wirid secara istilah

Menurut Dr. Rasyid ‘Umuri, makna wirid secara istilah berdasarkan sekumpulan hadits adalah sekumpulan hizib dan dzikir yang dilazimi oleh seseorang dan ditekuninya dengan tujuan untuk taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.[8]https://islamanar.com

Persamaan antara doa, dzikir dan wirid

10. Contoh Wirid

Sebagaimana diterangkan oleh Markazul Fatwa di bawah pengawasan Dr.Abdullah Al-Faqih Asy-Syinqithi bahwa yang dimaksud dengan wirid secara umum adalah dzikir dan shalat yang biasa dilakukan oleh seseorang.

Contohnya adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ pernah bersabda dalam hadits yang shahih:

سَمِعْتُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ نَامَ عَنْ حِزْبِهِ، أَوْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ، فَقَرَأَهُ فِيْمَا بَيْنَ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَصَلَاةِ الظُّهْرِ، كُتِبَ لَهُ كَأَنَّمَا قَرَأَهُ مِنَ اللَّيْلِ

”Siapa yang tertidur meninggalkan ‘hizib’nya di malam hari, lantas dia membacanya diantara shalat shubuh dan shalat dzuhur, maka seolah dia telah membacanya di malam hari.” (Hadits riwayat Muslim).

Ibnu al-Atsir (w. 606 H) menjelaskan apa arti dari hizib, beliau mengatakan bahwa:

الْحِزْبُ مَا يَجْعَلُهُ الرَّجُلُ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ قِرَاءَةٍ أَوْ صَلَاةٍ كَالْوِرْدِ

Hizib adalah sesuatu bacaan atau shalat yang dirutinkan oleh seseorang, seperti wirid. (Majduddin Ibn al-Atsir w. 606 H, an-Nihayah fi Gharib al-Hadits wa al-Atsar, h. 1/ 376).

Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) mempunyai wirid shalat sehari semalam sebanyak 300 rakaat, saat sakit beliau kurangi sampai 150 rakaat.

Abu Nu’aim al-Ashbahani (w. 430 H) menukil perkataan anak dari Imam Ahmad bin Hanbal; Abdullah bin Ahmad:

حَدَّثَنَا سُلُيْمَانُ، ثَنَا عَبْدُ اللّٰهِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلَ، قَالَ: كَانَ أَبِيْ يُصَلِّيْ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ثَلَاثُمِائَةِ رَكْعَةٍ، فَلَمَّا مَرِضَ مِنْ تِلْكَ الْأَسْوَاطِ أَضْعَفَتْهُ، فَكَانَ يُصَلِّيْ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ مِائَةَ وَخَمْسِيْنَ رَكْعَةٍ، وَكَانَ قَرُبَ الثَّمَانِيْنَ

Bapak saya (Imam Ahmad bin Hanbal) dahulu tiap sehari-semalam shalat sebanyak 300 rakaat, ketika sakit beliau shalat sekitar 150 rakaat, yaitu saat mendekati usia 80 tahun. (Abu Nu’am al-Ashbahani w. 430, Hilyat al-Auliya wa Thabaqat al-Ashfiya’, h. 9/ 181 H).[9]https://khaledalsabt.com/

11. Keutamaan wirid

Keutamaan dari wirid yang sesuai dengan sunnah yang shahih adalah sebagai berikut:

1. Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang terus menerus dilakukan meskipun sedikit.

Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللّٰهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang paling kontinyu dilakukan walaupun sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya.[Hadits riwayat Muslim no. 783]

2. Tetap mendapat pahala amal saat wiridnya terhalang udzur syar’i

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

”Apabila seseorang sakit atau melakukan safar, maka akan dicatat untuknya (bahwa dia tetap melakukan) amalan sebagaimana amalan rutin yang dia lakukan ketika dalam keadaan mukim (tidak bepergian) dan sehat.”[ Hadits riwayat Al-Bukhari no. 2996]

12. Persamaan antara doa, dzikir dan wirid

Menurut Dr. Khalid bin Utsman As-Sabt, dzikir dalam maknanya yang umum masuk mencakup dzikrul lisan, hati dan anggota badan dan seluruh amal shalih. Dan yang masuk ke dalam dzikir lisan adalah memuji Allah, menerangkan sifat-sifat Allah yang sempurna, membaca al Qur’an, dan berdoa. Semua ini masuk ke dalam dzikrul lisan.[10]https://rumahfiqih.com/y.php?id=356

Dari keterangan di atas, sangat jelas bahwa doa merupakan salah satu jenis dari bentuk dzikir yang bersifat umum. Doa merupakan bentuk dzikir dengan lisan.

Sementara kalau mengacu kepada definisi wirid secara istilah, maka dzikir dan doa yang dilazimi oleh seorang muslim itu merupakan suatu wirid. Dari sini nampak benang merah antara doa, dzikir dan wirid.

Doa adalah bagian dari dzikir. Dzikir yang ditekuni secara rutin dan terus menerus itu dinamakan dengan wirid.

Perbedaan antara doa, dzikir dan wirid

13. Perbedaan antara doa, dzikir dan wirid

Bila doa merupakan bagian dari dzikir, lantas adakah perbedaan antara doa dan dzikir. Ya, ada. Dr. Khalid bin ‘Utsman As-Sabt menjelaskan sebagai berikut:

”Doa adalah permintaan dengan kata atau perbuatan. Adapun dzikir maka apa yang harus dikatakan sesuai ketentuan syariat untuk mensucikan atau memuji Allah Ta’ala yang dikatakan di waktu dan keadaan tertentu atau secara mutlak.

Jadi, kita bedakan antara orang yang mengangkat tangannya lalu berkata,”Ya Allah rahmatilah hamba, ampunilah hamba, cukupilah kebutuhan hamba, berilah hamba petunjuk dan selamatkanlah hamba (dari segala bencana)” dengan orang yang berkata, ”Subhanallah, wal-hamdullah, wa laa ilaaha illallah, wallahu akbar”.

Jadi dalam makna yang umum semua itu tadi adalah dzikir. Mereka semua berdzikir kepada Allah. Dan dalam makna yang lebih khusus maka dzikir itu berupa seperti, “Subhanallah, wal-hamdulillah, Subahanallahi wa bihamdih, Subhanallahil ‘adzhim” dan yang semisalnya.”

Doa dan dzikir dilakukan tidak secara terus menerus. Bila bukan sesuatu yang ditekuni oleh seseorang, maka dzikir dan doa semacam itu tidak menjadi sebuah wirid. Karena ciri khas wirid adalah adanya dzikir yang dilazimi secara tekun dan terus menerus oleh seseorang.

Misalnya ada orang yang terus menerus membaca al-Quran setiap malam satu juz. Dia tidak akan tidur kecuali setelah membacanya.

Maka membaca al- Quran satu juz ini sudah menjadi wiridnya. Dzikir berupa membaca Al-Qur’an itu sudah menjadi bagian dari wirid malamnya.

Bila hanya kadang membaca kadang tidak maka membaca al-Quran belum menjadi wiridnya. Demikian pula dengan doa.

Bila seseorang setiap keluar masuk rumah senantiasa membaca doa maka doa masuk dan keluar rumah itu sudah menjadi wiridnya.

Namun bila membaca hanya pas ingat atau lagi mood saja maka doa keluar masuk rumah semacam itu belum menjadi wiridnya. Dari sini menjadi jelas perbedaan antara doa, dzikir dan wirid. Semoga tulisan ini bermanfaat.

__________

Source: Wisata Buku

Catatan Kaki[+]

About admin

Check Also

Bashîrah; Alat Melihat Hakikat Allah Ta’ala

“Bila masih banyak kebingungan menghadapi berbagai masalah di dunia ini, apakah sebagai pertanda bahwa bashîrah ...