Home / Agama / Kajian / Dua Jenis Keikhlasan Menurut Syaikh Ibnu Athaillah as-Sakandari

Dua Jenis Keikhlasan Menurut Syaikh Ibnu Athaillah as-Sakandari

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Saudaraku, kadar keikhlasan seseorang satu sama lain tidaklah sama. Bergantung dari pemahamannya tentang Tuhan. Semakin dalam ma’rifatnya tentang Tuhan, semakin dalam pula kadar keikhlasannya. Semakin tidak mengerti tentang Tuhan, semakin dangkal pula kadar keikhlasannya.

Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam Kitab al-Hikam nomor hikmat ke-10, menuturkan:

اَلْأَعْمَالُ صُوَرٌ قَائِمَةٌ وَأَرْوَاحُهَا وُجُوْدُ سِرِّ الْإِخْلَاصِ فِيْهَا

“Amal perbuatan itu adalah kerangka yang tegak, sedang ruh (jiwa)-nya ialah ketika terdapat rahasia ikhlas (ketulusan) dalam amal perbuatan itu”.

Keikhlasan seseorang dalam amal perbuatannya dibagi menurut tingkat kedudukannya. Dalam tingkatan tertingginya, keikhlasan itu dibagi dalam dua kategori; keikhlasan orang-orang Abrar (orang-orang yang rajin ibadah) dan keikhlasan orang-orang Muqarrabin (orang-orang yang sangat dekat dengan Allah SWT).

Keikhlasan orang Abrar ialah apabila amal perbuatannya itu telah bersih dari riya, yang jelas maupun yang samar. Sedangkan tujuan amal perbuatan mereka hanya selalu kepada pahala yang dijanjikan oleh Allah kepada hamba-Nya yang ikhlas.

Dan ini terambil dari ayat: “Iyyāka na’budu.” (Hanya Engkaulah yang kami sembah) (QS al-Fatihah [1]: 5), dan tiada kami mempersekutukan Engkau dalam ibadahku ini kepada sesuatu yang lain.

Sedangkan keikhlasan orang-orang Muqarrabin itu berada pada kesadaran bahwa kekuatan diri sendiri itu tidak berdaya, semua itu hanya berasal dari Allah.

Jenis keikhlasan orang-orang Muqarrabin ini adalah mereka yang menerapkan pengertian: “Lā haula wa lā quwwata illā billāhi.” (Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah)

Orang-orang seperti ini merasa bahwa semua amal perbuatannya ada semata-mata karena karunia Allah kepadanya, sebab Allah-lah yang telah memberi hidayat dan taufiq kepadanya.

Hal ini terambil dari ayat: “Iyyāka nasta’īn.” (Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan) (QS al-Fatihah [1]: 5), sebab kami sendiri tidak berdaya.

Amal orang abrar dinamakan Amal lillah: Beramal karena Allah. Sedangkan amal orang muqarrabin dinamakan Amal billahi: Beramal dengan bantuan karunia Allah.

Amal lillah hanya menghasilkan sekadar perhatian kepada hukum lahir, sedangkan Amal billahi menembus ke dalam perasaan hati.

Seorang guru berkata, “Perbaikilah amal perbuatanmu dengan ikhlas, dan perbaikilah keikhlasanmu itu dengan perasaan tiada kekuatan diri sendiri, sedangkan semua kejadian itu semata-mata hanya karena bantuan pertolongan Allah ta’ala.”

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللّٰهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.“ (QS. An-Nisa: 125)

 

 

About admin

Check Also

Pilihlah Agama dengan Teks atau Tanpa Teks

“Beragama tidaklah sempurna tanpa menggabungkan agama tekstual dengan agama ritual spiritual” Oleh: H. Derajat بِسْمِ ...