Wednesday , December 1 2021
Home / Agama / Kajian / “Dan Aku Seorang Pengkhianat??!!”

“Dan Aku Seorang Pengkhianat??!!”

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Wasshalaatu wassalaamu ‘alaa Muhammadin wa aalihi ma’at tasliimi wabihii nasta’iinu fii tahshiilil ‘inaayatil ‘aammati wal-hidaayatit taammah, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

Saudaraku yang sangat kucintai dan kukasihi….

Ketika aku dengan gencar mengumandangkan dan memerintahkan kepada sahabat-sahabatku dengan kalimat: “Tanamkan dalam jiwamu bahwa Ideologimu adalah “Laa ilaaha illaa Allah !!!“, maka dengan lantang engkau akan menuduhku Islam ekstrim, pengkhianat bangsa dan tuduhan keji lain yang menghinakanku. Eit…tunggu dulu sahabat.

Ideologi berkebangsaanku, ideologi pergaulanku, ideologi nasionalismeku, ideologi jalan kehidupanku bersama kalian tetaplah PANCASILA yang adalah produk pendiri bangsa ini bersama para ulama pendahuluku. Namun, apakah semua yang kukatakan ini keluar dari aqidah yang selama ini aku ikrarkan dalam shalatku :

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am : 162)

So, jangan pernah ragukan ke-PANCASILAAN-ku karena aku berpancasila adalah untuk merealisasikan pedoman kehidupanku “dari Allah, untuk Allah dan bersama Allah”.

Jangan pernah takut mengumandangkan Kalimat Tauhid, jangan pula takut menuliskan kalimat Tauhid dan jangan pula takut meyakinkan dan menancapkan akidah kalimat Tauhid karena itu ideologi kehidupanmu yang sesungguhnya.

Pengertianmu tentang makna Laa ilaaha illaa Allah memastikan pada level mana engkau berada.

Laa ilaaha illaa Allah sebagiannya bermakna:

1. Laa ma’buuda bihaqqin illaa Allah, tiada bentuk peribadatanku (pengabdianku) dengan sesungguhnya kecuali Allah.

Engkau mengabdi sebagai ASN, engkau mengabdi sebagai aparatur TNI/POLRI, sebagai pedagang, sebagai pengusaha dll., haruslah diyakinkan sebagai pengabdianmu pada Tuhanmu sehingga engkau tidak menjadi pengkhianat pada tempatmu mengabdi.

2. Laa mahbuuba bihaqqin illaa Allah, tiada yang kucintai dengan sesungguhnya kecuali Allah.

Engkau mencintai bangsamu, mencintai anak istrimu, mencintai keluargamu, mencintai teman dan pimpinanmu, mencintai semua makhluk, tiada lebih, karena engkau meyakini bahwa mereka adalah makhluk Tuhan yang tiada diciptakan dengan sia-sia. Mereka adalah “Cermin Tuhan” dalam kehidupanmu.

3. Laa maqshuuda bihaqqin illaa Allah, tiada tujuan dalam hidupmu yang sesungguhnya kecuali Allah.

Engkau pergauli sahabatmu, engkau pergauli keluargamu, anak dan istrimu, engkau pergauli sebangsamu bahkan seluruh makhluk di dunia ini karena engkau adalah khalifah (pengganti) Tuhan di muka bumi ini yang harus menjadi Rahmat bagi seluruh alam.

4. Laa maujuuda bihaqqin illaa Allah, engkau harus yakin bahwa tiada yang wujud kecuali Allah.

Sungguh, Allah itu Maha Ahad, Maha Tunggal yang CahayaNya meliputi seluruh alam semesta ini. Sebuah Kesatuan yang tak kan mungkin terpisahkan dari Dia Yang Maha Ahad. Sahabatmu, istrimu, anakmu, ibu-bapakmu, teman sebangsamu bahkan seluruh makhluk di dunia ini adalah pancaran Tuhan, bayang-bayang Tuhan, ciptaan Tuhan yang dibuatNya tidak dengan sia-sia sehingga kasih sayangmu haruslah mendahului rasa bencimu kepada mereka.

Bila rasa bencimu, rasa ingin menghukummu, rasa ingin menjatuhkanmu, rasa ingin menjelekkanmu kepada mereka mendahului kasih sayangmu kepada mereka maka yakinlah engkau telah menjadi pengkhianat kepada amanah Tuhanmu.

Inilah sebagian paparanku terhadap makna Laa ilaaha illaa Allah, kalimat Tauhid yang telah tertanam dalam hatiku yang menjadi pedoman kehidupanku. Setelah ini, apakah kalian ingin menuduhku Islam Ekstrim karena aku bertauhid? Apakah kalian ingin mencapku pengkhianat kepada bangsa dan negaraku ?

Ikrar Laa ilaaha illaa Allah ( لا اله الا لله ) bersifat komprehensif, yang mencakup beberapa pengertian:

Laa Khaaliqa illaa Allah

“Tiada yang Maha Mencipta kecuali Allah SWT”.

Seluruh alam raya dan bahkan seisinya ialah milik Allah SWT. Tidak ada Yang Maha Mencipta selain Allah SWT. Tanpa-Nya maka tidak mungkin akan ada alam semesta yang indah dan rapi ini. Jangankan menciptakan yang lain, pencipta selain Allah saja apabila disuruh oleh Allah untuk menciptakan dirinya sendiri saja tidak bisa.

مَا أَشْهَدْتُهُمْ خَلْقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَا خَلْقَ أَنْفُسِهِمْ وَمَا كُنْتُ مُتَّخِذَ الْمُضِلِّينَ عَضُدًا

“Aku tidak menghadirkan mereka itu dapat menciptakan langit dan bumi dan tidak juga menyaksikan atas kejadian diri mereka sendiri, dan tidaklah Aku menjadikan orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.” (QS Al Kahfi : 51)

Laa Raaziqa illaa Allah

“Tiada yang memberi rezeki kecuali Allah”.

Dia-lah yang memberi rezeki kepada semua makhluk. Dia-lah yang memberi rezeki kepada yang mukmin, yang kafir ataupun yang taat, yang memohon kepada-Nya ataupun yang sombong. Dia-lah satu-satunya yang berhak menentukan dalam pembagian rezeki-Nya.

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚإِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS Al Isra : 30)

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖنَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚإِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (QS Al Isra : 30

Laa Maalika illaa Allah

“Tiada Yang Maha Memiliki kecuali Allah”.

Alam raya dan seluruh isinya ialah milik Allah dan semua kebutuhan-kebutuhannya dicukupi oleh Allah SWT. Allah ialah pemilik tunggal dan tiada yang lainya.

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى

“Milik-Nya-lah apa yang ada di langit, apa yang di bumi, apa yang ada di antara keduanya dan apa yang ada di bawah tanah”. (QS. Taha : 6)

Laa Mulka illaa Allah

“Tiada yang memiliki kerajaan kecuali Allah SWT”.

Allah ialah pemilik alam semesta dan menguasainya. Tiada penguasa lain selain Allah SWT. Tiada partikel sekecil apapun yang lepas dari kekuasaanNya. Semua makhluk tidaklah berdaya apabila Allah tidak memberinya kekuatan.

قُلِ اَللّٰهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Katakanlah, “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau mencabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali ‘Imran : 26)

Laa Hukma illaa Allah

“Tiada hukum kecuali Allah SWT”.

Yang dimaksud dengan pengertian tersebut ialah karena Allah SWT lah yang berhak menentukan hukum. Hukum Allah yang telah berjalan sejak dunia ini ada hingga hari kiamat.

Laa Waliyya illaa Allah

“Tiada Wali kecuali Allah”.

Wali dalam Al-Qur’an memilliki banyak pengertian, antara lain pemimpin, pelindung, atau teman hidup. Sedangkan arti dari Laa Waliyya illaa Allah ialah tiada pemimpin yang harus ditaati kecuali Allah.

اللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَآؤُهُمُ الطَّاغُوْتُ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِنَ النُّوْرِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولٓئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Allah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran, kebodohan) kepada cahaya (iman, pengetahuan). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran, kebodohan). Mereka adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al-Baqarah : 257)

Laa Haakima illaa Allah

“Tiada Hakim kecuali Allah SWT”.

Satu-satunya hakim yang akan mengadili dan menghukum manusia hanyalah Allah SWT. Tiada hakim selain-Nya. Allah-lah hakim yang paling adil diantara hakim-hakim lainya.

أَلَيْسَ اللّٰهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ

“Bukankah Allah hakim yang paling adil?” (QS. At-Tin : 8)

Laa Ghaayata illaa Allah

“Tiada yang dituju kecuali Allah SWT”.

Manusia dan makhluk lainnya diciptakan oleh Allah dengan tujuan tertentu. Tujuan itu ialah sepenuhnya mengabdi dan beribadah pada-Nya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyaat : 56)

Ibadah bermakna bukan sebatas menyembah, namun bermakna pula sebagai mengabdi.

Laa Ma’buuda illaa Allah

“Tiada yang berhak diibadahi dengan sebenar-benarnya kecuali Allah”.

Semua kandungan makna yang ada dalam kalimat Laa ilaaha illaa Allah apabila diringkas maka tersimpul dalam suatu arti Laa ma’buda bihaqqin illaa Allah. Tiada pengabdian kecuali kepada Allah, tiada penghambaan diri kecuali pada Allah.

Demikian sahabatku, kuakhiri dengan do’aku untukmu; semoga engkau, keluargamu dan seluruh bangsa ini terlindungi dengan keagungan makna Laa ilaaha illaa Allah. Aamiin ya Allah ya robbal ‘alamin.

Wallaahu A’lam, hanya Engkau-lah Yang Maha Berpengetahuan sedangkan aku hanyalah orang yang bodoh dan tanpa pengetahuan.

 

About admin

Check Also

Pendosa yang Tawadhu’ dan Ahli Ibadah yang Ujub

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...