Sunday , October 17 2021
Home / Ensiklopedia / Analisis / Cetak Uang Baru dan Teori Moneter Modern (MMT)

Cetak Uang Baru dan Teori Moneter Modern (MMT)

“Ide Teori Moneter Modern yakni cetak uang sebanyaknya untuk atasi krisis ekonomi.”

Entah, ide Teori Moneter Modern (MMT–Modern Monetary Theory) ini lebih pas disebut brilian atau keblinger. Yang pasti, Teori Moneter Modern tentang ide mencetak uang sebanyak-banyaknya untuk mengatasi krisis ekonomi di tengah pandemi menimbulkan perdebatan panas.

Warren Mosler adalah pencetus MMT atau Modern Money Theory ini –berikutnya disebut MMT dalam ulasan ini. Mosler menjadi ekonom yang melakukan paling banyak riset dan diskusi untuk mengembangkan MMT. Ia juga seorang desainer otomotif dan pendiri Center for Full Employment And Price Stability di Universitas Missouri-Kansas City.

Sosok lain di belakang MMT ini ada Stephanie Kelton. Ia adalah Profesor Kebijakan Publik dan Ekonomi di Stony Brook University AS. Ia sempat menjadi penasihat ekonomi untuk Bernie Sanders, yang sempat mencalonkan diri sebagai kandidat capres Partai Demokrat.

Kelton telah menjadi sosok paling menonjol dalam mendukung dan mengembangkan MMT. Dia berdebat keras dengan peraih Nobel Ekonomi Paul Krugman yang menentang habis ide MMT.

Selain itu ada L Randall Wray, profesor Ekonomi di Universitas Missouri-Kansas City di Kansas City. Juga, Prof Bill Mitchell, yang telah menerbitkan buku teks makroekonomi pada MMT. Ulasan tentang teori ini berasal dari pidato, tulisan, dan diskusi para tokoh MMT di atas.

Dasar Teori Moneter Modern

Basis MMT adalah teori ekonomi dari John Maynard Keynes. Mereka mengaku sebagai penerus post-Keynessian untuk teori Moneter Modern.

MMT bicara banyak hal tentang ekonomi baru, ekonomi yang menurut panganutnya bukan ekonomi biasa alias ekonomi konvensional. MMT adalah sebuah perbedaan besar dari teori ekonomi konvensional yang diakui dan berjalan saat ini.

Ide besarnya adalah pemerintah tidak perlu takut dengan defisit anggaran yang tinggi, ancaman inflasi, stabilitas nilai tukar, hingga pengeluaran besar-besaran untuk memulihkan perekonomian. Pemerintah bisa memainkan perannya dalam mengontrol masalah-masalah ekonomi klasik seperti inflasi.

Dengan sistem uang fiat saat ini, MMT berasumsi pemerintah bisa mencetak uang sebanyak yang mereka butuhkan untuk mendorong ekonomi tumbuh, sektor UMKM berkembang, beban utang terdistorsi, dan penyediaan pekerjaan terpenuhi. Sistem uang fiat memungkinkan pemerintah mengontrol mata uang mereka sendiri.

Menurut Kelton, pemerintah bisa menghabiskan uang yang dicetaknya dengan bebas. Pasalnya, pemerintah selalu dapat mencetak lebih banyak uang untuk melunasi utang dalam mata uang mereka sendiri.

Sederhanya begini: dalam kondisi negara butuh banyak uang untuk mendorong ekonomi dan menjaga daya beli rakyatnya, pemerintah cukup dengan mencetak uang meski ada risiko defisit melebar di sana. Pilihan mencetak uang jauh lebih baik dari mencari utang baru yang dipastikan akan menumpuk selama berpuluh-puluh tahun.

Uang baru yang dicetak ini akan diberikan kepada UMKM, pengangguran, rakyat miskin, pegawai, hingga swasta untuk mengerjakan proyek-proyek ekonomi. Daya beli terjaga, bisnis tetap eksis, dan ekonomi tetap berjalan dengan baik. Pilihannya: cetak uang atau utang!

Cetak uang baru yang digunakan untuk pengeluaran pemerintah ini, menurut MMT, dapat menumbuhkan ekonomi hingga kapasitas penuh. Pengeluaran pemerintah dari mencetak uang ini akan memperkaya sektor swasta, menghilangkan pengangguran, membiayai program-program besar seperti perawatan kesehatan universal, biaya sekolah hingga kuliah gratis, dan energi hijau.

MMT menegaskan negara-negara dapat menciptakan dan membelanjakan uang mereka sendiri dan itu bukanlah hal yang buruk. MMT menilai hanya kaum ekonomi konvensional dan moneterist yang selalu bikin asumsi-asumsi menakutkan dengan ide mencetak uang baru ini.

Dalam ekonomi konvensional saat ini, gagasan mencetak uang untuk memecahkan masalah ekonomi suatu negara hampir secara universal dianggap sebagai ide yang buruk.

Namun MMT mengusulkan bahwa penciptaan uang harus menjadi alat ekonomi yang berguna. Dan mencerak uang ini tidak secara otomatis mendevaluasi mata uang, menyebabkan inflasi, atau kekacauan ekonomi.

Ekonomi konvensional, dalam pandangan MTT, telah gagal dalam memberikan resep untuk mengobat pemulihan. Ekonomi global dalam dua dekade ini penuh dengan gejolak, utang melambung, investasi terseok-seok, ekonomi buruk, pengangguran tinggi, dan hilangnya peluang-peluang masyarakat untuk mandiri.

Ini terjadi, kata MMT, karena negara-negara masih terpaku dengan konsep stabilitas sistem keuangan, pengendalian defisit, khawatir inflasi tinggi atau hiperinflasi, hingga nilai tukar yang rapuh.

“Adanya pengangguran merupakan bukti de facto bahwa pengeluaran pemerintah bersih terlalu kecil untuk menggerakkan perekonomian untuk sampai ke pekerjaan penuh,” tulis Phil Armstrong dari York College pada 2015.

MMT Bicara Inflasi

MMT berkeyakinan peningkatan pengeluaran pemerintah tidak akan menyebabkan inflasi tinggi selama ada kapasitas ekonomi yang tidak digunakan atau tenaga kerja yang menganggur.

Para pendukung MMT berpendapat pemerintah dapat mengendalikan inflasi dengan mengurangi pengeluaran atau menarik uang dari ekonomi melalui pajak.

Ekonom konvensional memahami penciptaan uang sebagai hal yang buruk. “Jangan pernah mencoba menghasilkan uang berlebihan!” Tapi itu menimbulkan pertanyaan kaum pembela MMT.

Jika menciptakan uang baru betul menciptakan inflasi, pendukung MMT bertanya mengapa tidak ada inflasi ketika Ben Bernanke saat menjabat kepala the Fed Amerika serikat (AS) menciptakan aset 1 triliun dolar AS untuk menyelamatkan bank selama krisis keuangan?

Di Eropa, Swedia, Denmark, Swiss, dan 19 negara di kawasan mata uang euro, memberlakukan suku bunga negatif untuk mengeluarkan uang dari rekening bank, dengan harapan menghasilkan inflasi.

Pada saat yang sama, Bank Sentral Eropa menyemprot benua itu dengan 2,5 triliun euro (2,5 triliun dolar AS) dalam “pelonggaran kuantitatif” –pelonggaran kuantitatif menurut MMT sama dengan mencetak uang baru tetapi dengan nama yang wah. Tetapi, inflasi tidak pernah terjadi.

Jadi, ahli teori MMT berpendapat bahwa penciptaan uang semata-mata tidak dapat menjadi penyebab inflasi. Pasti ada sesuatu yang lain. Hal ini yang menjadi pertanyaan besar MMT.

MMT Bicara Defisit Anggaran

Jika pengeluaran negara menghasilkan defisit pemerintah, ini juga bukan masalah. Defisit pemerintah, menurut definisi MMT, adalah surplus sektor swasta. Sebaliknya, surplus pemerintah adalah defisit negara.

Bukankah terlalu banyak mencetak uang akan menyebabkan semakin tingginya defisit belanja negara? Dan ini berbahaya bagi ekonomi suatu negara.

Pendukung MMT menegaskan bahwa pemerintah jangan takut defisit. Pemerintah jelas tidak seperti ekonomi rumah tangga yang harus menghitung pendapatan dan pengeluaran.

Pemerintah bukan sebuah rumah tangga karena pemerintah dapat membuat uang sendiri dan menetapkan harga di mana uang itu tersedia di pasar. Rumah tangga sama sekali tidak bisa.

Setiap utang dalam mata uangnya sendiri dapat dibayar dengan mata uangnya sendiri atau dapat diselesaikan dengan penciptaan uang baru dalam mata uang itu.

Karena bukan sebuah rumah tangga, MMT menyatakan pemerintah tidak perlu menyeimbangkan pembukuannya seperti cara rumah tangga. Pemerintah menciptakan dan membelanjakan uang, tetapi mereka tidak mengenakan pajak kembali 100 persen dari uang tunai itu.

Itu sebabnya, pada waktu tertentu, pemerintah akan mengalami defisit. Defisit hanyalah perbedaan antara semua uang tunai yang telah dikeluarkan pemerintah dan semua pajak yang telah dikumpulkannya.

Dari perspektif ini, defisit bukanlah masalah. Dengan mengatur pajak, defisit bisa diselesaikan dengan baik kapan saja.

Makanya, kaum MMT mengkritik negara-negara yang menerapkan bias defisit atau batas atas defisit anggaran terhadap produk domestik bruto (PDB). “Bias terhadap defisit tidak masuk akal,” kata pendukung MMT.

Dalam kasus di Eropa di mana Pakta Stabilitas dan Pertumbuhan Uni Eropa mensyaratkan bias defisit 3% PDB atau utang maksimal 60% dari PDB mendapat kritik MMT. Pendukung MMT berpendapat pembatasan ini mencegah Italia, Irlandia, Yunani, dan Spanyol mengeluarkan uang yang cukup untuk mengurangi penurunan ekonomi.

Para ahli MMT mengklaim kasus ini menunjukkan risiko kebijakan ekonomi konvensional dan penolakannya terhadap defisit. Ekonomi hanya menjadi lambat, ketidaksetaraan meningkat, utang jangka panjang dengan bunga yang melumpuhkan terus naik, dan risiko kehancuran ekonomi akan terjadi terus-menerus.

MMT: Tak Ada Orang Menganggur

Ketika sektor swasta gagal menyediakan lapangan kerja penuh, pendukung MMT mendukung gagasan “jaminan pekerjaan” yang menyediakan pekerjaan yang didanai pemerintah kepada siapa saja yang menginginkan atau membutuhkannya. Pengeluaran untuk program ini akan ditutup ketika ekonomi mencapai lapangan kerja penuh.

Menurut pendukung MMT, bentuk-bentuk jaminan pekerjaan federal sudah ada di masa lalu. Pada 2002, Argentina memperkenalkan Program Jefes, yang menawarkan pekerjaan kepada kepala setiap rumah tangga dan membayar upah pokok.

Peserta Jefes bekerja pada proyek komunitas lokal seperti membangun dan memelihara sekolah, rumah sakit dan pusat komunitas; memanggang, menjahit pakaian, dan daur ulang; dan memperbaiki selokan dan trotoar.

Pada 1933, Presiden Franklin Roosevelt mulai meluncurkan “New Deal,” yang memberikan upah kepada orang-orang yang menganggur untuk membangun sekolah, rumah sakit, bandara, jalan, jembatan dan infrastruktur lainnya.

MMT Bicara Tentang Pajak

MMT-ers mengusulkan kebijakan pajak harus menjadi alat moneter anti-inflasi. Jika ada terlalu banyak uang dalam perekonomian, pemerintah harus mengenakan pajak sebagian sehingga mengeluarkannya dari peredaran.

Gagasan menaikkan pajak sebagai ukuran deflasi mungkin merupakan salah satu aspek yang paling kontroversial dari MMT. Para pengkritik sangat skeptis daripada pemerintah mana pun yang berani menaikkan pajak selama periode inflasi.

Dan kebijakan pajak sulit untuk dilaksanakan dengan cepat, sedangkan inflasi dapat bergerak cepat.

Dari sisi konvensional, pemerintah menetapkan pajak untuk meningkatkan pendapatan. Pendapatan pajak kemudian digunakan untuk membayar hal-hal yang perlu dilakukan pemerintah: polisi, pemadam kebakaran, jalan dan sebagainya.

MMT menegaskan konsepsi ini menyamakan pemerintah dengan anggaran rumah tangga: Ia tidak dapat menghabiskan uang sampai ia menerima uang. Setiap uang tambahan yang dihabiskan harus dibiayai dengan meminjam.

MMT-ers berpendapat metafora “rumah tangga” tidak pas dalam mengelola negara. MMT menyatakan pemerintah harus menciptakan uang terlebih dahulu untuk membelanjakannya –dan setelah beredar dapat dikenai pajak kembali.

Sebagai sebuah gagasan, ide MMT ini cukup menggugah dan mencuri perhatian masyarakat global. Di Amerika dan Jepang, misalnya, kaum mudanya mulai tertarik dengan gagasan-gagasan MMT. Mereka melihat Teori Moneter Modern lebih bisa menjawab kebutuhan masyarakat era sekarang.

Di Indonesia, ide mencetak uang baru ala MMT ini juga sudah disuarakan. Badan Anggaran DPR bahkan memberikan rekomendasi kepada pemerintah untuk mencetak uang baru hingga Rp 600 triliun untuk mengatasi masalah ekonomi produktif.

Beberapa tokoh –baik mantan menteri hingga anggota DPR pun– sudah menyuarakan arti penting pencetakan uang baru. Malah, mantan Mendag Gita Wirjawan mengusulkan pencetakan uang hingga Rp 4.000 triliun. Tentu saja, banyak ekonom yang menentang ide ini.

Jadi, ide cetak uang baru dari Teori Moneter Modern ini termasuk brilian atau keblinger?

Oleh: Elba Damhuri, Managing Editor Republika.co.id, Alumni Global Political Economy University of Newcastle Inggris
Source: Republika.Co.Id

About admin

Check Also

Golden Crescent: Rahasia Geopolitik Afghanistan

Secara geopolitik Afghanistan memang strategis. Pada masa Perang Dunia I dan Perang Dunia II, Afghanistan ...