Home / Agama / Kajian / Cara Arief Billah Memandang Lailatul Qadar

Cara Arief Billah Memandang Lailatul Qadar

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Saudaraku terkasih, seorang Ulama, Syeikh Abu Thalib al-Makki ra (W. 368 H) dalam kitab Qutul-Qulub berkata:

قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَآءِ كُلُّ لَيْلَةٍ لِلْعَارِفِ : لَيْلَةُ الْقَدْرِ

“Sebagian Ulama berkata: bagi seorang ‘arif semua malam adalah Lailatul Qadar”.

Tidaklah tersembunyi bagi orang-orang yang telah mendapat anugerah Allah SWT apabila mereka mensucikan hati mereka dari pengaruh kemakhlukan dan nafsu buas ghadhabiyyah sabu’iyyah (nafsu emosinil yang bersifat binatang buas), lalu meningkat dari satu maqam kerendahan basyariyyah (kemakhlukan) dengan ber-taraqqi (naik) ke maqam yang lebih tinggi, lagi mulia.

Setelah itu, ia mencapai kasyaf atas rahasia-rahasia penurunan Kitab-kitab Suci dan pengutusan para Rasul; yaitu orang-orang yang mendapat taufiq untuk melihat dan mengetahui rahasia hakikat Keesaan Dzat Ilahiyah pada lembaran-lembaran keberbilangan (martabat wujud-wujud ini) yang fana dalam batasan dan hitungan.

Bahwa berbagai ketetapan yang terjaga di dalam Lauh Qadha’ dan berbagai bentuk yang ditetapkan di dalam hadhrah Ilmu dan Pena yang tinggi Qalam al-A’la, sesungguhnya ia ada di dalam alam Asma’ yang ghaib yang disebut Lailah al-Qadr (Malam Kemuliaan). Karena malam itu tersembunyi di dalamnya ada siang yang mataharinya tak pernah tenggelam.

Puasa mempunyai banyak rahasia yang bisa membawa si salik untuk menaiki maqam ruhani yang lebih tinggi. Puasa adalah medan peperangan menghadapi musuh tersembunyi di dalam diri kita. Musuh luar sudah dibelenggu, saatnya menghadapi musuh nafsu yang jauh lebih kuat dan berbahaya.

Imam Al-Ghazali ra berkata: “Ketahuilah wahai manusia! Sesungguhnya nafsu yang memerintahkan kejahatan itu lebih memusuhimu daripada iblis”.

Rasulullah SAW bersabda:

أَعْدٰى عَدُوِّكَ نَفْسُكَ الَّتِيْ بَيْنَ جَنْبَيْكَ

“Musuhmu yang paling berat adalah nafsumu yang ada di badanmu sendiri.” (HR. at-Tirmidzi).

النَّفْسُ أَخْبَثُ مِنْ سَبْعِيْنَ شَيْطَانًا

“Nafsu itu lebih jahat daripada 70 syaitan.” (Al-Hadits).

Nabi SAW bersabda: “Apabila datang bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu syurga, ditutup pintu-pintu neraka dan diikat syaitan-syaitan.”

Maka di bulan Ramadhan, ruh dihadapkan dengan musuhnya yang menghijab diri insan dari Tuhannya, yakni nafsunya. Nafsu suka menghadapkan wajah kepada selain Allah SWT, sedang ruh coba membawa hati menghadap kepada satu kiblat yakni ka’bah hakiki.

Apabila hati bathin dapat menyaksikan yakni syuhud kepada satu arah, satu wajah dan satu kiblat, yakni Dzat Hakiki, maka kegelapan malam basyariyah kemakhlukan jasad bisa difanakan dengan terangnya cahaya ilahiyyah, “nur warid” yang bersaksi pada Dzat Yang Hakiki yang menjadi sumber sifat, Asma’ dan Afa’al.

Maka saat itu gelap malam tersibuk. Cahaya mentari siang dapat mensirnakan gelap malam. Satu saat saja terangnya metahari ruhani bisa mengatasi kebingungan malam yang disebabkan dzhulumat (kegelapan) jasmani. Itulah cahaya fitrah. Lailatul Qadar.

Puasa adalah madrasah yang men-tarbiyah hati agar menundukkan nafsu keakuan, berhala terbesar yang menghijab keberadaan Allah dari hati insan. Diantara jalan utama untuk menyingkap hijab tersebut adalah al-maut al-iradiy (matinya kehendakmu) dan tunduk sepenuhnya dengan kehendak Allah Al-Haqq! Yakni dengan membuang rasa wujud diri, berhala ananiyyah yakni keakuan. Nabi Musa Kalimullah as, ketika kali pertama ‘berbicara’ dengan Allah disuruh menanggalkan kedua sandalnya.

 فَلَمَّا قَضَىٰ مُوسَى الْأَجَلَ وَسَارَ بِأَهْلِهِ آنَسَ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ نَارًا قَالَ لِأَهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آنَسْتُ نَارًا لَعَلِّي آتِيكُمْ مِنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ جَذْوَةٍ مِنَ النَّارِ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ

“Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung ia berkata kepada keluarganya: “Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan”. (QS. Al-Qashash [30]: 29).

فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ مِنْ شَاطِئِ الْوَادِ الْأَيْمَنِ فِي الْبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ أَنْ يَا مُوسَىٰ إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. Al-Qashash [30]: 30)

إِذْ رَأَىٰ نَارًا فَقَالَ لِأَهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آنَسْتُ نَارًا لَعَلِّي آتِيكُمْ مِنْهَا بِقَبَسٍ أَوْ أَجِدُ عَلَى النَّارِ هُدًى

“Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: “Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu”. (QS. Thaha [20]: 10).

فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ يَا مُوسَىٰ

“Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa”. (QS. Thaha [20]: 11).

إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ ۖ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى

“Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa”. (QS. Thaha [20]: 12).

Untuk wushul dan syuhud, yakni dapat dijadzbah kehadirat Allah SWT perlu menanggalkan kedua sandalmu! Para ‘Arif billah banyak membahas tentang dua sandal ini. Al-Imam al-Ghazali ra menyatakan: dengan menanggalkan ikatan belenggu dua nafsu yang mengikat, yakni dzhahir jasad dan ruhani.

Kaum hakikat berpendapat bahwa kedua sandal yang dimaksud adalah nafsu ghadhabiyyah dan nafsu syahwatiyyah. Nabi Musa as diperintahkan untuk melepas sandalnya (dzhahir), dan juga melepas nafsu ghadhabiyyah dan syahwatiyahnya (Hakikat).

Syaikh Abdul Karim al-Jili ra mengatakan: “Melepaskan kedua sandal itu adalah melepaskan rasa wujud dzatmu dan sifatmu. Itsbat (tetapkan), bahwa semua itu semata mutlak adalah hak Allah SWT. Apabila dapat melepaskan rasa wujudmu, baru engkau bertauhid”.

Berkata al-Imam Arsalan ra., berkata: “Apabila engkau memperoleh maqam ini, engkau baru mendapat Lailatul Qadar”.

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani ra., berkata: “Apabila seseorang telah memperoleh Tauhid al-Shifat dan Tauhid al-Dzat, tiada lagi memiliki wujud dan sifat dirinya barulah ia disebut sebagai mukmin sejati”.

Para ‘Arif billah mempunyai definisi tersendiri terhadap malam yang sering diumpamakan sebagai malam yang lebih mulia dari seribu malam ini (khairun min alfi syahrin)

Syaikh Abu Thalib al-Makki ra (W. 368 H) dalam kitab Qutul-Qulub mengatakan: “Sebagian ulama berkata bahwa bagi seorang ‘arif semua malam-malam adalah malam lailatul Qadar”. Karena mereka bersama dengan Allah SWT setiap saat. Menyaksikan hakikat Ketuhanan di setiap Martabat al-Wujud.

Syaikh Abdul Karim al-Jili ra ( W.826 H) juga mengatakan, “Substansi atau inti Lailatul Qadar pada seorang hamba adalah kebersihan dan kemurnian jiwa yang ia miliki, yakni akhlak”.

Peningkatan dari akhlak binatang buas yakni nafsu ghadhabiyyah sabu’iyyah (makhluk bertaraf ‘binatang’) ditarbiyah di bulan suci Ramadhan untuk tunduk kepada kehendak Allah SWT. Dengan begitu, diharapkan meningkat ke nafsu binatang ternak (bahimiyyah), lalu meningkat lagi kepada sifat Jin, kemudian naik lagi ke sifat Malaikat. Hingga akhirnya ia dipakaikan dengan sifat-sifat ilahiyyah, yakni akhlak al-Quran yang merupakan akhlak Nabi Muhammad SAW.

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. Al-Qalam [68]: 4)

Dari jiwa yang berada di alam Mulki yakni alam syahadah yang dipenuhi debu nafsu hewani dan kegelapan yang jauh dari ‘wajah’ Tuhan, ditarbiyah untuk tunduk selama 30 hari Hingga bisa taraqqi (naik) ke alam Malakut yang terbagi dua: yakni martabat Jin dan Malaikat.

Jiwa di Martabat Jin membawa keangkuhan dan kesombongan, meremehkan orang lain dan tinggi ananiyyah (ego, keakuan) merasa berilmu dan merasa paling benar, dll.

Jiwa di martabat Malaikat apabila bisa menundukkan nafsunya dan membuang pakaian basyariyyah kemakhlukannya dan bertakhallush (berlepas diri) dari dzhulumat keangkuhan dan keegoan seraya membuang mahkota keakuan dan ketinggian diri. Maka Jiwa Malaikatiyyah ini sudah diterima dan disambut dengan permadani Muthmainnah.Terus bertaraqqi lagi hingga mencapai akhlak al-Quran (Khuluqun ‘Adzhim). Nur Muhammadiyyah meliputi diri. Jiwa di saat itu telah mencapai alam Jabarut dan Lahut. Tauhid al-Shifat dan Tauhid al-Dzat.

Lailatul Qadar adalah sebuah malam di bulan Ramadhan yang di dalamnya dipenuhi dengan keberkahan dan kemuliaan. Pada malam itu juga Allah SWT menurunkan manifestasi utuh al-Qur’an dari Lauh al-Mahfudzh yang berada di langit ke tujuh ke langit pertama (baitul su’dah / sa’adah).

Allah SWT berfirman:

إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ

“Sungguh telah kami turunkan al-Qur’an pada malam yang diberkahi”. (QS. Al-Dukhan [44]: 3)

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:

إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sungguh telah kami turunkan al-Qur’an pada malam lailatul Qadr”. (QS.Al-Qadr [97]: 1)

Dalam kegelapan malam, gelap jasad bumi diterangi cahaya ilahiyyah dengan turunnya sumber cahaya berupa Qur’an dan Nur Muhammadiyyah. Maka lambang orang yang mendapat Lailatul Qadar adalah dia ber-‘Tajalli’ dengan sifat Jamalullah, akhlaqul karimah, akhlak Muhammadiyyah dan akhlak al-Quran. Dia adalah seorang hamba yang sudah memiliki kebersihan dan kemurnian jiwa.

Syaikh Jamaluddin al-Khalwati ra (W. 1162 H) dalam kitabnya Ta’wilat mengatakan: “Lailatul Qadar adalah malam pencapaian, dimana ia lebih baik dari seribu derajat dan kedudukan. Maka barangsiapa yang telah sampai dan menemukan malam ini, jiwanya akan fana (melebur) secara keseluruhan sebagai tanda terbukanya penghalang antara dia dan Tuhannya.” Itulah syuhud, makrifat dan cinta haqiqi. Subhanallaah…

Imam Qusyairi ra (W. 465 H) menjelaskan tentang pengertian Lailatul Mubarakah (malam keberkahan), “Dialah malam dimana hati seorang hamba hadir dan menyaksikan ‘pancaran’ Tuhannya. Di dalamnya ia merasakan kenikmatan dari cahaya pencapaian dan kedekatan -kepada Tuhannya”.

Bagi para Sufi, mengejar peristiwa Lailatul Qadar bukan menjadi tujuan utama karena bagaimanapun Lailatul Qadar hanya bahagian dari makhluk, sama dengan syurga yang juga makhluk. Hal paling penting bagi mereka adalah mencapai Tuhan Sang Pencipta Lailatul Qadar dan Syurga.

Apakah masih perlu Lailatul Qadar dan Syurga bila telah berada di dalam ‘pelukan’ Sang Pencipta segalanya?

Firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa”. (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian dalam agama kalian ( الصِّيَامُ ) [berpuasa] yaitu menahan beberapa hal tertentu dari terbit fajar kedua (fajar sidik) sampai terbenamnya matahari pada bulan khusus yang telah disebutkan syariat. Selain itu, puasa juga berarti: menahan secara mutlak dan menolak secara total dari segala sesuatu yang selain Allah SWT.

Puasa jenis kedua ini dilakukan oleh para Ahlun Nahyi dan Ahlul Yaqin yang telah mencapai kasyaf atas segala hal serta mencapai hakikat sesuai dengan yang dapat mereka lakukan ( كَمَا كُتِبَ عَلَي ) [sebagaimana diwajibkan atas] umat-umat para nabi ( الَّذِيْنَ ) [orang-orang yang] berlalu ( مِنْ قَبْلِكُمْ ) [sebelum kalian] dan sesungguhnya puasa itu diwajibkan atas kalian ( لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ) [agar kalian bertakwa], dengan harapan agar kalian dapat menjaga diri dari sikap berlebihan dalam urusan makan, karena itu dapat mematikan hati, memadamkan api kerinduan kepada Allah, dan meredupkan cinta yang sejati kepada-Nya.

Saudaraku tercinta…

Bagi Sufi yang sudah berada pada maqamnya, setiap saat itu adalah Lailatul Qadar. Bukan sekedar mengejar Lailatul Qadar setahun sekali. Senada dengan apa yang dikatakan oleh Syaikh Ali Khawwas ra: “bahwa Lailatul Qadar adalah semua malam yang dilalui oleh seorang hamba dengan kekhusyu’an ibadah mendekatkan diri pada sang sang Khaliq”.

Setiap saat adalah Lailatul Qadar bagi yang tahu dan yang mau. Kenapa dicari yang setahun sekali?

Hendaklah engkau wahai orang yang bertekad dan ingin menghidupkan serta menjangkau malam itu; singsingkanlah lengan bajumu untuk menghidupkan semua malam yang datang padamu dalam hidupmu. Karena ia (malam) tersembunyi di dalamnya (siang).

Singkatnya, wahai salik, janganlah engkau alpa dari Allah SWT dalam semua hal dan keadaanmu, agar semua malam menjadi kemuliaan yang lebih baik dibandingkan dunia dan segala isinya bagimu.

Bukalah pakaian alam Nasut..! Terbangkanlah ruhanimu ke alam Lahut…!

Semoga di ‘asyrul bawaqi (sepuluh akhir) Ramadhan tahun ini kau dapatkan Lailatul Qadar. Begitupun di setiap bulan dan malam-malam saat kau ‘bersama-Nya’, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

وَاللّٰهُ الْمُوَفِّقُ إِلَى سَبِيْلِ التَّوْفِيْقِ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Wallâhu A‘lam bish-shawâb.

About admin

Check Also

Rahasia Langit yang Halus Tak ‘kan Terbuka Bagi Hati yang Keruh

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...