Home / Agama / Kajian / Bukan Ritual Tapi Empati

Bukan Ritual Tapi Empati

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Sahabatku terkasih, Rasulullah SAW mengajarkan umat ini bukan sekedar dalam hal ibadah-ibadah ritual baik munfarid (individual) maupun mujtami’ (berjama’ah).

Akan tetapi, bagaimana orientasi ajaran ritual itu memberikan atsar (bekas) pada batin sehingga muncul rasa empati dari dalam hati berupa kasih sayang, kepedulian, toleransi dan hikmah kebijaksanaan.

Allah SWT berfirman:

كَمَآ اَرْسَلْنَا فِيْكُمْ رَسُوْلًا مِّنْكُمْ يَتْلُوْا عَلَيْكُمْ اٰيٰتِنَا وَيُزَكِّيْكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَّا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَ ۞

“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah, serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui”. (QS. Al-Baqarah [2]: 151)

Allah SWT melalui Rasul-Nya mengajarkan kita berbagai macam ritual ibadah agar kita memiliki pribadi yang bermakna. Pribadi yang saat berbaur mampu menyemangati dan di saat sendiri mampu tegar. Konsentrasinya berada pada pembentukan kepribadian.

Itulah ciri mukmin sejati. Membangun kepribadian sehingga memiliki sifat empati terhadap lingkungan, keteguhan diri dalam kebaikan dan kesabaran.

Empati adalah sikap emosional untuk berusaha memahami dan mengerti setiap rangkaian keadaan dan peristiwa yang terjadi di sekeliling kita. Jadi, empati tidak sekadar rasa.

Sesungguhnya, empati baru berarti manakala berlanjut pada tatanan perbuatan. Karena, ini serasi dengan ajaran Islam bahwa kesalehan hati harus berlanjut pada kesalehan amal.

Jika kita mengingat kembali do’a yang diajarkan oleh Rasulullah SAW:

رَبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا وَارْزُقْنِيْ فَهْمًا وَاجْعَلْ لِيْ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً بِرَحْمَتِكَ يَآ اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ ۞

Rabbi zidnî ‘ilman, warzuqnî fahman waj’al lî min ladunka rahmatan birahmatika yâ arhamar râhimîn

“Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu dan anugerahkanlah kepadaku pemahaman serta jadikanlah untukku (ilmu tersebut) rahmat dari sisi-Mu (ilmu laduni -pent.).

Ada tiga hal yang diminta oleh hamba-Nya dalam doa tersebut yaitu, yang pertama adalah ilmu, yang kedua adalah pemahaman, dan yang ketiga adalah rahmat dari sisi Allah SWT (ilmu laduni).

Untuk permohonan pertama, yakni Ilmu, bersifat perolehan atau dalam tasawuf kita kenal dengan istilah hushuliy yaitu, ilmu yang diperoleh melalui segenap usaha (ikhtiyariy). Permohonan yang kedua, yakni pemahaman, bersifat anugerah, atau dalam istilah tasawuf kita kenal dengan istilah hudhuriy, atau ada juga yang menyebutnya mauhub. Sedangkan permohonan yang ketiga, yakni rahmat dari sisi-Nya, adalah tingkat advance (tingkat lanjut) dari hudhuriy, yakni pemahaman yang terkadang berada di atas rata-rata orang awam.

Terminologi ‘pemahaman’ dalam permohonan kedua dan ketiga ini menggunakan kata kerja “warzuqnî” di mana sifatnya sudah tidak lagi sebuah perolehan dari suatu usaha, melainkan sebuah pemberian dari Allah SWT yang sifatnya hudhuri.

Malah seringkali, dalam hal ilmu laduni yang menjadi permohonan ketiga, si pemohon belum bisa memahami sepenuhnya apa maksud firasat atau petunjuk yang diberikan oleh Allah SWT tersebut.

Pada intinya, kedua permohonan terakhir dalam doa tersebut sangat berkaitan erat dengan isyarat ayat-ayat sebelumnya tentang hikmah.

Kita bisa melihat bahwa mayoritas ayat-ayat tentang hikmah menekankan dimensi pengetahuannya. Hikmah sebagai satu jenis pengetahuan manusia yang bisa diakses secara hushuli yaitu, melalui proses pembelajaran, ada yang diajari dan mempelajari dan begitu juga berkaitan dengan penyucian jiwa atau purifikasi yang menjadi syarat awal terbukanya pintu pemahaman yang sifatnya hudhuri (anugerah).

Dengan demikian, hikmah diartikan sebagai salah satu jenis pengetahuan baik itu bersifat perolehan maupun pemberian. Dengan kata lain, hikmah bersifat epistemik karena berhubungan dengan pengetahuan manusia.

Salah satu dampak psikologis terbesar dari adanya hikmah tersebut adalah rasa empati. Dalam bahasa lain, empati ini lebih disebut sebagai “Suara Tuhan” lewat hikmah yang dianugerahkan kepada hamba-Nya.

Ada banyak hal di sekitar kita yang membutuhkan penglihatan melalui rasa empati lalu berujung pada aksi. Aksi yang muncul dari empati tidak harus bersifat aktif.

Bersifat aktif itu bisa berupa memberi perhatian kepada orang lain baik materil maupun immateril. Atau setidaknya berusaha membuat orang lain tersenyum. Sedangkan bersifat pasif dapat berupa sikap yang tidak menyakiti atau menyusahkan orang lain.

Begitulah Rasulullah SAW dan para sahabat menjadi qudwah (teladan) dalam kasih sayang dan menanamkan empati kepada sesama.

Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّى لأَقُومُ فِى الصَّلاَةِ أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِىِّ، فَأَتَجَوَّزُ فِى صَلاَتِى كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ ۞

“Saya pernah mengimami shalat, dan saya ingin memperlama bacaannya. Lalu saya mendengar tangisan bayi, dan sayapun memperingan shalatku. Saya tidak ingin memberatkan ibunya.” (HR. Ahmad 2202 dan Bukhari 707)

Walaupun semua orang memiliki hati, namun tidak semua orang mampu menyingkap setiap rangkaian peristiwa yang terjadi. Inilah arti penting empati bagi seorang Muslim.

Akhirnya, hanya ketajaman mata hati yang dibutuhkan untuk memahami hal-hal yang kasat mata seperti itu. Karena, dengan menanamkan rasa empati pada lingkungan, berarti telah berbuat baik kepada diri sendiri.

Dengan empati, kita tidak akan pernah kehilangan apa yang diberikan Allah SWT, bagai menanam satu biji tanaman kebaikan yang akan kita panen hasilnya. Sebab empati adalah istilah lain dari perintah Tuhan yang secara aktual memerintahkan kita untuk melakukan sesuatu.

Sahabatku terkasih, ilmu dan hikmah adalah anugerah Allah SWT. Upaya kita selanjutnya setelah menerima keduanya adalah bagaimana ia dapat menjadi motor penggerak aksi empati kita bagi alam ini. Wallâhu A’lam. 

Source: Dinukil dari berbagai sumber bacaan.

 

 

About admin

Check Also

Taqwa Kepada Tuhan

Oleh: Raden Mahmud Sirnadirasa* بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ ...