Sunday , October 17 2021
Home / Ensiklopedia / Analisis / Bojongkokosan, Pertempuran yang Terlupakan

Bojongkokosan, Pertempuran yang Terlupakan

Beberapa bulan setelah Indonesia merdeka, Belanda nyatanya tak mau kehilangan salah satu primadona jajahannya itu. Begitu sulit bagi Belanda jika harus move on dan melepas sebuah negara besar yang memiliki selaksa potensi, kekayaan sumber daya alam serta memiliki letak yang strategis secara militer. Terlebih Belanda merasa berhasil menduduki sebagian besar wilayah Nusantara selama tak kurang dari 3 abad.

Strategi Belanda

Sejak 1945, Belanda melancarkan berbagai strategi untuk merebut kembali Indonesia melalui berbagai agrasi militer yang digerakkan oleh tentara NICA (Nederlandsch Indië Civil Administratie). NICA adalah tentara sekutu yang diboncengi kepentingan Belanda untuk merebut kembali kemerdekaan Indonesia dengan dalih melakukan pelucutan senjata tentara Jepang dan pemulangan tentara Belanda dan tentara sekutu yang tertahan di Indonesia.

Pelucutan tentara jepang memang terjadi, namun Belanda pun diam-diam menanamkan kantung-kantung pertahanan di Batavia, Bandung dan beberapa kota strategis lain di Jawa sebagai persiapan jika suatu saat akan ada perlawanan dari rakyat Indonesia. Belanda menganggap Indonesia kala itu adalah negara muda dengan sistem pertahanan dan kenegaraan yang belum matang sehingga bisa dengan mudah dijadikan negara persemakmuran Kerajaan Belanda.

Namun kala itu, segenap rakyat berharap lain. Mereka yang terlanjur menghirup udara kemerdekaan tentunya enggan kembali hidup di bawah bayang-bayang Belanda. Rakyat ingin hidup di atas kaki sendiri yang bebas dan berdaulat.

Tentara sekutu segera masuk ke wilayah-wilayah strategis dengan mendistribusikan logistik, tentara dan peralatan perang ke wilayah-wilayah di Jawa Barat. Namun TKR (Tentara Keamanan Rakyat) kala itu tak tinggal diam, pada 21 November 1945, Resimen 5 di bawah Moeffreni Moe’min membajak keret api logistik Inggris di Cikampek. Dan membuat pasukan Inggris sedikit kewalahan.

Memukul ular berbisa

Untuk menghindari kejadian Cikampek terulang, Inggris mengalihkan suplai logistiknya ke Bandung melalui Bogor via Sukabumi. Maka pada 9 Desember 1945, berangkatlah rombongan konvoi tentara sekutu menuju Bandung via Sukabumi.

Konvoi yang membawa logistik, peralatan perang, amunisi dan ratusan tentara itu ‘mengular’ dengan panjang tak kurang dari 12 km. Terdiri atas ratusan pengawal dari Batalion 5/9 Jats, puluhan tank, panser wagon, dan truk berisi ribuan pasukan Gurkha.

Tak ingin tinggal diam, setelah mendengar kabar bahwa akan ada konvoi tentara sekutu, Panglima Komandemen I Jawa Barat Mayjen Didi Kartasasmita memerintahkan pasukan di bawah kekuasaannya, termasuk Resimen III Sukabumi, menghadang misi sekutu ini, dengan tujuan agar kekuatan tentara sekutu di wilayah Bandung bisa diminimalisasi.

Komandan Resimen Sukabumi III Letkol Eddie Sukardi kemudian menyusun strategi untuk memukul ‘ular berbisa’ ini. Rencana penghadangan besar dibuat, Letkol Eddie Sukardi kemudian memilih wilayah Bojongkokosan sebagai tempat untuk memukul konvoi sekutu tersebut. Selain jalannya berkelok-kelok dan menanjak, kanan-kiri ruas jalan ini pun berbukit curam, cocok untuk penyergapan. Empat batalion dikerahkan menjaga masing-masing satu koridor yang totalnya mencapai 81 km.

Jalur Bojongkokosan yang diapit oleh dua bukit curam (Sumber:sisihidupku.wordpress.com)

 

Tentara sekutu dipecundangi laskar pejuang Sukabumi

Maka dengan ajakan yang begitu berapi-api, rakyat semua diseru, mulai dari tentara, laskar keagamaan, pekerja, buruh hingga ibu rumah tangga tak mau ketinggalan untuk ambil bagian. Mereka rela mengorbankan semua yang dimilikinya untuk turut dalam pertempuran. Diantara mereka ada yang membawa senapan, bom molotov, panah, tombak, bahkan ibu-ibu banyak yang membawa peralatan rumah tangga seperti alu untuk dijadikan senjata.

Setelah dzuhur tanggal 9 desember 1945, kepala konvoi sekutu memasuki Bojongkokosan. Di Bojongkokosan, konvoi itu melewati sebuah jalan sempit yang diapit oleh tebing-tebing curam di sisi kiri kanan jalan. Di daerah talang luhur, para pejuang kala itu membuat lubang di jalan agar truk-truk sekutu ini terjebak dan berhenti.

Saat konvoi terjebak lubang di talang luhur, laskar kemerdekaan yang terdiri dari TKR dan semua lapisan masyarakat ini dengan serta merta, cepat dan sigap segera menyerang ‘kepala’ konvoi dari kanan kiri tebing. Berperan sebagai sniper kala itu, sersan Aceng membidik dengan cermat dari atas sebuah talang air dan mengenai salah satu pemimpin sekutu hingga tewas. Namun sayang, Sersan Aceng pun turut gugur dalam pertempuran ini

Topografi medan perang yang menguntungkan pejuang republik membuat tentara sekutu kesulitan untuk membalas tembakan. Tank dan beberapa truk terbakar habis, tentara-tentara dari pihak sekutu jatuh bergelimpangan. Bom molotov, bambu runcing, golok, panah, senapan, dan semua alat yang bisa dijadikan senjata tepat mengenai sasaran tentara sekutu. Saat itu, semua rakyat seolah ingin meluapkan kecintaannya pada bumi tanah air.

Saat amunisi tentara dan rakyat sudah habis, maka dengan kemampuan tentara yang masih minim, persediaan terbatas dan jumlah pasukan yang tidak sebanding dengan tentara sekutu, Letkol Eddie Sukardi segera mengomandokan kepada laskar-laskar pejuang ini untuk lari dan berlindung ke tempat-tempat aman yang jauh dari lokasi pertempuran.

Nyatanya tak semudah itu, tentara sekutu meminta bala bantuan. Dikirimlah armada pesawat Royal Air Force untuk membumihanguskan kampung-kampung di Sukabumi dan memukul mundur laskar TKR dan pejuang Sukabumi. Rakyat gentar melihat perlawanan tentara sekutu yang begitu keji ini, sejauh jalur Gekbrong-Sukabumi, kampung-kampung dibumihanguskan, korban berjatuhan.

Selain lewat udara, tentara sekutu pun mulai merangsak mengejar dan memburu para pejuang yang hendak lari menuju wilayah aman. Namun saat-saat itu pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa datang. Sebagian besar wilayah Sukabumi diguyur hujan yang begitu lebat dan disertai kabut yang pekat.

Tentara sekutu yang tak terbiasa dengan medan Bojongkokosan kalang kabut dan tak banyak bisa memukul mundur pejuang-pejuang republik. Sebanyak 45 TKR dan 28 warga gugur dalam pertempuran Bojongkokosan, diantara mereka terdapat Ibu rumah tangga, buruh dan beberapa diantaranya adalah pejuang-pejuang yang tak dikenal.

Pejuang TKR yang gugur dalam pertempuran, 2 diantaranya tak dikenal (Dokumentasi Pribadi)

 

Karena kabut itu pula, pesawat Royal Air Force yang tadinya didatangkan untuk membantu konvoi justru banyak keliru dan salah sasaran tembak mengenai konvoi tentara sekutu sendiri. Dengan segala kepiawaian pejuang, pesawat itu akhirnya bisa ditembak di sekitar wilayah Cibadak dan jatuh di sekitar Bojongkokosan.

Dengan kekuatan yang semakin menipis pasukan sekutu terus merangsak hingga daerah Sukabumi. Di sepanjang perjalanan, perlawanan dari TKR dan rakyat tak henti-henti terjadi. Pertempuran tak terelakan. Sekutu semakin tertekan.

Di Sukabumi, pimpinan tentara sekutu membuat perundingan dan kesepakatan gencatan senjata dengan Bupati Sukabumi dan pimpinan militer republik. Meski alot, perundingan yang dihadiri Letkol Edi Sukardi (Komandan Resimen III), Bupati/Walikota Sukabumi, dan Dr Abu Hanifah itu disepakati bersama.

Tentara Sekutu meminta dilakukan gencatan senjata. TKR dan pemerintah setempat menyetujui usul tersebut dan menginstruksikan penghentian tembak menembak. Pada kenyataannya, tentara Sekutu sendiri yang bertindak curang dengan tidak mentaati ke-sepakatan gencatan senjata dengan tetap melakukan upaya pembumihangusan wilayah Sukabumi. Tentara Sekutu dengan pengawalan TKR akhirnya melanjutkan konvoi dengan kekuatan pincang ke kota Bandung.

Rakyat Sukabumi yang gugur dalam Pertempuran Bojongkokosan (Dokumentasi Pribadi)

 

Empat bulan setelah peristiwa ini, giliran rakyat Bandung melawan dengan cara lain. Mereka yang tak rela Bandung dijadikan kantung pertahanan tentara sekutu membumihanguskan tanahnya sendiri, membakar harta bendanya agar tentara sekutu tak dapat menguasai Bandung dan kekuatan sekutu sedikit bisa diminimalisasi. Peristiwa di Bandung ini lah yang sekarang kita kenal dengan peristiwa Bandung Lautan Api.

Museum Palagan Bojongkokosan

Akhir pekan lalu, saya beserta kawan dari Jakarta akhirnya berkesempatan mengunjungi area pertempuran Bojongkokosan. Kini, area pertempuran ini telah menjadi monumen, museum dan hutan lindung Bojongkokosan. Berjarak 24 Km dari Kota Sukabumi, museum ini berdiri dengan kondisi yang tak begitu terawat. Banyak bagian museum yang mengalami kerusakan dan perlu perhatian serius. Semenjak serah terima dari Yayasan kepada pemerintah daerah, museum ini tak pernah dipugar.

Musuem berada tepat di belakang monumen dan menampilkan berbagai macam koleksi baik asli maupun replika. Menampilkan Senjata-senjata yang dipakai pejuang dalam memukul mundur pasukan sekutu, diorema-diorema serta dipajang pula koleksi reruntuhan pesawat Royal Air Force yang jatuh ditembak pejuang di wilayah Cibadak.

Puing-puing pesawat Royal Air Force yang jatuh di Sukabumi (Dokumentasi Pribadi)

 

Di sisi selatan museum, terdapat hutan lindung medan pertempuran Bojongkokosan. Disini lah saya merasa merinding berkali-kali, bukan karena wilayah ini angker ataupun hal-hal mistis lain, tetapi saya bisa membayangkan dan merasakan suasana saat pertempuran itu terjadi.

Di bukit-bukit ini, para pejuang dengan berani mengorbankan tenaga bahkan nyawanya untuk menghabisi tentara sekutu dan turut ambil bagian dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Sungguh momen yang menggugah.

Hutan tempat terjadinya peristiwa Bojongkokosan (Dokumentasi Pribadi)

 

Cerita Bojongkokosan tak banyak diungkit pihak sekutu, Inggris maupun Belanda karena dianggap sebagai sebuah pelecehan dan kekalahan yang tak terduga yang dialami oleh pihak sekutu. Dengan persenjataan lengkap dan konvoi yang siaga, pasukan itu nyatanya bisa dipecundangi oleh pejuang Sukabumi yang hanya berbekal persenjataan dan personel tak sebanding.

Pihak sekutu pun tak mengeluarkan statement rinci mengenai berapa banyak jumlah korban yang jatuuh dalam pertempuran ini. Salah satu sumber menyatakan korban yang jatuh dari pihak sekutu sekitar 100 orang.

Namun menurut salah satu saksi dalam pertempuran tersebut, banyak sekali tentara-tentara sekutu yang tergelepar di jalan, tewas terkena panah, bambu runcing, senapan dan terbakar bom molotov. Jasad-jasad pun ditemukan di dalam puing-puing truk yang terbakar, sehingga kemungkinan besar korban dari pihak sekutu lebih besar dari 100 orang.

Peristiwa Bojongkokosan adalah peristiwa besar yang luput dari ingatan. Peristwa ini perlu dimasukan dalam kronologis perjuangan Bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Sudah saatnya peristiwa ini dituturkan dan disertakan dalam sejarah sebagai peristwa yang menggugah dan menginspirasi, sebagai penghargaan atas 73 nyawa yang rela meregang di Bojongkokosan demi keutuhan kemerdekaan bangsanya.

Mendapatkan kemerdekaan adalah suatu hal yang sulit dan penuh rintang. Namun mempertahankan kemerdekaan adalah hal sulit lain yang ternyata harus dilakukan dengan berdarah-darah dan mengharu biru.

Peristiwa Perang Bojongkokosan dapat disaksikan dalam tayangan film dokumenter di bawah ini:

Sumber:

1. Penuturan langsung staff UPTD Museum Bpk. Sumitra
2. http://historia.id/modern/inggris-dipecundangi-pejuang-indonesia
3. http://disparbudporakabsukabumi.co.id/?p=2911
4. http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=453&lang=id

Oleh: Hari Akbar Muharam Syah
Source: Kompasiana

About admin

Check Also

Membantu Kebangkitan PKI: Bocoran dari Arsip Rahasia Joseph Stalin

Tatkala Indonesia mencapai kemerdekaan setelah Perang Dunia II, peran Partai Komunis Indonesia (PKI) jauh di ...