Saturday , July 24 2021
Home / Relaksasi / Renungan / Bersikaplah Biasa-Biasa Saja Dalam Hidup

Bersikaplah Biasa-Biasa Saja Dalam Hidup

Oleh: KH. Ahmad Imam Mawardi, Ph.D

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Setelah maghrib sore ini, kami duduk bersama para santri membahas salah satu ayat yang dibaca imam shalat maghrib. Lama terkesima dengan ayat ke 23 dan 23 surat al-Hadid itu:

مَاۤ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْۤ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْـرَاَهَا ۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ ۖ ۞

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah” (QS. Al-Hadid 57: Ayat 22)

لِّـكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَاۤ اٰتٰىكُمْ ۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرِ ۙ ۞

“Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid 57: Ayat 23)

Cobalah baca berulang kali dan renungkan pesannya. Adakah tempat bagi kita mengeluhkan apa yang telah dan sedang terjadi? Semua sudah tertulis dan ditetapkan, maka tugas kita adalah menjalaninya sesuai dengan petunjuk keselamatan dan kebahagiaan. Bahwa kita akan sakit, kehilangan uang, menjadi korban kebohongan/penipuan adalah sudah tercatat. Bahwa kita mendapatkan kejutan rezki, sembuh dan beruntung dalam usaha juga sudah ada ketentuan tertulisnya. Jalani saja dengan selalu ingat kepada Allah.

Ayat 23 Surat al-Hadid menjelaskan hikmah mengapa catatan tertulis takdir itu dirahasiakan? Agar supaya kita tidak putus asa ketika mendapat musibah karena siapa tahu di balik musibah itu terkandung nikmat tersembunyi dan tidak sombong saat mendapatkan anugerah karena siapa tahu di balik itu ada ujian menyedihkan. Disikapi biasa-biasa saja, moderat saja, tengah-tengah saja.

Semalam saya membaca sebuah kitab bagus berjudul “Asrârul Qur’ân” (Rahasia al-Qur’an). Di bagian awal kitab ini dijelaskan bahwa shirâtal mustaqîm atau jalan yang lurus adalah jalan tengah antara harap dan takut, antara ketat dan longgar, antara berlebih-lebihan dan sembrono. Ikuti sikap para nabi dan utusan. Mereka adalah teladan.

Di bagian akhir diskusi tadi saya bertanya kepada para santri tentang kondisi covid yang sedang marak di dunia kali ini. Bagaimanakah sikap terbaik kita? Bolehkan kita menyalahkan Allah yang mengizinkan covid ini terus naik panggung? Lalu, kita harus bagaimana? Salam, AIM

About admin

Check Also

Tuntutan Berkorban Demi Cinta

Oleh: Ahmad Baihaqi بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...