Home / Relaksasi / Renungan / Berlindung kepada Allah dari Diri yang Terkutuk

Berlindung kepada Allah dari Diri yang Terkutuk

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Sahabatku yang dikasihi Allah SWT, kewaspadaan yang sering luput dari pantauan manusia adalah kejahatan diri sendiri yang kerap muncul tanpa disadari.

Sifat-sifat setan yang sering bercokol di dalam diri seringkali menjerumuskan si pembawa diri ke kubang kehinaan yang berujung penyesalan.

Gus Baha dalam sebuah kajiannya pernah menyampaikan bahwa setiap nabi mempunyai tantangan masing-masing pada setiap zamannya.

Selain menguraikan tentang peran setan dalam mengatur tipu daya dan propaganda yang dilancarkan untuk menyerang Nabi Muhammad, Gus Baha juga menjelaskan tentang beberapa hal yang berkaitan dengan penamaan setan, baik yang dari unsur jin maupun manusia.

Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Alquran:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ ۞

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al-An’ãm [6]: 112)

Ayat di atas menunjukkan, setiap nabi mempunyai musuh setan dari unsur jin dan manusia.

Perlu diketahui, setan itu ada yang berupa nama yang melekat pada satu benda, ada pula yang mempunyai makna sifat.

Analoginya adalah seperti orang menyebut singa. Ada singa yang mempunyai arti melekat pada hewan sejenis macan, ada pula singa yang disematkan pada orang yang gagah pemberani. Karena keberaniannya, ia kemudian dipanggil “singa”, tapi namanya tidak selalu menempel kepadanya. Pada saatnya, ketika ia sudah mulai melemah tubuhnya, penyematan nama “singa” tidak lagi menempel pada dirinya karena sifat beraninya telah hilang.

Begitu pula anjing. Sebutan anjing berlaku bagi hewan berkaki empat sejenis kambing yang jika disentuh, kategori najisnya secara fikih adalah najis mughalladzhah. Namun terdapat istilah lain dari anjing, yang digunakan seseorang untuk mencaci sembari memanggil orang lain yang mempunyai sifat terlalu buruk dengan panggilan “anjing!”

Pelabelan seperti ini bisa menempel dan sewaktu-waktu sifatnya berubah, dan akan berpengaruh pada perubahan nama yang disifati.

Setan juga demikian. Setan yang mempunyai nama asli, yaitu Iblis dan keturunannya secara genetika. Ada juga setan berupa sifat yang menempel baik pada jin maupun manusia. Sehingga pada QS. Al-An’am:112 di atas disebutkan adanya “setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin”.

Sebagaimana pula difirmankan oleh Allah dalam QS. An-Nas:

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ۞ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ۞

“Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An-Nãs [114]: 5-6)

Seperti halnya setan, jin juga mempunyai definisi sendiri, yaitu makhluk Allah yang tidak kasat mata. Berbeda dari manusia yang kasat mata. Sehingga, orang gila dalam bahasa Arab disebut majnun, artinya pikirannya tertutup. Kalau malam, karena gelap, tidak ada yang terlihat, dalam bahasa Arab dipakailah istilah janna, sehingga antara jinn, janna, majnun yang terdiri dari komposisi huruf jim dan nun yang ditasydid, masing-masing mempunyai akar kata yang sama sebagaimana disebutkan dalam Alquran: “Ketika malam menjadi gelap.” (QS. Al-An’ãm: 76)

Yang terpenting pada pembahasan ini, tidak bisa dipukul rata bahwa setiap jin dan manusia itu bernama setan, begitu pula sebaliknya. Baru ketika manusia dan jin mempunyai perilaku buruk, tidak shalat, menjadi pemabuk dan lain sebagainya, mereka bisa disebut sebagai setan.

Begitu pula manusia yang tampak pakaiannya Islami tapi menjual agama, namanya juga setan. Selama sifat mereka masih seperti setan, maka keduanya layak dinamakan sebagai setan. Setan di sini berdasar sifat, bukan nama asli. Sedangkan setan yang asli sebagaimana telah disebutkan di atas, adalah iblis dan keturunannya secara genetika.

Lalu bagaimana halnya dengan setan (berupa) manusia pada QS. Al-An’ãm ayat 112 di atas? Bahwa “sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)”? Maksudnya, mereka saling melengkapi untuk menciptakan kegaduhan agama.

Nah, yang bisa menciptakan kegaduhan melalui bahasa verbal ini adalah setan (berupa) manusia. Setan dari unsur jin tidak bisa, karena mereka tidak bisa membolak-balikkan perkataan, sedangkan setan dari unsur manusia sangat canggih mengolah kata-kata.

Jadi kesimpulannya, kita sebagai manusia bisa jadi termasuk sebagai setan. Kok bisa?

Kita bisa meneliti secara tampak pada doa yang diajarkan oleh Nabi kepada kita:

أَعوذُ بِكَ مِن شَرِّ نَفْسي …

Kami meminta perlindungan kepada Allah dari keburukan-keburukan pribadi kita.

Padahal di saat yang lain kita diperintahkan oleh Allah untuk berdoa agar terhindar dari setan. “Aku meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”

Itulah yang dimaksud bahwa kita juga disuruh untuk berlindung dari diri kita sendiri yang terkadang bisa jadi setan juga.

Artinya, kita mungkin saja termasuk setan yang orang lain atau diri kita sendiri perlu mintakan perlindungan kepada Allah darinya, apabila perilaku kita buruk, merusak, dan berperilaku sebagaimana umumnya perilaku setan.

Kututup artikel ini dengan do’a:

اللّٰهُمَّ عالِمَ الغَـيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِن شَرِّ نَفْسِيْ وَمِن شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِـرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْـلِمٍ

“Ya Allah Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai Tuhan pencipta langit dan bumi, Tuhan segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, setan, dan balatentaranya. Dan aku (berlindung kepadaMu) dari berbuat kejelekan terhadap diriku atau menyeretnya kepada seorang muslim.”

About admin

Check Also

Taqwa Kepada Tuhan

Oleh: Raden Mahmud Sirnadirasa* بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ ...