Friday , April 23 2021
Home / Relaksasi / Renungan / Bener Gak Sih Sekarang Ini Zaman Edan?

Bener Gak Sih Sekarang Ini Zaman Edan?

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Allahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad.

Mungkin kita sering mendengar orang menyebut “Zaman Edan”. Apa sih sesungguhnya zaman edan itu? Apakah zaman seperti itu memang pernah digambarkan Rasulullah SAW Sang Pejuang Moral, Sang Pejuang Revolusi Mental di zaman awal perbaikan akhlak manusia?

Dengan mengikuti artikel ini, insya Allah kita akan mendapatkan gambaran dan kesimpulan layakkah di zaman ini dikatakan sebagai “Zaman Edan” itu?

Mas Emha Ainun Najib melalui Kyai Kanjeng nya pernah melantunkan ini:

Zaman wis akhir 2x bumine goyang
Akale njungkir 2x negarane goyang
Akeh wong kenthir 2x imane ilang

Wolak-walike zaman saiki
Akeh wong edan dianggep kyai
Tan saya edan tan saya ndadi
Tan saya mini jarene seni

Pancen akeh polahe menungso
Akeh dalan padhang pilih dalan pati
Ndonya nyata do wegah ngugemi
Malah milih ndonya memedi

Yaa Rasulullah salaam ‘alaik
Yaa Rafii’asy syaani wad daraji
‘Athfatay yaa jiiratal ‘alami
Yaa Uhaylal juudi wal karami

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Orang gila menurut Islam, cara memperlakukannya menurut Nabi Muhammad harus disembuhkan karena bagi beliau, Rasulullah SAW, orang yang seperti itu sedang mengalami sakit. Dalam konteks modern, yang dimaksud adalah sakit dengan gangguan mental atau psikologi.

Kisah orang gila dalam Islam di bawah ini akan membuat Anda menjadi sadar, bahwa sesungguhnya orang gila menurut Islam adalah orang-orang yang sombong, bukan orang yang mengalami gangguan mental atau psikologi.

Pada suatu hari Rasulullah SAW berjalan melewati sekelompok sahabat yang sedang berkumpul. Lalu beliau bertanya kepada mereka:

“Mengapa kalian berkumpul disini?,” tanya Rasulullah.

Para sahabat pun lalu menjawab, “Ya Rasulullah,  ada orang gila yang sedang mengamuk. Oleh sebab itulah kami berkumpul disini.”

Oleh karena itu, Rasulullah SAW lalu bersabda:

“Sesungguhnya orang ini tidaklah gila (al-majnun), tapi orang ini hanya sedang mendapat musibah. Tahukah kalian, siapakah orang gila yang sebenar-benarnya disebut gila (al-majnuun haqqul majnuun)?“ Rasulullah kemudian balik bertanya.

Para sahabat lalu menjawab, “Tidak ya Rasulullah. Hanya Allah dan rasul-Nya jualah yang mengetahuinya,” jawab para sahabat.

Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan bahwa, “Orang gila yang sesungguhnya gila (al-majnun haqqul majnun) adalah orang yang berjalan dengan penuh kesombongan; yang membusungkan dadanya; yang memandang orang dengan pandangan yang merendah-kan; lalu berharap Tuhan akan memberinya surga; padahal ia selalu berbuat maksiat kepada-Nya. Selain itu, orang-orang yang ada di sekitarnya, tidak pernah merasa aman dari kelakuan buruknya. Dan di sisi yang lain, orang juga tak pernah mengharapkan perbuatan baiknya. Nah, orang semacam inilah yang disebut sebagai orang gila yang sebenar-benarnya gila (al-majnuun haqqul majnuun). Adapun orang yang kalian tonton ini hanyalah sedang mendapat musibah dari Allah.”

Itulah penjelasan Rasulullah SAW mengenai orang yang sebenar-benarnya gila. Hadis ini memberikan pelajaran bahwa orang gila bukan lah orang yang dianggap sebagai orang yang hilang akal, melainkan adalah mereka yang sombong.

Dalam riwayat lain Rasulullah SAW berkata: “Orang gila adalah orang yang menggerakkan tangannya saat berjalan dikarenakan kesombongannya. Dagunya diangkat ke atas, dan tidak mau mengucapkan salam kepada masyarakat dikarenakan kesombongan.”

Orang yang demikian, dikira akan masuk surga karena sudah optimis dan gembira dengan kesombongannya. Padahal, hal yang demikian justru penuh dengan dosa dan maksiat.

Kisah orang gila dalam Islam di atas memberikan pembelajaran kepada kita semua bahwa orang yang terkena gangguan jiwa memungkinkan untuk sembuh dari penyakit psikologisnya. Namun yang lebih mengherankan, orang gila ternyata orang yang penuh dengan kesombongannya.

Dalam hal ini, orang yang ahli agama, ahli ibadah, kiai, ulama sekalipun, jika dalam melakukan sesuatu atas dasar kesombongan, maka dapat dikategorikan sebagai orang gila.

Karena itu, janganlah merasa sombong dan merendahkan orang lain karena harta kita, jabatan kita, kedudukan kita, termasuk dengan ilmu dan ibadah kita. Sebab, kesombongan ternyata disebut Nabi Muhammad sebagai orang gila.

Jika ada orang yang ahli ibadah, merasa ilmu agamanya tinggi dan seolah-olah merasa akan masuk surga, lantas sombong dan merendahkan orang lain, maka sejatinya dia adalah orang gila.

Sebab, ilmu yang kita miliki, ibadah yang kita lakukan, hanya semata-mata karena Allah, bukan untuk menyombongkan diri. Sungguh luar biasa ajaran yang diberikan baginda Rasulullah Muhammad SAW kepada umatnya.

Beliau hadir di muka bumi untuk menyempurnakan akhlak manusia, bukan untuk menghakimi, apalagi menyalahkan orang lain. Akhlak Nabi Muhammad yang demikianlah yang semestinya kita contoh dan teladani dalam kehidupan sehari-hari.

Allah melalui ayat Alquran Surat Luqman 18 juga berfirman:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Bahwa janganlah kita memalingkan muka dari manusia karena sombong, dan jangan berjalan di muka bumi dengan keangkuhan. Sesungguhnya Allah tidak suka dengan orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”

Orang gila menurut Islam dan Nabi Muhammad yang sesungguhnya adalah orang-orang yang sombong, sedangkan cara memperlakukan orang gila dalam konteks gangguan jiwa, mental dan psikis, hendaknya jangan berlebihan karena ia sedang sakit dan mungkin saja akan sembuh dari sakitnya.

Ku tutup risalah ini dengan do’a :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُوْنِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِ

Allaahumma innii a’uudzu bika minal barashi wal-junuuni wal-judzaami wa min sayyi’il asqaami

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, kusta, dan dari segala penyakit yang buruk/mengerikan lainnya.” (HR. Abu Dawud 1554)

Wallahu ‘alam.

About admin

Check Also

Kitab Tanwir al-Qulub: Penerang Hati dalam Kegelapan (Pegangan Pengikut Tarekat Naqsyabandiyah)

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...