Monday , May 10 2021
Home / Relaksasi / Renungan / Belajar Ilmu Ketuhanan kepada Seorang Pembantu

Belajar Ilmu Ketuhanan kepada Seorang Pembantu

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Allahumma shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad.

Sebelum aku mulai risalah kecilku ini, bacalah dengan perlahan dengan hati yang tenang, semoga Allah akan melimpahkan kekuatan kepadamu dalam mengarungi kehidupan ini…

إلهِي إنَّ قُدْرَتَكَ عَلَى كَشْفِ مَا أَنَا فِيهِ كَقُدْرَتِكَ عَلَى مَا ابْتَلَيْتَنِيْ بِهِ، وَإنَّ ذِكْرَ عَوَآئِدِكَ يُوْنِسُنِيْ، وَالرَّجَآءُ فِي إنْعَامِكَ وَفَضْلِكَ يُقَوِّيْنِيْ، لاَِنِّي لَمْ أَخْلُ مِنْ نِعْمَتِكَ مُنْذُ خَلَقْتَنِي.

“Ya Allah, Kekuasaan-Mu untuk melepaskan aku dari apa yang aku alami sama seperti kekuasaan-Mu untuk mengujiku. Sungguh, mengenang kebaikan-Mu membahagiakanku. Harapan akan nikmat dan anugrah-Mu menguatkanku. Karena tidak pernah aku kehilangan nikmat-Mu sejak Kau ciptakan aku.”

Ini sebuah kisah dari seorang Imam besar ahli Fiqih yaitu Imam Hambali yang diperintah oleh Gurunya yaitu Imam Syafei untuk menimba ilmu dari pembantu Sang Imam (Imam Syafei).

Mendengar perintah tersebut tentu saja Imam Hambali merasa dilecehkan oleh Sang Guru namun beliau tidak berani menolaknya dan beliau melakukan perintah Sang Guru. Apa yang terjadi ? Mari kita ikuti kisahnya.

Imam Hambali dengan segera menemui Imam Syafei begitu beliau mendengar Gurunya tersebut berkunjung ke Bagdad kota tempat beliau tinggal. Lalu beliau mohon kepada Imam Syafei agar sudi memberikan waktu untuk beliau bisa menambah ilmu dari Sang Guru (Hal ini merupakan tradisi jaman dulu yang sangat elegan, meskipun sudah begitu tingginya ilmu Sang Murid, tetapi masih selalu menghormati gurunya dan tetap minta diberi pelajaran).

Imam Syafei berkata: “Hai Hambali, sebaiknya kamu minta pelajaran dulu dari pembantuku ini (seorang penggembala kambing) sebelum minta pelajaran kepadaku”.

Beliau mencoba menawar agar dapat belajar langsung dari Sang Guru, namun Sang Guru mengulangi perkataannya. Sebagai seorang murid yang taat pada gurunya dia menuruti perintah Sang Guru meskipun ada yang mengganjal dihatinya. “Apa sih hebatnya pembantu yang tukang angon ini, sehingga aku disuruh belajar dari dia??”

Untuk mengetahui kedalaman ilmu Pembantu ini, Imam Hambalipun bertanya: “Wahai saudaraku, apa pendapatmu tentang seseorang yang lupa pada saat shalat sehingga meninggalkan satu rakaat dan terus salam?”.

Sang Pembantu menjawab: “Apakah aku akan menjawab menurut pendapatmu atau pendapatku?”

Imam Hambali terkejut mendengar jawaban ini, bagaimana mungkin seorang Pembantu bisa menawarkan pilihan jawaban, yang biasanya hanya dimiliki oleh orang yang berilmu tinggi.

Lalu beliau berkata: “Jawablah menurut pendapatku dan pendapatmu”.

Sang Pembantupun menjawab: “Baiklah, kalau menurut pendapatmu (maksudnya Imam Hambali), apabila lupanya belum lama (kira-kira selama 2 rakaat), maka orang itu hanya perlu menambahkan satu rakaat yang ketinggalan tersebut lalu sujud syahwi, tetapi kalau sudah cukup lama baru teringat, maka orang tersebut wajib mengulang shalatnya lalu sujud syahwi”.

Imam Hambali terkejut, “koq orang ini tahu pendapatku…, yang ternyata betul sekali karena tuntunannya memang demikian,” kata beliau dalam hati.

“Nah kalau menurut pendapatku… apabila aku yang melakukan kesalahan tadi, aku juga akan melakukan hal yang sama seperti pendapatmu itu, tapi aku juga akan melakukan puasa satu tahun lamanya sebagai tebusan atas kesalahanku pada Tuhanku, karena aku merasa sangat takut dan malu telah lupa padaNya dan memikirkan hal lain di dalam shalatku”.

Imam Hambali terperanjat dan terpana mendengar jawaban Sang Pembantu tadi, “.. Sekarang aku baru tahu betapa tingginya derajat orang ini, betapa luar biasa kuatnya rasa takut dan rasa malu orang ini kepada Tuhannya…meskipun dia hanya seorang pembantu dan penggembala kambing, yang di mata orang lain mungkin dianggap rendah..pantas Sang Guru menyuruh aku untuk menimba ilmu darinya…”, kata Imam Hambali dalam hati…

Marilah kita sadari bersama bahwa kadang kita enggan menuntut ilmu pada seseorang yang kita anggap rendah, semua karena kesombongan kita dan merasa diri lebih unggul. Saudaraku, kemuliaan dan kehinaan hanyalah milik Allah jangan sekali-sekali diklaim sebagai milik dan kuasa diri kita.

 

About admin

Check Also

Makna “Tampak Saking”

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...