Saturday , September 25 2021
Home / Agama / Kajian / Beginilah Adab Abu Bakar Kepada Mursyidnya, Rasulullah SAW

Beginilah Adab Abu Bakar Kepada Mursyidnya, Rasulullah SAW

“Inilah pengorbanan yang jauh lebih utama daripada pengorbanan apapun yang kita lakukan”.

Oleh : H Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Inilah sebuah kisah nyata bagaimana seorang Abu Bakar Ashshidiq ra seorang Sahabat Nabi yang juga Mursyid Tarekat melindungi Yang Mulia Rasulullah SAW, dengan menahan racun bisa ular yang mematikan dan rasa sakit yang luar biasa demi tidak mengusik Sang Nabi yang sedang istirahat. Setelah membaca kisah mengharukan ini semoga kita semua mengkaji diri seperti apakah kita menjaga adab dan kasih sayang kepada Mursyid kita. Inilah ajaran Adab dalam bertarekat !!!.

Di dalam bertarekat atau menempuh jalan rohani seorang murid (salik) sangat di tuntut untuk melaksanakan adab yang berlaku dalam tarekat tersebut, karena menurut para ulama adab jauh lebih utama dari ilmu. Jika seorang salik tidak memiliki adab kepada sang guru, sudah bisa di pastikan bahwa perjalanannya itu akan sia-sia, si salik tidak akan mendapatkan apa-apa dari perjalanannya itu.

Di dalam bertarekat adab adalah hal yang utama. Orang yang tak memiliki adab tak pantas berada di jalan Tuhan. Tak berilmu tapi beradab kepada mursyid tentu akan lebih cepat sampai ke tujuan daripada berilmu tapi tak beradab kepada mursyid, tentu yang lebih baik adalah berilmu dan beradab sekaligus kepada pembimbing rohaninya.

Dikutip dari buku The Khalifah, Biografi 4 Khalifah karya Abdul Latip Talib, saat berangkat hijrah ke Madinah, Rasulullah ditemani oleh Abu Bakar Ash Shidiq. Keduanya memilih rute yang bukan biasa dilewati para kafilah saat ke Madinah yang dulunya bernama Yatsrib itu.

Sampai di puncak Gunung Tsur, keduanya memutuskan bersembunyi di sebuah gua. Abu Bakar RA masuk terlebih dulu ke dalam gua. Dia membersihkan gua dari kotoran-kotoran binatang juga menutup lubang-lubang agar tak ada ular berbisa masuk.

Saat itu di dalam gua ditemukan banyak lubang, sehingga Abu Bakar RA menutupnya dengan baju yang dikenakan. Abu Bakar RA merobek bajunya hingga hanya tersisa dua lubang di sebelah kiri. Setelah dirasa semua lubang tertutup, Abu Bakar RA memanggil Nabi Muhammad SAW untuk masuk dan beristirahat di dalam.

Rasulullah SAW yang kelelahan tertidur. Abu Bakar tak tega melihat sang penghulu rasul itu tidur tanpa alas. Diraihnya pelan-pelan kepala sang rasul dan ditaruh di atas pangkuannya. Sementara dua telapak kakinya digunakan untuk menutup dua lubang gua agar tak dimasuki ular berbisa.

Namun ternyata, ada satu ular berbisa yang masuk ke dalam lubang dan mengigit kaki Abu Bakar. Tidak ada penjelasan jenis ular yang mengigit Abu Bakar dan kaki sebelah mana yang digigit.

Diriwayatkan, Abu Bakar tidak tega menarik kaki yang menjadi alas tidur Nabi Muhammad SAW. Walhasil, ular tersebut menggigit Abu Bakar RA beberapa kali. Sehingga ayahanda ‘Aisyah itu mengalami kesakitan yang luar biasa. Saking sakitnya, Abu Bakar RA sampai menangis dan meneteskan air mata.

Tak terasa air mata itu mengalir dan menetes mengenai Nabi Muhammad SAW yang menyebabkan putra Abdullah bin Abdul Muthalib itu terbangun. Mendapati sahabatnya menangis, Rasulullah SAW pun bertanya sebab Abu Bakar menangis.

Kepada Rasulullah SAW, Abu Bakar menjawab bahwa dia tidak sedang sedih. Apalagi saat itu dia sedang berdua dengan kekasih Allah SWT. Dia juga tidak sedang dalam keadaan takut sebab dikejar-kejar musuh.

“Wahai Rasulullah, kakiku telah dipatuk ular berbisa,” Abu Bakar menjawab sambil menangis menahan sakit.

“Kenapa engkau tidak memberitahuku dari tadi?” tanya Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, Engkau sedang tidur. Aku tidak sampai hati untuk membangunkanmu,” jawab Abu Bakar.

Mendengar jawaban tersebut, Rasulullah pun berdoa, “Ya Allah, jadikanlah Abu Bakar sederajat denganku pada hari kiamat nanti.”

Ayahanda Fatimah RA itu kemudian memeriksa kaki Abu Bakar Ash Siddiq. Mengusapnya beberapa kali lalu mengucapkan, “Bismillahirrahmanirrahim.

Nabi Muhammad SAW juga menggunakan air liurnya saat mengusap luka gigitan ular berbisa. Setelah itu Abu Bakar RA pun merasa lebih baik. Rasa sakitnya sudah mulai berkurang.

Setelah peristiwa tersebut, Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar RA menetap dalam Gua Tsur hingga kembali melanjutkan perjalanan ke Yatsrib.

Ku tutup risalah kecilku ini dengan do’a untuk Mursyid-mursyidku terkasih: Mama Arjaen, Syeikh Rahmatullah, Abah Guru Sekumpul, Abah Anang Jazuli, Abah Uci Turtusyi, Habib Ali bin Abdul Rahman Assegaff, dan para Wali Allah seluruhnya :

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِمَشَايِخِنَا وَلِمَنْ عَلَّمَنَا وَارْحَمْهُمْ، وَأَكْرِمْهُمْ بِرِضْوَانِكَ الْعَظِيْمِ، فِي مَقْعَد الصِّدْقِ عِنْدَكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Allâhummaghfir limasyâyikhinâ wa liman ‘allamanâ warhamhum wa akrimhum biridlwânikal ‘adzhîm fî maq’adish shidqi ‘indaka yâ arhamar-râhimîn

“Wahai Allah ampunilah guru-guru kami dan orang yang telah mengajar kami. Sayangilah mereka, muliakanlah mereka dengan keridhaan-Mu yang agung, di tempat yang disenangi di sisi-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara penyayang”. (Imam al-Haris al-Muhasibi, Risâlah al-Mustarsyidin, Dar el-Salam, halaman 141)

About admin

Check Also

Kontestasi Ruh, Babi dan Kera dalam Jasad Basyariyah Manusia

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...