Sunday , October 17 2021
Home / Ensiklopedia / Analisis / Babak Baru The Great Game Afghanistan Pasca Kemenangan Taliban

Babak Baru The Great Game Afghanistan Pasca Kemenangan Taliban

Jatuhnya Kabul ibukota Afghanistan, mengundang ragam pembahasan ihwal masa depan negeri yang terletak di kawasan Asia Tengah itu. Keunikan geopolitik Afghanistan, negeri ini merupakan negeri daratan bergunung-gunung yang tidak punya pantai dan akses ke laut.

Adapun dari segi lokasi geografis, Afghanistan terjepit di Utara oleh Republik Tajikistan, Uzbekistan, Turkmenistan dan Cina. Di Barat, berbatasan dengan Iran; di Timur dan Selatan bertetangga dengan Pakistan. Dengan demikian Afghanistan terletak di persimpangan jalan antara Timur dan Barat, antara Eropa dan Asia, dalam arti lalu-lintas budaya maupun perdagangan.

Satu catatan lagi terkait nilai strategis Afghanistan dari segi lokasi geografis adalah, di perbatasan Timur Laut terdapat celah Khyebar yang menghubungkan antara Afghanistan dan Pakistan. Di Utara terdapat celah Salang, gerbang yang menghubungkan Afghanistan dengan Tajikistan.

Mengenali Psiko-Grafis Penduduk Afghanistan

Ada banyak etnik yang menyebut dirinya bangsa Afghan. Menurut beberapa catatan yang berhasil dihimpun tim riset Global Future Institute (GFI), penduduk Afghanistan terdiri dari 21 suku dan tidak kurang dari 30 bahasa daerah dengan paham keagamaan dan budaya yang beragam. Namun 50 persen menggunakan dialek yang berasak dari bahasa Parsi yang disebut bahasa Dari.

Etnik Pathan (Pastun) adalah kelompok mayoritas pengikut aliran Sunnah wal-jamaah dari Mahzab Hanafiyah, membentuk 38 persen dari total jumlah penduduk. Disusul etnik kedua terbesar yaitu Tajik yang berbahasa Parsi membentuk 20-25 persen. Hazara yang dianggap merupakan keturunan ras Mongol yang memasuki Afghanistan pada abad ke-13 membentuk 19-20 persen. Bersama suku Tajik, mereka adalah pemeluk mahzab Syiah.

Di antara semuanya etnik Aimaq dan Uzbek adalah etnik yang paling jelas menampakkan ciri-ciri Mongolnya, masing-masing 6 persen. Adapun Turkoman dan Kyrgiz yang berbahasa Turki membentuk 2 persen.

Sejak 1747 Jadi Sasaran The Great Game Negara-Negara Adikuasa

Sebelum seperti kita kenal sekarang sebagai Afghanistan, jejak-jejak kesejarahan Afghanistan bisa ditelisik lewat celah Kheybar dan celah Salang. Misalnya ketika ekspedisi Iskandar Zulkarnain dari Makedonia (356-323 SM) melakukan mars menuju sungai Indus untuk menaklukkan Hindustan melalui Celah Salang dan Celah Kheybar. Invasi Iskandar Zulkarnain terhenti di Gandara (sekarang Kandahar).

Ketika dinasti Ummayah berhasil menaklukkan Persia pada 642, maka Afghanistan pun termasuk daerah taklukkan, sehingga sejak itu Afghanistan menjadi benteng Islam. Pada 1219 karena seluruh kawasan Asia Tengah jatuh ke tangan Mongol, maka beberapa kota yang sekarang masuk wilayah Afghanistan seperti Herat, Ghazni, dan Balk, jatuh ke tangan Mongol.

Pada 1747, seorang kepala suku Pathan bernama Ahmad Shah Durrani memimpin pemberontakan, dan berhasil menyatukan suku-suku yang ada, dan mendirikan Afghanistan sebagai sebuah kerajaan bersatu, setelah gubernur Persia di Afghanistan Nadir Shah dikalahkan di Khabushan. Namun pada 1842, dinasti Durrani digulingkan dan digantikan dinasti Barakzai.

Pada masa kekuasaan dinasti Durrani inilah, Afghanistan membentang dari Mashad di Iran sampai ke Delhi di India sekarang. Dari sungai Amu Darya (Oxus) di punggung Himalaya sampai ke Laut Arab. Namun kekuasaan tersebut menyusut dengan masuknya Inggris lewat East India Company (EIC).

Sejak 1747 inilah, dua negara besar, Inggris dan Rusia mulai terlibat dalam apa yang disebut sastrawan Inggris Rudyard Kipling, the Great Game berebut ruang pengaruh di Afghanistan. Inggris didorong motivasi memperluas kekuasaan maritimnya di perairan Asia dan Afrika, adapun Rusia memandang Afghanistan sebagai pintu keluar menuju ke Samudra Hindia dan Pasifik.

Sebagai hasil dari perang Inggris dan Rusia berebut Afghanistan antara 1839-1842 dan 1878-1880, Inggris berhasil menguasai daerah selatan pantai Laut Arab, dan sekarang menjadi bagian dari wilayah kedaulatan Pakistan. Namun demikian, sejak periode itu maupun di era Perang Dingin 1950-1989, Afghanistan merupakan medan proksi antara Inggris dan Rusia, meskipun kemudian beralih menjadi Amerika Serikat dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) versus Rusia dan Cina.

Ketika Uni Soviet menginvasi Afghanistan pada 1979,maka sejak itu rakyat Afghan dari berbagai etnik bersatu dalam sebuah organisasi gerakan Mujahidin untuk melawan invasi Uni Soviet. Selama masa perang melawan Soviet, para Mujahidin Afghan mendapat bantuan pelatihan intelijen, operasi dan dukungan persenjataan serta logistik dari badan intelijen AS, CIA.

Ketika gerakan perlawanan Mujahidin berhasil memaksa tentara Soviet mundur dari Afganistan, maka bibit pertikaian internal di dalam tubuh Mujahidin mulai muncul. Pertikaian dengan berbagai nuansa, pertikaian antara kaum moderat dengan garis keras, antara Mujahidin dengan bekas kolaborator asing yang kini memihak perjuangan rakyat, dan antara kecenderungan untuk menegakkan sistem dan hukum seperti di Barat yang sekuler berhadapan dengan kelompok fundamentalis Islam militan radikal.

Lantas, bagaimana ceritanya sampai yang namanya Taliban itu muncul di pentas politik nasional Afghanistan? Taliban sejatinya merupakan gerakan pelajar Islam (Al-Harakah al-Islamiyah al-Thalabah Madaris al-Diniyah), yang para anggotanya pada umumnya yang sedang belajar di Pakistan.

Menurut penuturan Mullah Muhammad Omar, kelahiran Taliban dilatarbelakangi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal karena adanya kegelisahan mereka terhadap perpecahan umat, konflik dan saling bunuh antara Sunni dan Syiah yang sesama Muslim, demoralisasi di kalangan para pemimpin pemerintahan, dan korupsi, yang justru semakin merebak pasca penarikan mundur tentara Soviet.

Adapun faktor eksternal, karena adanya tekanan Pakistan yang ingin agar sekutu utamanya selama gerakan perlawanan terhadap Soviet, yaitu Ahmad Shah dan Masood, bisa memegang kekuasaan di Afghanistan dengan dukungan dari Amerika Serikat.

Taliban didirikan oleh para santri militan di Kandahar, sebuah kota di seberang perbatasan Pakistan, pada Juli 1994. Meskipun baru diproklamirkan pada Oktober 1994. Dari Kandahar inilah, milisi Taliban melancarkan serangan-serangan ke kota-kota di Afghanistan dan akhirnya berhasil merebut Kabul, menumbangkan pemerintahan Burhanudin Rabani dan mengusir pasukan mereka ke Utara sampai ke lembah Pansjher di perbatasan Tajikistan.

Sejak saat itu, kekuatan anti-Taliban yang terusir dari Kabul itu kemudian membentuk satu organisasi yang mereka namakan “Aliansi Utara.”

Sementara itu Taliban, praktis sejak 1996 resmi berkuasa di Afghanistan dan membentuk pemerintahan Emirat Islam Afghanistan. Dengan menegakkan Syariat Islam sebagai dasar negara.

Namun situasi berbalik 180 derajat ketika terjadi pemboman gedung World Trade Center di New York, Amerika Serikat, pada September 2001. Oleh karena Taliban dianggap melindungi Osama bin Laden dan Al-Qaeda di Afghanistan yang dituding Gedung Putih sebagai aktor intelektual aksi teror terhadap gedung WTC maupun Pentagon, maka Presiden George W Bush memutuskan untuk menginvasi Afghanistan dengan dalih War on Terror atau Perang terhadap terorisme.

Kemenangan Taliban Merebut Kabul, Katalisator Terciptanya Keseimbangan Kekuatan Internasional Baru di Asia Selatan dan Asia Tengah?

Sehubungan dengan skema Bush tersebut, maka AS selain menggalang aliansi internasional dengan beberapa negara Eropa Barat yang tergabung dalam NATO untuk menumbangkan pemerintahan Taliban, juga mengikutsertakan Rusia. Dalam skema tersebut, maka Presiden Vladimir Putin mendesak Presiden Bush untuk melibatkan kekuatan-kekuatan anti-Taliban yang tergabung dalam Aliansi Utara, untuk dilibatkan dalam skema War on Terror Presiden Bush. Dengan kata lain, ikut mendukung skema invasi AS dan NATO ke Afghanistan, dan membentuk pemerintahan baru pasca Taliban, yang kali ini melibatkan kekuatan Aliansi Utara yang didukung Rusia.

Sekarang, 20 tahun setelah invasi AS ke Afghanistan dan tumbangnya pemerintahan Emirat Islam Afghanistan yang dimotori Taliban, Taliban kembali menguasa Kabul dan sebagian besar provinsi di Afghanistan.

Saat ini, menurut beberapa sumber terpercaya, masih tersisa 10 persen wilayah yang dikuasai aliansi Utara di daerah perbatasan dengan Tajikistan, sementara Ashraf Ghani menuju Tajikistan dan demikian juga kelompok-kelompok pendukungnya.

Sepertinya masih ada episode cerita yang masih akan berlanjut. Kalau dilihat dari skenario yang ada maka kemungkinan di dalam Taliban juga akan pecah antara yang mengikuti perjanjian dengan yang tidak mengikuti perjanjian. Yang taat pada perjanjian mungkin akan bergabung dengan aliansi utara.

Apakah dari sini baru cerita sebenarnya yang berkaitan dengan aktor-aktor internasional seperti India, Cina, Rusia, Tajikistan, Pakistan baru akan dimulai? Pada intinya para aktor yang bermain dalam the Great Game kali ini, sepertinya sangat sadar permainan.

Pertanyaan pentingnya adalah, apakah setelah berkuasanya kembali Taliban dan merebut Kabul ibukota Afghanistan, konfigurasi kekuatan global masih tetap sama seperti yang sudah-sudah? Yang jelas, persekutuan Pakistan dan Cina yang berbatasan langsung dengan Afghanistan, saat ini semakin solid. Iran yang berbatasan langsung dengan Afghanistan juga semakin menjalin kemitraan strategis dengan Cina.

Adapun Usbek dan Tajik yang juga berbatasan dengan Afghanistan, Rusia tetap menjalin kontak yang erat dengan kedua etnik tersebut melalui skema Aliansi Utara.

Maka itu keberhasilan Taliban merebut kembali Kabul dan sebagian besar provinsi Afghanistan, apakah berkat kedigdayaan kekuatan militer Taliban, atau karena diuntungkan oleh momentum desakan eksternal yang sedang menciptakan prakondisi terciptanya keseimbangan kekuatan internasional baru di kawasan Asia Selatan dan Tengah, kemenangan Taliban merebut kembali kekuasaan Kabul, bisa berfungsi sebagai katalisator ke arah tata ulang keseimbangan baru di Asia Tengah maupun Asia Selatan yang berbatasan langsung dengan Afghanistan.

Jadi sekuat kuatnya Taliban, tuntasnya penguasaan Taliban tetap terbantu oleh adanya dorongan kuat dari kekuatan-kekuatan eksternal yang sedang berupaya mendesakkan adanya menata ulang lanskap di kawasan Asia Tengah dan Asia Selatan.

Dengan begitu maka Cina, Rusia maupun Amerika serikat punya peluang dan probabilitas yang sama untuk memainkan kartu truf-nya masing-masing.

Karena itu, dalam memprediksi terciptanya Global Realignment seturut berkuasanya kembali Taliban, menurut saya sangat ditentukan oleh konstelasi dan konfigurasi tiga negara besar AS-Rusia-Cina di Asia Selatan saat ini. Dalam the great game di Afghanistan, mundurnya Amerika dalam jangka pendek bisa dibaca sebagai kekalahan militer, tapi belum tentu merupakan kekalahan politik dalam memenangkan tujuan perang secara nirmiliter dalam jangka panjang. Mengapa demikian? Karena walau bagaimanapun, AS dan sekutu-sekutunya yang tergabung dalam NATO, ibarat permainan catur mereka hanya bidak-bidak permainan catur. Adapun pemain catur yang menggerakkan bidak-bidak catur tersebut adalah Inggris.

Di sinilah kita harus memperhitungkan peran skenario Inggris dalam memainkan the Great Game-nya di kawasan Asia Selatan dan Asia Tengah saat ini. Yang harus dibaca adalah skenario geopolitik Inggris. Karena sejak abad ke 16, Afghanistan sejatinya merupakan medan perebutan pengaruh antara Inggris dan Rusia. Dan dalam memainkan apa yang dinamakan the Bristish Geopolitics, Inggris lebih berhasil mengungguli Rusia sejak 1747, meskipun sejak berakhirnya Perang Dunia II dan dimulainya era Perang Dingin sejak 1950-an, peran Inggris sudah diambil-alih oleh Amerika Serikat. Namun sekali lagi perlu digarisbawahi, bahwa pemain caturnya tetap Inggris, sedangkan Amerika Serikat hanyalah satu diantara bidak caturnya.

Sebagai pemain catur, apa yang bisa kita lihat di benar pikiran para skemator geopolitik Inggris saat ini? Hanya dengan melihat apa yang dipikirkan para skemator geopolitik Inggris, kita kita membaca langkah-langkah bidak catur seperti Taliban maupun kelompok-kelompok anti-Taliban yang tergabung dalam Aliansi Utara dalam beberapa waktu mendatang.

Oleh: Hendrajit, Pengkaji geopolitik, Global Future Institute (GFI)
Source: The Global Review

About admin

Check Also

Golden Crescent: Rahasia Geopolitik Afghanistan

Secara geopolitik Afghanistan memang strategis. Pada masa Perang Dunia I dan Perang Dunia II, Afghanistan ...