Home / Agama / Kajian / Ancaman Allah SWT Terhadap Pelaku LGBT

Ancaman Allah SWT Terhadap Pelaku LGBT

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Belakangan Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) tengah menjadi isu yang banyak diperbincangkan netizen. Terlebih, salah satu Youtuber kondang mengundang pasangan gay untuk diwawancarai. Nah berikut larangan dan ancaman Allah SWT untuk para LGBT.

Segala sesuatunya oleh Allah SWT diciptakan berpasangan, hatta sandal sekalipun, ada sisi kanan dan kirinya. Terlebih dalam konteks manusia, sudah jelas ada laki-laki dan perempuan. Namun sayangnya, ada beberapa oknum yang dia memilih jalan yang anti mainstream, yakni menyukai sesama jenis.

Memang nikah itu harus sejenis, namun yang dimaksud adalah sesama manusianya, bukan dengan makhluk lainnya. Adapun pasangannya, maka harus beda jenis dari segi gendernya.

Entah karena didasari apa, seseorang bisa menyukai sesama jenis. Yang jelas ini adalah orientasi seksual yang menyimpang, naluri sehat manusia pun pastinya akan menolaknya. Apalagi ini juga dilarang oleh norma agama.

LGBT tidak dapat diterima sama sekali, adapun orang yang telah terjebak dalam LGBT, maka kita harus berusaha untuk menyelamatkannya. Namun jika ia sudah tidak bisa diarahkan, mari menempuh jalan ninja, yakni dengan berdoa agar ia tidak “menyimpang”.

Amat sangat banyak sekali larangan melakukan perbuatan menyimpang ini, larangannya disajikan dengan menceritakan kaum Nabi Luth As yang mana mereka terbiasa dengan perilaku ini. Kisah ini tertera dalam berbagai surat.

Surat al-A’raf [7] ayat 80-81:

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ ۞ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ ۞

(80). (Kami juga telah mengutus) Lut (kepada kaumnya). (Ingatlah) ketika dia berkata kepada kaumnya, “Apakah kamu mengerjakan perbuatan keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun sebelum kamu di dunia ini? (81). Sesungguhnya kamu benar-benar mendatangi laki-laki untuk melampiaskan syahwat, bukan kepada perempuan, bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas.”

Surat al-Hijr [15] ayat 67-72:

وَجَاءَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ يَسْتَبْشِرُونَ ۞ قَالَ إِنَّ هَٰؤُلَاءِ ضَيْفِي فَلَا تَفْضَحُونِ ۞ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَلَا تُخْزُونِ ۞ قَالُوا أَوَلَمْ نَنْهَكَ عَنِ الْعَالَمِينَ ۞ قَالَ هَٰؤُلَاءِ بَنَاتِي إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ ۞ لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ ۞

(67). Datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena kedatangan tamu itu). (68). Dia (Luth) berkata, “Sesungguhnya mereka adalah tamuku. Maka, jangan mempermalukanku. (69). Bertakwalah kepada Allah dan jangan membuatku terhina.” (70). Mereka berkata, “Bukankah kami telah melarangmu (menerima) manusia (para tamu)?” (71). Dia (Luth) berkata, “Mereka itulah putri-putri (negeri)-ku. (Nikahilah mereka) jika kamu hendak berbuat (memenuhi nafsu syahwatmu).” (72). (Allah berfirman,) “Demi umurmu (Nabi Muhammad), sungguh, mereka terombang-ambing dalam kemabukan (demi melampiaskan hawa nafsu).”

Surat Hud [11] ayat 78-79:

وَجَاءَهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوا يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ ۚ قَالَ يَا قَوْمِ هَٰؤُلَاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ ۖ فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَلَا تُخْزُونِ فِي ضَيْفِي ۖ أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ ۞ قَالُوا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ ۞

(78). Kaumnya bergegas datang menemuinya. Sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan keji. Lut berkata, “Wahai kaumku, inilah putri-putri (negeri)-ku. Mereka lebih suci bagimu (untuk dinikahi). Maka, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)-ku di hadapan tamuku ini. Tidak adakah di antaramu orang yang berakal sehat?” (79). Mereka menjawab, “Sungguh, engkau pasti tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu dan engkau tentu mengetahui apa yang (sebenarnya) kami inginkan.”

Surat al-‘Ankabut [29] ayat 33:

وَلَمَّا أَنْ جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالُوا لَا تَخَفْ وَلَا تَحْزَنْ ۖ إِنَّا مُنَجُّوكَ وَأَهْلَكَ إِلَّا امْرَأَتَكَ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ ۞

“Ketika para utusan Kami datang kepada Luth, ia sedih karena (kedatangan) mereka dan merasa tidak mempunyai kekuatan untuk melindunginya. Mereka pun berkata, “Janganlah takut dan jangan sedih. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu, kecuali istrimu. Dia termasuk (orang-orang kafir) yang tertinggal.”

Surat al-Syu’ara [26] ayat 165-170:

أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ ۞ وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ ۞ قَالُوا لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ يَا لُوطُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمُخْرَجِينَ ۞ قَالَ إِنِّي لِعَمَلِكُمْ مِنَ الْقَالِينَ ۞ رَبِّ نَجِّنِي وَأَهْلِي مِمَّا يَعْمَلُونَ ۞ فَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ أَجْمَعِينَ ۞

(165). Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia (berbuat homoseks)? (166). Sementara itu, kamu tinggalkan (perempuan) yang diciptakan Tuhan untuk menjadi istri-istrimu? Kamu (memang) kaum yang melampaui batas.” (167). Mereka menjawab, “Wahai Lut, jika tidak berhenti (melarang kami), niscaya engkau benar-benar akan termasuk orang-orang yang diusir.” (168). Dia (Lut) berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang sangat benci terhadap perbuatanmu.” (169). (Lut berdoa,) “Wahai Tuhanku, selamatkanlah aku dan keluargaku dari apa yang mereka perbuat.” (170). Maka, Kami selamatkan dia bersama semua keluarganya,

Surat al-Qamar [54] ayat 33-34:

كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ بِالنُّذُرِ ۞ إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ حَاصِبًا إِلَّا آلَ لُوطٍ ۖ نَجَّيْنَاهُمْ بِسَحَرٍ ۞

(33). Kaum Luth pun telah mendustakan peringatan-peringatan. (34). Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka badai batu, kecuali pengikut Luth. Kami menyelamatkan mereka sebelum fajar menyingsing.

Berikut adalah salah sekian penjelasan para Mufassirin terkait larangan melakukan perbuatan nira adab ini:

قَالَ أَبُوْ جَعْفَر: يَقُوْلُ تَعَالَى ذِكْرُهُ: وَأَمْطَرْنَا عَلَى قَوْمِ لُوْطٍ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا لُوْطًا وَلَمْ يُؤْمِنُوْا بِهِ، مَطَرًا مِنْ حِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيْلٍ أَهْلَكْنَاهُمْ بِهِ « فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ »، يَقُوْلُ جَلَّ ثَنَاؤُهُ: فَانْظُرْ، يَا مُحَمَّد، إِلَى عَاقِبَةٍ هَؤُلآءِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهُ مِنْ قَوْمِ لُوْطٍ، فَاجْتَرَمُوْا مَعَاصِيَ اللّٰهِ، وَرَكَبُوا الْفَوَاحِشَ، وَاسْتَحْلُوْا مَا حَرَّمَ اللّٰهُ مِنْ أَدْبَارِ الرِّجَالِ، كَيْفَ كَانَتْ؟ وَإِلَى أَيِّ شَيْءٍ صَارَتْ؟ هَلْ كَانَتْ إِلَّا الْبَوَار وَالْهَلَاك؟ فَإِنَّ ذَلِكَ أَوْ نَظِيْرَهُ مِنَ الْعُقُوْبَةِ، عَاقِبَةٌ مَنْ كَذَّبَكَ وَاسْتَكْبَرَ عَنِ الْإِيْمَانِ بِاللّٰهِ وَتَصْدِيْقِكَ إِنْ لَمْ يَتُوْبُوْا، مِنْ قَوْمِكَ.

“Allah berfirman dalam surat Al-A’raf ayat 84 “dan telah Kami hujani mereka (dengan hujan batu), maka lihatlah bagaimana akibat yang diperoleh oleh orang-orang yang durhaka”.

Kemudian Mufassir juga menyampaikan “Allah berfirman kepada Nabi Muhammad SAW dalam hadits qudsi “Lihatlah wahai Nabi Muhammad, bagaimana akibat yang diterima kaum luth, yang mana mereka mendustakan Allah dan rasul-Nya. Mereka bermaksiat kepada Allah, melakukan perkara yang nira adab, juga menghalalkan apa yang diharamkan Allah semisal homo seksual. Bagaimana keadaan mereka? Mereka jadi apa? Apakah mereka mendapatkan kebinasaan dan kehancuran?. Yang demikian adalah akibat yang diterima oleh mereka yang mendusatakanmu (Muhammad) dan enggan untuk Iman kepada-Ku (Allah SWT), serta mempercayaimu Muhammad. (Abu Ja’far Jarir Al-Thabari, Jami’ al-Bayan atau biasa disebut dengan tafsir Al-Thabari )

Secara leksikal khitab (lawan atau objek bicaranya) dari ayat ini adalah Nabi kita Muhammad SAW, Namun dijelaskan oleh Mufassir berikut:

« فَانْظُرْ » يَا مُحَمَّد « كَيْفَ كانَ عاقِبَةُ » هَؤُلآءِ « الْمُجْرِمِينَ » وَآخَرُ أَمَرَهُمُ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ إِلَيْهِمْ، وَعَمِلُوا الْفَوَاحِشَ كَيْفَ أَهْلَكْنَاهُمْ بِعَذَابٍ مُسْتَأْصِلٍ لَهُمْ، وَهَذَا الْخِطَابُ، وَإِنْ كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، لَكِنِ الْمُرَادُ بِهِ غَيْرُهُ مِنْ أُمَّتِهِ؛ لِيَعْتَبِرُوْا بِمَا جَرَى عَلَى هَؤُلَآءِ، فَيَنْزَجِرُوْا بِذَلِكَ الْاِعْتِبَارِ عَنِ الْأَفْعَالِ الْقَبِيْحَةِ وَالْفَوَاحِشِ الْخَبِيْثَةِ، وَالْمَعْنَى: فَانْظُرْ أَيُّهَا الْمُعْتَبِرَ هَذَا الْقَصَصَ وَتَأَمُّلِهِ حَقَّ التَّأَمُّلِ؛ لِتَعَلُّمِ عَذَابِ الْأُمَمِ عَلَى ذُنُوْبِهَا فِي الدُّنْيَا قَبْلَ الْآخِرَةِ.

Meskipun khitab dari ayat ini adalah nabi Muhammad SAW, namun ini juga berlaku general atas ummatnya beliau. Agar supaya mereka bisa belajar dari pengalamannya kaum sodom, dengan mengetahuinya, maka jauhilah perbuatan tercela dan nira adab itu.

Maksudnya adalah maka lihatlah kisah ini wahai mu’tabir (orang yang mengambil pelajaran dari pengalaman), hayatilah dengan sepenuhnya, agar upaya kalian tau terhadap adzab kaum sebelummu yang sudah diberikan terlebih dahulu, yakni di dunia. (Muhammad al-Amin bin Abdullah al-‘Alawi, Tafsir Hadâ’iq al-rûh wa al-Raihân fî Rawâbi ‘Ulûm al-Qur’an)

Tidak juga ketinggalan, Mufassir kebanggan nusantara, Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Tafsir Marah Labîd li Kasyf Ma’na al-Qurân al-Majîd menginterpretasikan ayat ini. Beliau mengatakan:

فَانْظُرْ كَيْفَ كانَ عاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ (84) أَيْ فَانْظُرْ يَا مَنْ يَتَآتِى مِنْهُ النَّظَرُ كَيْفَ أَمْطَرَ اللّٰهُ حِجَارَةً مِنْ طِيْنِ مَطْبُوْخٍ بِالنَّارِ مُتَتَابِعٍ فِي النُّزُوْلِ عَلَى مَنْ يَعْمَلْ ذَلِكَ الْعَمَلَ الْمَخْصُوْصَ، وَكَيْفَ أَسْقَطَ مَدَائِنُهَا مَقْلُوْبَةً إِلَى الْأَرْضِ.

“Perhatikanlah wahai orang yang mengetahui fakta ini, yakni ketika Allah menghujani mereka yang melakukan sodomi ini dengan tanah yang dibakar dari api neraka, turunnya bersamaan dan berterusan, serta bagaimana desa mereka dibalik ke dalam perut bumi”.

Secara tegas, para Mufassir melarang perbuatan ini. Karena memang sudah di luar nalar, ada orang yang melakukan ini. Sampai-sampai para ulama’ hanya menasehati dengan suatu kisah saja, tanpa menjelaskan secara spesifik.

Ketegasan para Mufassir dalam memberikan pendapatnya tentang LGBT terlihat pada fokusnya terhadap bentuk dan jenis azab yang pernah diturunkan Allah SWT kepada umat Nabi Luth terdahulu.

Mungkin memang harus demikian, sebab kebanyakan manusia “bisanya” belajar dari pengalaman. Bahkan beberapa juga tidak mempan dengan metode demikian. Semoga kepekaan mereka selalu ada, atas nasehat-nasehat yang telah disiratkan kepada mereka.

Demikian penjelasan terkait larangan Allah SWT terhadap para pelaku LGBT.

Wallâhu A’lamu bish-Shawâb

Source: Bincang Syari’ah

 

About admin

Check Also

Kaidah Rezeki: Jika Satu Pintu Rezeki Seorang Hamba Ditutup, Allah Buka Pintu Rezeki yang Lain

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...