Home / Relaksasi / Renungan / Amanah Guru Sufi untuk Anak-anaknya

Amanah Guru Sufi untuk Anak-anaknya

“Kalimah Lâ Ilâha illâ Allâh adalah amanah Allah dan RasulNya, agungkanlah!!!”

Oleh : H Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Anakku…

Sungguh tiada kata agung yang melebihi kalimat Lâ Ilâha illâ Allâh karena kalimat itu kunci masuk surga…

Kalimat itulah yang membuat mata lahir bathinmu buta untuk melihat kepada selainNya…

Janganlah engkau bergeser dari pandangan itu…

Anakku…

Jalan kau tempuh ini hanya bisa dilewati oleh para pemberani. Para sahabat Nabi utama; Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali, adalah orang-orang pemberani yang mempertaruhkan nyawanya demi tegaknya Agama Islam Mulia penuh keagungan ini.

Kalau engkau penakut, lebih baik engkau berhenti di sini saja, jangan lanjutkan perjalanan ini karena engkau pasti akan gagal.

Jalan ini telah diisi oleh lautan air mata kepedihan para Nabi dan Rasul, telah digenangi oleh darah para Syuhada dan itu akan tetap berlangsung sampai akhir zaman.

Kalau engkau siapkan mentalmu maka berjalanlah bersamaku niscaya engkau akan kutuntun dengan selamat kepada-Nya.

Anakku…

Jangan engkau sibukkan dirimu dengan mengurus setan di luar, kalahkan dulu setan dalam perutmu maka engkau akan sanggup mengalahkan setan di luar perutmu.

Akan tetapi…, suatu saat nanti engkau akan berterima kasih pada setan karena hakekatnya dia diciptakan untuk membuat para penempuh jalan kebenaran menjadi hati-hati dan kuat.

Setan itu lawan tandingmu namun suatu saat dia tidak akan bisa lagi mempengaruhimu, ketika engkau telah menyatu dengan Tuhan, maka tidak ada lagi sesuatu selain Dia.

Anakku…

Suatu saat nanti Tuhan langsung akan mengujimu. Ingatlah kisah ahli ibadah zaman dahulu yang dinaikkan maqamnya kepada maqam sangat mulia sehingga Tuhan berkata;

“Wahai hamba-Ku yang baik dan mulia, mintalah kepada-Ku, segala permintaanmu akan Aku penuhi, apakah engkau menginginkan maqam Abdul Qadir? Atau maqam Abu Yazid?”.

Jika suatu saat engkau diuji seperti itu, maka serahkanlah segala sesuatu kepada-Nya, jangan engkau meminta apapun karena setiap permintaanmu justru akan membuat engkau terjatuh.

Para Guru kita mengajarkan bahwa do’a tertinggi adalah;

إِلَهِيْ أَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ

Ilâhî Anta maqshûdî wa ridhâka mathlûbî

Engkau yang kumaksud, ridha-Mu yang aku tuntut”.

Dan maqam tertinggi itu tidak lain menjadi Hamba yang baik.

Anakku…

Jalan menuju surga itu penuh duri dan air mata.

Apakah kita harus mengalami sakit? Ya.
Apakah harus menjalani derita? Ya.
Apakah harus tertumpah air mata? Ya.

Dan hanya air mata orang Dzikrullah yang bisa memadamkan neraka.

Kalau engkau masih merasakan sakit, susah, kecewa dan tersinggung maka sebenarnya engkau masih lemah, jalani semua cobaan Tuhan dengan sabar dan tawakal.

Di saat semua penderitaan dan kesusahan yang menimpamu tidak mempengaruhimu sedikitpun, maka di saat itulah engkau telah mengalami pencerahan dan engkau telah menjadi manusia kuat dalam arti yang sebenarnya. Bukankah Nabi kita telah mengingatkan melalui sabdanya;

 لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Laysasy syadîdu bish-shura’ati innamasy syadîdul ladzî yamliku nafsahu ‘indal ghadhab

“Orang kuat bukanlah orang yang mengalahkan musuh di medan pertempuran, akan tetapi orang yang bisa menahan marah di saat dia bisa marah”.

Anakku…

Surga di bawah telapak kaki ibu”, begitulah sabda Nabi.

Akan tetapi, bisakah seorang ibu yang belum masuk surga bisa memasukkan anaknya ke dalam surga? Atau surga di bawah telapak kaki ibu yang dimaksud oleh nabi itu hanyalah surganya anak-anak? Pertanyaan ini biar engkau saja yang menjawabnya.

Surga itu akan bisa engkau capai setelah melewati 70.000 rasa dan akhirnya engkau akan diberi sebuah kunci surga yaitu; “Lâ Ilâha illâ Allâh Muhammadur Rasûlullâh”. Itulah bentengmu dunia dan akhirat.

Anakku…

Apa beda ucapan “Lâ Ilâha illâ Allâh” yahudi, atheis dengan Wali Allah?

Yahudi sangat fasih mengucapkan kalimat itu. Lebih fasih dari dirimu dan lebih fasih dari ulama di negeri kita. Karena yahudi itu juga orang Arab.

Akan tetapi, sayangnya, ucapan yahudi hanya di mulut saja dan tidak ada kontak dengan Allah.

Bukan ukuran fasihnya, akan tetapi bagaimana engkau bisa beserta dengan yang punya Nama. Nama Allah diturunkan dari sisi-Nya sendiri barulah berlaku di alam ini.

Nama presiden harus dikeluarkan lewat jalur resmi, turun kepada para menteri kemudian kepada gubernur sampai ke aparat desa. Barulah nama itu bisa keramat dan ditakuti serta dipatuhi oleh segenap warga negara termasuk aparat negara.

Kalau engkau ambil nama itu bukan lewat jalur yang Haq, maka nama itu hanya menjadi sebuah nama saja, tidak ada powernya.

Kun Fayakûn akan terjadi apabila yang mengucapkannya adalah Allah sendiri dan orang yang beserta Allah yang disalurkan lewat jalur yang Haq dengan menggunakan Metode (thariqah) yang benar pula.

Anakku…

Lima puluh tahun aku melakukan riset ilmu zikir dan aku mengambil kesimpulan; bahwa tidak ada jalan yang lebih mudah menghampiri diri dengan Allah kecuali melalui Thariqah Allah.

Anakku…

Sesungguhnya hidup dan matimu ada dalam naungan kalimat Lâ Ilâha illâ Allâh apapun agama dan kepercayaanmu. Tiada sesuatu apapun yang bisa lepas dari kalimat itu..

Wahai anakku…

Jangan pernah engkau lupakan untuk selalu berdo’a:

 رَبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا وَارْزُقْنِيْ فَهْمًا وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الصَّالِحِيْنَ 

Rabbî zidnî ‘ilmâ warzuqnî fahmâ waj’alnî minash shâlihîn

Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku, dan berilah aku karunia untuk dapat memahaminya, dan jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang saleh.”

Serahkan kebodohanmu kepada Tuhanmu, semoga Dia membimbingmu kepada samudera ilmu-Nya yang tiada berbatas…

Âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn

 

About admin

Check Also

Nasihat Syaikh Abu al-Hasan Ali asy-Syadzili

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...