Home / Agama / Kajian / Al-Qur’an Sejati

Al-Qur’an Sejati

Oleh: H. Derajat*

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillãhirrahmãnirrahîm
Wash-shalãtu was-salãmu ‘alã Muhammadin wa ãlihî ma’at taslîmi wa bihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘ãmmati wal-hidãyatit tãmmah, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn”.

Sebelum wafat Rasulullah SAW berwasiat :

اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: تَـرَكْتُ فِـيْكُمْ اَمـْرَيـْنِ لَنْ تَضِلُّـوْا مَا تَـمَسَّكْـتُمْ بِـهِمَا: كِـتَابَ اللهِ وَ سُنَّـةَ رَسُوْلـــِهِ

Aku tinggalkan untuk kamu sekalian dua perkara (pusaka), tidak akan kamu sekalian tersesat selama kamu sekalian berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan sunah Rasul-Nya“.

Pusaka dari Rasulullah bukan untuk disimpan dan dikeramatkan namun harus dibaca, dipelajari, dikaji, dipahami, dimengerti, diamalkan serta disebarluaskan untuk mendapatkan keridhoan Allah, bukan untuk mendapatkan surga.

Perhatikan Firman-Firman Allah berikut ini :

قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ ۞

“Katakanlah: “Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Baqarah [2] : 97).

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۞

“… Dia akan memberi petunjuk kepada Hatinya…” (QS. At-Taghãbun [64] : 11)

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ ۞

“(Al Qur’an) ini adalah ayat-ayat yang nyata di dalam hati orang-orang yang diberi ilmu dan hanya orang-orang durjana yang mengingkari ayat-ayat Kami” (QS. Al-‘Ankabût [29] : 49)

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ ۞ فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ ۞ لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ ۞

“Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia. Berada pada kitab yang terpelihara. Tidak menyentuhnya kecuali oleh mereka yang disucikan” (QS. Al-Wãqi’ah [56] : 77-79)

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ ۞

“Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka” (QS. Fushshilat [41] : 53).

وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ ۞

“Dan di dalam dirimu, apakah engkau tidak memperhatikan” (QS. Adz-Dzãriyãt [51] : 21).

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ ۞

“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud”. (QS. Al-Hajj [22] : 26)

قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ ۞

“… Sesungguhnya telah datang kapadamu dari Allah Cahaya dan Kitab yang terang”. (QS. Al-Mãidah [5] : 15)

وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا ۞

“…Tetapi Kami menjadikan Al-Quran itu cahaya…” (QS. Asy-Syûrã [42] : 52)

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۞

“Allah adalah Cahaya langit dan bumi” (QS. An-Nûr [24] : 35)

Kemudian, dalam sebuah Hadits Rasulullah mengatakan; “Bacalah Kitab yang kekal yang ada di dalam dirimu“.

Pada hakekatnya, qalbu adalah tempat yang terpelihara bagi Al-Qur’an yang mulia, kitab suci tanpa tulisan sebagai Sumber Hukum dan Sumber Sabda bagi mereka yang diberi ilmu melalui telinga bashirah bukan melalui telinga jasmaniah.  Sesuai dengan firman-firman-Nya, bahwa cara berkomunikasi dengan Allah serta petunjuk-petunjuk-Nya juga melalui qalbu yang bersih.

Kita harus hati-hati terhadap suara-suara yang kita dengar melalui telinga jasmani karena mungkin saja itu suara setan. Rasulullah pun bersabda bahwa segala sesuatu ada pembersihnya, pembersih qalbu adalah dzikir agar menjadi mukmin yang benar. Oleh karena itu pelajarilah Adz-dzikr.

Adz-dzikr adalah Al-Qur’an yang harus dibaca, dipelajari, dihayati sebagai kunci pembuka pintu qalbu, sehingga kita bisa masuk dan menyelam ke dasarnya untuk mendapatkan mutiaranya. Bila pintu qalbu terbuka maka qalbu bisa menerima pancaran Nur Illahi, karena Al-Qur’an adalah Nur.

Dengan berdzikir hati menjadi bersih. Hanya hati yang bersih yang bisa menyentuh kitab yang terpelihara, Al-Qur’an yang hakiki, Kitab yang kekal yang berada di dalam diri kita sendiri.  Oleh karena itu bisa kita pahami, kenapa mursyid-mursyid menganjurkan agar kita tidak hanya sekedar mencari dan mengenal diri pribadi, tapi harus mencari Nur-Nya Allah dan harus benar menempatkannya. Karena sesungguhnya yang beliau kehendaki adalah bersih hati.

Bukankah di dalam Nur Illahi terkandung juga Nur Muhammad, Nurul Islam, Nurul Qur’an, Nurul ilman, Nurul iman dan Nurul ihsan? Sedangkan  An-Nur adalah Allah. Dia-lah Al Qur’an sejati, kitab yang kekal yang berada di dalam dirimu. Dia-lah mutiara yang berada di dalam diri kita semua. Allah akan membimbing dengan Cahaya-Nya kepada Cahaya-Nya bagi siapapun yang DIA kehendaki.

Mengenal Dzat harus melalui Dzat. Allah adalah Guru Sejati yang ada di dalam diri yang akan membimbing kita untuk kembali kepada Cahaya-Nya yang disebut SwargaSwar adalah Cahaya dan Ga artinya kembali. Swarga artinya Kembali kepada Cahaya-Nya.

Tanpa mempelajari, memahami dan mengamalkan Al-Qur’an pusaka dari Rasulullah, tak mungkin kita bisa menyentuh Al-Qur’an Sejati, tak mungkin kita bisa mencapai Allah SWT.

Wallãhu A’lam.. (hanya Allah yang mengetahui setiap kebenaran)

Setiap kebenaran datangnya dari Allah, dan kesalahan datangnya dari nafsuku sendiri. Semoga Allah memberikan cahaya-Nya kepada pembaca artikel ini dan menuntun kepada jalan-Nya agar mereka bisa diberi hidayah yaitu bertemu dengan-Mu ya Allah. Ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn..

Saran: Janganlah kita hanya puas dengan bisa membaca Al-Quran 30 Juz yang berada pada rak-rak buku tapi mulai belajar bacalah Al-Quran tanpa batas, tanpa huruf, tanpa suara sebagai pusaka Rasulullah SAW.

___________

* Pimpinan Pasulukan Loka Gandasasmita, Mursyid Thariqah Syatthariyyah

 

About admin

Check Also

Pilihlah Agama dengan Teks atau Tanpa Teks

“Beragama tidaklah sempurna tanpa menggabungkan agama tekstual dengan agama ritual spiritual” Oleh: H. Derajat بِسْمِ ...