Thursday , December 9 2021
Home / Agama / Kajian / Aku Ingin untuk Tidak Punya Keinginan

Aku Ingin untuk Tidak Punya Keinginan

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Para sahabatku yang terkasih, kali ini guru kami, Syeikh Ahmad Ibnu ‘Athaillah al-Sakandary, memberikan nasehat bagi para pejalan (sâlik) di jalan Allah SWT untuk berusaha semaksimal mungkin menanggalkan keinginannya dan meleburkan segala kehendaknya kepada kehendak Allah SWT. Nasehat ini beliau paparkan dalam Kitab al-Tanwîr fî Isqâth al-Tadbîr, bab empat, tentang:

Karamah Paling Utama; Tidak Mengatur

Sikap ingin mengatur dan ikut campur atas pilihan Allah adalah dosa besar. Apabila kau ingin dipilihkan oleh Allah SWT, berhentilah mengatur bersama-Nya. Jika kau ingin mendapatkan pengaturan yang baik dari Allah SWT, janganlah kau ikut-ikutan mengatur. Dan jika kau ingin meraih yang diinginkan, pasrahlah menuruti keinginan-Nya.

Karena itu, ketika Abu Yazid qaddasallâhu sirrahu ditanya, “Apa yang kau inginkan?” Ia menjawab, “Aku ingin untuk tidak punya keinginan”. Ia senantiasa memimpikan dan memohonkan kepada Allah SWT sirnanya keinginannya untuk kemudian bergerak bersama-Nya. Sebab, ia mengetahui bahwa sirnanya keinginan merupakan karâmah yang paling mulia dan bentuk taqarrub (kedekatan) yang paling agung.

Banyak orang yang punya karâmah lahiriyah, namun mereka masih punya keinginan untuk ikut mengatur bersama-Nya. Sementara karâmah yang paling rahasia, paling sempurna, dan haqiqi adalah tidak ikut mengatur bersama Allah SWT serta pasrah kepada putusan-Nya.

Karena itu, Syeikh Abu al-Hasan rahimahullâh berkata, “hanya ada dua macam karâmah, yaitu karâmah iman dengan bertambahnya keyakinan dan penyaksian langsung, serta karâmah amal dengan mengikuti Nabi SAW, seraya menjauhi pengakuan palsu dan tipu daya. Orang yang dianugerahi keduanya namun masih menginginkan yang lainnya berarti pendusta atau ilmu dan amalnya salah. Orang yang memiliki karâmah namun tidak disertai keridhaan Allah SWT dan ridha kepada-Nya, berarti ia tertipu, cacat dan celaka”.

Jadi, karâmah mesti disertai sikap ridha kepada Allah SWT. Dan orang yang ridha kepada Allah SWT tidak akan ikut mengatur serta memilih bersama-Nya.

Ada orang yang berkomentar, “ketika Abu Yazid qaddasallâhu sirrahu berkeinginan untuk tidak punya keinginan, berarti ia menginginkan”. Komentar seperti itu bukanlah ucapan orang yang berma’rifat. Pasalnya, Abu Yazid qaddasallâhu sirrahu ingin untuk tidak punya keinginan karena Allah SWT telah memilihkan untuknya dan untuk seluruh hamba sirnanya keinginan bersama-Nya. Sesuatu yang diinginkannya adalah tidak punya keinginan sesuai dengan yang diinginkan Allah SWT untuknya.

Karena itu, Syeikh Abu al-Hasan rahimahullâh berkata, “kau tidak punya saham sedikitpun terhadap semua yang dipilihkan dan disusun oleh syari’at. Kewajibanmu hanyalah mendengarkan dan mentaati! Di sinilah terletak pemahaman Rabbâniy dan ilmu Lâdunniy. Inilah tanah tempat turunnya ilmu hakikat bagi orang yang benar yang bersumber dari Allah SWT”.

Ucapan Syeikh itu menjelaskan bahwa menjalani pilihan syari’at sama sekali tidak bertentangan dengan maqam penghambaan yang didasarkan atas sikap tidak memilih. Orang yang lemah akal tidak bisa memahami hal ini dan tertipu karena mengira bahwa rangkaian wirid dan berbagai amalan sunnah bertentangan dengan hakikat penghambaan -karena dengan menjalani semua itu, berarti ia telah memilih.

Syeikh rahimahullâh menerangkan bahwa setiap pilihan dan ketetapan syari’at tidak memberikan ruang bagi pilihan dan pemikiran hamba. Kau diperintah untuk keluar dari pengaturan dan pilihanmu atas dirimu, bukan keluar dari pengaturan Allah SWT dan Rasul-Nya untukmu. Pahamilah dengan seksama!

Kini kau mengetahui bahwa Abu Yazid qaddasallâhu sirrahu ingin tidak punya keinginan karena Allah SWT menginginkan hal itu darinya. Keinginannya itu tidak bertentangan dengan maqam penghambaan. Kau telah mengetahui bahwa jalan menuju Allah SWT adalah melenyapkan keinginan dan kehendak. Syeikh Abu al-Hasan rahimahullâh menegaskan, “Seorang Wali tidak akan sampai kepada Allah SWT jika masih ingin mengatur dan memilih”.

Aku mendengar guru kami, Abu al-Abbas rahimahullâh berkata, “Seorang hamba tidak akan sampai kepada Allah SWT sebelum hasrat untuk sampai kepada Allah SWT itu terputus darinya”.

Mungkin yang dimaksud dengan terputus di sana adalah terputus secara adab, bukan karena bosan. Atau mungkin, ketika ia semakin dekat menuju titik sampai, ia merasa tidak layak mendapatkan posisi itu dan merasa tidak pantas untuk sampai ke sana sehingga sirnalah hasrat untuk sampai. Jadi, bukan karena bosan, lupa, atau sibuk dengan sesuatu yang lain sehingga ia lalai dari-Nya.

Apabila engkau ingin mendapat pencerahan dan penerangan, berhentilah mengatur dan titilah jalan menuju Allah SWT seperti mereka. Dengan begitu, kau akan mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Ikutilah jalan dan cara mereka. Lemparkan tongkatmu. Kau telah tiba di sisi lembah. Tentang hal ini, aku menulis sebuah sya’ir untuk murid-muridku.

Cepatlah bangun!
Mereka telah berangkat dengan cepat.
Kita hanya duduk di sini.
Apa yang sedang kau lakukan?
Kau rela bila mereka pergi dan kau tinggal di belakang.
Sebagai korban mimpi dan hasrat yang tak pernah padam?

Dengarlah suara alam yang menyerumu dengan lantang.
Mengabarkan bahwa seluruh semesta telah tenggelam.
Hanya dia yang bisa melihat permukaan jalan.
Dia yang berjalan lurus tak tertipu ketamakan.
Dia melihat yang Haq di balik segala sesuatu.
Segala ciptaan sirna, tinggallah Sang Pencipta.
Di lembah-Nya cahaya menerangi mereka yang pergi.
Dan mewujudkan segala rahasia mereka yang kembali.

Bangunlah, lihat semesta dan cahaya yang meliputinya.
Kini, fajar kedekatan telah terbit dan bergerak kepadamu.
Jadilah hamba-Nya, lemparkan kendali kepada hukum-Nya.
Jangan ikut mengatur karena pengaturanmu tak ‘kan berguna.
Kenapa kau mengatur padahal selainmulah yang memutuskan.

Atau, mungkinkah kau berhasrat menentang keputusan Tuhan.
Melenyapkan semua keinginan dan kehendak adalah tujuan utama.
Apakah kau mendengar? Itulah kehidupan generasi terdahulu.
Pilihlah mereka sebagai teladan. Jika kau mau, ikutilah jalan itu.

Siapa yang mengikuti nafsunya, tangisilah dirimu.
Sinarmu padam ketika mereka bersinar terang.
Merataplah, dan menangislah sepanjang zaman.
Waktu bergerak, kau karam dalam kesia-siaan.

Wallâhu A’lamu bi al-Shawâb

Sumber: Dinukil dari Terjemahan Kitab al-Tanwîr fî Isqâth al-Tadbîr, Syeikh Ahmad Ibnu ‘Athaillah al-Sakandary, yang diterjemahkan oleh: Fauzi Faishal Bahreisy.

About admin

Check Also

Ambisi Membuat Kita Merasa Tak Pernah Cukup

“Sucikan cita-cita dengan mawas diri!” (Mama Arjaen qaddasallahu sirrahu) Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ ...