Home / Agama / Kajian / “Agama Itu Apa Sih?”

“Agama Itu Apa Sih?”

Inilah jawaban Kiai Ahmad Dahlan kepada murid-muridnya terhadap pertanyaan itu.

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Saudaraku yang sangat ku kasihi, berikut ini saya sajikan jawaban tepat untuk mendefinisikan arti agama agar kita memahami dan bisa merasakan nikmatnya beragama setelah mengerti makna sesungguhnya.

Pada suatu hari, ada beberapa remaja datang mengunjungi rumah KH. Ahmad Dahlan berniat untuk mengaji. Sampai kemudian, salah seorang remaja memberanikan diri bertanya kepada Kiai Dahlan.

“Agama itu apa, Kiai?” Pertanyaan singkat, padat, namun penuh esensi.

Kini giliran Kiai yang terdiam, tak ada kalimat yang meluncur dari mulutnya. Ia tak menjawab pertanyaan itu. Sejenak kemudian, ia malah memainkan biola yang ada di sampingnya.

Keluarlah nada-nada indah dari biola tersebut. Para remaja itu tampak sangat menikmati permainan biola sang Kiai. Penuh syahdu dan menentramkan jiwa. Semua menikmati keindahan alunan biola.

“Apa yang kalian rasakan setelah mendengarkan suara biola tadi?” Tanya sang Kiai sejenak setelah menghentikan permainan biola.

“Keindahan,” jawab remaja pertama sumrigah.

Kayak mimpi,” timpal remaja kedua.

Salah seorang yang lain masih mengangguk-angguk dengan mata tertutup, tertidur dengan keindahan nada yang tadi diperdengarkan kiai.

“Itulah agama,” kata kiai.

“Orang beragama adalah orang yang merasakan keindahan, tentram, damai, cerah. Karena hakikat agama itu seperti musik, mengayomi, menyelimuti,” sambung sang Kiai.

“Sekarang, coba kamu mainkan,” kata Kiai sambil menyodorkan biola ke salah seorang santrinya. “Ayo sebisanya!

Si santri mulai memainkan biola. Namun karena baru pertama kalinya, ia memainkan dengan seadanya…

Teruskan. Ayo yang mantap“.

Suara yang keluar sama sekali mengusik siapapun di sekitarnya. Sampai akhirnya dia pun menyerah.

“Apa yang kalian rasakan,” kiai kembali bertanya.

“Kacau, Kiai.” Satu diantaranya menjawab.

Sambil tersenyum, kiai merasa saatnya ia mengambil kesimpulan. Para santrinya dianggap telah bisa memahami pesan di balik peristiwa yang barusan terjadi.

“Itulah agama. Kalau kita tidak mempelajarinya dengan benar, itu akan membuat resah lingkungan kita dan jadi bahan tertawaan,” jelas sang Kiai.

Ku akhiri dengan do’a :

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

Rabbanâ lâ tuzigh qulûbanâ ba’da idz hadaitanâ wa hab lanâ min ladunka rahmatan innaka ‘antal wahhâb.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”

About admin

Check Also

Nasihat Syaikh Abu al-Hasan Ali asy-Syadzili

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...