Sunday , October 17 2021
Home / Relaksasi / Renungan / Abu Ubaidah bin al-Jarrah; Sosok yang Dipuji Rasul

Abu Ubaidah bin al-Jarrah; Sosok yang Dipuji Rasul

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Nabi Muhammad SAW merupakan teladan paripurna dalam segala sifat baik. Maka dari itu, orang-orang yang pernah dipuji beliau pastilah sangat luar biasa. Kesan yang Rasulullah SAW sampaikan, itulah sebaik-baiknya rekomendasi tentang mereka.

Ada seseorang yang begitu berkesan dalam pandangan Nabi SAW. Dialah Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Sosok ini juga termasuk dalam 10 sahabat Rasulullah SAW yang dijamin masuk surga, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits.

Lelaki ini lahir dengan nama Amir bin Abdullah. Sama seperti Nabi SAW, ia berasal dari Kota Makkah al-Mukarramah. Saat dewasa, perawakannya tinggi, agak membungkuk, dan tidak gemuk. Wajahnya cenderung cekung. Janggutnya tipis.

Riwayat tentang dirinya ketika masih non-Muslim cukup jarang dijumpai walaupun tokoh tersebut berasal dari Suku Quraisy. Barulah sesudah ia memeluk Islam, banyak perawi menuturkan tentangnya.

Abu Ubaidah menjadi Muslim hanya selang sehari setelah Islamnya Abu Bakar. Ya, dari ash-Shiddiq-lah ia pertama kali mendengar tentang ajaran tauhid yang dibawa Nabi SAW bersama dengan Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Mazh’un, dan al-Arqam bin Abil Arqam, ia mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Rasulullah SAW.

Sejak saat itu, Abu Ubaidah selalu setia mendampingi beliau dalam menyebarkan risalah Islam. Tidak sedikit pun rasa ragu dalam dirinya untuk membela Rasulullah SAW, baik pada masa sebelum maupun sesudah hijrah. Ia ikut bersama umat Islam berpindah dari Makkah ke Madinah, sejalan dengan arahan al-Musthafa.

Dalam banyak momen, dia tampil menjadi tameng bagi Rasulullah SAW.

Berbagai medan jihad diikutinya, termasuk Perang Badar. Dalam banyak momen, dia tampil menjadi tameng bagi Rasulullah SAW. Pernah dalam sebuah pertempuran, helm perang Nabi SAW bengkok. Ujungnya yang tajam menghujam dan sampai-sampai mematahkan gigi beliau. Abu Ubaidah segera melepaskan benda sempit itu dari kepala beliau.

Sahabat dari golongan Muhajirin ini berkaitan dengan sebab turunnya al-Quran surah al-Mujadilah ayat 22. Waktu itu, Perang Badar terjadi.

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللّٰهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ اللّٰهِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللّٰهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ۞

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 22)

Abu Ubaidah berjumpa dengan ayahnya sendiri, yang berada di pihak musuh Islam. “Sebelum duel berlangsung,” tutur Abdullah bin Syaudzb, “sang ayah menantang anaknya itu. Dalam duel ini, Abu Ubaidah berhasil membuat bapaknya terpojok. Lalu, ia pun menghabisinya.”

Terkait itu, turunlah ayat tersebut. Firman Allah SWT ini antara lain berarti, “Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari Dia.”

Kemuliaan Abu Ubaidah ditandai dengan besarnya kasih sayang Rasul SAW kepadanya. Seperti dinukil dalam Sunan Tirmidzi, pernah suatu ketika Abdullah bin Syaqiq bertanya kepada Ummul Mu’minin ‘Aisyah, “Siapakah di antara para sahabat Nabi SAW yang paling beliau cintai?”

“Abu Bakar,” jawab ‘Aisyah.

“Siapa lagi?”

“Umar,” katanya.

“Kemudian, siapa?”

“Abu Ubaidah bin al-Jarrah,” ucapnya.

“Siapa lagi?” tanya Abdullah kembali, tetapi ‘Aisyah hanya diam.

Nabi SAW pernah memujinya di hadapan banyak orang. Pernah suatu hari, para utusan kaum Najran menghadap kepada beliau. “Ya Rasulullah,” kata mereka, “utuslah kepada kami seseorang yang jujur lagi tepercaya (untuk dijadikan sebagai pemimpin).”

Nabi SAW pernah memujinya di hadapan banyak orang.

“Sungguh, aku akan mengutus kepada kalian seseorang yang sangat jujur dan dapat dipercaya,” jawab Rasul SAW.

Mendengar itu, para sahabat bertanya-tanya dalam hati, siapa gerangan sosok yang dimaksud oleh Rasulullah itu. Ternyata, beliau kemudian mengutus Abu Ubaidah bin al-Jarrah.

Pujian lainnya terangkum dalam sebuah hadits sahih. “Sesungguhnya setiap umat itu ada orang kepercayaan. Orang yang paling terpercaya di tengah umatku adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah,” sabda Nabi SAW, seperti diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Sesudah Rasulullah SAW wafat, sejumlah sahabat berunding untuk memutuskan, siapa yang akan memimpin umat. Dalam diskusi itu, nama Abu Ubaidah bin al-Jarrah sempat tersebut dan hampir disepakati. Namun kemudian, Umar mengusulkan sosok Abu Bakar ash-Shiddiq, yang kemudian disepakati sebagai khalifah pertama.

Pada zaman Khulafaur Rasyidin, Abu Ubaidah tampil sebagai seorang panglima yang tangguh. Ia pernah memimpin pasukan Muslimin dalam melawan balatentara Romawi.

Oleh: Hasanul Rizqa
Source: Republika Online

About admin

Check Also

Wahai HambaKu

“Inilah amanah Allah untuk kita semua wahai sahabat” Oleh: H Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ...