Home / Agama / Kajian / 5 Nasihat Sarat Makna Sunan Gunung Jati

5 Nasihat Sarat Makna Sunan Gunung Jati

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillãhirrahmãnirrahîm
Wash-shalãtu was-salãmu ‘alã Muhammadin wa ãlihî ma’at taslîmi wa bihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘ãmmati wal-hidãyatit tãmmah, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, ãmîn yã Rabbal ‘ãlamîn”.

Syekh Syarif Hidayatullah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati merupakan salah satu dari anggota Wali Songo berasal dari Cirebon.

Makam Sunan Gunung Jati yang berada di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, tak pernah berhenti dari peziarah.

Sunan Gunung Jati konon menyebarluaskan ajaran Islam di tanah Cirebon dengan pendekatan adat dan budaya lokal.

Hasilnya, tidak hanya berhasil mengislamkan bumi Cirebon, namun meluas sampai wilayah Jawa Barat dan Banten.

Salah satu media dalam berdakwah sang wali dengan menggunakan Gamelan Sekaten. Dengan pendekatan kultur dan budaya.

Diterimanya ajaran Sunan Gunung Jati tak lepas atas kepribadian dirinya yang penuh kesopanan dan tatakrama.

Berikut 5 nasihat Sunan Gunung Jati yang berkaitan dengan kesopanan dan tatakrama.

1. Den hormat ing wong tua (Harus hormat kepada orang tua).

Nasihat ini mengandung makna bahwa menghormati orang tua tidak hanya secara personal, akan tetapi nilai-nilai dan nasihat yang disampaikannya.

Konon, Sunan Gunung Jati adalah orang yang paling menghormati orang tuanya. Meskipun secara usia sudah mapan, namun ia tetap meminta izin kepada ibunya, Syarifah Mudaim, untuk mencari ilmu dan berdakwah.

Nasihat Sunan Gunung Jati ini juga selaras dengan Al-Quran surah Luqman ayat 14:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ ۞

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (QS. Luqman [31]: 14)

2. Den hormat ing leluhur (Harus hormat kepada leluhur).

Nasihat Sunan Gunung Jati ini mengandung makna sebagai upaya untuk menjaga nilai-nilai moral dan tradisi serta budaya yang diwariskan para leluhur.

Tujuan pesan Sunan Gunung Jati ini untuk kebaikan dan kemaslahatan masyarakat dan bangsa. Karena bangsa yang maju ialah bangsa yang menghormati leluhurnya.

3. Hormaten, emanen, mulyaken ing pusaka (Hormat, sayangi, dan muliakan pusaka).

Perlu diketahui, pesan Sunan Gunung Jati ini bukan berarti memandikan pusaka atau membasuhnya setiap 1 Syura.

Akan tetapi, nasihat Sunan Gunung Jati ini mempunyai arti bahwa pusaka tidak hanya berupa fisik, namun juga pusaka yang berwujud nilai-nilai.

Karena pusaka bagi orang Islam yang paling berharga adalah al-Qur’an dan Sunnah. Hal ini selaras dengan apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW;

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللّٰهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ (رواه مالك)

“Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara, selama-lamanya tidak akan tersesat jika kamu sekalian senantiasa berpegang kepada keduanya; Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” [HR. Malik]

4. Den welas asih ing sapapada (Hendaklah menyayangi sesama manusia)

Nasihat Sunan Gunung Jati berikut memiliki makna bahwa jika menyayangi manusia artinya itu sama saja dengan mencintai Tuhannya.

Sunan Gunung Jati melalui nasihatnya ini ingin menciptakan sebuah tatanan manusia yang penuh dengan cinta dan kasih sayang.

Ajaran cinta kasih adalah dasar ajaran Islam murni yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ ۞

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (QS. Al-Anbiya’ [21]: 107)

5. Mulyaken ing tetamu (Hormatilah para tamu)

Isyarat Sunan Gunung Jati melalui nasihatnya bertujuan agar anak cucu dan keturunannya mampu menghormati tamu dengan baik. Karena hanya tuan rumah yang memiliki keagungan budilah yang mampu menghormati tamunya.

Nasihat Sunan Gunung Jati ini dicerminkan oleh dirinya terkait kebijakan politik. Saat itu Sunan Gunung Jati menjadikan pelabuhan Muara Jati dan Pelabuhan Talang sebagai pelabuhan yang terbuka untuk semua etnis dan suku.

Nasihat ini sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ (رواه البخاري)

“Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari).

Oleh: Sofhal Adnan

About admin

Check Also

Bashîrah; Alat Melihat Hakikat Allah Ta’ala

“Bila masih banyak kebingungan menghadapi berbagai masalah di dunia ini, apakah sebagai pertanda bahwa bashîrah ...