Home / Agama / Kajian / ‘Uzlah Secara Haqiqi

‘Uzlah Secara Haqiqi

Oleh: H. Derajat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Saudaraku yang dirahmati Allah SWT, dalam kitab Al-Hikam Fasal 12, Syaikh Ahmad Ibnu ‘Athaillah Assakandari mengatakan:

مَا نَفَعَ الْقَلْبُ شَيْئٌ مِثْلَ عُزْلَةٍ يَدْخُلُ بِهَا مِيْدَانُ فِكْرَةٍ ۞

Tiada sesuatu yang sangat berguna bagi hati (jiwa), sebagaimana menyendiri (‘uzlah) yang dapat menyebabkan hati masuk ke medan berpikir (tafakkur).”

Hikmah kedua belas ini merupakan penyempurnaan dari hikmah sebelas. Dalam hikmah sebelas, Ibnu Athaillah berpesan bahwa kita harus menjauhkan diri dari ketenaran dan keramaian masyarakat (khumul) untuk melatih diri. Sementara Ibnu ‘Athaillah dalam hikmah kedua belas ini menyebutkan bahwa penting sekali manusia mengambil sedikit waktu ‘uzlah untuk bertafakur dari waktu ke waktu.

Jikalau kita coba mengingat apa yang dibahas di hikmah 11, maka kita akan mengingat ada dua istilah yang bernama ikhlash dan khumul. Pada hakikatnya, keduanya itu saling terkait.

Secara definisi, ikhlash adalah mengerjakan sesuatu tanpa berharap pamrih. Dalam bahasa agama, ikhlash adalah mengerjakan sesuatu hanya karena mengharapkan ridha Allah SWT, bukan karena tujuan lain. Sedangkan makna khumul adalah membenamkan diri agar tidak terlihat oleh keramaian.

Ikhlash akan mudah didapatkan jika kita memiliki sikap khumul yaitu tidak menonjolkan diri serta pamer. Sehingga, dengan berperilaku khumul ini kita mencoba untuk melatih niat, ilmu dan hati kita agar mampu sepenuhnya bermanfaat di masyarakat.

Pada fasal 12 ini, Syaikh Ibnu ‘Athaillah membahas ‘uzlah yang artinya lebih khusus dibanding khumul. ‘Uzlah di sini artinya mengisolasi diri dan menyingkir dari keramaian masyarakat untuk melakukan perenungan (tafakkur). ‘Uzlah ini maksudnya adalah sebuah “wilayah” atau “kondisi” kita sebelum melakukan tafakkur.

Dalam hikmah ini, terdapat istilah “hati”. Istilah “hati” yang dimaksud di sini adalah perasaan-perasaan jiwa seperti halnya yang disebutkan dalam surat Ar-Ra’du ayat 28:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ۞

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”.

Jika hati kita gelisah, merana, atau tidak tenang; mungkin hati kita selama ini telah rusak dan terkotori dengan berbagai macam gangguan serta maksiat. Pendengaran kita mungkin lebih banyak untuk mendengar fitnah, gunjingan serta hiruk pikuk manusia. Sementara, penglihatan kita mungkin lebih banyak untuk melihat hal-hal yang haram. Alhasil, pribadi kita menjadi rusak dikarenakan rusaknya hati kita.

Hati sangat mudah terpengaruh dengan apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar. Bisa saja kita memilih untuk menutup pendengaran dan penglihatan kita. Namun, betapa susahnya jika kita melakukan hal seperti itu setiap saat.

Oleh karena itu, Syaikh Ibnu ‘Athaillah menganjurkan kita agar sesekali mengambil sebuah kondisi “‘uzlah” atau menyendiri sebagai media atau faktor pendukung dari proses membersihkan hati. Jika kita mengambil perumpamaan bahwa hati ini adalah sebuah ruangan dengan pintu terbuka, maka untuk membersihkan ruangan tersebut haruslah ditutup terlebih dahulu agar tidak ada debu atau kotoran-kotoran lain yang masuk saat kita membersihkan ruangan.

‘Uzlah ini adalah sebuah “wilayah” atau “kondisi” yang perlu kita masuki agar kita tidak terpengaruh gangguan-gangguan seperti halnya fitnah, gunjingan, keramaian dan hal-hal haram selama kita berusaha untuk membersihkan diri.

Untuk memperjelas makna ‘uzlah, Syaikh Al-Buthi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ‘uzlah di sini bukanlah menyingkir dari dunia sepanjang hidup ataupun sengaja menyendiri untuk tidak melakukan aktivitas apapun selama satu atau beberapa jam. ‘Uzlah yang seperti ini dilarang karena bertentangan dengan kodrat manusia dan termasuk menyia-nyiakan waktu. ‘Uzlah yang seharusnya adalah ‘uzlah yang diikuti dengan proses lanjutan yang bermanfaat. ‘Uzlah seharusnya dilakukan beberapa saat saja, dan kemudian setelah ‘uzlah itu kita harus “keluar” ke dunia untuk mempraktekkan apa yang menjadi hasil dari ‘uzlah kita.

Jadi apa ringkasnya yang dimaksud dengan hikmah ini?

Syaikh Ibnu ‘Athaillah mengatakan bahwa sebisa mungkin manusia harus bertafakkur mengenai dirinya. Menyendiri adalah media atau faktor pendukungnya. Misalkan, dalam waktu sehari semalam, dia meluangkan waktu untuk ber-‘uzlah dari manusia. Dalam penyendiriannya itu, dia memenuhi pikirannya dengan tema tertentu sebagai bahan bagi pikirannya untuk merenung. Setelah merenung itu ia kemudian keluar untuk mengerjakan apa yang menjadi renungannya.

Sesekali mungkin dalam sebuah ‘uzlah, seorang manusia merenung tentang dirinya. Berbagai pertanyaan pun muncul, seperti: “Siapa aku?”, “Bagaimana aku bisa hadir ke dunia ini?”, “Apa yang telah kulakukan di kehidupan ini? Apa saja kenikmatan yang telah saya rasakan? Apa yang telah saya tinggalkan untuk kehidupan ini? Apakah kehidupan yang selama ini telah dijalankan malah berujung kesia-siaan?”.

Sesekali mungkin dalam sebuah ‘uzlah, manusia merenung saat ada sebuah cobaan atau tantangan hidup yang sangat berat sehingga terbersit dalam benaknya bahwa cobaan ini tidak mampu untuk diselesaikan. Hawa nafsu dan pikirannya telah menutupi dirinya sehingga tidak mampu memahami konteks masalah sesungguhnya dan akhirnya tidak mampu bereaksi dengan tepat untuk menyelesaikan sebuah permasalahan.

Sesekali mungkin dalam sebuah ‘uzlah, manusia merenung barangkali selama ini dirinya melakukan kesalahan atau kedzaliman terhadap orang lain sehingga melukai perasaan yang lain. Atau barangkali sebaliknya, ada manusia lain yang melukai hatinya sehingga dia sangat kecewa terhadap orang tersebut.

Setelah tafakkur tersebut, jadilah manusia ini mendekatkan diri pada Allah SWT untuk mengetahui Allah dan sifat-sifat ketuhanannya. Muncul sebuah kesadaran akan identitas diri manusia itu sebagai hamba Allah. Dengan demikian, tafakkurnya ini akan menjadikan diri manusia itu sebagai landasan menumbuhkan cinta kepada Allah dan pengagungan terhadap-Nya.

Setelah tafakkur tersebut, jadilah manusia ini menjadi sadar diri (self-consciousness) terhadap dirinya. Dia kemudian mengetahui solusi-solusi dalam masalah hidupnya saat ini dan kemudian terbesit apa yang seharusnya dia kerjakan saat berinteraksi dengan orang lain.

Kita perlu juga untuk memperhatikan kualitas tafakkur kita. Sebab ada orang-orang yang secara fisik terisolir dengan orang ramai, tetapi hatinya tetap bersama orang ramai. Ada juga orang yang tak memiliki harta, tetapi hatinya selalu memikirkan harta. ‘Uzlah orang-orang ini hanyalah dalam tingkat permukaan saja.

Tafakkur seharunya menjadikan kita tetap sadar, walaupun saat ini yang berada dalam keramaian kita tetap memikirkan Tuhan. Walaupun saat ini kita memiliki harta berlimpah, hati kita tetap bersama Tuhan dan tidak melekatkan hati kita dalam harta.

Contoh terbaik dalam ‘uzlah adalah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, baik saat sebelum menjadi nabi dan sesudah menjadi nabi. Rasulullah SAW selalu mengambil waktu sendiri untuk menyendiri dan merenung. Tempat beliau menyendiri dan bertafakkur tidak harus di gua Hira, akan tetapi beliau juga melaksanakannya di rumah. Waktu menyendiri beliau adalah ketika malam semakin larut dan sudah masuk setengah yang kedua dari malam. Kemudian beliau bangun dari tempat tidur, mengambil air wudhu, mendirikan shalat dan membaca Qur’an.

Waktu-waktu inilah yang paling ideal untuk menyendiri bersama Allah. Waktu ini jauh dari hiruk pikuk keramaian manusia yang menjadi penghalang ketenangan pikiran dan kebeningan hati. Hal-hal yang mengacaukan pikiran dan mengeruhkan hati pada siang hari akhirnya bisa dijauhkan.

Inilah barangkali yang menjadi landasan para ulama bahwa shalat tahajud sebaiknya dilaksanakan setelah tidur. Seseorang yang bangun tidur kemudian menghadap Allah dengan shalat, berdoa dan bermunajat, akan merasakan ketenangan jiwanya. Inilah yang dianjurkan dikerjakan bagi kita selaku umatnya untuk dikerjakan sebagai sunnah.

Wallâhu A’lamu bish-Shawâb

About admin

Check Also

Kaidah Rezeki: Jika Satu Pintu Rezeki Seorang Hamba Ditutup, Allah Buka Pintu Rezeki yang Lain

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ ...