Home / Agama / Kajian / 20 Sifat Wajib Bagi Allah (Lengkap Dalil dan Terjemahannya)

20 Sifat Wajib Bagi Allah (Lengkap Dalil dan Terjemahannya)

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillâhirrahmânirrahîm
Wasshalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

Sifat bagi Allah dan Rasul ada 50, yang biasa dikenal dengan ‘Aqidah Khamsin (‘Aqaid Seket). Setiap muslim hendaknya mengetahui dan hafal ‘Aqidah 50 ini.

‘Aqidah 50 tersebut terdiri dari, Sifat Wajib bagi Allah (20), Sifat Mustahil bagi Allah (20), Sifat Jaiz bagi Allah (1), Sifat Wajib bagi Rasul Allah (4), Sifat mustahil bagi Rasul Allah (4), dan Sifat Jaiz bagi Rasul Allah (1).

1. Sifat Wujud (Ada)

Wujud (ﻭﺟﻮﺩ) merupakan sifat wajib bagi Allah yang pertama. Arti dari Wujud adalah ‘Ada’ yang berarti merupakan zat yang pasti ada, berdiri sendiri, tidak diciptakan oleh siapapun, dan tidak ada tuhan selain Dia. Adanya Allah itu bukan karena ada yang menciptakan-Nya, tetapi Allah itu ada dengan zat-Nya sendiri.

Sifat Wujud ini tercermin dalam firman Allah SWT. dalam beberapa ayat berikut ini:

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ مَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا شَفِيْعٍۗ اَفَلَا تَتَذَكَّرُوْنَ ۞

“Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. As-Sajdah: 4)

اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ ۞

“Sesungguhnya, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaha: 14)

2. Sifat Qidam (Awal/Terdahulu)

Qidam (ﻗﺪﻡ) artinya adalah ‘terdahulu’ yang berarti Allah SWT merupakan Sang Pencipta yang ada terlebih dahulu dari yang diciptakannya. Sifat Allah ini menandakan bahwa Allah sebagai Pencipta yang lebih dulu Ada daripada semesta alam (yang Dia ciptakan).

Sifat Qidam bagi Allah ini tercermin dalam al-Qur’an (QS. Al-Hadid: 33)

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ۞

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-Hadid: 3).

3. Baqa’ (Kekal)

Baqa’ (ﺑﻘﺎﺀ) artinya adalah ‘Kekal’ yang berarti Allah SWT Maha Kekal, tidak akan punah atau binasa. Allah merupakan suatu zat yang Abadi dan Kekal Selamanya karena Allah SWT bersifat Baqa’ (Kekal).

Sifat Baqa’ bagi Allah di dalam Al-Qur’an terdapat dalam Surat al-Qashash ayat 88, yang berbunyi sebagai berikut;

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ ۘ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ ۞

“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”. (QS. Al-Qashash: 88).

4. Mukhalafatu Lil Hawaditsi (Berbeda Dengan Makhluk Ciptaan-Nya) 

Allah SWT merupakan Sang Pencipta yang menciptakan alam semesta beserta isinya, maka Allah pasti berbeda dengan apapun yang Dia ciptakan (ﻣﺨﺎﻟﻔﺘﻪ ﻟﻠﺤﻮﺍﺩﺙ), tidak ada hal di dunia ini yang menyerupai-Nya.

Hal tersebut dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an berikut ini:

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ ۞

“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat”. (QS. Asy-Syura: 11)

وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ࣖ ۞

“Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlash: 4)

5. Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri Sendiri)

Sifat Qiyamuhu Binafsihi (ﻗﻴﺎﻣﻪ ﺑﻨﻔﺴﻪ) bagi Allah, bahwa Allah SWT berdiri dengan Zat-Nya sendiri tanpa membutuhkan bantuan yang lain. keberadaan Allah SWT itu ada dengan sendirinya tidak ada yang mengadakan atau menciptakan. 

Sifat Qiyamuhu Binafsihi bagi Allah ini, tergambar dalam Al-Qur’an Surat Al-‘Ankabut;

وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ ۞

“Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. (QS. Al-‘Ankabut: 6)

6. Wahdaniyah (Esa/Tunggal)

Umat muslim mengimani bahwa Allah Maha Esa atau Tunggal (وحدانية). Artinya, Dia adalah satu-satunya Tuhan Pencipta alam semesta. Tuhan Yang Maha Esa, baik itu Esa zat-Nya, sifat-Nya, maupun perbuatan-Nya.

Esa Zat Allah bukanlah hasil dari penjumlahan dan perkiraan atau penyatuan satu unsur dengan unsur yang lain. Esa sifat-Nya artinya semua sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah SWT tidak sama dengan sifat-sifat pada makhluk yang diciptakan-Nya. Esa perbuatannya berarti Allah SWT berbuat sesuatu tidak dicampuri oleh perbuatan makhluk dan tanpa membutuhkan proses atau waktu. Allah SWT berbuat atas Kehendak-Nya sendiri tanpa ada yang bisa mencampuri-Nya.

Sifat Wahdaniyah tercermin dalam Al-Qur’an Al-Anbiya, seperti berikut;

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ ۞

“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan”. (QS. Al-Anbiya: 22).

7. Qudrat (Berkuasa)

Allah Maha Kuasa atas apapun (ﻗﺪﺭﺓ) dan tidak ada satupun yang bisa menandingi kekuasaannya. Kekuasaan Allah atas segala sesuatu itu bersifat mutlak, tidak ada batasnya dan tidak ada yang membatasi, baik terhadap Zat-Nya sendiri maupun terhadap makhluk-Nya.

Sifat Qudrat bagi Allah tergambar dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah, sebagai berikut;

يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ اَبْصَارَهُمْ ۗ كُلَّمَآ اَضَاۤءَ لَهُمْ مَّشَوْا فِيْهِ ۙ وَاِذَآ اَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوْا ۗوَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَاَبْصَارِهِمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ࣖ ۞

“Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al-Baqarah: 20)

8. Iradat (berkehendak)

Setiap hal yang ada di alam semesta ini berjalan atas kehendak Allah SWT, maka apabila Dia berkehendak tidak ada satupun yang bisa mencegahnya.

Sifat Iradah (ﺇﺭﺍﺩﺓ) bagi Allah ada dalam Al-Qur’an surat Hud ayat 107:

خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ ۞

“…mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki”. (QS. Hud: 107)

اِنَّمَآ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔاۖ اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ ۞

“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka jadilah sesuatu itu.” (QS. Ya-Sin: 82)

9. ‘Ilmun (Mengetahui)

Allah memiliki pengetahuan dan kepandaian akan segala hal, artinya ilmu Allah tidak terbatas dan tidak pula dibatasi. Allah SWT mengetahui segala sesuatu yang ada di alam semesta, baik yang tampak maupun yang gaib. Bahkan, apa yang dirahasiakan di dalam hati manusia sekalipun.

sifat ‘Ilmun (ﻋﻠﻢ) bagi Allah ada di dalam surat Al-Baqarah ayat 29, yang berbunyi;

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ۞

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al-Baqarah: 29).

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ۞

“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al-Hadid: 3)

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖوَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ ۞

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf: 16)

10. Hayat (Hidup)

Allah memiliki sifat hidup. Dia tidak akan pernah binasa, sebab Dia kekal selamanya. Hidupnya Allah tidak ada yang menghidupkannya melainkan hidup dengan zat-Nya sendiri karena Allah Maha Sempurna, berbeda dengan makhluk yang diciptakan-Nya.

Sifat Hayat (ﺣﻴﺎﺓ) bagi Allah ada di dalam Al-Qur’an surat Al-Furqan ayat 58,

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ ۚ وَكَفَىٰ بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا ۞

“Dan bertawakkallah kepada Allah yang Hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memujinya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hambanya”. (QS. Al-Furqan: 58)

11. Sama’ (Mendengar)

Allah adalah Maha Mendengar semua suara yang ada di alam semesta. Tidak ada suara yang terlepas dari pendengaran Allah walaupun suara itu sangat pelan.

Sifat Sama’ (ﺳﻤﻊ) bagi Allah SWT tercantum dalam Al-Qur’an surat Al-Ma’idah ayat 76,

قُلْ أَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا ۚ وَاللَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ۞

“Katakanlah: “Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?” Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Maidah: 76)

12. Bashar ( Melihat )

Tidak ada yang Maha Melihat selain Allah karena apapun yang ada di dunia tidak luput dari penglihatan-Nya. Penglihatan Allah bersifat mutlak. Artinya, tidak dibatasi oleh jarak dan tidak dapat dihalangi oleh penghalang.

Sifat Bashar (ﺑﺼﺮ) bagi Allah terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 265,

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ ۞

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat”. (QS. Al-Baqarah: 265)

اِنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ غَيْبَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ࣖ ۞

“Sungguh, Allah mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hujurat: 18)

13. Kalam (Berbicara/Berfirman)

Allah Maha Kalam (ﻛﻼ ﻡ), artinya Allah berfirman dalam kitab-Nya yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul-Nya. Pembicaraan Allah tentu tidak sama dengan pembicaraan manusia karena Allah tidak berorgan (panca indra), seperti lidah dan mulut yang dimiliki oleh manusia. Allah berbicara tanpa menggunkan alat bantu yang berbentuk apapun sebab sifat kalam Allah sangat sempurna.

Sifat Kalam bagi Allah SWT terdapat dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 164:

وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ ۚ وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا ۞

“Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung”. (QS. An-Nisa’: 164)

وَلَمَّا جَاۤءَ مُوْسٰى لِمِيْقَاتِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ وَلٰكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَبَلِ فَاِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهٗ فَسَوْفَ تَرٰىنِيْۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًاۚ فَلَمَّآ اَفَاقَ قَالَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ ۞

“Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” (Allah) berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.” (QS. Al-A’raf: 143)

14. Qadiran

Yaitu Keadaan Allah Ta’ala Yang Berkuasa Mengadakan dan Meniadakan suatu apapun.

Sifat Qadiran (ﻗﺎﺩﺭﺍ) bagi Allah terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 20:

يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ ۖ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ۞

“Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al Baqarah: 20).

15. Muridan

Yakni Keadaan Allah Ta’ala Yang Menghendaki dan menentukan tiap-tiap sesuatu. Dia berkehendak atas nasib dan takdir manusia.

Sifat Muridan (ﻣﺮﻳﺪﺍ) bagi Allah ada di dalam Al-Qur’an surat Hud ayat 107,

خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ ۞

“…..mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki”. (QS. Hud: 107)

16. ‘Aliman

Yaitu Keadaan Allah Ta’ala Yang Mengetahui tiap-tiap sesuatu. Mengetahui segala hal yang telah terjadi maupun yang belum terjadi. Allah SWT pun dapat mengetahui isi hati dan pikiran manusia.

Simak dalil sifat Allah SWT yang kaunuhu aliman (ﻋﺎﻟﻤﺎ) dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 176:

يَسْتَفْتُوْنَكَۗ قُلِ اللّٰهُ يُفْتِيْكُمْ فِى الْكَلٰلَةِ ۗاِنِ امْرُؤٌا هَلَكَ لَيْسَ لَهٗ وَلَدٌ وَّلَهٗٓ اُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَۚ وَهُوَ يَرِثُهَآ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهَا وَلَدٌ ۚ فَاِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثٰنِ مِمَّا تَرَكَ ۗوَاِنْ كَانُوْٓا اِخْوَةً رِّجَالًا وَّنِسَاۤءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْاُنْثَيَيْنِۗ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اَنْ تَضِلُّوْا ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ࣖ ۞

“Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu), jika seseorang mati dan dia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudara perempuan, maka bagiannya (saudara perempuannya itu) seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mewarisi (seluruh harta saudara perempuan), jika dia tidak mempunyai anak. Tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sama dengan bagian dua saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, agar kamu tidak sesat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An Nisa’: 176)

17. Hayyan

Yakni Keadaan Allah Ta’ala Yang Hidup. Allah adalah Dzat Yang Hidup. Allah tidak akan pernah mati, tidak akan pernah tidur ataupun lengah.

Sifat Hayyan (ﺣﻴﺎ) bagi Allah terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Furqan ayat 58,

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهٖۗ وَكَفٰى بِهٖ بِذُنُوْبِ عِبَادِهٖ خَبِيْرًا ۚ ۞

“Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup, Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya,”. (QS. Al-Furqon: 58)

18. Sami’an

Allah Ta’ala Yang Maha Mendengar. Allah SWT selalu mendengar pembicaraan manusia, permintaan atau doa hamba-Nya.

Sifat Sami’an (ﺳﻤﻴﻌﺎ) bagi Allah ada di dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 265 juga, berikut ini:

وَمَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ وَتَثْبِيْتًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍۢ بِرَبْوَةٍ اَصَابَهَا وَابِلٌ فَاٰتَتْ اُكُلَهَا ضِعْفَيْنِۚ فَاِنْ لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗوَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ ۞

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat”. (QS. Al-Baqarah: 265).

19. Bashiran

Yaitu Keadaan Allah Ta’ala Yang Melihat akan tiap-tiap yang maujudat (benda yang ada). Allah selalu melihat gerak-gerik kita.

Sifat Bashiran (ﺑﺼﻴﺭﺍ) bagi Allah Ta’ala tergambar dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat, sebagai berikut;

اِنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ غَيْبَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ࣖ ۞

“Sungguh, Allah mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hujurat: 18)

20. Mutakallimun

Sifat Wajib bagi Allah yang ke 20 adalah Mutakalliman (ﻣﺘﻜﻠﻤﺎ) (Maha Berbicara). Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an Surat An-Nisa’ ayat 164 :

وَرُسُلا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا ۞

“Dan ada beberapa rasul yang telah Kami kisahkan mereka kepadamu sebelumnya, dan ada beberapa rasul (lain) yang tidak Kami kisahkan mereka kepadamu. Dan kepada Musa Allah telah berfirman secara langsung.” (QS. An-Nisa’: 265)

Demikianlah 20 Sifat Bagi Allah, yang wajib diketahui oleh segenap umat Islam sebagai aqidah dasar dalam bertauhid kepada Allah SWT. (ASR)

About admin

Check Also

Rahasia Langit yang Halus Tak ‘kan Terbuka Bagi Hati yang Keruh

Oleh: H. Derajat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ ...