Thursday , November 15 2018
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Yang Penting Jumpa Allah

Yang Penting Jumpa Allah

Setelah Abu Bakar dipilih menjadi khalifah, Abu Sufyan datang menghadap Ali bin Abi Thalib RA. Dengan penuh kemarahan ia berkata,”Mengapa kekhalifahan diserahkan kepada orang yang paling rendah status dalam kabilah Quraisy dan orang yang paling terhina (Abu Bakar RA)”.

Kemudian ia melanjutkan kata-katanya dengan rasa marah, “Demi Allah, jika kamu izinkan, aku akan kumpulkan kuda dan orang-orang untuk memeranginya.”

Akan tetapi Imam Ali kw menjawab,”Wahai Abu Sufyan, selama ia menjaga Islam dan pemeluknya, maka tidak apa-apa jika ia yang memegang kekhalifahan. Dan aku menilai bahwa Abu Bakar adalah orang yang layak untuk menjadi khalifah”. (lihat Al-Haakim juz 3, hal. 78).

Sungguh luar biasa sikap para sahabat Nabi SAW yang bisa saling menghormati dan tidak gila kekuasaan seperti yang ditunjukkan oleh Imam Ali kw. Sangat berbeda dengan sikap yang ditunjukkan oleh orang-orang yang merasa menjadi pengikut Beliau, merasa menjadi pembela Ahlul Bait akan tetapi yang tertanam dalam hati hanya kebencian dan dendam berkepanjangan dan diwariskan dari generasi ke generasi sampai hari ini. Kekejaman Muawiyah bin Abu Sufyan beserta Dinasti Umayyah nya terhadap keluarga Nabi menimbulkan kepedihan berkepanjangan dan kemudian tanpa disadari menyebabkan perpecahan dalam ummat Islam.

Saya dan juga pengamal Thareqat Naqsyabandi lain nya bukan lah orang-orang yang terikut dalam pertentangan tersebut. Oleh Guru saya diajarkan bahwa semua sahabat Nabi itu adalah orang-orang pilihan yang sangat berjasa dalam mengembangkan Agama Islam. Seluruh Thareqat yang ada saat ini bersumber kepada dua sahabat yaitu Abu Bakar RA dan Ali Bin Abi Thalib kw.

Dalam Do’a Pusaka yang selalu dibacakan disaat penutupan suluk/’itikaf didalamnya selalu disebutkan 4 wali utama yaitu Syekh Abdul Qadir Jailani dan Syekh Junaidi Al-Bahgdadi yang silsilah Thareqatnya bersambung kepada Imam Ali kw serta Syekh Abu Yazid Al-Bisthami dan Syekh Bahauddin Naqsyabandi yang silsilah Thareqatnya bersambung kepada Saidina Abu Bakar RA.

Mempertentangkan Syi’ah dan Sunni dalam bingkai Thareqat merupakan suatu tindakan yang kurang bijaksana karena Thareqat itu telah melampaui paham-paham syariat yang dikembangkan oleh kedua aliran. Bisa jadi seorang pengamal Thareqat Qadiriah yang silsilahnya bersambung kepada Imam Ali kw tidak ikut aliran syiah dan juga sebaliknya bisa jadi pengamal Thareqat Naqsyabandi yang silsilahnya bersambung kepada Abu Bakar RA ikut kepada paham Syi’ah, itu merupakan hal yang wajar-wajar saja. Sufi Muda bukanlah forum untuk membela Sunni meskipun pelaksanaan syariatnya tunduk kepada Mazhab Imam Syafi’i sebagai mazhab yang paling banyak pengikutnya di Indonesia. Biarlah pertentangan masa lalu itu terkubur bersama sejarah karena orang-orang yang berlaku tidak adil terhadap Ahlul Bait yang mulia pun telah di azab oleh Allah SWT.

Terakhir, jika kita masih mempertentangkan antara Syi’ah dan Sunni dalam bingkai Thareqat menandakan bahwa kita  belum mengerti sepenuhnya apa itu Thareqat karena sesungguhnya Thareqat itu adalah murni metode untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, Allah nya orang Sunni dan Allah nya orang Syi’ah, dan sudah pasti Allah nya Nabi Muhammad SAW. Dari pada memperdebatkan jalan mana yang paling cepat sampai kepada-Nya lebih baik jalani salah satu jalan (thariq) dan setelah sama-sama sampai di Taman Surga marilah kita saling senyum dan bertegur sapa, marilah kita sama-sama melayani-Nya dengan senang hati. Semoga Allah SWT akan memberikan kesempatan kepada kita semua untuk terus bisa memandang wajah-Nya dari dunia sampai ke akhirat kelak, Amien Ya Rabbal ‘Alamin

About admin

Check Also

Dosa dan “Sebab – Akibat”

Dalam sudut pandang sebab-akibat, dosa yang digambarkan sebagai bentuk kemahabijakan Allah Swt. dapat dirunut sebagai ...