Thursday , November 15 2018
Home / Budaya / Kearifan Klasik / Warisan Kearifan dan Keteladanan Prabu Siliwangi

Warisan Kearifan dan Keteladanan Prabu Siliwangi

Kepopuleran Prabu Siliwangi di kalangan masyarakat Sunda dan Nusantara sangatlah tinggi, sehingga kadang melampaui dimensi sejarah dan menembus batas mitologis dan legendaris. Namun demikian, bagi sebagian generasi muda –yang sudah banyak terpapar dan terimbas teknologi informasi modernisme global-  legenda sejarah Prabu Siliwangi itu belumlah terlalu menyebar merata, Padahal warisannya sangat berharga bagi masa depan mereka, dan kita semua.

Tulisan ringkas ini mencoba mengais kembali apa yang masih tersisa dan selayaknya dilestarikan dari kearifan budaya dan karakter adab leluhur Sunda tersebut, yang tentunya tidak hanya akan bermanfaat bagi orang Sunda saja, tetapi juga bagi bangsa kita Indonesia dan bahkan bagi kemanusiaan sedunia, saat ini.

Walaupun banyak informasi tentang Ketokohan Eyang Prabu Siliwang yang tidak hanya merujuk kepada satu tokoh Raja Sunda Pakuan Pajajaran historis saja, namun secara umum merujuk kepada Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata (sebagaimana namanya tercatat dalam Prasasti Batu Tulis yang ada di Bogor).

Berdasarkan Prasasti Batutulis berangka tahun 1533 M (1455 Saka), disebutkan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata, sebagai raja yang bertahta di Pakuan Pajajaran. Prasasti ini terletak di Jalan Batutulis, Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Prasasti Batutulis dianggap sebagai penanda lokasi situs ibu kota Pajajaran.[1] Prasasti ini dikaitkan dengan Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran. Pada batu ini berukir kalimat-kalimat dalam bahasa dan aksara Sunda Kuno. Prasati ini dibuat oleh Prabu Sanghiang Surawisesa (putra Prabu Siliwangi Sri Baduga Maharaja, yang melakukan perjanjian dengan Portugis) dan menceritakan kemashuran  ayahandanya tercinta (Sri Baduga Maharaja) sebagai berikut:

“wang na pun ini sakakala, prebu ratu purané pun, diwastu diya wingaran prebu guru déwataprana diwastu diya dingaran sri baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran sri sang ratu déwata pun ya nu nyusuk na pakwan.

diya anak rahyang niskala sa(ng) sida-mokta di gunatiga i(n)cu rahyang niskala wastu ka(n)cana sa(ng), sida-mokta ka nusalara(ng), ya siya nu nyiyan sakakala gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sanghyang talaga rena mahawijaya, ya siya pun saka, ‘panca pandawa ‘(m)ban bumi’”

Sejarawah dan Ilmuwan Saléh Danasasmita, menterjemahkannya isi prasasti  itu demikian:[2]

Yang artinya:

“Semoga selamat, inilah tanda peringatan Prabu Ratu almarhum. Dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana, dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) Pakuan.

Dia putera Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang dipusarakan ke Nusa Larang. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, membuat undakan untuk hutan Samida, membuat Sahiyang Telaga Rena Mahawijaya (dibuat) dalam (tahun) Saka “Panca Pandawa Mengemban Bumi”.

Dengan demikian keberadaan Kerajaan Pakuan Pajajaran Bogor tidak bisa dibantah lagi bukti-buktinya, walaupun ada salah seorang sejarawan yang menolak dan menganggap Kerajaan Pakuan Pajajaran dan Prabu Siliwangi-nya cuma mitos saja.[3] Salah satunya yang terkuat adalah Prasasti Batutulis yang sudah diterjemahkan bahasanya, script atau tulisannya oleh beberapa ahli, di antaranya oleh Friederich (1853), Holle (1869), Pleyte (1911), Purbacaraka (1921),  dan Noorduyn (1957).

Orang Portugis yang mengunjungi Pakuan dalam pertengahan Agustus 1522 untuk memenuhi undangan Prabu Surawisesa, putera serta pengganti Sri Baduga mencatat bahwa penduduk Pakuan kira kira 50.000 orang (belum termasuk penduduk sekitar kota)

Tome Pires dari Portugis itu uga mencatat kemajuan pada jaman Sri Baduga: ”The Kingdom of Sunda is justly governed; they are true men”. (Kerajaan Sunda diperintah dengan adil; mereka adalah orang orang jujur)  juga diberitakan bahwa kegiatan perdagangan Sunda dengan Malaka sampai ke Kepulauan Maladewa (Afrika) dan produksi lada yang mencapai hasil 1000 bahar setahun, bahkan hasil komoditi dagang tamarin (asem) cukup untuk mengisi muatan seribu buah kapal dan perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4 ribu ekor setahun.

Demikian informasi yang dapat kita ketahui mengenai situasi masa lalu termasuk situasi masa lalu kota yang kita sebut “Bogor” sekarang. Menurut Pustaka Nusantara III/I dan Krethabumi I/2 “Pajajaran/Kota Pakuan lenyap pada tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka atau tanggal 8 mei 1579 Masehi akibat serbuan Maulana Yusuf (cicit Sri Baduga Maharaja) dari Kesultanan Banten.”

Waktu antara Pajajaran sirna sampai “ditemukan” kembali oleh ekspedisi VOC yang dipimpin oleh Scipio (1703) berlangsung kira-kira seratus tahun. Kota kerajaan yang pernah berpenghuni 50.000 orang ini ditemukan oleh tim ekspedisi Scipio sudah menjadi ”puing-puing yang diselimuti oleh hutan tua” (“geheel met out bosch begroeijt zijnde”).

Warisan Kearifan

Keadilan dan kemuliaan serta pengabdian Raja Sunda Prabu Siliwangi yang disaksikan oleh Tome Pires dan oleh banyak rakyat Kerajaan Pakuan Pajajaran, bahkan diakui hingga kini. Semua itu adalah karena Eyang Prabu Siliwangi memiliki pandangan dunia atau kesadaran falsafah prinsipil yang demikian:  “Jirim, Jisim, Karsa angina Karsa Gusti” (Bahwa sesungguhnya segala lakon hamba hanyalah rencana dari Tuhan YME, Hanyalah pinjaman dari Gusti Pangeran).

Kesadaran sebagai manifestasi ilahiyah itulah yang menjadikan karakter kepemimpinan Eyang Prabu Siliwangi mewujudkan jiwa: 1. Kasuran (pengabdian terhadap sesama, alam dan Tuhan Yang Maha Esa), 2. Kadiran (Tangguh dalam strategi politik), 3. Kawanen (Berani bertindak), 4. Ngaping Seweu Putu ( Mampu melayani rakyatnya), 5. Ngemplong Taya Aling-aling (Keterbukaan Diplomatik dalam membuka hubungan internasional seluas-luasnya),

Lima jiwa kepemimpinan di atas, pada praktisnya mewujud kalam pola ucap, pola sikap dan pola tindak Eyang Prabu Siliwangi, yang selayaknya kita teladani di masa kini dan masa depan, demi kejayaan negeri. Dalam pola Ucapan (budi bahasa) Prabu Siliwangi berkarakter:

  1. Ajen Wewesen (Berbudi luhur, sehingga mampu mentransformasi visi dan missi bersama),
  2. Teas Perep Lemes Usap (Disiplin dan teguh dalam mempertahankan komitmen),
  3. Pageuh Kepel, Lega Awur (Hemat/tidak boros tapi sekaligus dermawan, dengan langkah yang efektif dan efisien).

Dalam Pola Sikapnya, Eyang Prabu Siliwangi memilik karakter:

  1. Satria Nupinandita (Kesatria militant yang dapat dipercaya dan shaleh seperti pendeta),
  2. Mawusana Panya Trawan (menghentikan permusuhan),
  3. Mitra Samaya (saling bekerjasama),
  4. Pribhaksa (menghindari Dendam).

Dan menjelang puncaknya, dalam pola tindakan atau perilaku Eyang Prabu Siliwangi memberi contoh teladan perwujudan karakter: “Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh” (yang bermakna bahwa kita sesama umat manusia harus saling mengasihi/mencintai, saling mengasah atau mengingatkan dan memperbaiki (ishlah), dan saling mengasuh/membina dan merawat satu sama lain, sehingga terciptalah pola kehidupan mulian Silih Wawangian (saling mengharumkan), atau dalam bahasa Islamnya, terwujudkan Rahmatan lil Aalamin dan Ukhuwah Bashoriyah/Persaudaran Kemanusiaan) sebagai manifestasi kehendak Tuhan Yang Maha Esa, Rabb al-‘Alamin.

Dengan bekal semua nilai-nilai luhur suci mulia itulah maka akan mengantarkan umat manusia sedunia (tatar Sunda Sa’amparen jagat) menjadi:

  1. Mahardika (kemerdekaan umat manusia daripada belenggu ketertawanan/kezaliman dalam kehidupannya),
  2. Papapura (saling menghargai dan tidak saling menguasai kewenangan wilayah masing-masing, atau saling menghargai otoritas,
  3. Maryada Sakeng Situtu (Saling menghargai atas hak ahli waris yang sah).

Pada puncak tertingginya, ajaran tradisi suci-mulia Eyang Prabu Siliwangi inilah yang akan mampu melahirkan kualitas manusia berkarakter “Manusa Wisesa” (Manusia Bijaksana atau Insan Kamil), sebagaimana yang juga menjadi visi dan missi para Nabi dan Rasulullah sepanjang zaman, lintas budaya dan lintas peradaban.

Ajaran tradisi suci mulia yang universal dan perennial Prabu Siliwangi ini berakar pada Ageman Sunda Wiwitan, namun juga sangat diapresiasi oleh Umat Hindu Dharma Bali yang menghormatinya dengan membangun Replika Candi Cangkuang dan Patung Maung Siliwangi di Pure Parahyangan Agung Jagat Karta, Pure Pasar Agung dan Pure Melanting di Desa Tamasari, Ciapus Gunung Salak Bogor. Juga oleh Umat Islam dan para Ulama Persantren di Bogor dengan selalu melaksana Haul Prabu Siliwangi di beberapa Pesantren di Bogor.

Catatan Kaki:

[1] Indonesian palaeography: a history of writing in, Volume 4, Issue 1 By J. G. de Casparis
[2] Dalam bukunya Sajarah Bogor.
[3] Ayip Rosyidi

 

Oleh: Ahmad Yanuana Samantho, SIP, MA, M.Ud.
Source: Bayt al-Hikmah Institute

About admin

Check Also

Mempersedikit Do’a

Sedikit sedikitlah berdoa, bila perlu tak usah! Itulah saran kontroversial yang bisa saya sampaikan untuk ...