Sunday , August 19 2018
Home / Relaksasi / Fakta / Wanita Dua Kali Lebih Berisiko Kena Depresi Daripada Pria

Wanita Dua Kali Lebih Berisiko Kena Depresi Daripada Pria

Hampir setiap orang pernah sedih. Entah itu karena konflik dengan pasangan, kematian anggota keluarga, hingga hal lain yang mungkin lebih sepele seperti mendapat nilai jelek di sekolah.

Sedih adalah respon emosi yang wajar ketika Anda menghadapi masa-masa sulit. Namun di sinilah Anda harus mulai berhati-hati. Rasa sedih yang berkelanjutan dan makin menjadi dapat berujung pada depresi.

Setiap orang bisa mengalami depresi, tapi uniknya penyakit mental ini lebih banyak menyerang wanita ketimbang pria. Apa penyebab depresi pada wanita?

Wanita berisiko dua kali lipat untuk mengalami depresi daripada pria

Depresi ditandai dengan memburuknya suasana hati, perasaan, stamina, selera makan, pola tidur, dan tingkat konsentrasi penderitanya yang setidaknya berlangsung berkelanjutan selama enam bulan atau lebih.

Depresi dapat sangat membatasi fungsi Anda sebagai manusia. Perubahan suasana hati yang disebabkan depresi sangat hebat sehingga menimbulkan rasa keputusasaan, nelangsa, dan ketidakberdayaan. Bahkan, depresi dapat memicu ketidakinginan untuk terus hidup.

Depresi adalah salah satu penyakit mental yang paling umum terjadi di masyarakat. Akan tetapi, risiko wanita mengalami depresi bisa dua kali lipat lebih tinggi ketimbang pria. Depresi pada wanita dapat terjadi lebih awal, lebih lama, dan lebih mungkin kambuh dibanding depresi pada pria.

Kenapa wanita lebih mudah depresi dibanding pria?

(Shutterstock)

 

Siapa pun bisa terserang depresi. Namun pada wanita, depresi lebih mungkin dipicu oleh sebuah peristiwa dalam hidup yang membuatnya stres berat. Studi juga telah menemukan bahwa perubahan hormon merupakan penyebab wanita rentan mengalami depresi. Sebagai perbandingan, kasus depresi pada pria umumnya lebih sering dipengaruhi oleh penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang.

Berikut adalah beberapa faktor yang menyebabkan wanita rentan mengalami depresi dibandingkan pria:

1. Faktor genetik

Riwayat depresi keluarga meningkatkan peluang terjadinya depresi, baik pada pria dan wanita. Namun, studi menunjukkan bahwa tekanan hidup yang dialami cenderung membuat wanita lebih rentan untuk mengalami stres yang berujung depresi dibandingkan pria. Mutasi genetik tertentu yang terkait dengan perkembangan depresi berat juga hanya terjadi pada wanita.

2. Masa puber

Pubertas adalah masa ketika seorang anak mengalami perubahan, baik secara fisik dan psikis. Berkaitan dengan depresi, studi menemukan bahwa sebelum masa puber, anak laki-laki dan perempuan sama-sama cenderung mengalami depresi. Namun, setelah usia 14 tahun, wanita cenderung dua kali lebih rentan mengalami depresi.

3. Menstruasi

Perubahan hormon menjelang menstruasi dapat menyebabkan perubahan mood drastis (mood swing) yang seringkali menyertai nyeri PMS. Hal ini terhitung wajar.

Namun ada bentuk mood swing PMS yang lebih parah, disebut dengan Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD). Wanita yang dilanda PMDD bahkan punya kecenderungan lebih besar untuk mengalami depresi hingga mencoba bunuh diri, meski menstruasinya sudah tuntas.

Dilansir dari WebMD, wanita yang punya gangguan ini umumnya memiliki kadar hormon serotonin sangat rendah. Dalam tubuh, hormon serotonin mengendalikan mood, emosi, pola tidur, dan rasa sakit. Kadar hormon memang bisa menjadi tidak seimbang menjelang atau selama menstruasi. Akan tetapi, belum jelas penyebabnya kenapa hormon serotonin pada wanita tertentu bisa menurun drastis saat menstruasi.

4. Masa kehamilan

Masa kehamilan tidaklah mudah, karena selama proses tersebut akan terjadi perubahan hormon yang dapat memicu terjadinya perubahan mood atau depresi pada wanita.

Perubahan hormon dan genetik semasa ini juga membuat wanita lebih rentan mengalami gangguan mood, seperti depresi. Bahkan setelah melahirkan, wanita juga rentan mengalami baby blues dan depresi postpartum yang dapat menyulitkan wanita untuk menjalani peran barunya sebagai ibu, termasuk dalam merawat bayinya.

5. Masa perimenopause (menjelang menopause)

Beberapa wanita rentan mengalami depresi setelah proses melahirkan atau selama masa transisi menuju masa menopause. Naik-turunnya kadar hormon reproduksi pada tahun-tahun menjelang atau selama menopause dapat memicu gejala depresi pada wanita usia lanjut.

6. Pengaruh lingkungan

Faktor lain yang juga dapat membuat wanita rentan depresi adalah faktor lingkungan, terutama terkait peran wanita sebagai ibu, istri, dan anak bagi orangtuanya. Upaya tidak main-main untuk menyeimbangkan ketiga peran tersebut tidak jarang membuat wanita rentan mengalami stres kronis yang dapat memicu terjadinya depresi.

Beberapa studi menunjukkan bahwa wanita mungkin lebih cenderung merenungkan masa lalu, yang baik maupun yang buruk, dibandingkan pria. Ini membuat wanita rentan mengalami gangguan kecemasan.

Bagaimana cara mengatasi depresi pada wanita?

Tidak perlu malu untuk meminta pertolongan demi menangani depresi Anda. Depresi bukan tanda ketidakbahagiaan atau cacat karakter. Depresi bukanlah keadaan yang wajar ditemui seperti stres atau panik. Seperti halnya penyakit fisik, penyakit mental pun memerlukan penanganan yang tepat.

Untuk mengobati depresi, Anda harus berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebab dan penanganan yang tepat. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengobati depresi di antaranya adalah dengan menggunakan obat-obatan antidepresan, atau melalui konseling psikoterapi seperti CBT.

Perubahan gaya hidup sehat, salah satunya dengan olahraga rutin, juga dapat membantu meringankan gejala depresi. Anda berhak untuk hidup sehat dan bahagia.

 

About admin

Check Also

Minum Kopi Sebelum Olahraga Bisa Membakar Kalori Lebih Cepat?

Kopi merupakan minuman yang sangat populer di Indonesia, oleh karenanya tak heran jika banyak pihak ...