Tuesday , October 23 2018
Home / Ensiklopedia / Politik / Vladimir Putin, Sosok “Satrio Paningit” Rusia, Inspirasi Bagi Indonesia

Sepertinya aura Perang Dunia (PD) III semakin kental di depan mata. Geliat para adidaya dan banyak  negara mempertontonkan hal yang sama. Terutama Amerika Serikat (AS), gerak lajunya akhir-akhir ini justru mengisyaratkan tanda-tanda bahwa bakal terjadi pergeseran lokasi PD, dari perkiraan semula di Timur Tengah (Selat Hormus) berubah di Asia Tenggara (Laut Cina Selatan). Sebagaimana dua tulisan sebelumnya yang bertajuk “Mengurai Skema, Langkah dan Modus Operasi Amerika Serikat sebagai Superpower” (03-02-2012) dan kajian soal Cina berjudul “Menaksir Cina: Bertarung di Perang Dunia III” (14-03-2012) di website GFI, bisa dijadikan rujukan kecil. Kali ini, GFI menurunkan kajian tentang Rusia, salah satu adidaya yang di-“gadang-gadang” bakal mengganti peran Amerika Serikat (AS) sebagai superpower pasca PD III nanti. 

Vladimir Putin, Sosok “Satrio Paningit” Rusia, Inspirasi Bagi Indonesia

Urgensi Global Future Institute (GFI), Jakarta menerbitkan kajian kekuatan para adidaya yang bakal bertempur nanti ialah dalam rangka pemahaman trend, mapping dan kelompok negara mana kelak yang terlibat termasuk kekuatan, kelemahan, ancaman dan peluangnya. 

Dengan merujuk berbagai sumber pustaka baik buku, diskusi-diskusi internal maupun data yang berserak di dunia maya, inilah ulasan GFI sesuai judul di atas.  

Antara Satrio Paningit, “Revolusi” dan Demokrasi ala Rusia

Membahas masa silam Rusia memang terlalu panjang. Tulisan ini kita awali saja dari sejak keruntuhan Uni Soviet (komunis) dekade 1991-an.  Ya. Usai Perang Dingin (1947 – 1991), Rusia sempat hendak “gulung tikar” dan hampir-hampir menjadi negara gagal. Inflasi meroket, ekonomi ambruk serta dikuasai segolongan oligarch, kriminalitas dan mafia kejahatan merajalela, sistem sosial berantakan dan lainnya.  

Tatkala Januari 2000-an Presiden Boris Yeltsin menunjuk Vladimir Putin sebagai Perdana Menteri (PM), hampir mayoritas rakyat Rusia belum mengenalnya. Ibarat mitos “Satrio Paningit” yang dirindu berbagai kalangan di Indonesia, agaknya Putinlah orangnya di Rusia. Ia bukan hanya pemimpin hebat bagi Beruang Merah, tetapi juga ahli strategi.

Terdapat dua hal pokok yang mendorong ia berhasil. Pertama, kenaikan harga minyak dunia diatas 90 dollar per barel merupakan keberuntungan Putin. Betapa produksi minyak Rusia mencapai 10 juta barel per hari. Ia mampu memenuhi sendiri kebutuhan energinya terutama gas, dimana negara-negara Eropa tergantung ekspor gas dari Rusia. Kedua, kepemimpinan yang tegas dan tak ragu-ragu. Ini membuat semua kebijakan berhasil. Ia dikelilingi oleh orang-orang terpercaya dari St Petersburg daerah asalnya. Sangat berbeda dengan rezim sebelumnya, dimana anak-anak Yeltsin serta menantunya turut campur tangan dalam politik.  

Dalam dua periode masa jabatannya (8 tahun) dahulu, hampir sekitar 20 juta rakyat Rusia dientaskan dari kemiskinan, kemudian sistem pendidikan serta kesehatan diperbaiki, industri strategis dinasionalisasi, pengangguran dikurangi, korupsi bisa berkurang, pembayar pajak meningkat, utang luar negeri 200 miliar dollar dilunasi, mata uang rubel menguat, cadangan devisa menjadi 450 dollar AS (nomor tiga di dunia pada dekade 2007-an). Dan yang paling membahagiakan bahwa Putin dinilai rakyat berhasil membangun kembali martabat Rusia Raya sehingga disegani oleh dunia. 

Hasil survei The Wall Street Journal, 2007 lalu menyebutkan bahwa tingkat kepuasan dan dukungan rakyat terhadap Putin relatif stabil yakni 85 %.  Adapun prosentase fluktuasi tahun 2000 = 80 %,  2001 = 84 %,  2002 = 86 % dan tahun 2003 = 85 %. Hasil survei tadi tersirat makna bahwa rakyat Rusia “terbiasa” dengan rezim otoriter, bahkan takut kembali kacau seperti dekade 1990-an doeloe. Rakyat tidak peduli dengan sistem yang diterapkan Putin apakah demokratis atau tidak, yang penting rakyat merasa sejahtera dan citra negara terpandang di mata dunia.  

Harus diakui, “seni” kepemimpinan yang diterapkan menerima banyak kritik dari berbagai pihak (terutama negara Barat) selama bertahun-tahun karena dianggap otoriter. Bahkan Freedom House (2006) menilai Rusia sebagai negara yang “tak bebas”. Akan tetapi Rusia tidak peduli, karena rakyatnya sendiri lebih menginginkan stabilitas dan kesejahteraan daripada demokrasi. Urusan perut dinilai lebih penting dibanding sekedar kebebasan. Hal pokok menjadi modal Putin kala itu adalah latar belakang dan pengalaman rakyat Rusia di masa lalu telah terbiasa dengan sistem otoriter. Mungkin warisan sejarah, bahwa partisipasi politik masyarakat di Rusia dari doeloe (1991) hingga kini sangat minimal dan elitis. Hampir dua pertiga rakyatnya tak pernah langsung berpartisipasi dalam politik. Maka wajar jika sampai sekarang belum pernah muncul civil society. Sepertinya rakyat hanya ingin memiliki negara kuat dan dapat menjamin hak-hak individu, keamanan dan kesejahteraannya. 

Oleh karena itu, “revolusi” oleh Putin yang menjadikan Rusia super centralized state melalui kepemimpinan mahakuat guna menjalankan dictatorship of law diterima oleh mayoritas rakyat, sebab individualisme dan humanisme liberal tidak punya akar kuat di Rusia. Sebaliknya kolektivisme serta korporasi senantiasa diatas hak-hak individu. Paternalisme menempatkan kepentingan masyarakat diatas hak individu. “Negara tanpa hukum akan menjadikan negara lemah, individu tidak bebas dan tidak bisa mempertahankan diri, maka semakin kuat negara akan semakin bebas pula individu”, kata Putin.

Langkah pertama Putin dengan demokrasi ala Rusia adalah “mempreteli” kekuasaan gubernur (sebelumnya gubernur bak raja-raja kecil) dari dipilih langsung oleh rakyat diubah total ditunjuk langsung presiden serta dapat disetujui atau ditolak DPRD-nya. Banyak opini menyatakan, penunjukan gubernur oleh presiden dianggap tidak demokratis, namun anehnya kini banyak negara barat yang dikenal demokratis (Belgia, Finlandia, Portugal dst) justru menirunya. Akhirnya opini yang ditebar oleh Barat ibarat meraung-raung di ruang hampa. Antara ada dan tiada. Hanya bergema tetapi tak berpengaruh apa-apa.  

Ya. Langkah Putin dianggap Barat sangat otoriter. Seperti kontrol negara terhadap media, menaikkan electoral threshold dari lima menjadi tujuh persen yang menyebabkan partai-partai kecil pro-liberal yang didukung Barat menjadi tersisih. Tetapi Putin tak peduli. Gak ngurus! Rakyatnya pun tidak terpengaruh “angin surga” demokrasi ala Barat.

Jangankan demokrasi, kekuasaan model apapun serta dimanapun di dunia niscaya mengenal check and balance. Hal ini yang mungkin kurang di Rusia. Kekuasaan presiden begitu dominan. Ia di atas kekuasaan eksekutif (dijalankan PM dan kabinet) dan legestatif (Duma dan Majelis Tinggi/Dewan Federasi), sementara yudikatif pun dikontrol presiden. Dan presiden membawahi langsung angkatan bersenjata, kepolisian, jaksa agung, dinas rahasia dan perang melawan teroris. Namun sistem demokrasi ala Beruang Merah justru membuat Rusia tak cuma makmur secara fisik bahkan rakyatnya pun kini dibolehkan keluar negeri dalam rangka kegiatan bisnis, wisata, keagamaan dan lainnya dimana hal ini ditabukan oleh rezim otoriter terdahulu.

Melalui dictatorship of law —bukan supremacy of law— seperti di Indonesia yang ternyata hanya macan kertas, hukum keras ditegakkan, meskipun belum sepenuhnya berhasil karena mafia kejahatan masih kuat, setidak-tidaknya telah terwujud stabilitas Rusia dibawah kepemimpinan Putin. Terpilihnya sebagai Person of The Year 2007 oleh majalah Time merupakan ujud pengakuan dunia atas kepemimpinan Putin yang mampu membawa Beruang Merah kembali menjadi negara kelas satu di muka bumi. 

Kebijakan Non Ideologis, “Selancar” di Antara Negara yang Bertikai

“Setiap sistem dominasi tergantung kekuatan militer, tetapi selalu membutuhkan pembenaran ideologis” -Jean Bricmont.

Di era Putin, kebijakan keluar Rusia cenderung non ideologis. Ini bertolak-belakang dengan rezim-rezim sebelumnya. Ada kesepakatan baik di bidang militer, diplomatik maupun energi antara Rusia, negara-negara Arab dan Israel tanpa memihak salah satu, termasuk kedekatan dengan Hamas dan Iran. 

Dalam perspektif hegemoni Rusia, karena ia sendiri merupakan negara produsen minyak, maka kawasan Timur Tengah bukanlah tujuan utama sehingga pendekatannya cenderung pragmatis. Tetapi dalam jangka panjang, sepertinya Rusia ingin menancapkan pengaruh agar dianggap sebagai “kekuatan besar lagi nyata”. Putin menyadari, mustahil membawa kembali Rusia seperti zaman Uni Soviet tempo doeloe, mendekati saja sudah cukup. 

Melalui pargmatisme, fokusnya lebih pada peran tradisional sebagai pemasok senjata, sekaligus mengakses pasar seluas-luasnya bagi perusahaan-perusahaan energi. Bila sebelumnya hanya membeli minyak dari Irak kemudian menjual kembali ke Eropa dan AS, kini melangkah jauh lagi baik ke Arab Saudi, Iran, Syria, Yordania maupun Israel dan lainnya. 

Selama kepemimpinan Putin, kerjasama non ideologis dengan Israel berjalan signifikan. Maka selain bidang energi, industri berat, penerbangan serta obat-obatan, bahkan semenjak tahun 1989-an hampir satu juta orang Yahudi bekas Uni Soviet telah berimigrasi sehingga populasi Israel naik 20 %. Tatkala terjadi terorisme di Beslan 2004 yang menewaskan 300-an orang lebih, Israel yang pertama mengecam teroris dan mengucapkan belasungkawa kepada Rusia.

Disamping terus mengurai kerja sama dengan Israel, ia juga menjalin hubungan dengan Hamas dan Iran, musuh-musuh bebuyutan Isarel. Misalnya proyek enam reaktor nuklir dari Iran senilai $ 10 Milyar dianggap “berkah” karena memperkerjakan ribuan ilmuwan Rusia dan menghidupkan kembali pasar teknologi nuklir yang menyusut. Hubungan bertambah erat tatkala Iran membeli satelit komunikasi, jet-jet tempur serta munculnya gagasan agar proyek minyak dan gas Iran dikelola sepenuhnya oleh perusahaan-perusahaan Rusia. Kemudian juga penjualan senjata-senjata ke Syria dan lainnya. 

Ada beberapa alasan Isreael untuk khawatir atas hubungannya dengan Syria, Hamas dan Iran yang cukup harmonis, terutama selain program nuklir bahwa Ahmadinejad-lah satu-satunya kepala negara yang mengusulkan Israel dihapus dari peta. Termasuk penolakan Putin memasukkan Hamas dan Hizbullah sebagai organisasi teroris serta membiarkan uang mengalir bebas dari Rusia kepada dua musuh Israel tadi. Itulah seni Putin. Sebuah sikap “kemunafikan” ditampilkan karena hubungan mesra dengan “para teroris” yang justru ingin kehancuran Israel. Kendati hubungannya tetap terlihat “baik-baik saja”, tetapi beberapa Komunitas Pertahanan di Israel curiga atas sikap Rusia selama ini di Timur Tengah, bahkan ada yang menyebut sebagai “penyesatan”. Oleh sebab tahun 2002 Putin pernah berjanji, bahwa tidak akan membantu musuh-musuh Israel.

Ada nostalgia berkembang di jajaran negara Arab agar kebijakan Rusia di Timur Tengah hendaknya lebih “Soviet” lagi. Aspirasi serta hasrat ini, sering muncul baik melalui pernyataan di publik maupun pribadi. Bahkan ketika memberi kuliah di  Institut Negeri Hubungan Internasional, Moskow (2005) pun, Bashar al Assad berkata: ” .. peran Rusia di dunia sangat besar dan memiliki otoritas kolosal, terutama di negara-negara Dunia Ketiga. Ada harapan besar di negara-negara bahwa Rusia akan mengembalikan posisi awal dalam urusan dunia”. Gayung bersambut, Aljazair pun menyatakan harapan yang sama, bukan karena motivasi pengampunan utang era Soviet doeloe sebesar $ 7,5 Milyar, namun semata untuk kepentingan “pendinginan” suasana panas di Timur Tengah akibat geliat Israel selaku organ pemecah di Jazirah Arab versi Henry Bannerman, PM Inggris (1901). 

Hal lain yang menarik di Rusia ialah keberpihakan kuat Putin kepada Islam, ini bisa dilihat dari statement dan kebijakan menutup media massa yang memuat kartun Nabi Muhammad sewaktu Hamas akan berkunjung ke Moskow, ia menyatakan, “Rusia selalu mejadi bek paling setia, dapat diandalkan dan konsisten terhadap kepentingan Islam”. Tak dapat disangkal, bahwa tingkat kelahiran dan perkembangan Islam di Rusia sekarang ini lebih tinggi dari sebelumnya.

Dinamika politik Rusia terlihat dramatis. Memang, setiap hubungan apapun tak berlangsung di ruang hampa. Dengan Israel misalnya, niscaya ada efek langsung dan tidak langsung. Atau dengan Iran, Syria, Hamas dan seterusnya. Menjadi logis ketika “kepentingan nasional”-nya didahulukan terkait kebijakan non ideologis di Timur Tengah. Itulah yang harus disadari bersama. 

Kekuatan Militer

Di bawah kepemimpinan Putin, perekonomian Rusia bangkit kembali. Sehingga Rusia berhasil memodernisasikan kembali Angkatan Bersenjatanya secara bertahap sesuai dengan pola ancaman yang dihadapi dan strategi yang diterapkan. Bahkan di era kepresidenan Dmitry Medveded sekarang, Rusia terus mengembangkan kekuatan militernya, termasuk memproduksi rudal dan kapal selam berkapasitas nuklir generasi baru.

Moskow juga siap mengucurkan dana US$ 140 miliar untuk anggaran militernya hingga 2011. Suatu jumlah anggaran yang cukup fantastis dan tertinggi sejak runtuhnya Uni Soviet. 

Mei 2007 lalu, Rusia berhasil menguji coba RS-24 rudal generasi baru yang mampu merontokkan tameng rudal Amerika Serikat, Bahkan menurut informasi, Presiden Medvedev sempat  mengerahkan rudal jarak pendek untuk menandingi tameng rudal Amerika di Polandia.

Postur pertahanaan Rusia semakin disegani lawan-lawannya dari Eropa Barat ketika pada April 2007 salah satu dari 12 kapal selam kelas Borel baru (proyek 955) diluncurkan. Kapal selam yang kemudian mulai dioperasikan seja November 2008 itu akan dilengkapi dengan 12 rudal Bulava baru. Yang mana satu rudal mampu membawa enam hulu ledak. 

Rusia memang punya alasan untuk unjuk kekuatan kembali di matra militer. Dari data yang berhasil dihimpun oleh Tim Riset Global Future Institute, postur angkatan bersenjata Rusia perkembangannya memang cukup fantastis. Berikut data kekuatan militer Rusia.

PERSONNEL

Total Population: 138,739,892 [2011]

Available Manpower: 69,117,271 [2011]

Fit for Service: 46,812,553 [2011]

Of Military Age: 1,354,202 [2011]

Active Military: 1,200,000 [2011]

Active Reserve: 754,000 [2011]

 

ANGKATAN DARAT

Total Land Weapons: 91,715

Tanks: 22,950 [2011]

APCs / IFVs: 24,900 [2011]

Towed Artillery: 12,765 [2011]

SPGs: 6,000 [2011]

MLRSs: 4,500 [2011]

Mortars: 6,600 [2011]

AT Weapons: 14,000 [2011]

AA Weapons: 4,644 [2011]

Logistical Vehicles: 12,000

 

ANGKATAN UDARA

Total Aircraft: 2,749 [2011]

Helicopters: 588 [2011]

Serviceable Airports: 1,213 [2011]

 

SUMBER DAYA ALAM

Oil Production: 10,120,000 bbl/Day [2011]

Oil Consumption: 2,740,000 bbl/Day [2011]

Proven Reserves: 74,200,000,000 bbl/Day [2011]

 

LOGISTIK

Labor Force: 75,550,000 [2011]

Roadway Coverage: 982,000 km

Railway Coverage: 87,157 km

 

FINANSIAL (USD)

Defense Budget: $56,000,000,000 [2011]

Reserves of Foreign Exchange & Gold: $483,100,000,000 [2011]

Purchasing Power: $2,223,000,000,000 [2011]

 

GEOGRAFIS

Waterways: 102,000 km

Coastline: 37,653 km

Square Land Area: 17,098,242 km

Shared Border: 20,241 km

 

ANGKATAN LAUT

Total Navy Ships: 233

Merchant Marine Strength: 1,097 [2011]

Major Ports & Terminals: 7

Aircraft Carriers: 1 [2011]

Destroyers: 14 [2011]

Submarines: 48 [2011]

Frigates: 5 [2011]

Patrol Craft: 60 [2011]

Mine Warfare Craft: 34 [2011]

Amphibious Assault Craft: 23 [2011]

Fakta inilah yang akhirnya berhasil memicu ketakutan negara-negara NATO, sehingga pada 27 Juni lalu negara-negara anggota pakta pertahanan Eropa Barat tersebut sepakat untuk kembali menjalin kerjasama militer dengan Rusia setelah sempat terhenti selama sepuluh bulan. 

Ini suatu bukti nyata bahwa reputasi Rusia di Eropa Timur masih tetap disegani dan diperhitungkan sebagai lawan yang cukup berbahaya. Rupanya NATO berangapan bahwa merangkul Rusia dalam jalinan kerjasama strategis akan mencegah Rusia untuk memainkan skemanya sendiri di kawasan Eropa Timur. 

Serangan militer Rusia ke Georgia untuk melindungi dua provinsi yang bermaksud melepaskan diri dari Georgia yaitu Ossetia Selatan dan Abkhazia. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov telah mendesak NATO untuk menghargai aspirasi kedua provinsi di Georgia tersebut untuk memisahkan diri dari Georgia sebagaimana ketika Georgia dahulu melepaskan diri dari Uni Soviet. 

Selain itu, Rusia sepertinya juga tidak takut-takut untuk memprotes mitranya dari eropa barat atas keputusannya untuk menerima keanggotaan Ukraina dan Georgia sebagai negara-negara anggota NATO. Masuknya kedua negara bekas bagian Uni Soviet tersebut memang bikin Rusia tidak nyaman. Maklum, Georgia dan Ukraina sepertinya memang bermaksud menantang Rusia, dan terang-terangan mengundang dukungan dan bantuan dari Amerika dan sekutnya dari Eropa Barat. 

Bahkan, bertepatan dengan hari kemenangan Angkatan Bersenjata Soviet menghancurkan Jerman pada Perang Dunia Kedua, Amerika dan NATO sepertinya sengaja memprovokasi Rusia dengan menggelar latihan militer bersama di negara Georgia yang berbatasan langsung dengan wilayahn kedaulatan Rusia. 

Bukan itu saja. Bahkan Rusia mengecam rencana pembangunan tameng rudal Amerika di Republik Ceko dan Polandia. Semua ini dinilai Rusia tidak saja merupakan provokasi terhadap Rusia, tapi juga bisa membahayakan kedaulatan wilayah Rusia secara keseluruhan. 

Karena itu, ketika Georgia ada gelagat akan menghancurkan Ossetia Selatan dan Abkhazia karena bermaksud memerdekakan diri dari Georgia, dengan serta merta Rusia langsung mengirim pasukan militernya menggempur Georgia. 

Inilah untuk kali pertama Rusia mengerahkan pasukannya ke luar negeri sejak pasca keruntuhan Uni Soviet pada 1991. Dan NATO, nampaknya berpikir dua kali untuk memenuhi seruan Georgia agar membantu membalas serangan militer Rusia. 

Tapi apa mau di kata, Rusia sejak di bawah kepemimpinan Putin dan Medvedev ternyata telah kembali memulihkan reputasinya sebagai negara adidaya di bidang militer.  

Dan yang paling penting dari semua itu, Rusia berani menentang keras rencana NATO ketika bermaksud membangun tameng rudal di Eropa dan menilai hal itu sebagai faktor penghambat ke arah baru hubungan Rusia-Amerika-NATO. 

Bagi Amerika dan para sekutu baratnya, jelas ini merupakan perkembangan yang cukup krusial.  Sehingga Washington dan sekutu sekutu baratnya selalu melancarkan propaganda lewat media massa arus utama yang disponsori para konglomerat raksasa di AS, bahwa gaya kepemimpinan Rusia ala Putin tidak  bisa diterima dan bertentangan dengan demokrasi. 

Namun Putin pun sejak masa kepresidenan yang dia pimpin sebelumnya, juga tak kalah keras dalam menyerang balik Amerika. Berkali-kali Putin memperingatkan AS supayatidak menjadi kekuatan tunggal yang mendominasi dunia secara sepihak. Karena menurut Putin, hegemoni Amerika justru bakal membawa dunia ke dalam  ketidakseimbangan. 

Bisa jadi, inilah yang membuat ”mantra Obama” di Rusia menjadi tidak mempan sama sekali. Ini terlihat jelas ketika Obama berkunjung ke Rusia, disambut dengan dingin dingin saja. Kecaman Obama bahwa Putin masih berpikir dalam kerangka Perang Dingin,  di mata masyarakat Rusia justru menunjukka bahwa Putin memiliki kepekaan intuitif dalam membaca konstalasi politik internasional.

Putin sepertinya bisa membaca gelagat bahwa di balik retorika Obama agar Rusia melepaskan diri pola pikir Perang Dingin, sebenarnarnya tersembunyi sebuah agenda untuk menata-ulang hegemoni Amerika di pentas dunia internasional.   

Karena itu, pernyataan konfrontatif Obama beberapa waktu berselang, yang menyerang Putin sebagai sosok pemimpin yang salah satu kakinya masih berada di era Perang Dingin, nampaknya justru tidak banyak membantu dalam mencairkan komunikasi politik antara Amerika dan Rusia.

Rekomendasi GFI, secara politik, ekonomi dan militer Rusia layak menjadi superpower pengganti AS karena selain memiliki energy security yang anti embargo karena bisa memenuhi kebutuhan energinya tanpa harus impor, kemudian kemajuan teknologi di berbagai bidang, dan terutama kekuatan militernya dapat diandalkan. Dan layak untuk jadi bahan pelajaran penting bagi para pemegang otoritas politik, ekonomi dan militer Indonesia. 

Dengan demikian, asumsi Bricmont di atas masih berlaku bagi Rusia, hanya oleh Putin dipenggal kalimat bagian belakangnya: sistem dominasi memang tergantung kekuatan militer! 

Bukan itu saja. Bagi Indonesia, yang sedang merindu lahirnya pemimpin dan kepemimpinan baru pada 2014 mendatang, sosok Putin sebagai satrio piningit, kiranya bisa menjadi inspirasi untuk menghadirkan kembali sosok kepemimpinan yang mampu menjiwai aspiras rakyat dan bangsanya.

Penulis : M Arief Pranoto dan Hendrajit, Peneliti Senior Global Future Institute

Sumber : http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=7924&type=4

About admin

Check Also

Diplomasi Pertahanan Menhan Ryamizard ke AS, Sukses

Pada saat ini para pengamat intelijen di dunia mengamati dengan serius perkembangan geopolitik dan geoekonomi ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *