Monday , November 18 2019
Home / Budaya / Filsafat / Ukuran Keempat (1)

Ukuran Keempat (1)

Ki Ageng Suryomentaram

Ada empat jenis ukuran yakni ukuran kesatu, kedua, ketiga, dan keempat. Wujud ukuran kesatu ialah garis, ukuran kedua berwujud dataran yang mengandung panjang dan lebar, ukuran ketiga berbentuk benda yang mengandung panjang, lebar dan tebal, dan ukuran keempat adalah benda hidup yang mengandung rasa. Jadi ukuran-ukuran tersebut mempunyai wujud dan rasa.

Wujud keempat ukuran-ukuran itu semua terdapat di dalam rasa manusia, dan tidak di luar rasa manusia. Anggapan bahwa wujud ukuran-ukuran itu terdapat di luar rasa manusia adalah keliru. Penjelasannya ialah sebagai berikut :

Ukuran kesatu yang berwujud garis, terdapat di dalam perasaan orang. Bila garis itu diperkirakan terdapat di luar rasa orang, garis itu digambarkan sebagai sejumlah titik secara berjajar. Gambaran itu menimbulkan pertanyaan: “Apakah antara titik-titik itu terdapat jarak atau tidak?”

Jika antara titik-titik itu tidak ada jaraknya maka ini berarti bahwa garis itu merupakan sebuah titik. Padahal titik bukanlah garis. Jadi pendapat bahwa titik-titik mewujudkan garis itu keliru.

Sekarang timbul pertanyaan: “Apakah ada jarak di antara titik-titik yang mewujudkan garis itu?” Bila di antara titik-titik itu dibayangkannya ada jarak, maka bisa ditanyakan: “Apakah wujud jarak itu?” Sudah tentu jawabannya ialah jarak itu berwujud titik. Jawaban di atas tentu saja menimbulkan pertanyaan lagi. “Ada apakah antara jarak titik dengan jarak titik lainnyaP” Jawabnya tentu saja: “Ya titik lagi.” Jadi jarak titik yang satu dengan yang lain tidak ada batasnya, sehingga bila sebuah anak panah, bertolak dari satu titik ke titik lain, setelah berjalan berjuta-juta tahun pun panah itu tidak akan mencapai titik yang dituju karena jaraknya tidak terhingga panjangnya. Padahal kenyataannya tidak demikian. Maka pendapat bahwa garis itu terdiri dari sejumlah titik itu keliru.

Yang benar ialah bahwa garis itu perasaan orang dalam menanggapi wujud ukuran kesatu. Setiap orang menanggapi wujud ukuran kesatu sebagai garis. Jadi garis itu dicipta oleh rasa manusia sendiri.

Wujud ukuran kedua ialah dataran. Patokan untuk meneliti dataran ini serupa dengan patokan untuk garis, karena dataran ini digambarkan sebagai sejumlah garis-garis yang berjajar. Maka dataran pun adalah ciptaan rasa orang dalam menanggapi wujud ukuran kedua.

Wujud ukuran ketiga ialah wujud benda yang mengandung panjang. lebar dan tebal. Wujudnya sebagai cangkir, piring, rumah, gunung, sungai, dunia, bintang, bulan, matahari dan sebagainya. Wujud benda ini terdapat dalam perasaan manusia.

Jika benda itu dikira terdapat di luar rasa manusia, maka perkiraan itu keliru. Benda itu, selain digambarkan sebagai sejumlah dataran berjajar, juga digambarkan sebagai sesuatu yang terdapat dalam ruang. Semua benda dibayangkan sebagai sesuatu yang mengambil dan diliputi ruang. Padahal ruang adalah rasa orang dalam menanggapi adanya benda itu.

Bila ruang diperkirakan di luar rasa manusia, maka sifatnya hanyalah dua macam, berbatas atau tanpa batas. Bila ruang itu berbatas, tentu timbul pertanyaan: “Apakah di luar batas tidak ada ruang lagi?” Bila orang hendak menjawab pertanyaan di atas, tentu jawabnya ialah bahwa di luar batas tadi terdapat pula ruang. Jadi pendapat bahwa ruang itu berbatas, adalah keliru.

Sekarang tinggal meneliti pertanyaan: “Apakah ruang itu tanpa batas?” Tanpa batas ini bukanlah jumlah dari bagian-bagian ruang, bukan jumlah satu meter kubik dengan dua meter kubik, atau satu dunia dengan dua dunia, sebab jumlah itu merupakan batas. Jadi tanpa batas ini berarti tidak dapat ditanyakan berapa banyaknya, karena jumlah itu berbatas.

Diteliti secara di atas, maka terlintas dalam pikiran kita bahwa memanglah ruang itu bersifat tanpa batas. Namun bila sifat ruang itu tanpa batas, maka ini berarti bahwa setiap ruang itu tidak berbatas. Jadi ruang jarak satu benda dengan benda lain tidak berbatas. Sehingga bila orang berjalan dari satu tempat ke tempat lain, beribu-ribu tahun tidak akan tiba pada tempat yang ditujunya.

Demikianlah maka pendapat bahwa ruang itu terdapat di luar perasaan manusia itu keliru. Yang benar ialah bahwa ruang itu rasa manusia dalam menanggapi adanya benda. Jadi benda itu terdapat di dalam rasa manusia.

Wujud ukuran keempat pun ada dalam rasa manusia. Penjelasannya lebih jauh akan diberikan di belakang. Sementara ini akan diterangkan bagaimanakah hidup manusia dalam berbagai ukuran itu. Manusia itu hidup dalam ukuran kesatu, kedua, ketiga dan keempat.

Hidup manusia dalam ukuran kesatu ialah sebagai hidup seorang bayi yang baru lahir beberapa hari. Bayi itu sudah merasakan sesuatu, tetapi badan dan bagian-bagiannya belum dapat digunakan untuk mengikuti perasaannya. Misalnya bila bayi itu digigit nyamuk maka dapat dimengerti bahwa bayi itu merasa sakit. Tetapi tangan bayi itu belum dapat dipergunakan untuk menghalau nyamuk. Hidup dalam ukuran kesatu ini sama dengan hidup tanaman.

Hidup dalam ukuran kedua ialah sebagai hidup anak-anak yang badan dan bagian badannya sudah dapat mengikuti perasaannya, tetapi anak tadi belum mengerti sifat hukum benda-benda. Oleh karenanya dalam hubungannya dengan benda, ia sering keliru. Sebagai contoh misalnya seorang anak melihat api bercahaya, maka senanglah ia dan dipegangnya api itu.

Ini mengakibatkan tangannya terbakar. Anak itu merasakan sesuatu, yakni rasa senang, dan tangannya sudah dapat dipakai untuk mewujudkan perasaan senangnya, yakni memegang api. Tetapi ia belum mengerti hukum alam benda, bahwa api dapat membakar tangan yang memegangnya. Hidup dalam ukuran kedua ini sama dengan kehidupan hewan.

Hidup dalam ukuran ketiga ialah hidup manusia yang merasakan sesuatu dan badannya sudah dapat dipergunakan menurut perasaannya serta ia sudah mengerti sifat hukum alam benda. Oleh karenanya dalam hubungannya dengan benda-benda yang dipakai untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, ia tidak sering keliru. Sebagai contoh misalnya seorang merasa haus, maka diambilnya air dari tempayan, dan diminumnya. Orang itu merasa sesuatu, yakni haus, dan mengerti hukum alam benda, kemudian mengerti caranya minum dengan mengambil air dari tempayan. Maka tindakan orang itu adalah tepat.

Hidup dalam ukuran keempat ialah hidup manusia dalam hubungannya dengan benda. Benda hidup ini mempunyai perasaan. Jadi hidup dalam ukuran keempat ialah hidup manusia dalam hubungannya dengan perasaan-perasaan.

Dalam hubungannya dengan perasaan-perasaan itu dapat timbul pelbagai kesukaran. Kesukaran dalam hubungannya dengan perasaan-perasaan disebabkan karena ia tidak mengerti tentang perasaan. Serupa halnya kesukaran dalam hubungannya dengan suatu benda, karena ia tidak mengerti tentang sifat benda itu. Jadi kesukaran dalam kedua hal di atas disebabkan karena ketidak mengertian.

Ukuran keempat ialah salah satu alat manusia. Manusia memiliki berbagai alat seperti tangan, kaki, mata, kuping dan sebagainya. Alat-alat itu ada yang harus dididik agar berkembang, dan ada pula yang tidak perlu pendidikan. Alat-alat yang tidak mesti dididik berupa mata, kuping dan sebagainya. Mata untuk melihat rupa dan kuping untuk mendengar suara. Mata dan kuping ini sekalipun tidak dididik, bila tidak mengalami cedera, perkembangannya akan berlangsung secara wajar.

Tetapi alat-alat yang perlu dididik, bila tidak dididik maka perkembangannya tidak akan wajar. Wujud alat-alat yang perlu dididik ialah hati, pikiran dan ukuran keempat. Hati ialah alat untuk merasakan rasanya sendiri, pikiran ialah alat untuk memikir dan ukuran keempat ini ialah alat untuk merasakan rasa orang lain. Alat-alat inilah yang menyebabkan orang membutuhkan pelajaran, tidak hanya yang bersifat ketrampilan, akan tetapi juga yang dapat mengembangkan hati, pikiran, dan ukuran keempatnya.

Hati sebagai alat untuk merasakan rasa sendiri, bila tidak cukup pendidikannya, tidak akan dapat berkembang secara wajar, sehingga untuk merasakan rasa sendiri sering keliru. Rasa orang dapat dibagi dua, yaitu rasa enak dan rasa tidak enak. Bila hati tidak cukup terdidik, ia sering keliru untuk merasakan rasa sendiri yang enak dan tidak enak, yakni enak dianggapnya tidak enak, sedang tidak enak dianggapnya enak. Sering kekeliruan tadi diketahui kemudian berupa penyesalan.

Kekeliruan-kekeliruan itu disebabkan karena bercampurnya pelbagai rasa secara tidak teratur; misalnya bercampurnya rasa enak dan tidak enak dalam suatu tindakan. Maka memisah-misahkan rasa yang bercampur secara tidak teratur itu, adalah salah satu latihan untuk mendidik hati.

Misalnya orang berjudi atau main ceki; ketika menang merasa enak dan senang. Tetapi rasa senang ini bercampur rasa gelisah, rasa takut kalau kalah dan dia bernafsu untuk mempertahankan kemenangannya. Dan main kartu ceki dengan kegelisahan, karena takut kalah disertai nafsu menang, merupakan rasa tidak enak yang mencampuri rasa senang dalam kemenangannya.

Adapun main kartu ceki tanpa rasa gelisah dan tanpa nafsu menang tentu saja tidak mengganggu rasa senang. Adanya rasa itu menimbulkan rasa susah dan celaka yang kedua-duanya tidak enak. Jelasnya sebagai berikut. Rasa susah ialah rasa keinginan yang tidak tercapai, maka tidak berlangsung iama. Tetapi rasa celaka (malang) itu ialah idam-idaman yang ditakutkan akan gagal dan yang disebut prihatin, dan oleh karena itu berlangsung lama. Rasa prihatin tetap ada pada waktu orang merasa senang.

Rasa prihatin adalah tetap tidak enak. Tatkala belum tercapai, idam-idaman itu menggelisahkan, maka rasanya tidak enak, prihatin. Ketika idam-idaman itu gagal maka timbul rasa sedih, yang rasanya tidak enak. Sekalipun idam-idaman itu tercapai, namun tetap timbul kekhawatiran kalau-kalau ia terlepas lagi, maka rasanya tidak enak. Jadi main kartu ceki bila menjadi idam-idaman, tidaklah enak rasanya.

Contoh rasa enak yang dianggap tidak enak, ialah bila orang berbuat baik kepada orang lain, namun akhirnya dibalas dengan kejahatan, maka menyesallah ia atas perbuatan baiknya tadi. Penyesalan itu disebabkan karena tercampurnya rasa enak dan tidak enak. Berbuat baik terhadap orang lain itu enak rasanya, dan dibalas dengan kejahatan oleh orang lain, tidak enak rasanya. Jadi berbuat baik terhadap orang lain tetap enak rasanya. Maka penyesalan di atas berarti menyesal akan rasa enak yang diperolehnya. Apabila orang sering menyesal atas keenakannya, akhirnya ia akan jemu merasa enak. Demikianlah kekeliruan yang sering terjadi dalam mempergunakan hati untuk merasakan rasanya sendiri.

Pada hakikatnya tindakan manusia semata-mata menurut bagaimana ia menanggapi rasanya. Bila penanggapannya sering keliru, tindakannya pun sering keliru. Jadi dasar tindakan manusia adalah bagaimana ia menanggapi rasanya.

Oleh karena itu, mula-mula hati ini harus dilatih untuk menanggapi pelbagai rasanya sendiri yang pokok, agar dapat memisahkan rasa suka dan duka (susah), dengan bahagia dan derita. Setelah itu maka dengan mudah hati dapat digunakan untuk menanggapi perincian rasa sendiri. Demikianlah cara mendidik hati.

Pikiran ialah untuk memikir. Bila tidak cukup terdidik pikiran tidak akan memperoleh kemajuan yang wajar, sehingga pemikirannya sering keliru. Hal-hal yang dipikirkan dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu benda dalam arti umum dan benda secara terperinci. Yang pertama ialah jawaban atas pertanyaan: “Apakah yang terdapat di atas bumi dan di kolong langit?” Yang kedua adalah benda-benda satu persatu serta gerak-geriknya.

Memikirkan masalah benda dalam arti umum, harus dijalankan tanpa bertanya berapa, bagaimana, di mana dan bilamana. Benda dalam arti umum tidak ada jumlahnya tidak dapat dilihat dan tidak bergantung pada tempat dan waktu. Maka kelirulah bila memikirkan benda dalam arti umum, dengan menggunakan empat macam pertanyaan tersebut.

Memikirkan benda secara terperinci, harus menggunakan pertanyaan berapa, bagaimana, di mana dan bilamana. Karena benda terperinci itu mempunyai jumlah yang dapat dilihat dan tergantung pada tempat dan waktu. Maka kelirulah bila memikirkan benda terperinci tanpa menggunakan empat macam pertanyaan tersebut.

Benda terperinci ialah benda berwujud serta gerak-geriknya (Bhs. Jawa:lelampahan). Memikirkan benda berwujud, ialah membeda-bedakan dan menyama-nyamakan benda yang satu dengan lainnya, menurut jumlah, bentuk, tempat, dan zamannya. Hasil pemikiran demikian itu merupakan pengertian.

Memikirkan cara gerak-geriknya ialah membedakan dan menyamakan gerak-geriknya satu persatu dan meneliti sebab dan akibatnya. Gerak gerik itu merupakan pergeseran jumlahnya, perubahan bentuknya dan pergantian waktunya. Hasil pemikiran demikian itu merupakan pengertian.

Apa yang dipikirkan, bagaimanakah sifat-sifatnya dan apakah faedahnya, semua ini harus jelas, agar kita dapat berpikir benar. Pemikiran yang tidak jelas, disebabkan tidak terpenuhinya tiga syarat tersebut. Jadi untuk berpikir dengan jelas itu perlu menjawab tiga pertanyaan, yaitu apa yang dipikir, bagaimana sifatnya dan apa gunanya.

Dalam pergaulan, banyak perselisihan disebabkan oleh kekeliruan dalam berpikir. Misalnya, ada yang berpikir bahwa Nyai Rara Kidul (Ratu Laut Selatan dalam mitos/dongeng Jawa) ialah penyebar penyakit; sedangkan ada pula yang berpikir, bahwa Nyai Rara Kidul ialah penyembuh penyakit. Dua macam eara berpikir yang bertentangan di atas menyebabkan perselisihan. Tetapi pemikiran di atas akan menjadi jelas bila disertai pertanyaan: “Yang dipikir itu apa? bagaimana? dan apa faedahnya?” Misalnya pertama, Nyai Rara Kidul itu apa? Jawabnya, Nyai Rara Kidul itu sebuah dongeng, dan dongeng itu ialah cerita yang tidak bersangkutan dengan kenyataan. Kemudian pertanyaan kedua, bagaimanakah Nyai Rara Kidul itu? Penyebar atau penyembuh penyakit? Dongeng itu diceritakan oleh dua orang yang masing-masing tidak berhubungan, maka sewajarnyalah bila dongeng tersebut berbeda-beda. Akhirnya, apakah faedahnya dongeng itu? Jawabnya, faedah dongeng adalah untuk hiburan atau untuk memasukkan pelajaran kebatinan dan sebagainya. Setelah jelas demikian, dongeng Nyai Rara Kidul itu tidak lagi menyebabkan perselisihan.

Hal-hal yang dipikir pun dapat dipisah menjadi dua, yakni benda dan rasa. Sering cara memikir rasa dikacaukan dengan cara memikir benda, sehingga mengakibatkan kesulitan. Untuk memikir rasa, terlebih dahulu harus memisahkan rasa dari benda. Rasa yang bersumber pada keinginan, pada pokoknya ialah senang dan susah. Senang ialah rasa tercapainya keinginan, dan susah ialah rasa tidak tercapainya keinginan. Jadi senang dan susah itu rasa, bukan benda.

Yang menyebabkan senang ialah keinginan tercapai, dan yang menyebabkan susah ialah keinginan tidak tercapai, tetapi bukanlah benda-benda yang diinginkan. Agar jelas perlu diberi contoh di sini. Misalnya banyak orang mengadakan pertemuan di malam hari, mereka membutuhkan lampu yang terang. Bila memperoleh lampu terang, senanglah mereka itu. Tetapi tatkala hendak tidur mereka perlu lampu yang tidak sebegitu terang, sehingga mereka merasa susah kalau lampu itu terang. Jadi lampu terang itu semula disenangi, kemudian tidak disenangi.

Jadi benda itu tidak menyebabkan senang atau susah. Bila sudah terpisah cara memikir benda dan memikir rasa, orang dapat menelaah pokok kebutuhannya yang semula ruwet. Setelah dimengerti, maka lenyaplah kesulitan yang bersumber pada tercampurnya memikir benda dan memikir rasa.

Rasa orang pun dapat dibagi dua bagian, sebagai rasa yang dihayati dan rasa yang menghayati. Rasa yang dirasakan yaitu senang, susah, sakit, sembuh dan sebagainya. Dan rasa yang menghayati ialah “aku”, merasa, mengerti, pribadi, dan sebagainya. Jadi rasa yang menghayati bukanlah rasa yang dihayati. Bila dalam memikirkan dua macam rasa itu bercampur-baur, sering orang keliru dalam merasakan sesuatu. Misalnya bila orang sedang sakit, ia merasa “aku sakit”. Memikir rasa demikian itu keliru.

Sakit adalah rasa yang dihayati, bukanlah rasa yang menghayati. “Aku” adalah rasa yang menghayati bukanlah rasa yang dihayati dan oleh karena itu tidak dapat sakit, melainkan dapat merasakan sakit. Jadi yang sakit bukanlah “aku”.

Setelah rasa yang dirasakan dan rasa yang merasakan terpisah maka rasa orang itu benar, yaitu “yang sakit bukanlah aku”. Bila kesadarannya sudah tepat, orang akan dapat meneliti dan mempelajari rasa-rasa sendiri yang bermacam-macam itu. Demikianlah cara memisahkan rasa yang dihayati dan rasa yang menghayati.

Jadi membina pikiran dapat dijalankan dengan memisahkan pemikiran benda dalam arti umum dan pemikiran benda terperinci, memisahkan pemikiran benda dari rasa, dan untuk memisahkan pemikiran rasa yang dihayati dengan rasa yang menghayati.

Adapun ukuran keempat ini adalah alat untuk merasakan rasa orang lain. Bila tidak cukup pembinaannya, ia tidak akan memperoleh kemajuan yang wajar. Sehingga di dalam menghayati rasa orang lain, sering salah.

Manusia itu dapat menghayati rasa sendiri dan rasa orang lain. Rasa sendiri dan rasa orang lain ini kedua-duanya terdapat dalam rasa sendiri. Jadi rasa manusia itu berisi rasa sendiri dan rasa orang lain. Bila rasa sendiri dan rasa orang lain dalam diri sendiri tercampurbaur, orang sering keliru menghayati rasa orang lain. Contohnya, orang kaya yang sering keliru menghayati rasa orang miskin. Orang kaya itu mengira bahwa orang miskin itu celaka dan susah selama-lamanya. Perasaan demikian itu, bercampur dengan rasa takut kemiskinan yang akan menimpanya. Bila rasa takut jatuh miskin itu terpisah, orang kaya itu dapat menghayati rasa orang miskin, yaitu bahwa si miskin tidak selamanya susah. Demikianlah cara memisahkan rasa sendiri dari rasa orang lain.

Orang miskin pun sering salah dalam menghayati rasa orang kaya. Ia mengira bahwa orang kaya itu bahagia dan senang selamanya. Cara mengira demikian itu tercampur dengan keinginan sendiri untuk menjadi kaya. Bila rasa ingin kaya ini terpisah maka ia dapat menghayati rasa orang kaya, yaitu bahwa si kaya tidak senang selamanya. Demikianlah cara memisahkan rasa sendiri dari orang lain. Jadi yang merintangi untuk menghayati rasa orang lain, ialah kepentingan sendiri.

Di sini perlu diberi contoh lain. Ayam (hewan) ialah benda yang memiliki rasa. Bila orang terpengaruh oleh kepentingannya sendiri, ia tidak dapat menghayati rasa hewan itu. Biasanya bila orang melihat seekor ayam maka kepentingan sendiri muncul. “Gemuk benar ayam ini, bila dipelihara akan banyak bertelur, bila digoreng enak pula rasanya dan bila dijual bisa laku sekian rupiah,” demikian perasaannya. Padahal bukanlah kehendak ayam untuk digoreng. Demikian kepentingan sendiri merintangi orang untuk menghayati rasa orang lain.

Contoh yang lebih terang lagi, ialah bila seorang laki-laki bepergian beberapa hari lamanya. Ketika pulang ditemukan istrinya menderita sakit perut. Laki-laki itu merasa kecewa, dan rasa kecewa inilah yang menyebabkan ia tidak dapat menghayati rasa sakit perut istrinya. Demikian kepentingan sendiri merintangi orang untuk menghayati rasa orang lain.

About admin

Check Also

Pergantian Presiden Tahun 2019 (1440 H) menurut Kitab Mandiyatul Badiyah Karya Tengku Syiah Kuala Negeri Aceh

“Kejayaan Nusantara Akan Terwujud Setelah Terjadinya Hura Hara (Goro-Goro) Dengan Tumbangnya Kekuatan KUNING dan MERAH ...