Saturday , October 21 2017
Home / Budaya / Kebangsaan / TNI Gagalkan Kelompok Tidak Resmi yang Ingin Seludupkan 5000 Pucuk Senpi dengan Mencatut Nama Presiden
Ilustrasi foto Panglima TNI saat di Monas. Istimewa
Ilustrasi foto Panglima TNI saat di Monas. Istimewa

TNI Gagalkan Kelompok Tidak Resmi yang Ingin Seludupkan 5000 Pucuk Senpi dengan Mencatut Nama Presiden

Pidato Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, 22 September 2017:

Situasi yang sekarang ini yang sama-sama juga harus kita waspadai. Ada semacam etika politik yang tidak bermoral, atau dikatakan pada saat ABRI yang dulu, itu terjadi sekarang ini pak.

Sehingga suatu saat, apabila kami-kami yang junior ini melakukan langkah yang di luar kepatutan para Senior, itu hanya kami sebagai Bhayangkari. Tapi datanya pasti kami akurat. Ada kelompok institusi yang akan membeli 5.000 pucuk senjata bukan militer. Ada itu pak. Ada yang memaksa, ada yang memidanakan. Untuk apa, ada.

Dan data-data kami, intelijen kami, akurat.

Kami masuk pada seluruh intinya pak. Tapi hanya untuk kami saja pak itu. Karena kalau tidak ini pak, kalau tidak, bahkan TNI pun akan dibeli.

Tidak semua isinya bersih pak. Jujur saya katakan, ada yang sudah punya keinginan dengan cara yang Amoral, untuk meraih jabatan. Ada.

Dan saya berjanji mereka akan saya buat merintih pak. Bukan hanya menangis. Mereka akan saya buat merintih bukan hanya menangis, biar pun itu jenderal..!

Karena ini yang berbahaya pak. Kalau sudah TNI ditarik ke politik, semuanya dikuasai politik, selesai negara ini. Ujung-ujungnya nanti, pasti kita tidak bisa berbuat apa2 lagi pak. Undang-undang pidana militer masuk, semua masuk, itulah awal dari perkelahian. Dan itulah awal dari kehancuran negara.

Maka apapun akan kami lakukan. Kami mohon doa restu saja pak..!

Memakai nama presiden seolah-olah itu dari presiden yang berbuat. Padahal saya yakin itu bukan presiden. Informasi yang saya dapat, kalau tidak A1 tidak akan saya sampaikan disini. (tepuk tangan…)

Dan polisi pun tidak boleh memiliki senjata yang bisa menembak tank, dan bisa menembak pesawat, dan bisa menembak kapal. Saya serbu kalau ada. Ini ketentuan. Karena kalau kita mencoba dengan cara hukum sudah tidak bisa, bhayangkari tidak akan muncul.”

Info tentang adanya institusi tidak resmi yang hendak mendatangkan 5000 pucuk senjata api kini meruak di masyarakat. Nama Presiden dicatut agar dapat mengimpor senjata ilegal tersebut. Hal itu terungkap dari isi potongan audio yang beredar di media sosial.

Pada rekaman itu terdengar suara yang dikenali sebagai suara khas Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Seperti yang diberitakan oleh media, Panglima memberikan sambutan pada acara pertemuan Silaturahim Panglima TNI dengan Purnawirawan TNI, di Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur, Jumat, 22 September 2017.

Acara tersebut dihadiri oleh mantan Panglima ABRI sekaligus mantan wapres Try Soetrisno, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Agus Widjojo, Kepala Staf TNI AD Jenderal Mulyono, Kepala Staf TNI AL Laksamana Ade Supandi, Wakil Kepala Staf TNI AU Marsekal Madya Hadiyan Sumintaatmadja, dan Kepala Staf Umum TNI Laksama Madya Didit Herdiawan.

Ada pula tiga mantan panglima TNI, yaitu Laksamana (Purn) Widodo AS, Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto, dan Laksamana (Purn) Agus Suhartono. Acara juga dihadiri mantan Panglima Kostrad sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra Letjen (Purn) Prabowo Subianto, Ketua Umum DPP Pepabri Jenderal (Purn) Agum Gumelar, Ketua Umum Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD) Letjen (Purn) Kiki Syahnakri, serta para purnawirawan TNI lainnya.

Eskalasi politik menjelang Pilkada serentak 2018 dan menjelang Pilpres 2019, kian memanas. Banyak kelompok yang bermain dan menghalalkan segala cara. Mereka tidak bekerja untuk rakyat, melainkan demi mencapai tujuan golongan mereka sendiri.

Saat ini tidak hanya TNI, tapi seluruh rakyat harus waspada. Semua elemen masyarakat harus pandai dan cermat. Setiap dari kita harus menjadikan diri sendiri sebagai ‘Agen Intelijen’ untuk tanah air tercinta. Rakyat saat ini harus ‘nerimo‘, karena betul-betul dituntut tidak hanya mampu mencukupi hajat hidup mereka sendiri di tengah manajemen negara yang seolah autopilot, tapi juga bergerak mengamankan tanah air dari kekuasaan kelompok-kelompok yang menyamar, dan dari bagian-bagian institusi yang sudah terkooptasi.

WASPADA DAN TETAP CINTA PANCASILA.
ALLAH TA’ALA PASTI BERSAMA KITA.

Source: The Global Review

About admin

Check Also

PKI-Foto-Ilustrasi-Nusantaranews

Komunisme dan G 30 S/PKI

Dalam perkembangannya Komunisme telah bermeramorfosa melalui kaum-kaum muda yang dibelokkan pemahamannya terhadap ideologi komunisme dan ...