Wednesday , October 17 2018
Home / Berita / Tipuan Sejarah Politik

Tipuan Sejarah Politik

Oleh: Bisma Yadhi Putra

ADA seorang pemuda dungu. Sejak kecil dibodohi orangtuanya. Setelah berjuang selama lima tahun sejak kelahirannya, ibu-bapaknya dapat memastikan mereka tak akan punya anak lagi. Jadilah ia anak satu-satunya. Jelas-jelas ia akan dilindungi habis-habisan. Termasuk secara berlebihan.

Sejak kecil, ia jarang keluar rumah. Orangtuanya melarang keras. Ketika mereka pergi kerja, ia diasuh seorang pembantu. Sampai dewasa pun begitu. Perjalanan terjauhnya cuma sampai pintu gerbang rumah. Ia bisa saja kabur, tetapi sama sekali tak mau. Kalaupun dipaksa keluar gerbang, ia akan memberontak agar tetap di dalam. Berada di pintu gerbang saja membuatnya pucat dan merinding. Ini akibat kejahatan serius ibu-bapaknya.

Demi melindungi putra satu-satunya, kedua orangtuanya berbohong. Sejak kecil ia dilarang mencari tahu tentang kebenaran sebuah kekuatan gelap yang diceritakan padanya. Orangtunya tak menginginkan tubuh anaknya rusak, misalnya karena terjatuh atau kecelakaan di jalan raya. Maka perlindungan total dilakukan. Mereka tak sadar, perlindungan berlebihan terhadap tubuh justru membatasi kemampuan otak seseorang.

Ayahnya menceritakan, desa tempat mereka tinggal hanya memiliki satu pintu gerbang. Tiada jalan keluar lain, karena di sebelah belakang-kiri-kanan desa adalah jurang terjal. Di masing-masing sisi jurang ada ular raksasa menunggu. Desa itu terletak di salah satu sisi gunung. Yang paling terpatri dalam ingatannya adalah cerita soal pohon besar pemakan manusia tepat di gerbang keluar-masuk desa.

Ibunya menerangkan, pohon itu memiliki sebuah mulut dengan lebar seukuran anak-anak. Setiap hari pasti ada seorang anak penduduk desa jadi korban. Tak ada yang mampu menebangnya, karena memang begitu keji. Pohon itu tak bisa berjalan mencari mangsa, tetapi dibantu oleh siluman jahat. Ibunya berpesan, jangan pernah sekalipun keluar gerbang rumah kalau tak mau diculik siluman.

Berhari-hari ia hanya berdiam diri di rumah. Bahkan, orangtuanya tak mengizinkan ia sekolah keluar desa. Sebab itu dicari pengasuh yang sekaligus bisa mengajari bermacam pelajaran yang lazimnya diajarkan di sekolah. Orangtuanya meminta guru yang mereka tunjuk mengajari politik. Itu diharamkan.

Jangankan mencari tahu bentuk atau ada-tidaknya pohon pemakan manusia, ia bahkan dilarang bertanya tentang kebenaran cerita tersebut. Sejak awal dipaksa percaya, dan tidak ada pertanyaan untuk cerita itu. Akan ada bentakan keras untuk pinta melihat langsung pohon tersebut, termasuk sekadar bertanya bagaimana detail bentuk, warna, dan nama anak-anak yang sudah dimakan.

Suatu malam ia bermimpi buruk. Di malam menjelang ulang tahunnya, ibu-bapak menemuinya di kamar. Mereka bilang, di bawah ada banyak kado yang harus dibuka. Ia diminta merem. Matanya ditutup kain hitam. Ia dituntun berjalan turun tangga. Wajahnya bahagia. Tersenyum dalam tatapan gelap. Begitu sumringah, tak sabar melihat kado-kado berkilauan. Ada banyak orang menantinya, sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Dalam hatinya, ketika tutup matanya dilepas, ia diminta segera meniup lilin.

Langkahnya dihentikan. Ia diminta membuka sendiri kain penutup mata setelah hitungan ketiga. Begitu dilepas, seketika raut wajahnya heran. Perlahan rasa tegang menanjak. Ia dalam kegelapan. Tak tampak apa pun di depan. Kecuali di kiri-kanan ada pohon-pohon bambu dan semak-semak. Beberapa saat kemudian, ia baru bisa memastikan: posisinya sedang di luar pintu gerbang rumah.

Ketika menoleh ke belakang, dilihatnya ibu-bapak dan semua tamu undangan tertawa seperti setan. Ibunya cepat-cepat mengunci gerbang rumah. Mereka melambai-lambaikan tangan. Ia berlari sambil menangis histeris. Memohon gerbang dibuka.

Ia terjaga dari mimpi. Segera menyimpulkan: orangtua yang mengizinkan anaknya bermain di luar rumah dan mengenal banyak hal adalah orangtua yang jahat. Ia merasa tak perlu mencari tahu lebih banyak tentang dunia. Setiap mitos menjelma menjadi logika. Setiap hasrat untuk mengecek kebenaran merupakan kekeliruan. Begitulah cara berpikir pemuda goblok ini. Akibatnya, ia tak berinisiatif mencari kebenaran lain. Hanya ada kebenaran tunggal, yakni cerita bohong orangtuanya.

Semua kebohongan berakhir ketika ibu-bapaknya meninggal. Seseorang berhasil meyakinkannya bahwa semua cerita adalah mitos. Ketika ia berjalan menuju pemakaman, satu per satu fakta terkuak. Desa itu bukan terletak di sebuah gunung. Tidak pula memiliki gerbang. Ada banyak jalan menuju ke sana. Desanya berbatasan langsung dengan kota. Pohon pemakan manusia juga jelas-jelas hanya kebohongan besar. Yang ada justru pohon-pohon penyejuk manusia.

Ibu-bapaknya tak ingin pikiran anaknya diracuni beragam pengetahuan. Mereka takut putranya rusak akibat perkembangan zaman. Sebab itulah mereka berbohong dengan tujuan menyelamatkan. Namun, hasilnya nihil: anak mereka menjadi seorang pemuda bodoh meski hidup dalam keluarga kaya raya.

Silakan mengaitkan cerita di atas dengan tragedi manipulasi sejarah atau ilmu pengetahuan yang berada di lingkungan sekitar Anda. Atau bahkan yang Anda alami sendiri. Tak mesti menunggu hingga orang-orang yang menceritakan mitos kepada kita meninggal dunia. Manusia dikodratkan berakal dan mampu membongkar kepalsuan yang diumbar oleh pelestari kegoblokan.***

About admin

Check Also

Strategi Perang Dagang: Intelijen dan Gotong Royong!

Permenungan Kecil Tingkat Embuh Tak bisa dipungkiri, bahwa aspek ekonomi —atau silahkan dikiyas atau diumpamakan ...