Monday , October 15 2018
Home / Ensiklopedia / Analisis / Tiga Model Pemilihan Khalifah Rasyidun

Tiga Model Pemilihan Khalifah Rasyidun

Hingga wafatnya, Nabi Muhammad SAW tidak mewasiatkan siapa penggantinya. Karena itu, pemilihan pengganti Nabi sebagai kepala negara (khalifah ar-rasul) dilakukan melalui musyawarah di antara para sahabat Nabi.

Secara umum, ada tiga model pemilihan yang diterapkan di era khilafah rasyidah atau khalifah yang adil dan bijaksana. Berikut faktanya:

Pemilihan Abu Bakar Ash-Shiddiq (Model Pertama)

Khalifah dipilih lewat musyawarah wakil-wakil dari kalangan Muhajirin dan Anshar secara terbatas (bai’at in’iqad) pada hari pertama Nabi wafat bertempat di Tsaqifah Bani Sai’dah (kediaman Sa’ad bin Ubadah di Madinah), kemudian dilanjutkan dengan bai’at ta’at di Masjid Nawabi pada hari kedua Nabi wafat. Kronologinya sebagai berikut:

Tahap I

Saat Nabi wafat, terjadi kegoncangan. Mulai muncul tanda-tanda perpecahan kepemimpinan politik. Antara lain munculnya pendapat bahwa kalangan Anshar mengangkat khalifah sendiri, begitupun dengan kalangan muhajirin yang juga mengangkat khalifah sendiri. Sementara itu, di sebagian kawasan di jazirah Arab mulai memperlihatkan tanda-tanda memisahkan diri, bahkan muncul sejumlah orang yang mengaku sebagai nabi.

Pada hari wafatnya Nabi, Umar bersama Abu bakar serta kaum Muhajirin lainnya menuju tempat kaum Anshar berkumpul di Tsaqifah Bani Sa’idah. Saat tiba di sana, berdiri juru bicara dari kalangan Anshar yang menyatakan muncul tanda-tanda kaum Muhajirin akan mendominasi mereka di tempat tinggal mereka (Madinah), dan mengambil kekuasaan dari kaum Anshar. Saat itu dari kalangan Anshar juga muncul usulan agar kaum Anshar memilih khalifah sendiri dan orang-orang Quraisy (Muhajirin) juga memilih khalifah sendiri, yang disampaikan dengan ungkapan “ana juzailuha al-muhakkak wauzaiquha almurajjab“, yang berarti akulah pemimpin yang tertingi. Konon yang berkata demikian adalah Al Hubab bin al Munzir.

Sebuah riwayat menyatakan Abu Bakar saat itu menyampaikan, “Kalian mengetahui bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Andai saja manusía menempuh jalan di satu lembah sementara kaum Anshar menempuh satu jalan, maka pastí akan kutempuh jalan kaum Anshar”. Dan engkau telah mengetahui wahai Sa’ad (Sa’ad bin Ubadah) bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda —saat itu engkau sedang duduk— “Sesungguhnya kaum Quraisy-lah yang paling berhak menjadi pemimpin. Kebaikan manusia akan mengikuti kebaikan yang ada pada mereka dan kejelekan manusia akan pula mengikuti kejelakan yang ada pada mereka”. Maka Sa’ad berkata, “Engkau benar, kami hanyalah menjadi wazir dan kalianlah yang menjadi Amir”.

Riwayat lain menyebutkan saat itu Abu Bakar juga mengatakan dia rela jika urusan khalifah diserahkan kepada satu dari dua orang (Umar dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah). Saat itu, muncul keributan. Untuk mencegah perselisihan, Umar kemudian berkata kepada Abu bakar, “Berikan tanganmu wahai Abu Bakar”. Maka Abu Bakar memberikan tangannya dan Umar segera membaiatnya, diikuti seluruh kaum Muhajirin, kemudian kaum Anshar.

Riwayat lain menyatakan Umar berkata kepada yang hadir di Tsaqifah Bani Sa’idah, “Yang paling berhak menggantikan Rasulullah SAW adalah sahabatnya yang menyertainya dalam gua (Gua Hira, saat permulaan Hijrah –Red). Dialah Abu Bakar yang selalu terdepan dan paling diutamakan. Kemudian segera kutarik tangannya dan ternyata ada seorang Anshar (sebuah riwayat menyatakan dia adalah Basyir bin Sa’ad, ayah an-Nukman bin Basyir) yang lebih dahulu menariknya dan membai’atnya sebelum aku sempat meraih tangannya. Setelah itu, baru aku membai’atnya dengan tanganku yang kemudian diikuti oleh orang ramai”.

Kitab Fathur ar-Rabbani menyatakan soal bai’at itu Abu Bakar mengatakan menerima pembai’atan itu karena takut fitnah akan datang yaitu murtadnya orang-orang Arab setelah wafatnya Nabi.

Beberapa saat sebelum wafatnya, Umar menjelaskan hal ihwal bai’at kepada Abu Bakar itu di Masjid Nabawi. “Demi Allah, kami tidak pernah menemui perkara yang lebih besar dari perkara bai’at terhadap Abu Bakar. Kami sangat takut jika kami tinggalkan mereka tanpa ada yang dibai’at, maka mereka (Anshar) kembali membuat bai’at. Jika seperti itu kondisinya kami harus memilih antara mematuhi bai’at mereka padahal kami tidak merelakannya, atau menentang bai’at mereka yang pasti akan menimbulkan kehancuran. Maka, barangsiapa membai’at Amir tanpa musyawarah lebih dahulu, bai’atnya dianggap tidak sah. Dan tidak ada bai’at terhadap orang yang mengangkat bai’at terhadapnya, keduanya harus dibunuh.”

Tahap II

Setelah pembai’atan di Tsaqifah Bani Sa’idah, keesokan harinya Abu Bakar dibai’at secara umum (bai’at ta’at) di masjid. Para sahabat yang sebelumnya hadir di Tsaqifah juga hadir di masjid.

Usai bai’at umum itulah Abu Bakar menyampaikan pidatonya yang terkenal: “…sesungguhnya aku telah dipilih sebagai pimpinan atas kalian, dan bukanlah aku yang terbaik. Maka jika aku berbuat kebaikan bantulah aku, dan jika aku bertindak keliru maka luruskanlah aku. Kejujuran adalah amanah, sementara dusta adalah suatu pengkhinatan. Orang yang lemah di antara kalian sesungguhnya kuat di sisiku hingga aku dapat mengembalikan haknya kepadanya, Insya Allah. Sebaliknya, siapa yang kuat di antara kalian maka dialah yang lemah di sisiku hingga aku akan mengambil darinya hak milik orang lain yang diambilnya. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah akan timpakan kepada mereka kehinaan, dan tidaklah suatu kekejian tersebar di tengah suatu kaum kecuali adzab Allah akan ditimpakan kepada seluruh kaum tersebut. Patuhilah aku selama aku mematuhi Allah dan RasulNya. Tetapi jika aku tidak mematuhi keduanya maka tiada kewajiban taat atas kalian terhadapku. Sekarang berdirilah kalian untuk melaksanakan shalat semoga Allah merahmati kalian.”

Catatan:

– Soal tidak hadirnya Ali Bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, dan lain-lain di Tsaqifah Bani Saidah, ada yang menyebutnya sebagai pemboikotan pemilihan Abu Babakar. Namun, belakangan isu pemboikotan itu terbantahkan.

– Saat pembai’atan terjadi, Ali, Zubair, dan lain-lain berada di rumah Fathimah. Zubair menuturkan, “Kami tidak merasa marah kecuali karena kami tidak diikutkan dalam musyawarah pemilihan kalian, tetapi kami tetap berpandangan bahwa Abu Bakarlah yang paling pantas menjadi pemimpin. Dialah orang yang menemani Rasulullah bersembunyi di dalam gua. Kita telah mengetahui kemuliaan dan kebaikannya. Dialah yang diperintahkan Rasulullah untuk menjadi imam shalat manusia ketika Rasulullah hidup.

– Saat Abu Bakar dibai’at di masjid, Abu bakar memerintahkan mencari Ali dan Zubair, yang kemudian keduanya datang dan membai’at Abu Bakar. Ali tidak pernah memisahkan diri dari Abu Bakar, dan selalu shalat di belakangnya.

– Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’i meriwayatkan bahwa Ali memperbaharui bai’at-nya kepada Abu Bakar setelah wafatnya Fathimah, enam bulan setelah Rasul wafat.

Pemilihan Umar bin Khattab (Model Kedua)

Pergantian khalifah lewat surat wasiat yang dibacakan ke hadapan kaum Muslimin, kemudian kaum Muslim memberikan bai’at. Berikut kronologinya:

– Menjelang wafatnya, Abu Bakar mewasiatkan jabatan khalifah kepada Umar. Yang menuliskan wasiat itu adalah Utsman Bin Affan. Setelah itu, wasiat tersebut dibacakan kehadapan kaum Muslimin dan mereka mengakuinya serta tunduk dan mematuhi wasiat tersebut.

– Umar adalah yang pertama bergelar amirul mukminin. Konon, yang pertama memanggilnya demikian adalah Al-Mughirah bin Syu’bah.

– Imam Bukhari menulis bahwa saat Umar terbaring menjelang wafat, usai ditikam oleh Abu Lu’luah, ada yang menyatakan kepada Umar, “Tidakkah engkau menunjuk penggantimu wahai amirul mukminin?”. Umar menjawab, “Jika aku memilih penggantiku sebagai khalifah, maka sesungguhnya hal itu telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku, ya itu Abu Bakar. Dan jika aku tidak menunjuk pengganti, maka hal itu telah dilakukan juga oleh orang yang lebih baik dariku, yaitu Rasulullah.”

– Umar menyatakan, “Aku tidak mendapati ada orang yang lebih berhak memegang urusan ini (menjadi khalifah) selain dari enam orang yang Rasulullah rela atas mereka ketika wafatnya”. Keenam orang itu adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Az-Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin ‘Auf. Mereka inilah yang menjadi anggota majelis syura untuk memilih khalifah.

– Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan-Nihayah menyatakan dengan cara Umar menggabungkan apa yang dilakukan Rasulullah yaitu tidak menjatuhkan pilihan dan cara Abu Bakar yang mewasiatkan penggantinya, dan menyerahkan perkara pengangkatan khalifah kepada sebuah majelis syura.

– Umar tidak menunjuk Sa’id bin Zaid sebagai anggota majelis syura, sebab dia berasal dari kabilah umar dan dikhawatirkan dia kelak terpilih disebabkan kekerabatannya, namun menyatakan dia menjadi saksi atas proses yang dilakukan panitia enam tersebut. Sa’id bin Zaid adalah satu dari sepuluh orang yang dijamin Rasulullah masuk surga (sembilan lainnya adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Abdullah, dan Abu Ubaidillah bin Jarrah).

– Sebuah riwayat menyebutkan Umar juga mengecualikan anaknya, Abdullah bin Umar, dari hak terpilih sebagai khalifah, karena khawatir jabatan khalifah menjadi jabatan turun-temurun.

Pemilihan Utsman bin Affan (Model Ketiga)

Tahap I

Pergantian khalifah melalui sebuah majelis syura beranggotakan enam orang. Berikut prosesnya:

– Umar menunjuk Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Az-Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin ‘Auf, untuk bermusyawarah.

– Dalam musyawarah, nama kandidat mengerucut menjadi tiga yaitu Utsman, Ali, dan Abdurrahman bin Auf. Itu terjadi setelah tiga anggota formatur memilih tiga lainnya. Zubair memilih Ali, Thalhah memilih Utsman, sedangkan Sa’ad memilih Abdurrahman bin Auf.

– Selanjutnya, nama calon mengerucut lagi menjadi dua, setelah Abdurrahman bin Auf melepaskan haknya untuk dipilih. Meski demikian, Abdurrahmanlah yang menentukan siapa khalifah terpilih. “Aku akan berusaha untuk menyerahkan jabatan tersebut kepada salah seorang di antara kalian berdua dengan cara yang benar,” kata Abdurrahman kepada Utsman dan Ali.

– Selanjutnya, di hadapan Abdurrahman, Utsman dan Ali menyampaikan khutbah (semacam kampanye –Red) tentang keistimewaannya masing-masing dan berjanji jika mendapat jabatan tersebut tidak akan menyimpang, dan jika ternyata tidak mendapatkannya maka ia akan mendengar dan menaati orang yang dipilih.

– Tiga hari sejak pertemuan itu, Abdurrahman dikabarkan banyak shalat malam dan berdoa, serta menanyakan pendapat sejumlah kalangan tentang kedua kandidat (semacam survei –Red).

– Di hari keempat, Abdurrahman meminta keponakannya, Al-Miswar bin Makhramah memanggil Utsman dan Ali. Miswar bertanya, siapa yang harus dipanggil terlebih dahulu. Abdurrahman menjawab, “Terserah padamu.”

– Miswar lalu menemui Ali. Ali bertanya, “Apakah ia juga memanggil yang lain selainku?” Miswar menjawab, “Benar”. Ali bertanya lagi, “Siapa yang ia panggil pertama kali?” Miswar menjawab, “Ia katakan terserah padamu dan akhirnya aku mendatangimu.”

– Miswar dan Ali kemudian ke rumah Utsman. Miswar masuk ke dalam rumah, sedangkan Ali duduk menunggu. Saat itu menjelang fajar, dan Utsman sedang shalat witir. Kepada Miswar, Utsman juga menanyakan pertanyaan yang sama seperti yang ditanyakan Ali.

– Saat Utsman dan Ali datang, Abdurrahman mengatakan, “Sesungguhnya aku telah bertanya kepada masyarakat tentang kalian berdua dan tidak seorang pun dari mereka yang lebih mengistimewakan [satu di antara] kalian berdua.”

Tahap II

– Abdurrahman kemudian membawa Utsman dan Ali ke Masjid Nabawi. Di masjid, kaum Muhajirin dan Anshar telah berkumpul untuk shalat subuh. Masjid penuh sesak.

– Usai shalat, Abdurrahman naik mimbar dan berpidato, “Wahai sekalian manusia! Aku telah menanyakan keinginan kalian baik secara pribadi maupun di depan umum, namun aku tidak dapati seorang pun yang condong kepada salah seorang dari mereka berdua baik Ali maupun Utsman. ”

– Kemudian, Abdurrahman memanggil Ali, dan memegang tangannya sambil berkata, “Apakah engkau mau dibai’at untuk tetap setia menjalankan al-Qur’an, Sunnah NabiNya dan apa yang telah dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar?” Ali menjawab, “Tidak, akan tetapi akan aku jalankan sesuai dengan kemampuanku.”

– Mendengar jawaban Ali, Abdurrahman melepaskan pegangan tangannya, lalu memanggil Utsman dan bertanya, “Apakah engkau mau dibai’at untuk tetap setia menjalankan al-Qur’an, Sunnah NabiNya dan apa yang telah dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar?” Utsman menjawab, “Ya!”

– Mendengar jawaban Utsman, Abdurrahman menengadahkan kepalanya ke atap masjid sambil memegang tangan Utsman dan berkata, “Ya Allah dengarkanlah dan saksikanlah, ya Allah dengarkanlah dan saksikanlah, ya Allah dengarkanlah dan saksikanlah, ya Allah sesungguhnya aku telah alihkan beban yang ada di pundakku ke pundak Utsman bin Affan”.

– Maka, orang-orang pun berdesak-desakan untuk membai’at Utsman di bawah mimbar. Ada riwayat yang menyatakan Ali adalah orang yang pertama membai’at Utsman, riwayat lainnya menyebutkan Ali adalah orang yang terakhir membai’at Utsman.

Pemilihan Ali bin Abi Thalib

Pergantian khalifah kembali ke model pertama. Sebab, Utsman yang terbunuh, tidak menyampaikan wasiat seperti Abu Bakar, juga tidak menunjuk formatur seperti Umar. Berikut prosesnya:

– Setelah Utsman terbunuh, kaum muslimin mendatangi Ali untuk membai’atnya. Ali menolak bai’at tersebut dan menghindar ke rumah milik Bani Amru bin Mabdzul, seorang Anshar. Beliau menutup pintu rumah.

– Kaum Muslimin kemudian membawa serta Thalhah dan Zubair. Mereka berkata, “Sesungguhnya daulah ini tidak akan bertahan tanpa amir”. Mereka terus mendesak hingga akhirnya Ali bersedia menerimanya.

– Sebuah riwayat menyebut orang yang pertama membai’atnya adalah Thalhah dengan tangan kanannya yang cacat sewaktu melindungi Rasulullah SAW pada peperangan Uhud.

– Ali kemudian keluar menuju masjid lalu naik ke atas mimbar dengan mengenakan kain sarung dan sorban sambil menenteng sandal dan bertelekan pada busur. Kemudian, segenap Muslimin yang hadir membai’at beliau.

– Riwayat lain dari Al-Waqidi menyebutkan, “Orang-orang di Madinah membai’at Ali. Namun tujuh orang menarik diri dan tidak ikut berbai’at. Mereka adalah Abdullah bin Umar, Sa’ad bin Abi Waqqash, Shuheib, Zaid bin Tsabit, Muhammad bin Maslamah, Salamah bin Salaamah bin Waqsy dan Usamah bin Zaid. Dan tidak ada seorang sahabat Ansharpun yang tertinggal, mereka semua ikut berbai’at sejauh pengetahuan kami.”

– Riwayat lain dari Saif bin Umar menceritakan dari sejumlah gurunya bahwa mereka berkata, “Selama lima hari setelah terbunuhnya Utsman kota Madinah dipimpin sementara oleh al-Ghafiqi bin Harb, mereka mencari orang yang bersedia memimpin. Penduduk Mesir (yang semula datang ke Madinah untuk mengepung Utsman) mendesak Ali, sedang beliau menghindar dari mereka ke sebuah rumah. Penduduk Kufah mencari az-Zubair tapi mereka tidak menemukannya. Penduduk Bashrah meminta Thalhah, tapi ia tidak bersedia. Maka merekapun berkata, “Kami tidak akan mengangkat salah satu dari tiga orang ini”. Mereka menemui Sa’ad bin Abi Waqqash . Mereka berkata, “Sesungguhnya engkau termasuk salah seorang anggota Majelis Syura”. Namun Sa’ad tidak memenuhi permintaan mereka. Kemudian mereka menemui Abdullah bin Umar, tapi beliaupun menolak tawaran mereka. Merekapun bingung, lantas mereka berkata, “Jika kita pulang ke daerah masing-masing dengan membawa kabar terbunuhnya Utsman tanpa ada yang menggantikan posisinya, manusia akan berselisih tentang urusan ini dan kita tidak akan selamat”. Merekapun kembali menemui Ali dan memaksanya di bai’at.

– Al-Asytar an-Nakha’i meraih tangan Ali dan membai’atnya kemudian orang-orangpun ikut membai’at beliau. Penduduk Kufah mengatakan bahwasanya yang pertama kali membai’at Ali adalah al-Asytar an-Nakha’i. Peristiwa itu terjadi pada hari Kamis 24 Dzul hijjah. Itu terjadi setelah orang-orang terus mendesak beliau. Mereka semua berkata, “Tidak ada yang pantas memegangnya kecuali Ali”. Keesokan harinya, pada hari Jum’at, Ali naik ke atas mimbar. Orang-orang yang belum membai’at beliau kemarin berbondong-bondong membai’at beliau. Orang pertama yang membai’at beliau saat itu adalah Thalhah kemudian az-Zubair. Bai’at ini terjadi pada hari Jum’at 25 Dzhulhijjah tahun 35 H.

– Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Muhammad bin al-Hanafiyah, ia berkata, “Aku bersama Ali saat Utsman dikepung, lalu datanglah seorang lelaki dan berkata, “Sesungguhnya Amirul Mukminin telah terbunuh”. Kemudian datang lagi lelaki lain dan berkata, “Sesungguhnya Amirul Mukminin baru saja terbunuh”. Ali segera bangkit, namun aku cepat menengahinya karena khawatir akan keselamatan beliau. Beliau berkata, “Celaka kamu ini!”. Ali segera menuju kediaman Utsman dan ternyata beliau telah terbunuh. Beliau pulang ke rumah lalu mengunci pintu. Orang-orang mendatangi beliau sambil menggedor-gedor pintu lalu menerobos masuk menemui beliau. Mereka berkata, “Lelaki ini (Utsman) telah terbunuh, sedang orang-orang harus punya khalifah. Dan kami tidak tahu ada orang yang lebih berhak daripada dirimu”. Ali berkata, “Tidak, kalian tidak menghendaki diriku, menjadi wazir bagi kalian lebih aku sukai daripada menjadi amir”. Mereka tetap berkata, “Tidak, demi Allah kami tidak tahu ada orang lain yang lebih berhak daripada dirimu”. Ali berkata, “Jika kalian tetap bersikeras, maka bai’atku bukanlah bai’at yang rahasia. Akan tetapi aku akan pergi ke masjid, barangsiapa ingin membai’atku maka silakan ia membai’atku”. Ali pun pergi ke masjid dan orang-orang pun membai’at beliau.

– Nash-nash yang dinukil oleh al-Imam Ibnu Katsir dari ath-Thabari dan sejarawan lainnya menegaskan keabsahan bai’at khalifah rasyid yang keempat, Ali bin Abi Thalib ra. Pembai’atan beliau berlangsung atas dasar persetujuan anggota ahlul halli wal ‘aqdi (semacam MPR -Red) di Madinah. Kemudian wilayah-wilayah Islam lainnya turut Membai’at beliau kecuali penduduk Syam (yang gubernurnya saat itu Muawiyah), yang menahan bai’at hingga dilakukannya qishash terhadap pembunuh Utsman.

– Peristiwa terbunuhnya Utsman ini merupakan fitnah pertama bagi kaum Muslimin, sebab membuat terjadinya perang saudara yang tragis di antara para sahabat Nabi, seperti Perang Unta (Jamal) dan Perang Shiffin ketika Ali terpaksa mengerahkan pasukan ke Syam untuk menundukkan Muawiyah.

– Dalam Perang Shiffin, sebuah wilayah antara Kufah dan Syam, pasukan Ali hampir saja mengalahkan pasukan Muawiyah, namun kemudian pasukan Muawiyah mengangkat mushaf al-Qur’an di atas lembing, dan mengajak untuk bertahkim. Pasukan Ali pun terpecah melihat tawaran ini, sebagian menerima, sebagian menolak. Akhirnya tahkim diterima.

– Pada peristiwa tahkim di Daumatul Jandal, berlangsung diplomasi yang dimenangkan kubu Muawiyah yang diwakili Amr bin Ash. Sebab, utusan Ali, yaitu Abu Musa al-Asy’ari, mengaku telah bersepakat bersama Amr bin Ash untuk memecat Ali maupun Muawiyah sebagai khalifah, untuk kemudian menyerahkan kepada umat untuk memilih khalifah yang baru. Tapi, Amr bin Ash kemudian menyatakan menerima pemecatan Ali seperti yang dikatakan Abu Musa, lalu menetapkan Mu’awiyah menggantikan Ali sebagai khalifah. Proses tahkim yang pada awalnya semata untuk urusan pembunuhan Utsman, kemudian menjadi proses politik pengambil-alihan kekuasaan (Kooptasi).

– Ali saat itu pulang ke Kufah, dan mengatakan jika dia menyerahkan kepemimpinan kepada rivalnya di Daumatul Jandal, maka mereka akan memperlakukan kaum Muslimin sebagaimana Heraclius (Kaisar Romawi) dan Kisra. Dan, Ali pun berpidato untuk membangkitkan semangat rakyat untuk menyerang Syam, namun saat itu tidak mendapat sambutan, dan terjadi fitnah Khawarij yang membuat situasi kian sulit, hingga berujung wafatnya Ali.

Pemilihan Hasan bin Ali

Pergantian khalifah seperti model pertama, sebab Ali yang menjelang wafatnya —setelah ditikam oleh Ibnu Muljam— enggan membuat wasiat untuk memilih penggantinya seperti yang dilakukan Abu Bakar, maupun membuat panitia seperti halnya Umar. Berikut prosesnya:

– Ketika Ali sedang terbaring menjelang ajal, ada yang meminta Ali membuat wasiat orang yang akan menggantikannya, namun Ali berkata, “Tidak! Aku akan membiarkan kalian sebagaimana Rasulullah SAW meninggalkan kalian. Apabila Allah SWT menghendaki kebaikan atas kalian maka Allah SWT akan menyatukan kalian di bawah kepemimpinan orang yang terbaik dari kalian sebagaimana Dia telah menyatukan kalian di bawah kepemimpinan orang yang terbaik dari kalian sepeninggal Rasulullah SAW.”

– Selanjutnya, kaum Muslimin membai’at Hasan. Yang pertama membai’atnya adalah Qais bin Sa’ad. Qais berkata kepadanya, “Ulurkanlah tanganmu, aku akan membai’atmu atas dasar Kitabullah dan Sunnah nabiNya.” Hasan hanya diam. Qais membai’atnya lalu diikuti oleh orang banyak sesudahnya. Peristiwa itu terjadi pada hari wafatnya Ali bin Abi Thalib ra. Qais yang saat itu merupakan amir Azerbaijan membawahi 40 ribu tentara, dan mendorong Hasan memerangi Syam yang menolak tunduk pada khalifah.

– Hasan sempat mengerahkan pasukan dalam jumlah besar menuju Syam, namun pasukannya kemudian tercerai berai, dan Hasan sempat hampir terbunuh. Kemudian Hasan menulis surat kepada Muawiyah –yang saat itu sudah berangkat dengan pasukan dari Syam— untuk berdamai. Selanjutnya, agar tidak lagi terjadi perang saudara antar-sesama Muslim, Hasan menyerahkan kekhalifahan kepada Muawiyah dengan sejumlah syarat yang kemudian dipenuhi. Saat itu, tahun 41 Hijriyah, kemudian dinamakan sebagai Tahun Jama’ah, karena suara kaum Muslimin akhirnya bulat untuk Muawiyah dan diapun menjadi khalifah berkedudukan di Damaskus.

Periode Kerajaan

– Menjelang akhir hayatnya, Muawiyah berkeliling ke Irak, Syam, dan berbagai kawasan lainnya mengumpulkan bai’at untuk puteranya, Yazid, sebagai khalifah penggantinya. Mu’awiyah juga mendatangi Madinah dan Mekkah, tempat di mana para sahabat Nabi. Di Madinah, Muawiyah mendapat tanggapan dingin, kemudian dia menuju Mekkah.

– Di Makkah, menanggapi permintaan Muawiyah, Abdullah bin Zubair menyodorkan tiga pilihan: Pertama, Muawiyah tidak perlu menunjuk pengganti seperti yang dilakukan Nabi, sehingga kemudian akan dipilih khalifah sebagaimana Abu Bakar. Kedua, meniru cara Abu Bakar dengan membuat wasiat menunjuk khalifah yang bukan dari kerabatnya. Ketiga, meniru Umar dengan membentuk panitia enam untuk memusyawarahkan siapa yang akan menjadi khalifah.

– Saat Muawiyah menanyakan kepada para sahabat lainnya, mereka semua sepakat dengan yang dikatakan Abdullah bin Zubair. Namun, Muawiyah kemudian justru menyandera mereka, lalu memasuki masjid dan mengumumkan bahwa dalam musyawarah dengan para pemuka kaum Muslimin, mereka telah rela membai’at Yazid. Dan, karena tak ada ruang bagi protes, maka saat itu berlangsunglah bai’at atas Yazid. Bai’at yang dilakukan tanpa kebebasan berbicara dan kebebasan memilih itu kemudian mengakhiri sistem khilafah rasyidah, berganti dengan kerajaan turun temurun (dynasti), meskipun sistem kekuasannya tetap mereka namakan sebagai khilafah.

  • Disarikan dari: Al-Bidayah wan-Nihayah; ‘Khilafah Bukan Kerajaan’
  • Diolah oleh: Harun Husein

Sumber: Republika

 

About admin

Check Also

Mengurai Agenda Strategis AS di East Asia Summit 2018

November mendatang di Singapura akan digelar forum East Asia Summit (EAS) yang mana baik negara-negara ...