Tuesday , September 25 2018
Home / Budaya / TEORI PERANG BUBAT ANALISA KITAB KIDUNG SUNDA DAN KITAB PARARATON

TEORI PERANG BUBAT ANALISA KITAB KIDUNG SUNDA DAN KITAB PARARATON

Created by Ejang Hadian Ridwan

Bagian I Analisa Kitab Kidung Sunda

TEORI PERANG BUBAT ANALISA KITAB KIDUNG SUNDA DAN KITAB PARARATONKalau memang asumsinya perang dilapangan luas Bubat atau yang sering disebut “Perang Bubat” antara kerajaan Majapahit dengan kerajaan Sunda Galuh ini benar-benar terjadi, semua pihak harus menerimanya secara elegan bahwa ini adalah bagian dari peristiwa sejarah yang harus dihormati keberadaanya. Tidak seharusnya dijadikan sentimen kesukuan, dan terlalu picik bila ini dipandang sebagai dendam kesukuan, tidak ada kaitannya, karena mungkin ini adalah proses sejarah yang bisa jadi menentukan keberadaan bangsa Indonesia masa kini.

Banyak hal yang didapat dan merupakan informasi penting sebenarnya dari kitab kidung Sunda, kalau kita analisa lebih teliti.  Kitab Kidung Sunda ini merupakan salah satu sumber referensi penguat adanya perang Bubat selain kitab Pararaton dan Wangsakerta, walau kitab resmi kerajaan Majapahit yaitu kitab Nagarakertagama yang sama sekali tidak menyinggung peristiwa besar itu, bahkan dalam kisah perjalanan Bujangga Manik pun tidak disinggung mengenai peristiwa Bubat ini. Penulis tidak menganalisa sumber kitab Wangsakerta, karena kitab ini baru muncul belum lama dan masih dalam proses penelitian keasliannya oleh para ahli sejarah. Hanya kitab Kidung Sunda dan kitab Pararaton yang ingin penulis ajukan untuk analisa kisah perang Bubat ini.

TEORI PERANG BUBAT ANALISA KITAB KIDUNG SUNDA DAN KITAB PARARATON 1Pupuh I dari kitab kidung Sunda disebutkan nama raja kerajaan Majapahit (Wilwatikta, bahasa sansekerta) yaitu Hayam Wuruk, nama Hayam Wuruk ini sendiri diangkat juga oleh kitab Pararaton, dan sumber lainya, inilah kaitannya mengapa boleh dikatakan bahwa kitab Kidung Sunda dan Pararaton adalah 2 kitab saling menguatkan dan mendukung untuk kisah atau peristiwa perang Bubat, karena ada kesamaan para pelaku sejarah didalamnya.

Informasi lainnya yang bisa dianalisa seperti hal-hal yang berbau mistis yang secara kemanusiaan itu mustahil dan tidak masuk logika, tentang Gajah Mada yang moksa (red – menghilang dari penglihatan kasat mata) seperti petikan terjemahan kitab Kidung Sunda sebagai berikut ini:

Maka beliau (red-Gajah Mada) mengenakan segala upakara (perlengkapan) upacara dan melakukan yoga samadi. Setelah itu beliau menghilang (moksa) tak terlihat menuju ketiadaan (niskala)

Kitab Kidung Sunda dilihat dari seluruh isinya berupa narasi untuk sebuah kisah, lebih kearah fiksi fantasi artinya ada hayalan imaginer dari si pembuat atas peristiwa yang diceritakan, seperti petikan diatas. Tentu saja kebenaran sejarah untuk narasi seperti ini sangat diragukan, bisa jadi tidak ada nilai sejarahnya, bisa jadi pula bahwa perang Bubat ini hanyalah atau rekayasa mengikuti cerita sebelumnya.

TEORI PERANG BUBAT ANALISA KITAB KIDUNG SUNDA DAN KITAB PARARATON 2Terjemahan kitab Kidung Sunda ini diterbitan oleh C.C Breg (sejarawan Belanda) tahun 1927-1928 bersama dengan kitab Kidung Sundayana. Kitab ini diterbitkan setelah  kitab pertama yang memuat kejadian serupa mengenai perang Bubat yang diterbitkan terlebih dahulu yaitu kitab Pararaton, yang merupakan hasil penelitian dan terjemahan DR JLA Brandes (peneliti sejarah Belanda yang paham bahasa Kawi-Jawa kuno) tahun 1902 dan digubah oleh para Sarjana yang belum ketahuan identitasnya tahun 1920. (silakan baca artikel Dusta Sejarah Kitab Pararaton supaya lebih jelas). 

Catatan: teks naskah Pararaton ada dalam list Dokumen Sejarah dalam tampilan website ini, silakan di cek, serta terjemahanya ada di arsip dokumen (untuk sementara).

Baiklah dalam hal ini tidak akan diperdalam lebih lanjut mengenai keaslian, kebenaran atau kepalsuan dari kitab Kidung Sunda dan Pararaton, tetapi lebih fokus menganalisa isi yang disampaikan oleh kitab Kidung Sunda dan Pararaton mengenai kejadian atau peristiwa perang Bubat, mari perhatikan petikan dari terjemahan kitab Kidung Sunda sebagai berikut:

Kitab Kidung Sunda (terjemahan) Pupuh I :

Maka Madhu kembali ke Majapahit membawa surat balasan raja Sunda dan memberi tahu kedatangan mereka. Tak lama kemudian mereka (red, rombongan kerajaan Sunda) bertolak disertai banyak sekali iringan. Ada dua ratus kapal kecil dan jumlah totalnya adalah 2.000 kapal, berikut kapal-kapal kecil. Kapal jung. Ada kemungkinan rombongan orang Sunda menaiki kapal semacam ini. Namun ketika mereka naik kapal, terlihatlah pratanda buruk. Kapal yang dinaiki Raja, Ratu dan Putri Sunda adalah sebuah “jung Tatar (Mongolia/Cina) seperti banyak dipakai semenjak perang Wijaya.” (bait 1. 43a.)”.

Informasi penting yang diperoleh dari sebagian petikan terjemahan kitab Kidung Sunda diatas, salah satunya yaitu mengenai jumlah armada rombongan dari kerajaan Sunda Galuh. Rombongan itu memakai armada kapal yang terdiri dari 200 buah kapal ukuran kecil dengan jumlah total keseluruhan armada itu sekitar 2.000 buah kapal, terdiri dari sebagian besar jumlah kapal dalam ukuran besar dan ditambah 200 kapal dalam ukuran kecil.

Новый рисунок (9)Hitungan matematis sederhananya seperti berikut ini : misalkan 1 buah perahu rata-rata memuat atau membawa awak 10 orang, artinya jumlah rombongan dari kerajaan Sunda Galuh (gabungan kerajaan Sunda dan Galuh) sekitar 20.000 orang awak, ini tentunya suatu jumlah yang terlalu overdosis atau berlebihan untuk sebuah acara perkawinan.

Bayangkan atau misalkan lagi, kalau muatannya dalam 1 buah perahu minimal mengangkut rata-rata awak 20 orang, berarti jumlah rombongan bisa mencapai lebih dari 40.000 orang awak, dan itu juga bukanlah jumlah sedikit dan lebih besar dari hitung-hitungan pertama, jumlah itu diperkirakan cukup untuk sebuah rencana penyerangan terhadapa suatu negara atau kerajaan lain pada saat itu.

Perjalanan berlayar dari tanah Sunda ke tanah Jawa ujung timur dengan hanya memakai kapal-kapal manual atau memakai tenaga manusia, pasti bukanlah jenis kapal-kapal atau perahu-perahu kecil yang digunakan. Lebih tepat sebutan kapal, dan kapal-kapal ini mestinya harus bisa memuat jumlah personil atau awak lebih dari 30 orang dalam 1 buah perahu. Dilakukan perhitungan lagi dengan asumsi rata-rata 1 buah kapal memuat awak 30 orang, maka jumlah total orang akan mencapai jumlah kisaran lebih dari 60.000 orang. Jumlah yang cukup fantastis dan ideal untuk sebuah rencana penyerangan besar, sekaligus membumihanguskan kerajaan seperti Majapahit, yang notabene mereka sedang sibuk melakukan invasi ke luar wilayah kerajaannya.

Teknologi maritim atau tehnologi pembuatan kapal, lalu kemudian disesuaikan dengan keberadaan kerjaan Sunda Galuh yang mengalami masa perdamainya hingga ratusan tahun lamanya, tentunya pembuatan kapal dan pencapaian tehnologinya, akan sangat dimungkinkan. Kapal-kapal itu bisa jadi hasil usaha dengan cara membeli dari negara lain, seperti yang diungkapkan bahwa kapal-kapal besar yang digunakan mirip dengan kapal-kapal yang dipakai oleh tentara Mongol pada waktu menyerang kerajaan Kediri masa pemerintahan Jayakatwang. Kerajaan Kediri sendiri asalnya kerajaan Singhosari tapi direbut kekuasannya oleh Jayakatwang dari sepupu, ipar atau besannya sendiri yaitu Sri Kertanegara.

Kerajaan Sunda Galuh sebelumnya sudah mempunyai hubungan kedekatan sejarah dengan kerajaan dari Sumatera yaitu Sriwijaya, yang terkenal mempunyai teknologi maritim yang unggul, selain itu ditambah lagi dengan pendanaan yang cukup untuk membeli atau membuat kapal-kapal sejumlah itu, karena kerajaan Sunda Galuh adalah kerajaan yang kaya dan makmur.

TEORI PERANG BUBAT ANALISA KITAB KIDUNG SUNDA DAN KITAB PARARATON 5Tradisi Jawa atau dimana pun dalam pernikahan, pihak laki-laki tentunya yang harus datang ke tempat pihak si calon istri, bukan malah sebaliknya. Seandainya raja Sunda Galuh dan pasukannya pada kisah kitab Kidung Sunda itu dikatakan merasa terhina sebagai alasan untuk berperang pada saat itu, dengan diceritakan bahwa mereka harus dan diminta takluk secara militer oleh Gajah Mada sesampainya dilapangan Bubat, maka secara logika atau akal sebenarnya itu tidak mungkin, kalau hanya alasanya terhina seperti itu. Raja Sunda Galuh Sri Maharaja Linggabuana (Prabu Wangi, sebutan lainnya) semenjak awal harusnya sudah merasa terhinakan diri dan kerajaannya dengan kedatangan untuk mengantar sang putri Citraresmi sebagai calon istri raja Majapahit Hayam Wuruk.

Kisah ini paradoks dan tidak selaras tentunya, tidak bisa diterima. Walau pun mungkin pada daerah-daerah  tertentu atau  kondisi khusus ada yang seperti itu yaitu si pihak calon istri yang datang ke pihak laki-laki, tapi hal tersebut tidak bisa dikatakan sebagai kebenaran umum.

Terjemahan kitab Kidung Sunda juga membahas tentang Mahapatih Gajah Mada yang disalahkan oleh para seniornya (para penguasa Wilayah Daha dan Kahuripan, kerjaan bawahan Majapahit) dikeraton kerajaan Majapahit, yang merupakan paman dari Sri Rajasa alias Hayam Wuruk, yaitu ketika berakhirnya perang Bubat tentang penyebab terjadinya tragedi itu. Pertanyaanya, mengapa pula dalam terjemahan kitab kidung Sunda dinyatakan bahwa diantara pimpinan Sunda Galuh termasuk rajanya yang terbunuh, merekalah (para senior) yang melakukannya? mungkin bisa jadi karena terpaksa mengatas namakan bela negara. Satu hal lagi, ketika peristiwa itu berlangsung, suatu hal yang tidak singkron satu sama lain yaitu Hayam Wuruk ternyata ikut serta dalam peperangan itu, alasan yang sama mungkin atas nama bela negara.

Hal yang menjadikan kisah ini tidak realistik adalah karena kelihatan jelas ada sisi fantasi si pengarang. Dalam hal kenyataan perang sesungguhnya, siapapun bisa saling membunuh, tidak hanya para pembesar kerajaan dengan pembesar kerajaan lawannya, tetapi prajurit biasa pun bisa membunuh seorang raja dan sebaliknya atau bisa jadi mereka, para pembesar itu, tidak terbunuh langsung, tapi karena terkena senjata yang bisa dipakai dengan jarak jauh, panah atau tombak biasanya pada masa itu.

Patut diperhatikan petikan awal terjemahan kitab Kidung Sunda, puhuh I, sebagai berikut “

Hayam Wuruk, raja Majapahit ingin mencari seorang permaisuri untuk dinikahi. Maka beliau mengirim utusan-utusan ke seluruh penjuru Nusantara untuk mencarikan seorang putri yang sesuai. Mereka membawa lukisan-lukisan kembali, namun tak ada yang menarik hatinya. Maka prabu Hayam Wuruk mendengar bahwa putri Sunda cantik dan beliau mengirim seorang juru lukis ke sana. Setelah ia kembali maka diserahkan lukisannya. Saat itu kebetulan dua orang paman prabu Hayam Wuruk, raja Kahuripan dan raja Daha berada di sana hendak menyatakan rasa keprihatinan mereka bahwa keponakan mereka belum menikah“.

Dan juga petikan sebagian pupuh II, sebagai berikut :

Pertempuran dahsyat berkecamuk, pasukan Majapahit banyak yang gugur. Tetapi akhirnya hampir semua orang Sunda dibantai habisan-habisan oleh orang Majapahit. Anepakěn dikalahkan oleh Gajah Mada sedangkan raja Sunda ditewaskan oleh besannya sendiri, raja Kahuripan dan Daha. Pitar adalah satu-satunya perwira Sunda yang masih hidup karena pura-pura mati di antara mayat-mayat serdadu Sunda

Petikan diatas memberikan keterangan jelas bahwa pengarang kitab Kidung Sunda, tidak memahami sama sekali tentang sejarah, coba perhatikan petikan yang dikasih bold dan garis bawah, terdapat informasi tentang paman Hayam Wuruk yaitu raja Kahuripan dan raja Daha, dan merekalah yang menewaskan raja Sunda.

Padahal raja Kahuripan pada waktu itu tiada lain adalah ibunda Hayam Wuruk, yakni Bhre Kahuripan Tribhuwana Tunggadewi dan raja Daha adik kandung Tribhuwana Tunggadewi, yakni Bhre Daha Rajadewi Maharajasa, berarti bibinya Hayam Wuruk, lebih lanjut si pengarang tidak memahami juga nama raja Sunda Galuh.

Apakah mungkin, yang membunuh raja Sunda dalam perang Bubat adalah ibu dan bibi raja besar Majapahit? Sebutan paman hanya cocok untuk suami bibi raja Hayam Wuruk, tapi untuk suami ibunya sebutan paman tidaklah cocok. Sungguh kecerobohan yang fatal dan luar biasa naif dari si pengarang. Apakah C.C. Breg yang notabene mengatasnamakan ahli sejarah atau sejarawan Belanda dengan begitu mudahnya mengangkat topik perang Bubat hanya berdasarkan cerita kitab Kidung Sunda sebagai bahan disertasinya tahun 1927-1928, layakkah disebut ahli sejarahwan yang independen dan bisa dipercaya?

Sedangkan banyak karya-karya C.C Breg dan opini-opininya yang mempengaruhi catatan sejarah nusantara. Wajarkah kalau  C.C Breg disejajarkan dengan Dr. Christiaan Snouck Hurgronje, yang terkenal dengan siasat Snouck Hurgronje dalam perang Aceh?

Apakah wajar juga kalau terjadi kecurigaan terhadap kitab-kitab atau naskah-naskah kuno, yang tidak jelas pengarangnya (anomim), sebagai bentuk pencarian tentang kebenaran sejarah. Contoh kitab Kidung Sunda, sudah teramat nyata bahwa kitab ini sepatutnya tidak bisa dipercaya, terlalu gegabah kalau sejarah disandarkan dengan memakai referensi kitab atau naskah seperti ini.

Bagian II Analisa Kitab Pararaton

Walau pun ada sisi sentimentil dari Kidung Sunda itu yang mengatakan Hayam Wuruk yang menyesalkan kematian Dyah Pitaloka atau Citraresmi putri keraton kerajaan Sunda Galuh yang dikisahkan bunuh diri. Padahal kematian seperti itu bagi yang sudah sering mengalami peperangan adalah sesuatu yang biasa, apalagi ajaran yang dianut memungkinkan si istri atau keluarga mengorbankan diri setelah suami atau orang tuanya tiada, atau memang secara kemanusiaan walaupun perang adalah suatu pilihan, dengan melihat puluh ribuan orang melayang jiwanya, terbunuh, tentunya sebagai kesatria perang semua akan melakukan penghormatan kepada pihaknya sendiri ataupun kepada pihak lawan, tentunya dengan rasa duka cita yang mendalam.

TEORI PERANG BUBAT ANALISA KITAB KIDUNG SUNDA DAN KITAB PARARATON 6Terjemahan kitab Kidung Sunda juga menjelaskan tentang adanya utusan dari Majapahit ke kerajaan Sunda Galuh, yang diceritakan telah membawa pesan yang merupakan maksud dan tujuan dari raja Hayam Wuruk untuk melamar sang puteri keraton kerajaan Sunda Galuh. Analisa yang mungkin untuk kejadian tersebut adalah bahwa kedatangan utusan dari Majapahit sebenarnya merupakan utusan kerajaan untuk meminta raja Sunda Galuh untuk tunduk dan takluk dibawah kontrol kerajaan Majapahit.

Pola-pola utusan-utusan seperti itu sudah barang tentu merupakan hal yang biasa dilakukan, kalau salah satu kerajaan punya keinginan untuk menaklukan kerajaan yang lainnya. Pola-pola utusan-utusan seperti itu merupakan semacam peringatan, karena aturan atau norma hubungan antar negara tidak melakukan penyerangan tiba-tiba tanpa alasan jelas, penulis yakin peradaban saat itu sudah mengenal hal normatif antara sesama negara pada umumnya. Pada akhirnya, kalau pun maksud dan tujuan utusan yang membawa pesan kerajaan itu diterima, berarti kedua belah pihak berdamai dengan syarat-syarat ditentukan bersama, dan kedudukan yang menerima harus bersedia menjadi kerajaan bawahan dibawah kendali pihak kerajaan yang ingin menaklukan. Kejadian sebaliknya, kalau ditolak, maka kedua belah pihak harus sudah mempersiapkan diri untuk memulai peperangan.

Seandainya perang itu sudah diniatkan oleh raja Sunda Galuh, seperti analisa sebeklumnya, maka pertanyaan selanjutnya adalah mengapa pramesuri (istri raja) dan putri keraton ikut serta dalam rombongan. Hal ini mudah dijawab, oleh karena asumsi rencana penyerangan merupakan perjalanan panjang, memakan waktu lama, jagan dipikir persiapan dan perjalanan itu bisa dilakukan singkat. Sebuah rencana operasi militer besar-besaran yang akan dilakukan dari tanah Sunda ke Majapahit, setidaknya memerlukan waktu persiapan akomodasi dan perjalanan yang memakan waktu lama, lihat lagi asumsi hitung-hitungan jumlah prajurit yang begitu besar.

Persiapannya sendiri akan memakan lama waktu tahunan, meliputi persiapan peralatan perang (senjata dan armada), segala akomodasi diperjalanan dan setibanya ditempat tujuan. Akomodasi ini bukan hanya untuk kebutuhan manusia, hewan seperti kuda juga karena tentunya ada pasukan kavaleri (pasukan berkuda), sebagai bagian strategi perang yang paling efektif. Terutama jumlah pasukan yang sangat besar yang dibawa, itu tidak mungkin merupakan hanya terdiri dari pasukan kerajaan Sunda galuh saja, tapi ini merupakan kekuatan gabungan dari semua sekutunya. Proses pengumpulan itu tidak mudah dan perlu waktu, karena ini masalahnya perang, bisa jadi ada kerajaan bawahan yang tidak mau ikut serta, dan semua kerajaan-kerajaan bawahannya pun harus dinegoisasi terlebih dahulu, makanya persiapan perang ini perlu waktu yang lama.

Genghis Khan, Kaisar tentara pasukan Mongol, dalam melakukan rencana perang juga tidak serta merta terkumpul, untuk melawan pasukan Jamuka saja, dia persiapannya sekitar 4 tahun, begitu pula ketika mau menyerang kerajaan Jin dan Kesultanan Kwarizmi memerlukan waktu tahunan juga. Kerangka berpikir inilah yang harusnya semua pemerhati sejarah menganalisa dari berbagai sisi sekaligus menjiwai permasalahan tersebut yaitu mengenai segala sesuatu yang menyangkut terjadinya perang antar negara.

Logika dan perhitungan mana pun akan tetap memastikan bahwa dengan total armada yang dibawa sekitar 2000 kapal oleh rombongan kerajaan Sunda Galuh adalah rombongan dengan jumlah yang teramat besar, bahkan jumlah yang fantastis menurut ukuran saat itu, dalam waktu sekarang pun kalau melihat dan merasakan sejumlah itu, pastinya akan mengatakan hal serupa yaitu suatu pasukan besar. hal ini tidak bisa terelakan lagi bahwa tidak mungkin rombongan kerajaan dari Sunda Galuh itu adalah rombongan untuk suatu pernikahan (ngantenan) antara putri kerajaan dengan raja Majapahit, tidak masuk logika, alhasil adalah bahwa pasukan tentara besar itu tiada lain merupakan pasukan yang akan melakukan perang, bahkan katagorinya adalah perang besar, bukan lagi perang lokalan.

TEORI PERANG BUBAT ANALISA KITAB KIDUNG SUNDA DAN KITAB PARARATON 7Rombongan kerajaan Sunda Galuh dengan jumlah armada yang besar, pasti dan selayaknya terdapat kapal-kapal utama yang besar, mewah, lain dari pada kapal-kapal umumnya yang dibawa pasukan yang lain, tentunya dengan kondisi yang nyaman untuk para pembesar kerajaan termasuk keluarga raja. Kapal-kapal besar itu sudah barang tentu bisa digunakan oleh anggota keluarga kerajaan melakukan kegiatan yang tidak terganggu oleh kondisi perjalan perang, dan terbebas wilayah dari kontak dengan prajurit-prajuritnya yang lain, dibuat senyaman dan seaman mungkin. 

Keikutsertaan keluarga raja, pramesuri dan putri raja dalam perjalanan untuk sebuah rencana peperangan adalah hal biasa dilakukan pada saat itu, seperti halnya pasukan besar Mongol yang terdiri dari puluhan atau ratusan ribu orang, didalamnya sering dibawa keluarganya dan bukan hanya keluarga para pembesarnya saja, diantara mereka yang merupakan prajurit menengah sering membawa keluarganya, seperti ketika melakukan perjalanan panjang (long march) ke negara lain.

Long march pasukan Mongol itu tercatat sebagai rekor dunia untuk perjalaan pasukan tempur kerajaan dengan waktu terlama dan jarak terjauh, memakan lama waktu sampai tahunan dan ribuan mil yang mereka sudah tempuh. Pada kenyataanya sekali lagi bahwa mereka sering membawa ikut serta keluarganya, sekaligus mereka bisa dimanfaatkan untuk support kebutuhan lainya seperti dalam persiapan upacara keagamaan atau kepercayaan mereka sebelum memulai peperangan dan lain sebagainya. Pada saat-saat tertentu, bisa jadi mereka merupakan motifator bagi pasukan atau bagi sang raja kalau keluarga raja, dan menambah semangat tempur prajuritnya.

Jumlah armada perang sekitar 2.000 buah kapal dengan prediksi teridiri dari jumlah pasukan yang lebih dari 60.000 orang adalah suatu kemegahan yang sangat luar bisa, masuk akal memang bagi kerajaan Sunda Galuh yang hidup makmur dan besar secara luas wilayah kekuasaannya, serta lama waktu damai di internal kerajaannya sendiri. Terlihat adanya keinginan untuk menunjukan superioritas perekonomian dan kemampuan dana mereka, bahkan mungkin bagian dari unjuk kekuatan (show of force) untuk melemahkan mental lawan.

Pasukan besar yang dipimpin raja Sunda Galuh itu merupakan hal wajar, gabungan dari koloninya, daerah-daerah kerajaan bawahan kekuasan kerajaan Sunda Galuh pada waktu itu. Jumlah itu sekali lagi merupakan jumlah pasukan tentara gabungan (aliansi) dan pastinya ada sebuah keyakinan dan kepercayaan diri dari mereka untuk dapat mengalahkan pasukan tentara kerajaan Majapahit, dengan prediksi mereka bahwa ada kemungkinan sebagian besar pasukan dari kerajaan Majapahit yang masih berada diluar wilayah dalam rangka melakukan ekspedisi atau invasi ke wilayah negara atau kerajaan lainya di nusantara.

TEORI PERANG BUBAT ANALISA KITAB KIDUNG SUNDA DAN KITAB PARARATON 8 Jumlah pasukan besar kerjaan Majapahit dan peristiwa perang Bubat ini, bisa dianalisa juga dari informasi sumber sejarah lainnya, yang menjadi pendukung terjadinya kisah perang Bubat yaitu kitab Pararaton (kitab para raja tanah jawa, khusus para raja dinasti Wangsa Rajasa), yang salah satu petikan terjemahan dari kitab Pararaton tentang peristiwa itu, diantaranya sebagai berikut:

Selanjutnya terjadi peristiwa orang orang Sunda di Bubat.

Seri Baginda Prabu mengingini puteri Sunda. Patih Madu mendapat perintah menyampaikan permintaan kepada orang Sunda, orang Sunda tidak berkeberatan mengadakan pertalian perkawinan.

Raja Sunda datang di Majapahit, yalah Sang Baginda Maharaja, tetapi ia tidak mempersembahkan puterinya.

Orang Sunda bertekad berperang, itulah sikap yang telah mendapat sepakat, karena Patih Majapahit keberatan jika perkawinan dilakukan dengan perayaan resmi, kehendaknya yalah agar puteri Sunda itu dijadikan persembahan.

Orang Sunda tidak setuju. Gajah Mada melaporkan sikap orang orang Sunda.

Baginda di Wengker menyatakan kesanggupan: “jangan khawatir, kakak Baginda, sayalah yang akan melawan berperang.”

Gajah Mada memberitahu tentang sikap orang Sunda. Lalu orang Majapahit berkumpul, mengepung orang Sunda.

Orang Sunda akan mempersembahkan puteri raja, tetapi tidak diperkenankan oleh bangsawan bangsawannya, mereka ini sanggup gugur dimedan perang di Bubat, tak akan menyerah, akan mempertaruhkan darahnya.”  

Sampai pada akhir petikan diatas, sepertinya sejalan dengan awal kisah yang disampaikan dalam kitab pararaton yaitu ada hal yang tidak sesuai dengan rencana Gajah Mada, yang menyimpang dari kesepakatan semula antara Raja Majapahit dan raja Sunda Galuh tentang sistem pernikahan yang akan dilangsungkan, yaitu pernikahan ini murni niat Hayam Wuruk atas keinginan mempersunting putri raja.

Tapi kenyataan lain terjadi setelah sampai rombongan itu sampai di lapangan Bubat, Gajah Mada meminta pernyataan bahwa putri raja ini sebagai persembahan. Persembahan ini merupakan simbolisasi dari keharusan untuk menyataan takluk kerajaan Sunda atas Majapahit. Tentunya dengan harga diri yang merasa terinjak-injak itu, semua rombongan dari kerajaan Sunda, terlebih ada pernyataan dari para bangsawan yang menyatakan sikap tegas menolak akan hal itu dan dengan disertai keberanian untuk sanggup gugur sebagai para pahlawan kerajaan di lapangan Bubat.

Sampai akhir petikan diatas, alur cerita mengalir dengan mulus dan tanpa cela. Kemudian dilanjutkan dengan petikan dari terjemahan kitab Pararaton, sebagai berikut ini:

TEORI PERANG BUBAT ANALISA KITAB KIDUNG SUNDA DAN KITAB PARARATON 9“Kesanggupan bangsawan bangsawan itu mengalirkan darah, para terkemuka pada pihak Sunda yang bersemangat, yalah: Larang Agung, Tuhan Sohan, Tuhan Gempong, Panji Melong, orang orang dari Tobong Barang, Rangga Cahot, Tuhan Usus, Tuhan Sohan, Orang Pangulu, Orang Saja, Rangga Kaweni, Orang Siring, Satrajali, Jagadsaja, semua rakyat Sunda bersorak. Bercampur dengan bunyi bende, keriuhan sorak tadi seperti guruh.

Sang Prabu Maharaja telah mendahului gugur, jatuh bersama sama dengan Tuhan Usus.

Seri Baginda Parameswara menuju ke Bubat, ia tidak tahu bahwa orang orang Sunda masih banyak yang belum gugur, bangsawan bangsawan, mereka yang terkemuka lalu menyerang, orang Majapahit rusak.

Adapun yang mengadakan perlawanan dan melakukan pembalasan, yalah: Arya Sentong, Patih Gowi, Patih Marga Lewih, Patih Teteg, dan Jaran Baya.

Semua menteri araman itu berperang dengan naik kuda, terdesaklah orang Sunda, lalu mengadakan serangan ke selatan dan ke barat, menuju tempat Gajah Mada, masing masing orang Sunda yang tiba dimuka kereta, gugur, darah seperti lautan, bangkai seperti gunung, hancurlah orang orang Sunda, tak ada yang ketinggalan, pada tahun saka: Sembilan Kuda Sayap Bumi, atau: 1279.”

Petikan diatas seperti gayung bersambut dengan analisa tentang jumlah orang yang ikut serta dalam rombongan, seirama atau sesuai dengan informasi yang diberikan kitab Kidung Sunda, mengenai jumlah pasukan tentara kerajaan Sunda Galuh yang ikut berperang, yaitu dengan skala jumlah pasukan tentara yang luar biasa besar (perhatiakan huruf-huruf yang di cetak miring besar, bold).

semua rakyat Sunda bersorak”, pernyataan itu kelihatanya tidak tepat, untuk jumlah pasukan yang lebih sedikit lebih tepatnya “semua rakyat Sunda berteriak histeris” untuk menyambut peristiwa bahwa dengan kesadaran mereka akan gugur, karena kemungkinan selamat tidak mungkin kalau asumsinya pasukan hanya sedikit melawan pasukan besar.

Bersorak lebih cenderung ke suatu emosi atau rasa keyakinan atas kepercayaan diri akan menguasai lawan atau dengan maksud memberikan efek takut terhadap lawannya. Pernyataan rakyat juga tidak tepat, soalnya jumlahnya sedikit, tidak mewakili, mungkin bisa diganti dengan istilah rombongan, atau prajurit, atau orang-orang, rakyat lebih mengarah kepada jumlah yang banyak.

Pernyataan ini bisa dimaklumi, bisa jadi ada kesalahan penerjemahan, dan masih bisa diabaikan, walaupun itu bisa jadi petunjuk kalau ada hal serupa selanjutnya.

TEORI PERANG BUBAT ANALISA KITAB KIDUNG SUNDA DAN KITAB PARARATON 10 Informasi yang lain tentang “Bercampur dengan bunyi bende, keriuhan sorak tadi seperti guruh” seolah-olah pernyataan ini atas pernyataan yang mash bisa diabaikan sebelumnya, tapi kelanjutanya meberikan informasi sejenis atau salaing menguatkan tentang adanya pernyataan bunyi bende dan keriuhan sorak seperti guruh atau tepatnya gemuruh, pernyataan ini jelas-jelas bahwa rombongan sunda sudah bukan merupakan jumlah yang sedikit lagi, cenderung mengarah ke jumlah yang besar, dan pernyataan ini tidak lagi bisa diabaikan, setidaknya ada dua pernyataan yang sambung-menyambung dan saling menguatkan, dan mudah-mudahan ada pernyataan lain yang lebih memperjelas kondisi atau informasi itu

Bagian III Sekenario Perang Bubat

Pertanyaan kemudian adalah mengapa pasukan besar tentara kerajaan Sunda Galuh dapat dikalahkan dalam perang itu, terbantai habis tak bersisa?

TEORI PERANG BUBAT ANALISA KITAB KIDUNG SUNDA DAN KITAB PARARATON 11Latar belakang dari kerajaan Sunda Galuh bahwa mereka selama ratusan tahun lamanya tidak pernah lagi berperang dalam sekala besar dan panjang, mereka tidak memiliki pasukan tempur yang teruji dan berpengalaman dalam berperang. Jumlah mereka byang sungguh besar, tapi dukungan pengalaman dan jam terbang pertempuran yang sedikit, ini merupakan kelemahan terbesar. Kondisi ini dapat dibuktikan dalam sejarah atau kisah peperangan manapun, banyak peristiwa yang menyatakan pasukan yang jumlahnya jauh lebih sedikit tapi mereka terasah dengan pengalaman tempur atau jam terbangnya banyak, akan dengan mudah mengalahkan lawannya yang mempunyai ukuran jumlah yang jauh lebih banyak.

Jumlah tidak bisa selamanya menjadi jaminan kemenangan tanpa diimbangi dengan pengalaman berstrategi yang teruji, akibat kekurangan pengalaman yang terjadi efek dari lamanya masa-masa kedamaian dan kemakmuran (abad ke-10 sampai ke-14 Masehi), mungkin sedikit sekali mereka menjalani pertempuran, akhirnya menyebabkan meraka kalah dari pasukan Kerajaan Majapahit. Walau pun secara fakta teritorial dan pengakuan negara lain, Sunda Galuh adalah kerajaan besar, yang merupakan salah satu negara adidaya ditataran pulau Jawa, bahkan nusantara pada waktu itu.

Kondisi sebaliknya untuk pasukan tentara kerajaan dari Majapahit yang pada saat itu, meraka terus-menerus melakukan invasi milter ke negara-negara lain, itu artinya pasukan meraka selalu berselimut dengan pengalaman perang sampai saat itu, yang menjadikan meraka kuat dan tangguh.

Pasukan tentara Majapahit pada waktu itu diasmunsikan masih gencar-gencarnya melakukan invasi atau ekspedisi ke negara-negara lain, tentunya pasukan-pasukannya sebagian tidak ada diposisi wilayah kerajaan.

TEORI PERANG BUBAT ANALISA KITAB KIDUNG SUNDA DAN KITAB PARARATON 12 Logika perkiraan jumlah keterlibatan pasukan tentara Majapahit pada saat itu sendiri pasti berkurang dari jumlah keseluruhan total pasukan kerjaan secara keseluruhan, perkiraan paling sekitar 1/2 atau 2/3 dari pasukan tentara kerajaan Sunda Galuh yang ada disana. Tetapi dengan jumlah seperti itu pun bisa mengalahkan pasukan tentara Sunda Galuh, mengapa? Hal yang telah diungkapkan sebelumnya, oleh karena mereka sudah terlatih, teruji, terbiasa, tertempa dan berpengalaman dalam kehidupan perang selama itu yang terus menerus.

Deskripsi atau penggambaran sekenario perang Bubat antara pasukan kerjaan Majapahit dan Kerajaan Sunda Galuh, bisa saja diumpamakan terjadi 3 tahapan peperangan, dirinci sebagai berikut:

  1. Perang permulaan antar armada dilautan, pasukan armada lautan Majapahit terdesak karena kekurangan armada, tapi itu tujuannya bukan perang total lebih ke arah gangguan. 
  2. Perang pantai, disini hanya untuk melemahkan pasukan kerajaan Sunda Galuh karena yang hanya bisa dilakukan oleh pasukan perang Majapahit hanya bisa menahan melalui serangan panah dan itu ada batas pasokan panah, tapi ini paling efektif dalam mengurangi jumlah musuh.
  3. Perang darat yang terjadi dilapangan luas Bubat, disinilah perang total, dengan berbagai strategi, dan yang lebih dominan dalam perang seperti ini adalah pengalaman dan strategi.

Gajah Mada dan Hayam Wuruk punya prototipe atau sumber inspirasi metode pembentukan pasukan tentara perang, yaitu dari bangsa Mongol dengan panglima perang kaligus kaisar Imperium besar daratan Mongol yaitu Jenghis Khan, Sang Penakluk dengan priode kekaisarnya juga berkembang pada kisaran tidak jauh pada masa itu juga, walau pun awal berdirinya kerajaan Majapahit berbarengan dengan masa kaisar Mongol yang di pegang oleh penerusnya yaitu Kubelai Khan.

Model Jenghis Khan ini juga merupakan model bagi negara-negara lain diseluruh dunia untuk sebuah cita-cita pemersatuan suku bangsa-bangsa menuju bangsa yang besar. Periode kekaisaran Mongol mulai Jenghis Khan sampai ke kaisaran terakhir sekitar 150 tahunan.

Gagasan utama atau ide pemersatuan ini dipelopori pertama kali oleh Sri Rajasa Sang Amurwabhumi (Ken Arok – versi nama kitab Pararaton), pendiri Wangsa Rajasa, yang berawal sebagai penguasa kadipaten Tumapel, bagian dari kerajaan Kediri, yang selanjutnya mengambil alih kekuasaan kerajaan Kediri dan membentuk kerajaan baru yang terkenal dengan nama kerajaan Tumapel (Singhasari versi kitab Pararaton).

TEORI PERANG BUBAT ANALISA KITAB KIDUNG SUNDA DAN KITAB PARARATON 13Tahun meninggalnya raja Tumapel alias SInghosari Sri Rajasa Sang Amurwabhumi, sama dengan tahun meninggalnya Jenghis Khan yaitu tahun 1227 M. Keberadaan kerajaan Tumapel sudah ada dalam catatan dari dinasti Yuan dari Cina dengan sebutan atau dengan pelafalan “Tu-ma-pen”. Artinya memang sudah ada hubungan, mungkin perdagangan, atau hubungan kerja sama lainya sudah dilakukan sebelumnya antara kerajaan nusantara dengan wilayah Cina, dan dari hal hubungan seperti inilah peta perpolitikan dunia tersampaikan ke wilayah nusantara, termasuk keberadaan pasukan Mongol yang mendunia.

Raja Majapahit masih keturunan langsung Wangsa Rasaja, yang pendirinya tiada lain raja Tumapel yaitu Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. Ide atau gagasan perluasan wilayah Sri Rajasa Sang Amurwabhumi kemudian ditindaklanjuti oleh turunan ke-4 yaitu raja Kertanegara, sehingga kekuasaan Tumapel yang lebih terkenal dengan sebutan Singhasari pada waktu itu sudah meluas dengan adanya misi yang terkenal dengan sebutan “Ekspedisi Pamalayu”.

Ide dan gagasan pemersatuan dan perluasan wilayah ini sebenarnya pada akhirnya bertujuan untuk menghadang gempuran kekuatan besar pasukan tentara Mongol itu sendiri, yang kemungkinan akan mengarah ke wilayah Asia bagian tenggara, tanpa kecuali wilayah-wilayah nusantara. Ide  atau gagasan pemersatuan ini juga dibuat untuk sistem pertahanan semesta dan pembentukan aliansi atau tentara gabungan pasukan tentara seluruh kerajaan di nusantara menghadapi terjangan badai besar dari pasukan tentara Mongol, bukti nyatanya ketika terjadi penyerangan pasukan Mongol terhadap kediri setelah masa kejatuhan Sri Kertanegara.

TEORI PERANG BUBAT ANALISA KITAB KIDUNG SUNDA DAN KITAB PARARATON 14Pasukan tentara Mongol bahkan sanggup memporakporandakan dan membantai sejumlah pasukan yang bisa jadi 5 kali lipat jumlah pasukanya, tentunya ini hasil buah strategi dan pengalaman perang mereka didaratan Mongol, perang antar klan (suku) menyebabkan meraka teruji untuk model perang seperti apapun.

Begitu juga dalam mengadapi pasukan besar tentara Sunda Galuh walaupun tentara yang dibawa sebegitu banyak, laksana air bah, mungkin tentara Majapahit hanya terkumpul 30.000 – 45.000 orang, tapi posisi meraka yang menguasai medan tempur dan ahli-ahli perang semua, akan dengan mudah membikin porak-porandakan formasi tentara Sunda Galuh.

Bagian IV Akhir dan Kesimpulan

Perang Bubat ini pasti perang yang sangat heroik dan pastinya penuh dengan cerita kepahlawanan bagi kedua belah pihak (kalau asumsinya benar-benar terjadi), karena bukti prasati peninggalan jaman itu tidak pernah dibahas mengenai kepahlawanan perang Bubat, logikanya jika itu terjadi pasti didirikan monumen bersejarah bagi kedua belah pihak, karena peristiwa ini tidak mungkin terlupakan dalam sejarah kebangsaan.

TEORI PERANG BUBAT ANALISA KITAB KIDUNG SUNDA DAN KITAB PARARATON 16Pasukan tentara Majapahit akan bertempur dengan strategi-strategi jitu, sedangkan Sunda Galuh selain strategi, mereka juga mengandalkan jumlah besarnya. Walaupun pada akhirnya kalah dan pasti ada yang menyerah, pasukan majapahit pasti tidak akan menerima, soalnya ini mengadopsi dari kebijakan perang Genghis Khan, apa lagi posisi musuh menyerang duluan logikanya harus dibantai habis memang kalau kita ada dalam emosi perang seperti itu. Kejadian terbalik kalau pasukan Majapahit berada dalam posisi terdesak, pasti pasukan Majapahit gantian yang akan dibantai habis.

Tapi mungkin yang lebih mengena adalah sifat kepahlawanan dari pasukan tentara Sunda Galuh sendiri, yang tidak mengenal kata menyerah, mereka melakukan perang seperti model perang Puputan di Bali yaitu perang sampai habis-habisan, dengan semangat perang luar biasa yaitu sampai raga berkalang tanah alias gugur sebagai pahlawan perang, bunga bangsa yang semerbak harum mewangi.

TEORI PERANG BUBAT ANALISA KITAB KIDUNG SUNDA DAN KITAB PARARATON 17 Tentunya semangat kepahlawanan ini yang sangat membanggakan dan membuat siapa pun terharu, termasuk pihak lawan, dan tradisi perang biasanya punya tradisi penghormatan luar biasa bagi pihak lawannya yang gugur. Itulah gambaran raja Hayam Wuruk yang merasa terharu oleh kondisi perang semacam itu, melihat kepahlawanan dari seluruh prajurit yang gugur termasuk seluruh keluarga raja dan para bangsawan, deskrifsi alternatif dari kisah sentimentil yang disodorkan oleh kitab-kitab itu.

Beda halnya kalau raja Sunda Galuh melarikan diri dari peperangan, tentunya ini akan mencedrai nilai kepahlawanan itu. Perang sampai titik darah penghabisan ini akan menjadi kebanggan pula bagi seluruh masyarakat kerajaan Sunda Galuh pada waktu itu. Kalah memang, tapi kalah secara terhormat dan membanggakan, tidak tercela, sungguh elok dan semestinya tidak ada alasan bagi mereka merasa terhina atau pun malu. Mereka akan dikenang sebagai para patriot pembela tanah airnya.

Kalau metoda perang sampai paripurna oleh pasukan Majapahit diterapkan, yang kemungkinan besar semua kerajaan-kerajaan di nusantara diperlakukan hal yang sama juga oleh cara-cara seperti ini yaitu perang total sampai tuntas, totalitas, bersih, dan diteror dengan cara yang serupa yaitu habisi dengan sempurna. Itu juga, sekali lagi kalau sudah dalam situasi perang, yaitu bagi mereka yang menyatakan tidak bersedia tunduk dan mengakui kerajaan Majapahit sebagai kerajaan yang memegang kendali atas mereka, sehingga dengan begitu itu pula dalam waktu singkat dan cepat, yang menyebabkan kerajaan-kerajaan di wilayah nusantara bisa disatukan dan ditaklukan.

Apa yang dilakukan raja Sunda Galuh bersama pasukan tentaranya adalah hal wajar dan mencirikan para kesatria sejati, karena mereka mencoba mempertahankan diri kerajaannya dengan melakukan penyerangan duluan, teori serangan dadakan, daripada mereka diserang duluan, tapi salah perhitungan dan tidak didukung atau dibarengi dengan pengalaman perang pasukan yang sepadan.

Pada akhirnya meraka harus mengakui kekalahan itu. Sang Banginda Maharaja Sunda Galuh beserta dengan seluruh pasukan tentara dan pengikut kerajaan menjadi para pahlawan yang gugur dengan gagah berani, mengadapi resiko kematian tak bersisa sebagai hasil akhir dalam peperangan tersebut.

TEORI PERANG BUBAT ANALISA KITAB KIDUNG SUNDA DAN KITAB PARARATON 18Gajah Mada terkenal mempunyai pasukan elit intelejen yang bernama Bayangkara, dalam kitab Pararaton, yang telah telatih dan terdidik mendekati sempurna, informasi penyerangan kerajaan Sunda Galuh seperti ini itu pasti akan sudah mereka terima sebelumnya dan sudah pasti dipersiapkan antisipasinya, walaupun dengan sumber daya parjurit seadanya, tidak utuh.

Mahapatih Gajah mada, raja Hayam Wuruk dan pasukan militernya harus bekerja keras dan dengan berbagai strategi yang brilian untuk menghadapi jumlah musuh yg begitu besar, walaupun kemenangan diraih tapi jumlah pasukan yang selamat dipihak Majapahit sendiri mungkin hanya tinggal beberapa ribu atau puluh ribu orang saja pastinya, sangat berkurang jauh.

Setelah perang Bubat, pasukan Kerajaan Majapahit tidak memobilisasi pasukan besar ke pusat kerajaan Sunda Galuh setelah kemenangan itu, itu dikarenakan secara hitung-hitungan, kerajaan Sunda Galuh bukan lagi kekuatan yang bisa menghadang dimasa yang akan datang dan mereka juga perlu waktu untuk memulihkan kondisi akibat yang ditimbulkan oleh perang besar tersebut.

Kitab Kidung Sunda menyatakan Gajah Mada moksa (menghilang ditelan bumi dengan cara-cara mistis, gaib) setelah kejadian perang Bubat, tetapi pernyataan lain dalam Negara Kertagama tentang akhir hayat Gajah Mada yaitu karena usianya sudah uzhur, usia lanjut. Sudah waktunya Gajah Mada posisinya digantikan orang lain, dan menikmati masa-masa tua, dan dalam diri Gajah Mada sendiri sudah merasa cukup, apa yang dia usahakan yang terakhir dengan mengalahkan pasukan besar tentara kerajaan Sunda Galuh artinya seluruh nusantara dapat ditaklukan, sungguh merupakan perjalanan penaklukan yang sempurna.

Mahapatih Gajah Mada berusia 71 tahun ketika selesai menjabat sebagai Mahapatih di kerajaan Majapahit, dari tahun 1313 M semenjak dia menjabat patih di kerajaan Kediri, bawahan kerajaan Majapahit sampai dengan tahun 1364 M, terhitung 51 tahun masa menjabatnya, ditambah dia sudah menjabat prajurit senior sebagai pemimpin pasukan Bayangkara, asumsi katakanlah 25 tahun berarti kisaran usianya sekitar 76 tahun, usia yang wajar sekiranya Gajah Mada tutup usia, atau Gajah Mada dengan umur seperti sudah menjadi manusia lanjut usia (red – aki-aki rempong), wajar seandainya mengambil pensiun dan menikmati hidup, apalagi cita-cita dan pengabdian besarnya sudah dirasa cukup.

Hayam Wuruk kalau merujuk tahun perang Bubat dari kitab Pararaton yaitu tahun 1357 M, maka disesuaikan dengan masa menjabat Sri Rajasanegara alias Hayam Wuruk yang lahir 1334 M dan dinobatkan menjadi raja dari tahun 1350 sampai dengan tahun 1389 M. Dihitung dari tahun kelahiran maka usia Hayam Wuruk ketika perang Bubat adalah 23 tahun dan usia seperti itu untuk seorang raja tentunya Hayam Wuruk sudah mempunyai pramesuri. 

Teori rencana pernikahan putri kerajaan Sunda Galuh, Dyah Pitaloka, kayanya mubazhir, karena Sang Baginda Maharaja Linggabuana raja Sunda Galuh pasti tidak akan mau dan menyetujui anaknya menjadi selir, alhasil tidak menurunkan ahli waris kerajaan Majapahit, sebagai putera mahkota.

Cerita perang Bubat dalam artikel ini, berbeda dengan kondisi cerita-cerita yang beredar secara umum. Perang antara rombongan para pengantar calon penganten puteri dari kerajaan Sunda Galuh untuk raja Majapahit, Hayam Wuruk. Ini hanyalah analisa atas keberadaan kitab Kidung Sunda dan kitab Pararaton yang dianggap sebagai referensi untuk kejadian atau peristiwa perang Bubat.

Kitab Kidung Sunda itu sendiri, seperti halnya kitab Pararaton, Kidung Sundayana dan Wangsekerta harus dipastikan ke absyahannya terlebih dahulu, kebenaran dari kandungan ceritanya. Soalnya ini masalah sejarah, jangan hanya terjebak dan terpaku kepada cerita sepihak anak manusia, sekelompok orang atau pihak tertentu yang punya kepentingan tidak baik bagi kehidupan bangsa Indonesia.

Resikonya, untuk jalan sejarah selanjutnya, cerita yang masih diragukan kebenarannya itu malah dianggap sebagai kebenaran umum, artinya kita akan salah kaprah. Riset-riset sejarah dari pemerintah Indonesia sendirilah yang harusnya bertanggung jawab meluruskan kebenaran sejarah ini, mungkin dengan membentuk Dewan atau Mahkamah Sejarah Nasional, wadah untuk menjustifikasi kebenaran sejarah bangsa Indonesia, walaupun parakteknya tidaklah akan mudah, tetapi tidak ada salahnya dicoba dibentuk.

Apa yang penulis ceritakan, hanya berdasar asumi yaitu jika perang itu benar-benar terjadi, silakan masing-masing pembaca yang budiman untuk menganalisa sendiri kitab Kidung Sunda dan kitab Pararaton. Logika-logika dan kondisi-kondisi realistiklah, yang menjadi dasar bagi si penulis mengajukan topik ini.

Satu hal yang jadi pertanyaan besar dalam kidung Sunda ini, pengarangnya tidak menyebut nama jelas prameswari dan puteri raja Sunda Galuh yaitu Citraresmi atau Dyah Pitaloka, bahkan nama raja Sunda Galuh pun pada waktu itu juga tidak disebut. Logikanya orang yang mengarang kitab (buku) Kidung Sunda adalah orang yag terbatas pengetahuannya tentang sejarah itu sendiri, atau ini hanyalah fiksi dari cerita-cerita sebelumnya. Nama puteri Citraresmi alias Dyah Pitaloka sendiri hanya ada di kitab Pararaton, kitab yang dianggap sementara benar oleh masyarakat umum, walau sebenarnya sebagian isinya dalam kitab Pararaton ini juga masih banyak terdapat keanehan-keanehan dan kebenarnya sama-sama harus diteliti, dibuktikan dan diuji lagi bagian-bagian yang mengandung fakta sejarahnya.

 

Akhir kata, Sri Rajasa Sang Amurwabhumi alias Ken Arok, Sri Kertanegara, Mahapatih Gajah Mada dan Sri Rajasanegara alias Hayam Wuruk adalah para penganut pola dan metoda Jenghis khan, Sang penakluk dalam menjalankan ekspansi kekuasaannya, yang diterapkan sesuai kehidupan ditataran tanah Jawa dan nusantara pada pencapaian lebih jauh.

Kitab Negara Kertagama juga menggambarkan perang antara kerajaan Majapahit dengan kerajaan di Bali dengan akhir skor 1-0, artinya seluruh tentara kerajaan Bali pada waktu itu terbantai habis. Inilah bukti diantaranya bahwa mereka menganut pola Jenghis Khan.

Masalah perang Bubat, bukanlah sesuatu yang harus dibesar-besarkan karena justifikasi sejarah belum ada yang meyakinkan, masih memperebutkan pepesan kosong, tidak ada hasilnya, tetapi kalau itupun benar terjadi, banyak sekali pelajaran yang bisa diambil. Kesimpulan penulis akan gugur dengan sendirinya jika terdapat bukti-bukti yang syah bahwa memang perang Bubat ini terjadi.

Sekiranya hal ini terjadi, semoga semua pihak harus lapang dada menerima sesuatu yang terjadi dikehidupan masa lampau umat manusia, karena itulah jalan dan taqdir ILLAHI.

Salam Damai Negeriku Salam Sejahtera Nusantaraku

Wassalam

penulis

Referensi : menguaktabirsejarah.blogspot.com

About admin

Check Also

Blunder Pasukan Bhayangkara yang Meruntuhkan Kerajaan Majapahit

Majapahit, Sumpah Palapa dan Pasukan Bhayangkara, adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan dari Kerajaan ...