Saturday , June 23 2018
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Tasawuf, Di Mata Penegak Syari’ah

Tasawuf, Di Mata Penegak Syari’ah

Nasib kaum sufi atau pengamal ilmu tasawuf seringkali bernasib sial. Mereka disangka sebagai orang nyeleneh, tersesat dan menyimpang. Bahkan diwaspadai sebagai aliran sesat yang harus dibubarkan. Ironinya yang bersikap demikian itu kebanyakan adalah orang-orang yang menyangka dirinya sebagai ’penegak syari’ah’. Bahkan yang lebih ironi lagi sangkaan-sangkaan miring itu datang dari mereka yang tidak tergolong cendekiawan ataupun ulama alias berilmu agama yang pas-pasan, sehingga suasana khilafiyah semakin runyam dan semakin memojokkan mereka yang sedang belajar mengamalkan tasawuf.

Padahal ajaran tasawuf sudah ada sejak zaman Nabi Saw. maupun shahabat, meski saat itu belum dinamai tasawuf. Artinya, bahwa ajaran ’tasawuf’ itu merupakan bagian dari ajaran Islam sejak awal. Dan karena itu ajaran ini telah dipelajari dan diamalkan oleh kaum muslimin angkatan pertama.

Tetapi pada angkatan berikutnya, abad kedua hijriyah dan seterusnya, kaum muslimin secara berangsur-angsur mengalami perubahan orientasi, bahkan timbul bermacam-macam orientasi. Dalam hal ini terdapat kaum muslim yang orientasinya pada akal, yaitu ahlul kalam (teologi), Mu’tazilah. Ada pula yang orientasinya pada bagian lahirnya atau hukum-hukumnya saja, yaitu ahli fiqh atau ahli syari’ah. Ada yang orientasinya pada materi atau duniawi, yaitu orang-orang kaya, dan sebagainya. Maka ketika itulah muncul kaum sufiyah, yaitu kaum muslimin angkatan pertama yang mempertahankan orientasi ubudiyah, terutama dalam rangka peningkatan dan penghayatan jiwa untuk mendapatkan keridhaan Allah dan keselamatan dari kemurkaanNya. Untuk itulah mereka berzuhud (hidup sederhana).

Keadaan tersebut berkelanjutan hingga mencapai puncak perkembangannya di akhir abad keempat hijriyah. Dalam masa tiga abad itu dunia Islam mencapai kemakmuran yang melimpah, sehingga di kalangan kaum elite terdapat pola kehidupan mewah, seperti yang tercermin dalam karya sastra ”cerita 1001 malam” di masa kejayaan kekhalifahan Bani Abbasiyah. Pada masa itu gerakan tasawuf juga mengalami perkembangan yang ditandai dengan adanya penjelasan teoritis yang kelak menjadi disiplin ilmu yang dinamai ilmu Tasawuf.

Pada tingkat perkembangan inilah, terutama dengan adanya disiplin ilmu Tasawuf, muncul beberapa terma, antara lain produk penalaran ulama muhaddits dan fuqaha disebut syari’ah, dan produk penalaran ulama tasawuf disebut haqiqah. Selanjutnya para fuqaha pun disebut ahli syari’ah dan para ulama tasawuf disebut ahli haqiqah.

Pada tahap perkembangannya, secara berangsur-angsur pola pikir dan pola hubungan antara ahli syari’ah dan ahli haqiqah semakin berbeda dan menimbulkan banyak pertentangan. Misalnya, ahli syari’ah menonjolkan pengalaman agama dalam bentuk formalistik (syi’ar-syi’ar lahiriyah). Sedangkan ahli haqiqah menonjolkan aspek-aspek batiniyah ajaran Islam. Karena itu ada sebagian ahli haqiqah yang tidak merasa terikat dengan syi’ar-syi’ar agama yang ritual-formalistis. Mereka berpendapat, kalau seseorang sudah mencapai derajat wali, mereka sudah bebas dari ikatan-ikatan formal, seperti tidak perlu shalat, puasa dan kewajiban lainnya. Padahal para pendahulu mereka sangat disiplin dalam pengalaman syari’ah. Mereka juga mengklaim, siapa yang telah sampai perjalanan ruhaniyahnya kepada Allah dan sudah terlebur dirinya dalam diri Allah, maka dia akan mampu menaklukkan alam dan melakukan hal-hal yang luar biasa (karomah). Dan masih banyak teori-teori ahli haqiqah yang dianggap sebagai ajaran aneh (menyimpang) oleh ahli syari’ah.

Dalam keadaan seperti inilah timbul asumsi yang bermacam-macam. Ada yang menilai tasawuf secara fanatik dengan memujinya dan menganggap semua ajarannya baik sekali. Ada pula yang mencelanya dan menganggap semua ajaran tasawuf tidak benar dan sesat. Keadaan seperti ini semakin menjadi-jadi hingga akhir abad kelima hijriyah, dan al Ghazali berupaya memulihkannya. Dalam kaitan inilah beliau tampil dengan karya besarnya Ihyâ’ ‘Ulumuddin. Dalam buku ini beliau mempertemukan teori-teori syari’ah dengan teori-teori haqiqah. Ternyata upaya ini sangat membantu dalam merukunkan kembali antara para ahli syari’ah dan ahli haqiqah.

Dengan demikian seharusnya pasca al Ghazali hingga sekarang ini tidak perlu lagi mempertentang kan keberadaan tasawuf. Sebab, sudah jelas bahwa tasawuf adalah bagian dari ubudiyah kaum muslimin di masa Nabi Saw. dan para sahabatnya, di samping sebagai disiplin ilmu dalam keislaman yang telah diakui kebenarannya.

Banyak ayat al Qur’an dan hadits yang menerangkan masalah tasawuf, seperti perlunya keseimbangan antar unsur-unsur insaniyah (ruh, akal, dan jasad, tentang cinta Allah kepada hamba-hambaNya dan cinta hambaNya kepada Allah, masalah zuhud, tawakal, taubat, syukur, sabar, yakin, taqwa, mawas diri (muraqabah), dan lainnya dari maqam-maqam yang suci dalam agama.

Padahal tidak ada golongan lain yang memberi perhatian penuh dalam menafsirkan, membahas dengan teliti dan terinci, serta membagi segi-segi utamanya maqam ini selain ahli tasawuf atau para sufi. Bahkan, Yusuf Qardhawi, ahli fiqh kontemporer dari Mesir, pun telah mengakui secara obyektif, bahwa tasawuf itu memang ada dalam Islam dan mempunyai dasar yang mendalam. Tidak dapat diingkari dan disembunyikan, juga dapat dilihat dan dibaca dalam al Qur’an, Sunnah Rasul dan para sahabatnya yang mempunyai sifat-sifat zuhud, tidak suka hidup mewah sebagaimana sikap Abu Bakar, Umar, Ali, Abu Darda’, Salman al Farisi, Abu Dzar dan lainnya.

Oleh sebab itulah jika masih ada yang mempertentangkan keberadaan tasawuf, berarti mereka itu adalah orang yang tidak memahami tasawuf secara benar. Sama juga halnya para pengamal tasawuf yang meninggalkan syari’ah, berarti mereka adalah pengamal yang tak berilmu. Wallâhu a’lam.

Oleh: Asmuni Syukir

  • Jombang, 9 Mei 2010, Majelis Ta’lim & Bengkel Hati Al-Qolam
  • Artikel ini pernah dipublikasikan dalam Buletin Al-Qolam

About admin

Check Also

Taubat

إِنَّ هَذِهِ تَذْكِرَةٌ فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ سَبِيلا ، وَمَا تَشَاءُونَ إِلا أَنْ يَشَاءَ ...