Sunday , November 18 2018
Home / Deep Secret / Intelijen / Tantangan Berat Sutiyoso Sebagai Kepala Badan Intelijen Negara

Tantangan Berat Sutiyoso Sebagai Kepala Badan Intelijen Negara

Terkait pengajuan Letjen (Pur) Sutiyoso sebagai calon tunggal Kepala Badan Intelijen Negara oleh Presiden Jokowi, Wakil Ketua Komisi I DPR Hanafi Rais di DPR Senayan, Jakarta, Kamis (25/6/2015) mengatakan, “Komisi I DPR sudah menindaklanjuti apa yang sudah dari Bamus. Memungkinkan minggu depan, Senin atau Selasa, ada agenda fit and proper test (Panglima TNI dan Kepala BIN),” katanya.

Uji kelayakan dilaksanakan komisi I sebagai mitra kerja BIN dan terakhir puncaknya di sidang paripurna persetujuan dan penetapan DPR atas nama yang sudah diajukan. Pada era transparansi saat ini, akan sulit menutupi masalah yang mungkin masih merupakan residu Bang Yos pada masa lalu, inilah tantangan pertamanya sebagai calon tokoh utama intelijen Indonesia. Apakah mampu lepas dari tekanan atau justru tergelincir.

Melihat track record dua periode sebagai Gubernur DKI pada lima masaera presiden, mantan Wadanjen Kopassus dan Pangdam Jaya ini jelas mampu lepas dari DPR dan akan masuk ke sarang barunya di Pejaten. Sutiyoso menyatakan siap menghadapi serangkaian uji kelayakan dan kepatutan tersebut. Dia juga mengaku siap dicecar terkait peristiwa Kudatuli. Banyak pihak menduga dirinya terlibat dalam peristiwa yang dianggap melanggar HAM.

Selain itu hambatan lain adanya keberatan dari Partai Gerindra (Fadli Zon) tentang jabatan Kabin yang di duduki oleh anggota partai, karena dianggap tidak netral. Sutiyoso menyatakan telah melepas jabatan politiknya dari Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). Jabatan itu diserahkan kepada Mantan Bupati Kutai Timur Isran Noor.

Nampaknya perjalanan calon Kepala BIN ini tidak akan terlalu mulus (ada sedikit kerikil), karena Ahmad Hadi (Koalisi Peduli Indonesia) saat bertemu dengan Fadli Zon menyatakan ada masalah yg pernah dilaporkan Wagub Priyanto dan menyentuh Sutiyoso terkait korupsi. Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Prijanto bersama politikus senior AM Fatwa dan aktivis LSM melaporkan dan menyerahkan bukti dugaan korupsi pelepasan lahan Taman BMW (Bersih, Manusiawi, Wibawa), ke KPK, Jakarta, Kamis (7/11/2013).

Orang yang dilaporkannya dalam kasus ini dan harus bertanggung jawab adalah mantan Gubernur DKI yang sekaligus bekas koleganya, Fauzi Bowo alias Foke dan Sutiyoso alias Bang Yos. Menurut Priyanto pada masa lalu, potensi kerugian negara akibat pembohongan lahan BMW yang sudah masuk aset Pemprov DKI itu ditaksir mencapai Rp 737 miliar. Melihat tidak ada tindak lanjut sejak 2013, nampaknya kasus paling sensitif ini bisa diselesaikannya dari ranah hukum. Kepala BIN, Marciano Norman di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Selasa (23/6/2015) mengatakan tidak pernah menyangsikan kompetensi intelijen Sutiyoso.

Dia berharap di bawah kepemimpinan Sutiyoso, BIN akan semakin maju. Dikatakannya bahwa salah satu ancaman dunia global yang sedang dihadapi adalah perkembangan kelompok radikal. Sutiyoso harus memiliki program komprehensif dalam menghadapi dan menangkal ancaman kelompok itu, mampu menekan meniadakan link-up yang dapat menimbulkan instabilitas. Marciano juga menegaskan, “Terutama yang di depan mata kita ya pilkada serentak ini. Dan stabilitas ekonomi kita harus bisa segera pulih. Kita tidak bisa membiarkan ekonomi kita semakin hari semakin menurun. Harus ada upaya semua,” katanya.

Dari apa yang disampaikan oleh Kepala BIN, dari tiga hal masalah yang harus menjadi perhatian Sutiyoso apabila lolos dari DPR, pertama masalah pengaruh kelompok radikal diluar negeri yang dinilainya menjadi ancaman dunia global, termasuk Indonesia. Kelompok teroris telah ada di sini dan mampu diantisipasi dalam beberapa tahun belakang ini, yang akan menjadi bahaya apabila mereka mendapat dukungan penuh dari luar. Pada hari Jumat (26/6/2015) telah terjadi serangan teror di Perancis, Tunisia dan Kuwait dalam waktu yang hampir bersamaan.

Di Perancis, seorang pria menyerbu sebuah pabrik kimia milik Amerika, memenggal satu orang dan mencoba meledakkan fasilitas pabrik. Di Tunisia, seorang pria bersenjata senapan serbu melepaskan tembakan di sebuah resor pantai, menewaskan sedikitnya 38 orang. Sementara di Kuwait, seorang pembom bunuh diri meledakkan dirinya di dalam masjid saat dilangsungkannya shalat Jumat, menewaskan sedikitnya 25 orang jamaah pengikut Syiah. Kelompok teroris Negara Islam (Islamic State) menyerukan operasi serangan selama bulan suci Ramadhan.

Tidak ada indikasi bahwa mereka telah dikoordinasikan. Islamic State (dahulu ISIS) mengaku bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri di masjid Syiah Kuwait. Dalam serangan di resort pantai Tunisia, seorang pria bersenjata senapan serbu yang menyamar sebagai turis, menembaki turis dari payung pantai, menewaskan sedikitnya 38 orang yang sebagian besar dari mereka wisatawan Inggris.

Negara Islam mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, menurut laporan yang dirilis Jumat malam di Twitter. Penyerang menembak mati korban di pantai, di kolam renang hotel dan di lobi sebelum ditembak mati oleh pasukan keamanan. Serangan itu adalah serangan teroris besar kedua dalam dari tiga bulan yang menargetkan industri pariwisata Tunisia.

Di Indonesia, bukan tidak mungkin serangan serupa bisa terjadi apabila tidak terdeteksi oleh intelijen. Di negara ini juga terdapat Islam Sunni dan juga Islam Syiah yang juga berseberangan. Serangan teror tidak perlu dilakukan oleh banyak pelaku tetapi cukup seorang lone wolf yang terinspirasi atau dipengaruhi Islamic State seperti di Tunisia. Inilah yang merupakan pesan dan kekhawatiran Marciano, agar diwaspadai oleh Kabin baru. Pesan lain Kepala BIN yang menurut penulis sebagai tantangan berat Sutiyoso apabila sudah memegang amanah sebagai Kepala BIN adalah terjadinya penurunan perekonomian serta pilkada serentak. Sebagai badan intelijen strategis, BIN melakukan pulbaket sembilan komponen intelstrat, diantaranya adalah komponen ekonomi.

Peran intelijen yang juga menganalisis perekonomian dunia dan khususnya Indonesia akan menjadi salah satu masukan bagi Presiden Jokowi dalam pengambilan keputusan. Intelijen menilai ekonomi dari sisi kekuatan, kemampuan bertahan serta kelemahan (kerawanan) yang ada.

Dari hasil analisisnya, intelijen akan memberikan masukan dan saran dari sudut pandang keamanan serta resiko dan bahaya yang diperkirakan akan muncul. Hasil kajian BIN jelas komprehensif, karena dengan adanya jaringan di Luar Negeri (KBRI), BIN bisa mendapat informasi cepat dan akurat dari beberapa mitra intelijen negara lain. Dalam era globalisasi, buruknya kondisi perekonomian sebuah negara akan bisa mempengaruhi perekonomian negara lain. Hingga kini beberapa pengamat serta media menyatakan bahwa perekonomian Indonesia sedang mengalami penurunan, walaupun bila diamati, para ekonom belum secara resmi menyatakan signal bahaya.

Disinilah peran intelijen yang independen dan netral dalam memberikan input kepada kepala negara. Karena itu dibutuhkan kepemimpinan dengan pola pemikiran intelijen strategis. Sebagai contoh penurunan perekonomian, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin menyampaikan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2015 tumbuh 4,71 persen secara tahunan (yoy) turun 0,18 secara kuartal (qtq). “Pertumbuhan ekonomi negara tujuan ekspor Indonesia seperti Tiongkok dan China, harga minyak yang masih rendah, dan kinerja ekspor impor yang menurun, ketiga hal tersebut pengaruhi kinerja ekonomi di triwulan I-2015,” katanya. Dari beberapa sumber, secara umum penulis mendapat informasi (belum menjadi intelijen), bahwa secara macro situasi dunia ekonomi Indonesia untuk periode 2015 s/d 2016 mengkhawatirkan.

Dalam enam bulan pertama belum ada tanda positif yang realistis dari pemerintah baik Fiskal maupun Monetary Policy. Dari sisi fiskal, pemerintah harus mengurangi pengangguran melalui pendapatan negara. Dari sisi kebijakan moneter, yang harus diantisipasi isu naiknya bunga US Fed paling cepat bulan September. Dengan terjadinya penurunan nilai rupiah terhadap dolar AS, Bank Indonesia menjadi terkunci dalam kebijakan penetapan bunga bank. Bila diturunkan, ekonomi bergerak tetapi rupiah melemah, bila naik, rupiah akan menguat tetapi dunia usaha akan tambah sulit.

Pandangan lain menyebutkan, umumnya penyebab depresiasi mata uang terkait dengan faktor internal. Apabila kondisi fundamental ekonomi di sebuah negara memburuk, pasar akan kehilangan kepercayaan terhadap mata uang negara tersebut akibatnya nilai tukarnya turun. Apabila kondisi ekonomi Indonesia memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap impor, depresiasi mata uangnya akan merugikan. Barang-barang impor menjadi lebih mahal bagi para importir. Pada akhirnya neraca perdagangan akan mengalami defisit dan inflasi akibat kenaikan barang impor menjadikan daya beli rakyat berkurang.

Pada akhirnya memburuknya kondisi ekonomi akan makin menurunkan nilai tukar rupiah. Kondisi ini pernah dialami oleh Zimbabwe di mana hiperinflasi menyebabkan nilai tukar dollar Zimbabwe melorot habis-habisan (selasar.com). Beberapa pengamat memprediksi sampai akhir tahun nilai rupiah terhadap dolar akan menyentuh Rp 14.000,- Yang berbahaya apabila terjadi kepanikan seperti masa lalu, bukan tidak mungkin. bahkan ada yang memprediksi rupiah bisa menyentuh Rp 16.000,- Dampak buruk diperkirakan akan terasa enam bulan hingga awal 2016. Beberapa menyarankan dilakukan perbaikan pengelolaan perekonomian dan mungkin reshuffle?.

Oleh karena itu tantangan berat Bang Yos adalah bagaimana menyikapi permasalahan perekonomian sebagai insan intelijen non ekonom. Disini dibutuhkan sense of economic, berat memang.

Penulis melihat signal Marciano persoalan perekonomian Indonesia harus dijaga jangan sampai runtuh, karena dari pengalaman terdahulu, keruntuhan ekonomi bisa berimbas kepada komponen lain intelijen, misalnya keamanan (stabilitas). Kepala BIN mengingatkan tantangan ketiga yaitu masalah pilkada serentak yang akan dilaksanakan akhir tahun 2015. Pilkada adalah ranah politik, dimana dari pengalaman pilkada yang lalu, selalu terjadi timbulnya rasa tidak puas mereka yang kalah. Lantas, bagaimana apabila terjadi kekisruhan dan konflik meluas sebagai akibat pilkada? Inilah yang perlu diwaspadai oleh Sutiyoso.

Penulis tertarik dengan pernyataan Wapres Jusuf Kalla. Dalam sambutannya di pembukaan seminar nasional pra muktamar Muhammadiyah ke-47 di Universitas Muhammadiyah JK menyinggung soal jatuhnya pemimpin negara dari kursi presiden. Menurut JK Presiden bisa jatuh disebabkan oleh faktor ekonomi dan politik yang terjadi secara bersamaan. Ia mencontohkan, kondisi ini terjadi saat masa pemerintahan Soekarno dan Soeharto. “Rata-rata semua presiden jatuh itu karena dua hal, krisis ekonomi dan politik. Bung Karno jatuh karena harga bensin dan beras naik. Susah kita. Kemudian diikuti politik. Presiden Soeharto juga sama harga-harga naik dan kemudian krisis politik. Ya jatuh,” kata JK.

Menurutnya, pemerintah pun akan jatuh jika krisis ekonomi dan politik terjadi bersamaan. Namun, pemicu utama lengsernya sebuah pemerintahan, kata JK, lebih disebabkan oleh faktor ekonomi ketimbang faktor politik. Namun JK menilai masa pemerintahan Jokowi – JK saat ini pun masih aman. “Insya Allah, aman lima tahun. Kami selalu berusaha memperbaiki ekonomi dan politik,” kata JK. (Fatnews, Yogya 7/3).

Nah, dari beberapa informasi serta fakta-fakta yang berlaku, pemerintah sebaiknya memang harus lebih waspada terhadap potensi terjadinya krisis ekonomi yang bisa mengimbas bidang lainnya. Apa yang disampaikan Wapres dan Kepala BIN mengarah kepada kesimpulan yang sama. Waspadai krisis ekonomi dan waspadai pesta demokrasi Pilkada pada akhir 2015, yang justru bisa menjadi mala petaka. Kesalahan pengambilan keputusan bisa saja menyebabkan Pak Jokowi jatuh, seperti kisah Pak Harto dan Gus Dur.

Pertanyaannya, apakah lantas presidennya Pak JK? Intinya, intelijen (BIN) sebagai back bone negara akan sangat besar perannya dalam menjaga dan mengamankan stabilitas di Indonesia. Sutiyoso harus mampu menunjukkan kepada Presiden Jokowi bahwa dia memang calon yang terbaik dan mumpuni. Berat memang tantangan Sutiyoso. Intelijen selain cerdas juga harus cerdik, ini yang dipunyai Bang Yos, salam penulis.

Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Analis Intelijen www.ramalanintelijen.net

About admin

Check Also

Jokowi Menggiring Indonesia Masuk Skema Kapitalisme Global WB-IMF

Presiden Republik Indonesia yang ke-7, Jokowi kembali unjuk gigi dalam kemahirannya beretorika. Retorikanya berbunyi seperti ...