Monday , October 15 2018
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Tabiat Alamiah

Tabiat Alamiah

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Seorang murid sedang berkendara tiba-tiba dimaki oleh seseorang : ‘Monyet kamu.’ Sang murid marah dan spontan menjawab : ‘Anjing kamu.’ Tanpa disadari mereka sedang menyebutkan sifat binatang yang ada pada dirinya sendiri. Berbeda dengan yang dialami oleh guru kami tercinta Syaikh. Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya), beliau pernah dimaki dengan sebutan nama binatang, beliau hanya tersenyum dan tidak tampak perubahan pada wajahnya, karena cacian dan pujian sudah sama saja baginya. Beliau membalasnya dengan melontarkan pujian kepada sang pemaki. Ditanya alasannya oleh seorang murid, beliau menjawab : ‘Saya memujinya, karena ia telah mengungkapkan sifat alamiah yang tersembunyi didalam diri saya yang telah lama saya cari.’ Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk bercerita tentang caci maki dengan menyebut nama binatang, melainkan menjelaskan sifat-sifat jiwa alamiah atau tabiat alamiah yang ada pada diri manusia.

Tuhan ingin diketahui, oleh karenanya Dia menciptakan makhluk. Dari segi bentuk dan bobot, manusia itu sangat kecil dibanding dengan seluruh ciptaan-Nya, tetapi Tuhan tidak ingin ciptaan-Nya terwujud sia-sia tanpa dapat diketahui oleh manusia, agar manusia dapat mengetahui tentang kekayaan pengetahuan-Nya dan menjadikannya saksi bagi seluruh makna ciptaan. Tetapi sekali lagi bahwa ciptaan itu sangat luas, bumi saja sangat lebar. Tidak mungkin manusia dapat berkelana ke seluruh ciptaan, mengingat masa hidup mereka yang pendek dan ketidakmampuan mereka menangani urusan-urusan ciptaan. Oleh karenanya potensi untuk mengenal Sang Pencipta dan seluruh ciptaan ditanamkan didalam akal, lalu Dia minta kesaksian atasnya ; ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Ya, kami bersaksi .’ (QS. 7: 172). Sehingga tampak secara jelas hubungan seluruh ciptaan dengan manusia, yang secara timbal balik akan saling mempengaruhi. Jika kondisi manusia dalam keadaan seimbang, maka alam semesta akan seimbang pula dan sebaliknya jika manusia penuh dengan amarah, rakus, tamak dan mendominasi maka alam pun akan mengikutinya. Sehingga jangan heran jika akhir-akhir ini banyak terjadi bencana alam yang dasyat, karena mengikuti keadaan kebanyakan jiwa manusia.

Manusia diciptakan pada tingkatan antara yang rendah dan tinggi, yang rendah seperti sifat tanaman dan hewan sedangkan yang tinggi seperti sifat malaikat. Dalam kaitan dengan kebutuhan makan dan minum agar tumbuh adalah tanaman. Dalam kaitan dengan gerakan mengikuti naluri dan syahwatnya adalah hewan. Dan dalam kaitan sifat kepatuhan dan kesucian adalah malaikat. Namun ciri khas manusia yang utama adalah adanya akal.

Beberapa hewan mencari keuntungan melalui kekejaman dan dominasi, seperti para hewan pemangsa. Sebagian mencari melalui bujukan, seperti anjing dan kucing. Sebagian mencari melalui kecerdasan, seperti laba-laba. Dan semua sifat-sifat ini ada pada manusia. Para raja dan sultan mendapatkan keuntungan melalui dominasi, para pengemis melalui permintaan dan kerendahan hati, para pedagang melalui kecerdasan dan persahabatan. Pendeknya, tidak ada hewan, mineral, tanaman, pilar, lingkaran langit, planet, konstelasi, atau benda apa pun yang memiliki suatu watak tanpa watak itu terdapat dalam diri manusia.

Mereka yang menggunakan seluruh indranya untuk meraih pengetahuan tentang Tuhan dan tauhid serta amal baik, serupa dengan para malaikat dan patut digabungkan dengan mereka di alam malakut. Sedangkan mereka yang mengalihkan aspirasi mereka untuk mengikuti kenikmatan-kenikmatan badaniah dan makan serupa dengan hewan dan tumbuhan. Persis seperti yang kita lakukan, pemarah seperti binatang buas, rakus seperti babi, tamak seperti monyet, banyak bicara seperti anjing, pendendam seperti burung gagak atau ular kobra, lambat seperti kura-kura, sombong seperti burung merak, atau pandai berkelit seperti kancil.

Perumpamaan sifat manusia seperti binatang terdapat dalam Al Qur’an :

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu,  tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. (QS. al-A’raf (7) : 176)

Sedangkan yang menyerupai sifat malaikat adalah :

وَقُلْنَ حٰشَ لِلّٰهِ مَا هٰذَا بَشَرًا إِنْ هٰذَآ إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ

Maha sempurna Allah, Ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain adalah malaikat yang mulia“. (QS. Yusuf (12) : 31)

Orang-orang yang ingin memasuki alam malaikat atau alam malakut atau alam kesucian tidak ada jalan lain kecuali harus berperang melawan diri mereka sendiri, perang suci melawan jiwanya atau menentang kecenderungan tabiat alamiahnya, suatu peperangan yang tidak mengenal jalan damai. Perang yang Rasulullah saw menyebutnya sebagai tidak ada peperangan yang lebih besar dari pada perang melawan dirinya sendiri atau disebut sebagai perang akbar. Sebab mereka mendapati jiwanya sebagai musuh agama. Bagaimana mungkin orang yang mempunyai tekad memasuki alam kesucian berdamai dengan musuh agamanya ?

Source: Tasawuf Kemurnian Islam

About admin

Check Also

Iwak Telu Sirah Sanunggal: Simbol Tarekat Cirebon

Ketika masuk dalam kompleks Keraton Kacirebonan dan Keraton Keprabon kerap terlihat simbol-simbol yang terpampang, salah ...