Sunday , August 19 2018
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Syukur yang Sejati, Bukan untuk Tuhan

Syukur yang Sejati, Bukan untuk Tuhan

Orang Jawa bilang, ”sukurlah… atau untunglah …”, terutama ketika kebaikan diperoleh atau terhindar dari suatu musibah yang lebih besar, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Perkataan seperti ini merupakan ungkapan reflektif yang menunjukkan rasa lega, puas, senang, dan rasa terima kasih kepada Yang Maha Kuasa.

Sebagaimana halnya ketika seseorang mendapat kenaikan pangkat/jabatan, anak lulus ujian, membeli mobil baru, atau selamat dari kecelakaan, secara reflektif berucap ”alhamdulillah”. Semua itu dalam bahasa agama dinamakan ”syukur”, meskipun masih dalam tingkatan syukur bersyarat (parsial), yaitu syukur sebagai akibat atas sesuatu atau kondisi tertentu yang lebih baik.

Namun, tentu saja, bukan berarti buruk atau salah. Sebab, sebagaimana Ar Raghib al Isfahani menulis dalam “Al Mufradat fi Gharib Al Quran”, bahwa syukur itu mengandung “gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan”. Ini sesuai dengan firman Allah, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebut (Qs. ad Dhuha 11). Nabi Saw. pun juga bersabda, “Allah senang melihat bekas nikmat-Nya dalam penampilan hamba-Nya” (HR at Tirmidzi).

Hanya saja, rasa syukur semacam itu relatif lemah dan  tidak tahan lama. Bahkan seringkali tidak benar-benar bersyukur dengan tulus melainkan hanya sekadar ungkapan rasa puas sesaat. Karena itulah, Quraish Shihab ketika menafsirkan firman Allah, “Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku” (Qs. al Baqarah 152) menjelaskan bahwa ayat ini mengandung perintah untuk mengingat Tuhan tanpa melupakannya, patuh kepada-Nya tanpa menodainya dengan kedurhakaan. Syukur orang demikian lahir dari keikhlasan kepada-Nya, dan karena itu, ketika iblis menyatakan, “Demi kemuliaan-Mu, aku akan menyesatkan manusia semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlish (berhati tulus) di antara mereka” (QS Shad 82-83). Bahkan iblis menyatakan pula, “Dan Engkau (Allah) tidak akan menemukan kebanyakan dari manusia bersyukur” (Qs. al A’raf 17). Ini artinya, bahwa hanya orang-orang yang tulus hatinya saja yang bersyukur.”

Kenyataannya, kita sering mendengar seseorang mengeluh seraya berkata, ”saya sudah melakukan shalat lima waktu, bahkan shalat malam pun sering saya lakukan, dan saya pun sudah berdo’a, tetapi mengapa hingga detik ini rejekiku masih ’seret’ saja. Sementara temanku yang tidak pernah shalat, bahkan selalu melakukan kemaksiatan malah diberi rizki yang berlimpah ruah! Sungguh Tuhan tidak adil terhadapku”. Ungkapan seperti ini hampir mirip dengan yang diungkapkan Allah Swt. dalam al Qur’an,

فَأَمَّا الإنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ، وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

”Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, ”Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya, maka dia berkata, ”Tuhanku menghinakanku” (Qs. al Fajr 15-16).

Lain halnya dengan tingkatan syukur yang tak bersyarat atau syukur yang menyeluruh (holistik). Yaitu syukur yang tidak terikat pada situasi dan kondisi, serta menyatu dan menjadi identitas diri. Maka syukur yang demikian ini akan membuat seseorang memiliki mentalitas berkecukupan (abudance mentality) dan menghilangkan mentalitas kekurangan (scarcity mentaity). Tentu saja, jika seseorang itu selalu sadar bahwa karunia dan nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya tak terhingga jumlahnya. Kemudian mereka selalu bersyukur atas karunia dan nikmat-nikmat-Nya itu. Barangkali inilah yang dimaksud oleh Quraish Shihab, bahwa syukur dapat diartikan sebagai penyebab dan dampaknya, sehingga kata “syukur” mengisyaratkan “Siapa yang merasa puas dengan yang sedikit maka ia akan memperoleh banyak, lebat, dan subur”. Ini sesuai dengan janji Allah,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah nikmat-Ku untukmu, dan bila kamu kufur, maka sungguh siksa-Ku amat pedih” (Qs. Ibrahim 7).

Lalu, bagaimana syukur yang hakiki itu? Ibnu Qayyim al Jauziyah dalam Tahdzîb Madârij al Sâlikîn menjelaskan bahwa hakikat syukur kepada Allah itu adalah tampaknya bekas nikmat Allah pada lisan sang hamba dalam bentuk pujian dan pengakuan, di dalam hatinya berbentuk kesaksian dan rasa cinta, dan pada anggota tubuhnya dalam bentuk patuh dan taat.

Beliau juga menjelaskan, bahwa syukur itu mempunyai lima pilar pokok, yang apabila salah satunya tidak terpenuhi maka syukur menjadi batal dan dianggap belum bersyukur. Lima pilar syukur itu adalah kepatuhan orang yang bersyukur kepada Pemberi nikmat, mencintai-Nya, mengakui nikmat dari-Nya, memuji-Nya atas nikmat-Nya dan tidak menggunakan nikmat yang diberikan-Nya untuk sesuatu yang tidak Dia suka.

Dengan demikian, syukur yang hakiki itu harus merupakan integrasi dari tiga sisi, yaitu [1] bil qalbi (syukur dengan hati), yaitu berupa kepuasan atas anugerah-Nya; [2] bil lisan (syukur dengan lisan), yaitu dengan mengakui anugerah-Nya seraya memuji pemberi-Nya; dan [3] bil af’al (syukur dengan perbuatan), yaitu dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahan-Nya. Dan ini dilaksanakannya tidak hanya bergantung pada situasi dan kondisi, melainkan telah menyatu dan menjadi identitas diri sebagai seorang hamba yang telah menikmati karunia Allah yang jumlahnya tak terhingga tersebut.

Sungguh tidak akan merugi orang yang bersyukur terus menerus. Sebab al Qur’an secara tegas telah menyatakan bahwa manfaat syukur itu kembali kepada diri orang yang  bersyukur tersebut. Sedangkan Allah Swt. sama sekali tidak memperoleh bahkan tidak membutuhkan sedikit pun dari syukur makhluk-Nya. Sebagaimana Firman-Nya:

 وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri, dan barangsiapa yang kufur (tidak bersyukur), maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya (tidak membutuhkan sesuatu) lagi Maha Mulia” (Qs. an Naml 40).

Karena itu pula, Quraish Shihab menuturkan bahwa manusia yang meneladani Tuhan dalam sifat-sifat-Nya, dan mencapai peringkat terpuji, adalah yang memberi tanpa menanti dan berharap ucapan terima kasih atau syukur sebagai balasan dari yang diberi. Sumangga! ** Wallahu A’lam bish shawab.

Oleh : H. Asmuni Syukir

  • Jombang, 17 Maret 2012, Majelis Ta’lim & Bengkel Hati Al-Qolam
  • Artikel ini pernah dipublikasikan dalam Buletin Al-Qolam

About admin

Check Also

Kau Kira Kau Segala-galanya bagi Umat

Biasanya Sudrun memang mendadak datang di bilik saya lewat tengah malam. Ia mengingatkan agar saya ...