Sunday , April 21 2019
Home / Agama / Sunni-Syiah Itu Bersaudara, Al-Qur’annya Satu

Sunni-Syiah Itu Bersaudara, Al-Qur’annya Satu

Sunni-Syiah Itu Bersaudara, Al-Qur'annya Satu“Silahkan buka tas saudara, kami periksa.”

Sejak awal, memang saya agak ragu kalau bertemunya masjid, apalagi di hari Jum’at. Tidak sebagaimana di Indonesia, penjagaan dan pengawalan bagi para jama’ah shalat Jum’at di beberapa kota besar di Iran super ketat. Sebelum memasuki masjid, para jama’ah harus bersedia di periksa dan digeledah barang bawaannya. Bukan tanpa alasan mereka melakukannya. Iran dipenuhi dengan cerita dan kisah-kisah tragis mengenai ulama-ulama dan cendekiawan mereka yang harus meregang nyawa oleh serangan kelompok anti revolusi yang bahkan tidak segan-segan melakukannya di masjid sekalipun. Cerita terakhir dipenghujung tahun 2010 mengenai Dr Majid Shahriari, salah seorang pakar nuklir Iran yang menjadi korban peledakan bom. Mobil yang dikendarainya meledak setelah sebelumnya diberi bahan peledak oleh kelompok anti revolusi Islam. Karenanya, sampai hari ini pengawalan dan penjagaan ketat bagi orang-orang penting Iran masih terus dilakukan. Termasuk menjamin diantara jama’ah shalat tidak ada yang membawa sesuatu yang membahayakan, terutama bagi Khatib Jum’at yang memang termasuk deretan ulama-ulama besar.

Tidak menemukan sesuatu yang asing dari tas punggungku yang cuman berisi mushaf saku, charge HP, dua buku pelajaran dan kertas-kertas kosong, mereka beralih memeriksa tubuhku. Mujtaba yang telah diperiksa lebih dulu sebab hanya membawa mushaf saku dan satu buku pelajarannya, hanya tersenyum melihatku digeledah.

“HP bisa dibawa masuk, tapi mohon untuk dimatikan.”

Saya bernafas lega. Saya sempat khawatir kalau HPku disita dan terlarang masuk areal masjid.

“Maaf, memang di Iran seperti ini, untuk shalat Jum’at harus digeledah dulu.” Mujtaba menjelaskan.

“Iya saya tahu.” Jawabku sambil membenahi isi tas yang telah diobrak abrik. Saya sudah berkali-kali mengalaminya. Bahkan untuk memasuki kampus sendiri harus digeledah, ketika kampus kedatangan tamu penting, pejabat penting kenegaraan atau ulama besar. Bagi warga Iran, shalat Jum’at bukan sekedar ibadah ritual tiap pekan, namun juga semacam pertemuan politik karena para khatib selalu mengobarkan semangat perjuangan Islam dalam khutbah-khutbah Jum’atnya. Mungkin karena itulah shalat Jum’at sangat sensitif dan rawan sabotase. Penjagaan diperketat jangan sampai ada diantara jama’ah yang membawa bahan peledak.

Masjid besar yang berada satu areal dengan kompleks pemakaman Sayyidah Fatimah Maksumah ini meskipun baru jam 10 pagi namun telah cukup berisi banyak jama’ah. Memang untuk bisa mendapat tempat di shaf-shaf terdepan, harus datang lebih awal. Sebab di Iran, pelaksanaan shalat Jum’at di pusatkan di satu masjid untuk satu kota besar. Jadi wajar, jika setiap shalat Jum’at, jama’ah meluber sampai ke jalan-jalan sebab kapasitas masjid tidak mampu menampung jama’ah yang jumlahnya sampai puluhan ribu orang. Sambil menunggu, jama’ah yang sudah ada biasanya mengaji, membaca buku, mengulang pelajaran sekolah atau sekedar mengobrol.

Untuk kepentingan wawancara ini, sayapun mencari tempat di sudut masjid yang masih kosong. Saya janjian dengan Mujtaba dua hari sebelumnya. Karena tidak ada pilihan hari lain, sebab esoknya, di kampusku telah memasuki musim ujian. Juga sangat tidak memungkinkan melakukan wawancara ke rumahnya, masyarakat Iran mentradisikan keluar rumah di malam Jum’at dan hari Jum’at. Jadi meskipun merupakan hari libur, namun hari Jum’at bagi masyarakat Iran adalah hari yang penuh aktivitas dari malam hingga keesokan harinya. Malam Jum’at mereka isi dengan pembacaan do’a dan zikir bersama di masjid-masjid, keesokan harinya, sekitar pukul 07.30 pagi mereka kembali berbondong-bondong ke masjid buat membaca do’a Nudbah berjama’ah. Sekitar pukul 10 pagi, secara serentak mereka menuju ke Haram Sayyidah Maksumah untuk persiapan shalat Jum’at berjama’ah. Menariknya, kaum perempuan Iran juga turut melaksanakan shalat Jum’at.

“Boleh dimulai wawancaranya?”, kataku memecah keheningan setelah Mujtaba menuliskan biodatanya di kertas kosong yang saya berikan.
“Silahkan”

“Oh iya, tidak apa saya aktifkan HP? wawancara ini harus saya rekam.”
“Iya tak apa, asal jangan sampai ketahuan petugas masjid.” Matanya memandang sekitar. Tampak beberapa petugas berkeliaran, mewaspadai siapa saja yang dilihatnya.

HP saya letakkan di sisi tas, agar tidak mudah kelihatan.
“Mujtaba, kamu hafal berapa juz Al-Qur’an?”
“Saya hafal 30 juz.”
“Menurutmu, Al-Qur’an itu bagusnya di hafal atau dipelajari?”
“Menurutku dua-duanya. Al-Qur’an harus dipelajari dan dihafal.”
“Tetapi bukankah dalam Al-Qur’an tidak ada perintah buat menghafalnya?”
“Setahu saya memang tidak ada. Namun perintah untuk senantiasa membaca dan mentadabburinya ada. Dan menurut saya, cara untuk bisa senantiasa membaca dan mentadabburinya adalah dengan menghafalnya. Orang yang menghafal Al-Qur’an bisa membacanya kapan dan dimana saja dan pentadabburan atasnya bisa lebih mudah dilakukan dibanding yang tidak menghafal.”

“Kamu sejak kapan menghafal seluruh Al-Qur’an?”
“Saya menghafal keseluruhan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan tahun ini.”

“Kapan kamu memulainya?”

“Saya memulainya sejak awal memasuki SD, sewaktu berumur 6 tahun. Namun karena tidak memiliki jadwal yang teratur dan metode yang tersistematis, sampai kelas 2 SMP saya menghafal tidak sampai 15 juz. Baru setelah menjelang naik kelas 3 saya tertarik dengan program kelas khusus Jamiatul Qur’an, yaitu program hafal 30 juz Al-Qur’an dalam setahun. Sayapun mendaftar dan dinyatakan lulus untuk mengikutinya. Karenanya dalam setahun itu, saya terpaksa harus meninggalkan sekolah dan total berkosentrasi dengan program Jamiatul Qur’an tersebut. Alhamdulillah, setahun itu, meskipun belum menghafal total seluruh Al-Qur’an, namun setidaknya saya bisa melanjutkan sendiri sisanya yang tinggal sedikit. Berkat taufik dari Allah Azza wa Jalla, pelajaran yang saya tinggalkan selama setahun bisa saya susul dalam 2 pekan. Sehingga tetap bisa mengikuti ujian akhir. Setelah itu, memanfaatkan liburan musim panas, saya melanjutkan hafalan, dan berhasil menghafal keseluruhan Al-Qur’an, pada bulan Ramadhan tahun ini.”

“Jadi sekarang kamu kelas berapa?”
“Saya telah menyelesaikan SMP dan tahun ini kelas pertama saya di Madrasah Rusyd.”

“Apa itu SMA?”
“Iya, bisa dibilang setingkat SMA, tapi bukan SMA, melainkan Hauzah Ilmiyah dibawah bimbingan Ayatullah Mizbah Yazdi.”

Saya mengangguk. Kubiarkan dia menghela nafas sejenak. Seorang petugas masjid berlalu di belakang kami.
“Soal lainnya, apa kedua orangtuamu juga penghafal Al-Qur’an?”
“Bukan. Keduanya memang tidak menghafal Al-Qur’an, namun banyak berperan dalam proses penghafalan saya.”

“Apakah menghafal Al-Qur’an keinginan kamu sendiri, atau saran orang tua?”

“Benar-benar murni keinginan saya sendiri, yang Alhamdulillah kedua orangtua saya mendukungnya. Sebelum kami sekeluarga ke Qom, di kota kami sering diselenggarakan musabaqah hafiz Al-Qur’an. Bukan hanya hafiz dari Iran, namun juga dari beberapa negara lainnya, seperti Tajakistan. Namun saya ragu dan lupa, apa waktu itu ada hafiz yang berasal dari Indonesia atau tidak. Yang pasti, saya begitu tertarik melihat para hafiz tersebut melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an lewat hafalannya tanpa harus membaca mushaf. Setiap ada penyelenggaraan musabaqah hafiz Al-Qur’an bisa dipastikan saya selalu menontonnya, dan saya pun bertekad ingin seperti mereka.”
“Sampai akhirnya, dalam sebuah majelis Al-Qur’an pada malam Milad Imam Hasan Mujtaba, saya bertemu Ayatullah Hadi Syirazi, salah seorang ulama besar yang menjadi imam Jum’at Syiraz dan wakil Rahbar di Syiraz. Saya menyampaikan keinginan kuat saya kepada beliau untuk juga bisa menghafal Al-Qur’an. Beliaupun menyarankan agar saya belajar di Hauzah Ilmiyah Qom dan menghafal Al-Qur’an di kota tersebut. Tahun itu juga, saya bersama ibu saya untuk pertama kalinya ke kota Qom, dan bertemu dengan Sayyid Husain Thabathabai. Beliaupun mengajak saya untuk belajar di Jamiatul Qur’an. Saat-saat itu benar-benar sangat membahagiakan saya. Tanpa membuang waktu, tahun itu juga saya ikut program menghafal 30 juz Al-Qur’an dalam setahun.” Lanjutnya.

“Terus ayah kamu bagaimana?”
“Ayah saya seorang guru. Karena saya ikut di Jamiatul Qur’an di Qom, beliapun akhirnya mengurus kepindahan ke Qom, dan akhirnya kami sekeluarga sekarang menetap di kota ini.”

“Pekerjaan ibu kamu apa?”
“Ibu saya sebelumnya juga guru, bahkan kepala sekolah di sebuah sekolah khusus perempuan. Namun beliau memutuskan sepenuhnya menemani saya selama mengikuti program penghafalan Al-Qur’an. Di rumah beliau selalu membantu saya dalam pengecekan hafalan.”

“Jadi sekarang ibu kamu tidak bekerja lagi?”
“Iya, beliau sepenuhnya ibu rumah tangga.”

“Setiap hari libur, apa saja yang kamu kerjakan?”
“Saya tidak bisa memberikan jawaban pasti, sebab aktivitas saya setiap libur selalu bermacam-macam. Terkadang sekedar mengecek hafalan, atau mencoba menghafal do’a-do’a ziarah Jamiatul Kabir ataupun saya ikut kursus kaligrafi dan sebagainya. Yang pastinya, saya selalu berusaha hari liburpun saya melakukan yang bermanfaat dan positif.”

“Terus, cara dan metode kamu menghafal Al-Qur’an seperti apa?”
“Seperti tadi, sayapun tidak punya jawaban khusus. Setiap orang punya caranya masing-masing, ada yang sekali baca bisa langsung hafal, sementara saya butuh 5-6 kali membacanya baru bisa menghafalnya. Metode yang saya gunakan dalam program setahun menghafal Al-Qur’an adalah metode klasik, sebagaimana yang umumnya orang tahu. Membaca berulang-ulang beberapa baris ayat Al-Qur’an, kemudian menghafalnya, dan baru pindah ke ayat selanjutnya setelah ayat sebelumnya telah benar-benar dihafal. Sebenarnya tidak ada yang lebih istimewa atau sesuatu yang baru yang diajarkan di Jamiatul Qur’an, namun setelah bergabung disana kita lebih berkosentrasi dan termotivasi untuk menghafal Al-Qur’an karena pengajar dan teman-teman di sana kesemuanya hafiz Al-Qur’an.”

“Kalau cara kamu agar hafalanmu tidak hilang?”
“Saya juga tidak punya tekhnik khusus, sekedar rajin-rajin mengulang dan mengecek hafalan. Kalau di sekolah dan asrama saya mengeceknya lewat bantuan teman saya, Jahandi. Kalau di rumah, dibantu oleh ayah atau ibu.”

Percakapan kami terhenti, beberapa pemuda, tampaknya siswa sekolah, duduk bergerombol tidak jauh dari kami. Mereka masing-masing membawa buku di tangan. Sesaat kemudian, mereka sudah asyik mendiskusikan pelajaran mereka.

“Mujtaba….” saya kembali bertanya, “Menurut kamu berbuat baik kepada kedua orangtua itu kewajiban atau bukan?”
“Iya kewajiban, banyak ayat dalam Al-Qur’an yang memuat perintah Allah untuk berbuat baik kepada kedua orangtua.”

“Bisa kamu tunjukkan dalam surah apa saja?”
“Misalnya dalam surah al Isra ayat 23, Allah SWT berfirman, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya.” Dengan satu ayat ini saja telah menunjukkan betapa pentingnya berbuat baik kepada kedua orangtua. Allah sampai menempatkan perintah berbuat baik di urutan kedua setelah perintah hanya melakukan penyembahan kepada-Nya.”

“Bisa kamu tunjukkan surah yang lain, kata kamu tadi banyak?”
“Letaknya saja ya. Kalau tidak salah, perintah untuk berbuat baik kepada kedua orangtua dalam Al-Qur’an kurang lebih berulang sebanyak 13 kali. Seperti dalam surah Al-Baqarah ayat 83, 180 dan 215.”

Setelah berpikir sejenak, ia melanjutkan, “Juga dalam An-Nisa ayat 36, An Naml ayat 10, An-Na’am ayat 151, Al Ahkaf ayat 15, awal-awal surah Al Ankabut kalau tidak salah ayat 8, dalam surah Luqman ayat 14, Ibrahim ayat 41,dalam surah Nuh ayat 28 dan surah Isra’ ayat 23 dan 24.”

“Atau saya perlu membacakan bunyinya juga?” tanyanya seketika.
“Tidak perlu, itu sudah cukup.”

“Apa kamu mengetahui tafsirnya juga?”, kembali saya yang bertanya.
“Belum, setahun kemarin, hanya murni menghafal. Untuk mempelajari tafsirnya butuh belajar 3-5 tahun.”

“Nanti kamu mau ambil bidang keilmuan apa?”
“Sampai sekarang saya belum memutuskan, sekarang masih belajar pelajaran-pelajaran dasar ilmu-ilmu hauzah. Nanti insya Allah bakal ketahuan sendiri bidang keilmuan mana yang saya minati.”

“Apa kamu tidak berminat menjadi ulama besar kelak, pakar tafsir Al-Qur’an misalnya?”
“Bagi saya tidak penting mau jadi apa kelak, ulamapun bukan sesuatu yang istimewa, yang terpenting adalah kita berkhidmat kepada masyarakat.”

Saya takjub mendengar jawabannya.

“Selanjutnya saya bertanya, selain Nabi Muhammad saww, diantara Anbiyah as lainnya, Nabi mana yang paling kamu kagumi riwayat dan kisah hidupnya.”
“Menurut saya semua kisah Nabi itu menakjubkan.”
“Iya, pilih salah satu, setidaknya yang paling berkesan menurutmu.”
“Nabi Ibrahim as.”
“Alasannya?”
“Ketulusan dan ketabahan Nabi Ibrahim as benar-benar sangat menakjubkan. Sampai Allah swt sendiri mengakui dan memberi maqam keimamahan kepada Nabi Ibrahim as. Bayangkan, putra yang dinanti-nantikannya baru di dapatkannya di usia yang sedemikian lanjut, namun setelah dididik dan dibesarkan, Allah malah memerintahkan untuk menyembelihnya. Kalau kita dalam posisi beliau, apa kita mau melakukannya?”

Saya hanya tersenyum. “Dalam surah mana kisah tersebut disebutkan?”

“Pada surah As-Saffat, sekitar halaman 449-450, saya lupa ayat keberapa. Salamun ‘alaa Ibrahim, salam sejahtera bagi Ibrahim.”
“Sekarang saya beralih kepada persoalan politik. Apa kamu tahu, mengapa Iran begitu membenci Amerika Serikat dan Israel?. Dalam setiap demonstrasi, masyarakat Iran tidak pernah lupa untuk menyebut, marg bar Amrika, marg bar Israel (kebinasaan buat Amerika, kebinasan buat Israel), apa alasannya?”

“Oh itu…” ia sedikit tertawa, “Bebinid, misalnya seperti ini, kamu punya rumah, kemudian ada tamu orang asing yang datang ke rumahmu. Tetapi ia datang dengan penuh kecongkakan, ia mengatur dan melarangmu untuk berbicara di rumahmu sendiri. Ia menguasai barang-barangmu, memintamu untuk menyerahkan ilmu dan apapun yang engkau ketahui, ia membuang apa-apa yang kamu sukai dari rumahmu dan memasukkan barang-barang yang tidak kamu sukai, kira-kira apa yang kamu lakukan?. Bagi orang yang berakal sehat, ia pasti berkata, siapa kamu? Laknat atasmu? Dan mengusir tamu yang tidak tahu diuntung itu. Seperti itu pula yang dilakukan warga Iran kepada Amerika Serikat yang sebelum revolusi telah menginjak-injak martabat dan harga diri masyarakat Iran dengan penjajahan politik, ekonomi dan budaya. Karenanya, kami begitu membenci Amerika. Kami membenci pemerintahnya dan sistem kezaliman yang berlaku di sana yang juga diterapkannya kepada Negara-negara miskin. Kami tidak membenci masyarakatnya, karena kami tahu diantara mereka juga ada orang baik, bahkan misalnya di Chicago, di New York banyak warganya yang muslim.”

“Kamu banyak tahu juga tentang Amerika?”
Ia tersipu, “Iya, sebelum menyukai ataupun membenci sesuatu, kita harus mengenalnya lebih dulu.” Katanya berfilsafat.

“Kalau Israel?”
“Tidak ada kata-kata yang baik buat Israel. Mereka zalim dan membunuhi rakyat Palestina yang tidak berdosa. Bahkan Imam Khomeini ra sendiri bilang, rezim zionis Israel harus terhapus dari peta dunia.”

“Terus mengenai kebencian kepada orang-orang kafir dan zalim, dalam surah mana Al-Qur’an berbicara tentangnya?”
“Diantaranya surah An-Nisa’, halaman 101 ayat 144, bismillah, yaayyuhal lazina amanu la tattakhidzuul kaafiriina auliyaa a minduunil mu’minin… dan beberapa ayat lain..ehm…” sambil berfikir.

“Tidak usah, sudah cukup.” Saya memotong.

Keluarga yang Berhijrah demi Ilmu

Tanggal 6 Murdad 1375 HS menurut kalender Persia atau 28 Juli 1996, 14 tahun yang lalu di kota kecil Darab di Provinsi Fars, sekitar 444 mil bagian selatan Qom ia dilahirkan. Terlahir di tengah keluarga yang mencintai ilmu dan pendidikan, Mujtaba Karsenash tumbuh menjadi anak yang cerdas dan gemar membaca. Kedua orangtuanya berprofesi sebagai guru di sekolah umum, ayahnya bernama Ali Asghar dan ibunya bernama Zahra Bigum. Sejak kecil, Iapun gemar turut serta dalam majelis-majelis ilmu ataupun penyelenggaraan perlombaan-perlombaan pendidikan. Perlombaan yang diminatinya adalah musabaqah Hafiz Al-Qur’an. Ia sampai merasa perlu bersama keluargany ke kota Shiraz, ibu kota Provinsi Fars, sekitar 189 mil dari kota kelahirannya sekedar untuk menjadi penonton musabaqah tersebut. Awal masuk sekolah dasar, iapun bertekad untuk bisa menghafal Al-Qur’an. Iapun mencoba menghafal sedikit demi sedikit dengan caranya sendiri. Menurut pengakuannya, menghafal tidak hanya butuh semangat namun juga konsentrasi dan jadwal yang teratur. Sampai ia duduk di kelas 2 SMP, sampai separuh Al-Qur’anpun tidak di hafalnya. Hingga akhirnya, waktu itu kotanya mendapat kunjungan istimewa dari Wakil Rahbar untuk Shiraz, Ayatullah Hadi Shirazy. Sebagaimana kebiasaannya mengikuti majelis-majelis ilmu, iapun bertemu dengan Ayatullah Hadi, dan menyampaikan keinginannya untuk menjadi hafiz Al-Qur’an. Ayatullah Hadipun menyarankan buat ia belajar ke kota Qom, sebab Qom lebih kondusif untuk menjadi pelajar agama, terutama buat menghafal Al-Qur’an. Beruntung, kedua orangtuanya mendukung ia untuk belajar ke Qom. Bahkan ayahnyapun berkat bantuan Ayatullah Hadi dapat dengan mudah mengurus kepindahan tugasnya mengajar ke Qom. Hanya saja, ibu Mujtaba harus rela meninggalkan pekerjaannya dan tugasnya sebagai kepala sekolah di sekolah khusus perempuan, sebab memutuskan untuk sepenuhnya menemani anaknya untuk meraih apa yang diimpikannya sejak kecil. Berkat tekadnya yang kuat, dukungan dan bantuan sepenuhnya kedua orangtuanya, Mujtaba dalam setahun sesuai dengan target program yang dia ikuti, berhasil menghafal keseluruhan ayat Al-Qur’an. Bukan sekedar menghafal, iapun fasih menyebutkan letak ayat-ayat tersebut dalam Al-Qur’an, nama surah, nomor ayat dan nomor halamannya. Bahkan menerjemahkan Al-Qur’an yang berbahasa Arab ke bahasa ibunya, bahasa Persia.

“Terus, adik kamu apa hafiz Qur’an juga?”, dalam kertas biografi yang saya minta ia isi, ia menuliskan, hanya punya seorang saudara, seorang adik laki-laki.
“Sekarang juga ia sedang sibuk menghafal, setahu saya sudah hafal 10 juz.”

“Usianya berapa tahun? Namanya?”
“Namanya Murtadha, umurnya 8 tahun. Sejak tahun lalu, ia juga masuk Jamiatul Qur’an.”

“Bagaimana hubungan kamu dengannya, apa kamu sering bertengkar?”
“Hubungan kami baik, hanya saja karena di Hauzah Ilmiyah saya harus tinggal di asrama jadi jarang bermain bersama lagi. Bertengkar pernah, tapi tidak selalu.”

“Apa yang kau lakukan jika adikmu melakukan kesalahan, atau curang dalam bermain, apa kamu memukulnya?”
“Saya sudah lupa apa pernah memukulnya atau tidak. Tapi meskipun marah, saya berusaha untuk menasehati saja, bukan memukulinya.”

“Apakah aktivitasmu mengulang-ulang hafalanmu setiap hari, tidak mengganggu pelajaranmu di Hauzah?”
“Mengapa harus saling menganggu? Menurut saya, pelajaran Hauzah adalah penjabaran dan penguraian dari ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga antara saya mengecek hafalan dengan pelajaran hauzah saling bersinergi. Kita belajar Sharaf, belajar Nahwu justru memperkuat hafalan, belajar aqidah, fiqh, mantiq dan sebagainya membuat kita semakin mudah memahami Al-Qur’an.”

Saya hanya mengangguk membenarkan.

“Sekarang, jika saya membaca satu ayat, apa kamu bisa memberitahu letaknya dimana?”, tanyaku berikutnya, sambil membuka mushaf sakuku.
“Insya Allah…”

Setelah membaca ta’awudz, saya baca ayat-ayat suci yang tertulis di mushaf yang berada di genggamanku.
“Itu surah al Ahzab ayat 31 halaman 422.” Jawabnya mantap. Saya mengangguk membenarkan. “Bisa kamu artikan?”
Dengan bahasa Persia, ia berkata (yang artinya) “Dan barang siapa di antara kamu (istri-istri Nabi) tetap taat kepada Allah dan RasulNya dan mengerjakan kebajikan, niscaya Kami berikan pahala kepadanya dua kali lipat dan Kami sediakan rezeki yang mulia baginya.”

“Kalau awal halaman 135?”
“Surah Al-An’am ayat 60, durust guftam (benar yang saya katakan)?”
“Iya, coba kamu baca?”

Ia pun melantunkan ayat yang saya maksud dengan bacaan yang fasih dan lancar.

“Oh iya Mujtaba, apa yang kamu kenal dengan Indonesia?” tanyaku sambil menutup mushaf.
“Sayang sekali saya tidak begitu banyak tahu, kecuali Indonesia itu ibukotanya Jakarta, dan Negara dengan penduduk muslim terbesar.”
Saya cuman tersenyum. “Kalau Malaysia?”
“Saya prihatin dengan yang terjadi baru-baru di Malaysia. Mengapa Syiah harus dimusuhi dan dibenci?.” Ternyata Mujtaba juga tahu, umat Syiah Malaysia yang mengadakan majelis duka Asyura pada 10 Muharram lalu digerebek dan dibubarkan secara sepihak. Media-media Malaysia secara besar-besaran menurunkan berita mengenai peristiwa tersebut sambil menyudutkan Syiah sebagai ajaran sesat dan dinyatakan sebagai aliran di luar Islam. “Perlu saudara-saudara Ahlus Sunnah mengetahui, bahwa kita bersaudara dalam iman, Al-Qur’an yang saya hafal dan baca adalah Al-Qur’an yang sama.”

Bacaan ta’awudz dengan pembesar suara terdengar seketika ke seantero masjid, dilanjutkan dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Saya lirik jam besar di dinding tengah masjid, jarum jam telah mendekati angka 11. Memang tidak lama lagi, waktu shalat Jum’at akan dimulai. Saya merasa sudah cukup, saatnya mengakhiri wawancara.

“Pertanyaan terakhir, Mujtaba apa pesanmu buat teman-teman di Indonesia?”

“Yang saya tahu Indonesia negara multi etnis, agama yang dipeluk penduduknya beragam, karenanya pesan saya jagalah persatuan yang ada, khususnya sesama umat Islam. Harus kita terima, sulit menyatukan mazhab-mazhab yang ada dalam Islam. Karena itu kebutuhan kita saat ini bukan penyatuan, melainkan persatuan. Kelemahan bukan karena kita berbeda, tetapi merasa benar sendiri dan tidak menerima yang lainlah yang melemahkan. Tidak perlu lagi ada dikotomi Sunni dan Syiah, kesemuanya bersaudara, sama-sama umat Islam, Al-Qur’an kita satu. Anda sendiri melihatnya, di negeri ini, saya hanyalah salah seorang diantara ribuan hafiz yang ada. Apa yang kami hafal, baca dan kaji sama dengan Al-Qur’an yang dicetak di Negara anda. Anda juga tengah berada di dalam masjid yang sebentar lagi dipenuhi orang-orang untuk shalat Jum’at berjamaah, yang pada hari yang sama juga dilakukan oleh umat Islam di negeri anda.”
Saya hanya mengangguk membenarkan. Saya tiba-tiba merasa kecil di hadapannya. Kalau bukan berhadapan langsung, sulit dipercaya, kata-kata yang bijak dan sangat dewasa ini keluar dari mulut seorang pemuda 14 tahun. Tampak ia masih mau melanjutkan pesannya, tapi alat perekam telah saya matikan. “Tak apa ya, jika saya potret?” HPku beralih fungsi menjadi kamera.
“Iya, tapi jangan sampai ketahuan.”

Dengan hati-hati saya memotretnya. Hanya tiga kali pengambilan gambar. Saya khawatir jika petugas sampai harus menyita HP karena tidak mematuhi aturan mereka.

“Mujtaba, saya benar-benar berterimakasih atas waktu yang kamu luangkan untuk wawancara ini.”
“Iya, sama-sama.” Kujabat erat tangannya.
Kubenahi tasku. “Apa anda tidak ingin bersama duduk di shaff depan?” tanyanya.
“Oh, maaf, saya harus keluar dulu, masih ada waktu sejam. Saya ingin membeli sesuatu. Saya khawatir tokonya tutup sehabis Jum’atan.” Ia mengangguk maklum.

Kujabat erat tangannya untuk kedua kalinya. Sekali lagi kuucapkan terimakasih.

Kutinggalkan masjid yang telah hampir dipenuhi jama’ah. Pesannya tadi masih juga terngiang, pasti ia mengucapkan pesan itu karena pengaruh pertanyaanku sebelumnya mengenai Malaysia. Iya, di era informasi yang seakan dunia bisa dilipat-lipat ini, sangat mengherankan, masih juga ada yang berkeyakinan bahwa Iran dengan warganya yang mayoritas Syiah mempunyai Al-Qur’an yang berbeda, bahwa mereka tidak menunaikan shalat Jum’at dan propaganda-propaganda negatif lainnya. Dari menara masjid yang menjulang tinggi, masih terdengar lantunan ayat suci yang menggetarkan, “Afalam yasiiruu fil ardi fatakuna lahum quluubun ya’qiluna bihaa…Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati mereka dapat memahami….” (Qs. Al-Hajj: 46)

**********

Wawancara ini setelah mengalami pengeditan seperlunya dimuat dalam buku “Bintang-bintang Penerus Doktor Cilik” terbitan Pustaka Iiman termasuk wawancara dengan Muhammad Husein Tabatabai (Doktor Cilik) setelah berusia 20 tahun dan dua hafiz cilik Iran lainnya.

Semoga bermanfaat;

Ismail Amin, Mahasiswa Program Studi Ulumul Qur’an, Mostafa Internationa University Republik Islam Iran

About admin

Check Also

Bukti Kongkrit Akidah wahabi-salafi adalah Akidah Yahudi

Para pembaca sekalian, mungkin banyak yang tidak mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya akidah wahabi-salafi, orang-orang ...