Sunday , July 21 2019
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Sufi: Penjaga Marwah Islam

Sufi: Penjaga Marwah Islam

Islam adalah sebuah agama yang akan terus berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Tapi ingat, bukan pada ajaran-ajaran pokoknya seperti yang termaktub dalam Quran dan Hadits, tapi pada praktek keagamaannya dan juga penafsiran-penafsiran terhadap teks. Mari kita lihat dalam aplikasinya, selama ini orang selalu mendengung-dengungkan Islam adalah agama rahmatan lil’alamin (rahmat bagi sekalian alam), Islam adalah segalanya, Islam adalah solusi. Tapi lihatlah realitanya, yang dilakukan pertama adalah penghukuman-penghukuman moral (moral punishment) dengan pemaksaan. Bukan  kesadaran, kecintaan dan rasa memiliki terhadap ajaran Islam yang dulu  dibangun.

Sehingga mendengar kata syariat saja, orang sudah “meledak” kepalanya, orang lari, orang ketakutan, karena takut dirazia, sehingga Islam yang  tadi seharusnya menyejukkan, orang merasa damai, tentram, tenang dengan ajaran Islam, berubah menjadi “momok” menakutkan. Mengapa ini terjadi? Karena yang dipraktekkan adalah Islam syariat, Islam hukum. Padahal aspek hukum itu hanyalah satu bagian kecil saja dari Islam keseluruhan yang lebih maha agung dan indah daripada hukuman itu sendiri. Oleh karena itu, masih banyak sekali dalil-dalil syariat yang harus kita “rajam” dan kita cambuk, sebelum orang-orang dihukum karena syariat.

Baru-baru ini, Walikota Lhokseumawe di Provinsi Aceh juga membuat peraturan yang melarang perempuan duduk ngangkang di atas kendaraan bermotor ketika berboncengan. Kita semakin heran dan tertawa, kenapa mesti ada peraturan seperti ini ketika Rasulullah berabad-abad yang lalu mengangkat harkat dan derajat perempuan menjadi mulia dan tinggi, kenapa direndahkan oleh peraturan yang dibuat manusia modern seperti Walikota tersebut?

Pertanyaan selanjutnya, apakah peraturan ini dibuat demi tegaknya syariat Islam? Makin lama makin aneh saja tingkah pemimpin negeri syariat. Tanpa sadar bermaksud menegakkan syariat, demi marwah Islam, tapi justru semakin mencoreng wajah Islam dan menciptakan aib bagi Islam. Beginilah kalau Islam dibangun dengan peraturan-peraturan, peraturan ngawur, yang mengatasnamakan agama. Padahal ayat Tuhan dijual dengan murahnya, dengan sebuah peraturan yang justru sangat tidak islami.

Di bagian lain, ketika mereka mempraktekkan hal-hal di atas, maka mereka dengan angkuhnya merasa merekalah pembela syariat sejati, merekalah penjaga marwah Islam. Lihatlah caranya menjaga marwah Islam : “Nahi Mungkar harus kita hilangkan dari bumi Allah, harus dengan kekerasan. “Allahu Akbar”, mari kita serang bar, diskotik.  “Allahu Akbar” mari kita hadang dan kita usir jamaat kristiani yang ingin beribadah. “Allahu akbar”, mari kita bumihanguskan jamaah Ahmadiah, mari kita cambuk orang sebanyak-banyaknya. Logika sehat dari data base mana yang bisa kita pakai untuk menilai bahwa tindakan-tindakan di atas adalah tindakan menjaga marwah Islam?

Dalam beragama, yang pertama harus disentuh, dibangun dan dipupuk senantiasa adalah cinta. Agama akan bermakna, akan membumi, akan menjadi rahmat, akan terasa menyejukkan adalah ketika cinta ada. Karena dengan cinta akan lahir rasa memiliki, keikhlasan, kerelaan dan semangat penghambaan. Dan Islam sejatinya adalah agama Cinta. Dalam setiap aktifitas kita selalu dimulai dengan kalimat “dengan nama Allah yang maha pengasih dan Penyayang”. Ini menandakan apa? Inilah semangat Islam sejati, dengan semangat kasih dan sayang inilah Islam akan tersemai, subur dan Indah, dengan praktek kalimah inilah marwah Islam terjaga, bukan dengan kekerasan dan pemaksaan.

Agama cinta adalah agama yang dipraktekkan para Sufi. Mereka selalu memulai segala sesuatu dengan cinta dan mengakhiri juga dengan cinta. Mereka selalu menisbahkan diri sebagai awan, yang senantiasa menaungi siapa saja, dan sebagai rumput, yang diinjak oleh siapa saja (ini menandakan rahmat semesta), jadi  sangat universal, sangat visioner, sangat humanis. Sufi tak pernah mendeklarasikan diri “kamilah pahlawan Islam, kamilah penjaga marwah Islam”, yang mereka terus kerjakan hanyalah, menyebar, menyemai dan terus memupuk cinta dalam qalbu setiap insan, dalam semangat manusia universal, tanpa batas.

Kaum Sufi masih menjaga agama autentik, agama orisinil Islam yaitu agama kasih dan sayang, bukan agama penafsiran yang hanya ditujukan untuk kepentingan tertentu. Sufi juga tidak mempraktekkan hukuman-hukuman moral dalam beragama. Ajaran sufi adalah melakukan segala praktek keagamaan dengan cinta dan kerelaan, tidak dengan pemaksaan. Sehingga ketika hati tersentuh, maka otomatis akan dipraktekkan, lalu tersebarlah Islam sebagai agama cinta, mengikis dan menghancurkan  Islam sebagai agama kekerasan dan agama hukuman seperti yang dipraktekkan selama ini, endingnya adalah wajah Islam terselamatkan, dari agama kekerasan menjadi agama santun dan lemah lembut. Jadi, siapakah yang sebenarnya menjaga marwah Islam?

Tuntutan kehidupan masa depan, tidak akan pernah bisa dibangun dengan kebencian, dan semangat “menghukum” moral, mengatur-ngatur moral masyarakat dan mengatur kebebasan berfikir masyarakat. Hari ini saja kita lihat, orang-orang semakin “banal” (bandel) dan semakin tidak mengindahkan ajaran-ajaran agama. Lihat saja berapa banyak fatwa yang dikeluarkan, mengharamkan pluralisme, sekularisme, liberalisme, tapi apa yang terjadi, terbitnya buku-buku tentang itu semakin menggunung, melebihi gedung MUI Pusat. Dimana-mana orang mendiskusikan itu, fatwa larangan merayakan tahun baru dengan hura-hura. Bakar petasan karena masuk kategori haram di Aceh, namun apa yang terjadi, ribuan orang tumpah ruah ke jalan, dimana marwah MUI, dimana marwah MPU Aceh?

Masyarakat sendiri yang mendelegitimasi (melunturkan) fatwa-fatwa tersebut secara terang-terangan, sekali lagi secara terang-terangan. Apakah ini tidak bisa menjadi mirror (cermin) bagi punggawa-punggawa agama dan pemimpin negeri ini, bahwa pendekatan selama ini kepada masyarakat harus dirubah, bahwa pendekatan selama ini bermasalah. Karena yang dibangun bukanlah agama cinta, tapi agama hukuman, agama larangan. Kalau ini terus dipraktekkan dan tidak dirubah, saya sangat yakin semua orang akan seperti Nietsze nanti, “mari bakar kitab” karena tidak ada gunanya lagi beragama, agama hanya membuat orang menderita dan agama Islam akan semakin dilecehkan  oleh umatnya sendiri, ingat OLEH UMATNYA SENDIRI !.

Akhirnya, semakin negara mengedepankan penghukuman moral, semakin setiap gerak kehidupan manusia sampai detail diatur oleh hukum-hukum syariat negara melalui Dinas Syariat Islam, MPU, MUI maka akan semakin menebar kebencian terhadap ajaran Islam sendiri. Menginginkan orang beragama demi tegakknya Islam tapi dengan cara kekerasan, pemaksaan maka itu bukanlah menjaga marwah Islam, tapi semakin melecehkan Islam, semakin melakukan penodaan terhadap ajaran Islam yang sejatinya adalah agama cinta, agama kasih dan sayang. Jadi, siapakah yang selama ini melakukan penodaan terhadap Islam dan siapakah penjaga marwah Islam sebenarnya? Berenanglah ke lautan tasawuf, mandilah di dalam air ma’rifatnya maka akan terpancar marwah Islam sebenarnya.

Oleh; Muhammad Jafar, Mahasiswa Pemikiran Islam Pasca Sarjana IAIN Ar-Raniry dan Pegiat di Sufi Institute

About admin

Check Also

Rumi: Mana yang Lebih Mulia?

SETIAP bangunan suci pasti didirikan dengan suatu tujuan tertentu. Sebagian dibuat untuk menampilkan kepemurahan pembangunnya. ...