Thursday , July 18 2019
Home / Agama / Thariqat/Tasawwuf / Sudahkah Anda Ber-Gairah ?

Sudahkah Anda Ber-Gairah ?

Semoga Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim senantiasa melimpahkan kasih dan sayang-Nya kepada kita semua, hamba-hamba yang senantiasa mencari kerindhaan-Nya. Hal terpenting dalam ibadah adalah mendapat ridha-Nya, mendapat perhatian-Nya dan tercurah segenap kasih-Nya kepada si hamba. Syarat utama untuk mendapat ridha-Nya tidak lain adalah mengenal Dia dengan sebenarnya kenal karena tidak mungkin Allah memberikan kasih sayang kepada orang yang tidak mengenal-Nya.

Begitu pentingnya Makrifatullah atau mengenal Allah sehingga Nabi mengatakan bahwa Awal Beragama adalah mengenal Allah, tanpa mengenal Allah, berpuluh tahun melaksanakan ibadah tidak terhitung sama sekali.

Mari kita renungkan dengan serius, sekian lama hidup di dunia apakah pernah kita meneliti dengan seksama ibadah-ibadah yang kita lakukan, apakah telah sesuai dengan keinginan-Nya, apakah kualitas ibadah tersebut seiring berjalannya waktu terus meningkat atau kita hanya mengulang-ulang ibadah yang kita dapat ketika sebelum akil baliq, ibadah yang diajarkan orang tua atau guru agama ketika kita masih anak-anak.

Shalat misalnya, hanya mengulang-ulang ritual yang telah kita ketahui sejak sebelum masuk SD, kemudia ibadah tersebut kita kerjakan sampai dewasa bahkan sampai tua tanpa sedikitpun ada perbaikan atau peningkatan kualitasnya.

Sebagian berpendapat syarat agar shalat menjadi khusyuk kita harus mengetahui makna dari bacaan dan menghayati dalam hati. Kalau ini ukuran khusyuk berarti orang Arab sudah pasti lebih khusyuk dari orang non Arab, kenyataan tidak seperti itu. Semakin paham Ayat yang dibacakan bisa jadi semakin mudah kita menghayal sesuai dengan apa yang disampaikan dalam ayat tersebut. Kalau kita membaca ayat tetang surga akan terbayang keindahan surga, lebih parah lagi terkhayal bidadari-bidadari cantik, lalu dimana bisa khusyuk?

Khusyuk adalah engkau lalai bersama Tuhanmu tanpa mengingat apapun selain Dia. Bagaimana kita mengingat kalau tidak mengenal? Bagaimana mengenal kalau tanpa ada yang mengenalkan?

Tentang kualitas ibadah saya membuat analogi seperti hubungan antara laki-laki dan perempuan. Ketika masih balita, anak-anak bermain dengan beda jenis begitu senangnya dan diantara mereka tidak ada yang berfikir dan terbayang bahwa suatu saat orang berbeda jenis tersebut akan timbul perasaan berbeda. Bocah laki-laki yang masih ingusan tidak akan pernah mengetahui kalau kelak anak perempuan sebagai kawan dia bermain adalah orang yang kelak menjadi pasangan hidup, jenis ini yang membuat dia jatuh cinta dan bergairah.

Setelah menginjak SMP (ada yang sejak SD) barulah ada getaran berbeda ketika melihat yang namanya perempuan, begitu juga sebaliknya. Dari mana muncul cinta, gairah dan rindu tersebut? Muncul seiring meningkatnya usia, sebagai karunia dari Allah agar manusia ini terus berkembang dan tidak punah. Jenis manusia yang sama yaitu perempuan yang semasa kecil main bersama bahkan mandi di sungai bersama tanpa ada perasaan aneh-aneh, dikemudian hari memberikan rasa berbeda. Ketika seorang jatuh cinta, melihat apapun yang berhubungan dengan yang dicintai menjadi bergairah bahkan hanya dengan melihat rumahnya.

Kenapa bisa bergairah karena antara laki-laki dan perempuan telah terangkan Hijab, batas yang bernama kekanak-kanakan dan bertajalli lah dewasa sehingga dunia ini pun terasa berbeda 100%.

Ibadah pun ada persamaanya dengan hubungan laki-laki dengan perempuan yang saya gambarkan di atas. Awal ibadah kita tidak merasakan apa-apa, hanya melaksanakan rutinitas semata. Kalau pun ada perasaan beda itu hanya bersifat ilusi, kadang ada dan lebih sering ilang. Ibadah hanya memenuhi kewajiban semata.

Saya merasakan bagaimana gairah shalat muncul pertama sekali setelah menekuni tarekat, setelah berumur 20 tahun dan andai saya tidak berguru kepada Guru Mursyid maka sampai sekarang bahkan sampai tua pun tidak akan muncul gairah sama sekali, sama seperti anak kecil tadi, mungkin karena idiot atau karena ada kelainan walaupun sudah tua tetap tidak mempunyai gairah kepada lawan jenis.

Gairah dimana air mata mengalir dengan sendirinya tanpa sebab ketika shalat, dada berdegub kencang ketika nama-Nya di dengar dan hati berdebar-debar ketika secara pelan menyebut nama-Nya dalam Qalbu, siang dan malam terus merasakan rindu membara. Saya hanya menemukan ini semua dibawah bimbingan Auliya Allah, orang yang telah berhampiran dengan Allah SWT.

Dalam kesendirian ketika sayup sayup terdengar bacaan Al-Qur’an terasa rindu bertambah-tambah dan ketika nama Muhammad disebut dalam ayat tersebut, kerinduan kepada Rasulullah tidak tertahankan, rasanya terlalu lama tiba waktu shalat, padahal hanya hitungan menit saja.

Kabar baiknya kalau manusia timbul gairah kepada lawan jenis tanpa harus ada yang membimbing karena bersifat alamiah seperti hukum gravitasi yang memang sudah ada, akan tetapi untuk muncul gairah kepada Allah, harus ada yang membimbing, harus ada kekasih Allah yang menuntun kepada Allah dan karena kedekatan terebut siang dan malam barulah gairah itu muncul secara perlahan dan terus bertambah kuat seiring berjalannya waktu.

Rasulullah SAW, junjungan kita adalah orang yang paling besar cinta dan gairahnya kepada Allah, seperti  doa Beliau “Ya, Allah, kumohon cinta-Mu dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu Ya, Allah, jadikanlah Cintaku kepada-Mu melebihi cintaku kepada diriku sendiri, terhadap kerluargaku Dan air yang dingin (saat kehausan”.  Kisah luar biasanya cinta Nabi kepada Allah sampai lupa nama istri tercinta bisa dibaca di tulisan saya  “Dahsyatnya Cinta Nabi

Diantara semangat melaksanakan ibadah dengan sebanyak-banyaknya, mengumpulkan ibadah siang dan malam, hal terpenting bukanlah banyak ibadah tapi kualitas. Nabi Bersabda, “Abu Bakar Mengungguli kalian bukan karena shalat dan puasa tapi karena sesuatu yang bersemayam di dalam dadanya”. Ribuan shalat tanpa ada getaran gairah cinta tidak akan bisa mengungguli satu rakaat ibadah dengan getaran cinta.

Selama ini kita sudah terbiasa dengan slogan “Sudahkah Anda Shalat?” maka saya menutup tulisan ini dengan pertanyaan, “Sudahkah Anda Ber-Gairah?”

Source: Sufi Muda

About admin

Check Also

Isra Mi’raj; Peristiwa Metamorfosa Akal

Isra Dari sebagian definisi pada umumnya, barangkali sedikit bisa kita “raba” tentang pengertian umum dari ...