Sunday , August 19 2018
Home / Agama / Kajian / Sikap Orang-Orang Kolot Terhadap Imam Khomeini ra

Sikap Orang-Orang Kolot Terhadap Imam Khomeini ra

mohonMohon jelaskan lebih banyak tentang sikap orang-orang kolot terhadap Imam Khomeini?

Saya benar-benar menentang sebagian teman-teman yang menganggap bahwa menjelaskan tentang keteraniayaan, kesusahan dan kesulitan Imam Khomeini ra di hauzah Qom dan Najaf secara terang-terangan menyebabkan jatuhnya wibawa dan keagungan pribadi Imam di mata para pendukungnya.

Menjelaskan tentang keteraniayaan Imam Khomeini ra bukan karena saya sebagai putra beliau. Bukan karena saya menyaksikan pelbagai kesulitan Imam di masa lalu. Bukan juga karena ingin menyampaikan duka dan membuat sedih hati para pecinta Imam. Bukan itu! Yang ada adalah masalah kewajiban. Ini adalah kewajiban bagi setiap orang yang berada pada arus peristiwa pra revolusi dan berada di tengah-tengah kejadian. Peristiwa pahit masa lalu harus kita sampaikan secara terang-terangan dan jelas kepada masyarakat terhormat yang  telah mengorbankan segalanya di jalan Imamnya (Imam Khomeini) dan menyerahkan anak-anak dan keluarga mereka, sehingga mereka bisa mengenal mana musuh dan mana teman dan  memahami dengan jelas segala bahaya yang mengancam jalan syuhada mereka.

Masyarakat kita dan generasi masa depan harus tahu bahwa kemenangan revolusi mereka tidak terjadi begitu saja dan tanpa mukadimah pada 22 Bahman tahun 1357 HS. Imam Khomeini tidak bangkit begitu saja pada tahun 1341 dan 1342 dan dalam beberapa hari masalahnya selesai dan mengalami kekalahan, kemudian pada tahun 1357 kembali muncul kesempatan dan mengalami kemenangan. Kemenangan politik pada 22 Bahman adalah hasil perjuangan panjang Imam Khomeini di medan yang benar-benar sulit melawan orang-orang kolot dan bodoh yang sok suci dan menjual agamanya demi dunianya. Diperlukan adanya sebuah revolusi yang lebih sulit dibanding dengan revolusi politik sehingga kekolotan yang ada harus dibasmi.  Pemahaman menyimpang akan Islam yang sudah merasuk ke dalam ranah agama harus dibersihkan. Serangan asing selama berabad-abad dan kebohongan yang dikaitkan kepada Islam yang murni harus dibersihkan. Pemikiran Islam murni Nabi Muhammad Saw harus disampaikan kepada generasi kontemporer yang haus dan lelah.

Lembaran masa-masa sulit dan meyusahkan yang telah dilalui Imam Khomeini ra sampai berhasil mencapai revolusi kebudayaan itu penuh dengan beragam kepahitan, kesakitan, tuduhan dan pengkhianatan dan sayang sekali lembaran-lembaran ini sampai saat ini tidak terbaca bahkan asing.

Sebuah jalan yang cukup sulit, panjang dan penuh dengan ribuan masalah dan kesulitan sehingga Imam Khomeini ra mampu menjaga panji merah perjuangan dan kebangkitan dalam arus peristiwa dan mengibarkannya di seluruh Iran yang Islam di kancah kebesaran Sepuluh Fajr Kemenangan 22 Bahman. Berdiri dan bertahan dihadapan para diktator dan pezalim seperti rezim Shah Pahlevi tidak bisa dibandingkan dengan medan perjuangan melawan puluhan pemikiran berkedok agama dan Islam yang menentang pemikiran Islam hakiki. Di medan perjuangan melawan rezim Shah Pahlevi maksimal ditahan, dipenjara, disiksa dan diasingkan atau menyerahkan darah di jalan kemerdekaan. Namun di medan melawan pemikiran berkedok agama dan Islam harus mengorbankan harga diri, harus menahan diri, harus bersabar dan diam demi mencapai ridha Allah agar bisa bertahan menghadapi pelbagai banjir tuduhan dan sindiran sehingga berhasil menghancurkan kekolotan, keterbelakangan, rasialisme dan kembali lagi menjadikan hauzah ilmiah sebagai pusat pergerakan Islam yang hakiki dan kembali lagi menciptakan santri yang komitmen sebagai pembawa paji kebangkitan dan Revolusi Islam sebagaimana yang selama ini tercatat dalam sejarah.

Ini semua bukan cerita heroik dan slogan. Ini semua adalah kenyataan dan kebenaran yang membutuhkan pengenalan bagaimana Imam Khomeini ra melewati jalan revolusi yang penuh liku-liku, panjang dan terjal. Imam Khomeini ra tidak bangkit begitu saja tanpa mukadimah pada tahun 1342 dan berteriak anti kezaliman dan dengan kematian para sahabatnya dan tekanan terhadap kebangkitannya, lalu di pengasingan beliau melanjutkan pelajaran, pekerjaan, kehidupan dan marjaiyatnya dan lima belas tahun berikutnya kembali lagi ke Iran dan membentuk pemerintahan Islam. Tidak. Tidak demikian.

Imam Khomeini ra berkata:

“Salah satu masalah yang harus dijelaskan kepada para santri muda adalah bagaimana di masa kekacauan di bawah pengaruh orang-orang sok suci yang tidak paham, polos dan bodoh, harus ada sejumlah orang yang bangkit mengorbankan jiwa dan harga dirinya demi menyelamatkan Islam, hauzah dan kerohanian. Kondisi tidak seperti saat ini. Barang siapa yang pada masa itu seratus persen tidak meyakini perjuangan, maka ia akan selamat dari tekanan dan ancaman orang-orang yang sok suci.”

Imam Khomeini ra dalam salah satu pidatonya menjelaskan tentang model pemikiran yang mendominasi hauzah dan masyarakat zaman itu:

“Mereka benar-benar melakukan propaganda dan ketika tahun pertama atau kedua saya datang ke Qom, kondisi di Qom sedemikian rupa dimana salah seorang talabeh (santri) di sana menjadi bahan ejekan masyarakat. Mereka mengatakan bahwa di rumah talabeh ini telah ditemukan koran. Mereka menganggap tabu ditemukannya koran di rumah seorang talabeh. Mereka mengatakan bahwa fulan talabeh adalah seorang politikus! Mereka mengejek talabeh tersebut. Propaganda yang mereka lakukan sedemikian parahnya sehingga bila seorang talabeh ingin ikut campur dalam urusan ini, maka ia takut menjadi bahan ejekan masyarakat dan pasti disingkirkan.”

Imam Khoemini ra berkata:

“Celakalah kita. Celakalah ulama yang diam. Celakalah Najaf yang diam ini. Qom yang diam ini. Tehran yang diam ini. Mashad yang diam ini. Diam yang mematikan ini membuat negeri kita dan keluarga kita terinjak-injak oleh sepatu Israel melalui orang-orang Bahai. Celakalah kita…sekarang diam berarti bekerjasama dengan pemerintahan despotik. Bapak-bapak! Sadarlah! Bangunkanlah Najaf! Lakukan protes! Apakah bila mereka tidak melakukan protes, lalu kita tidak punya kewajiban? Apakah kita akan tetap duduk diam dan hanya memandang apa saja yang dilakukan terhadap bangsa ini? Hanya pergi ke makam Amirul Mukminin as dan berdoa? Apakah yang demikian ini cukup bagi kita? Ataukah kita sedang hidup di bawah lindungan Islam dan Baitul Mal, namun tidak melangkah sama sekali untuk Islam? Ini adalah pandangan Islam! Bila kalian sebagai khalifah Islam, maka ajarkan Islam kepada masyarakat dan jangan katakan biarkanlah sampai Imam Zaman datang… Jangan berlogika seperti logika ‘Penguasa Khomein’ yang mengatakan maksiat harus disebarkan supaya Imam Zamam datang… Kalian jangan hanya duduk di sini melakukan kajian. Kalian di tengah-tengah masyarakat punya wibawa. Kaum muslimin menghormati kalian dan memuliakan kalian. Kewibawaan dan kemuliaan yang kalian miliki di tengah-tengah masyarakat ini tujuannya adalah mereka mengharapkan kalian untuk bangkit secara benar melawan kezaliman.  Kalian harus mengambil hak orang-orang teraniaya dari tangan pezalim. Mereka berharap kalian bangkit dan mencegah kezaliman. Kalian telah mendapatkan kedudukan, akan tetapi ketika kalian mencapai kedudukan, kalian tidak memenuhi hak-haknya. Kalian tidak menggunakan posisi kalian dan tidak melakukan apa-apa. Kalian juga tidak membantu mereka yang melakukan kewajibannya. Semangat dan kesenangan kalian adalah bila pezalim mendukung kalian dan menghormati kalian. Misalnya mengatakan, ‘Ayyuhasy Syeikhul Kabir!’ Lantas kalian tidak lagi berurusan dengan apa yang sedang menimpa bangsa dan apa yang sedang dilakukan pemerintah.”

Imam Khomeini ra berkata:

“Zaman dan tempat adalah dua unsur penentu ijtihad. Sebuah masalah yang pada zaman dahulu memiliki hukum, secara lahiriah boleh jadi menemukan hukum yang baru.”

Kami tahu bahwa Ayatullah Qadiri adalah teman yang sangat baik Imam Khomeini ra. Beliau di Najaf bersama Imam Khomeini dan kembali ke Qom juga bersama Imam Khomeini. Anda tahu tentang masalah surat. Di surat itu Imam Khomeini ra menulis:

“Kita harus berusaha supaya lingkaran kebodohan dan khurafat hancur sehingga kita sampai pada sumber mata air Islam Nabi Muhammad Saw yang jernih. Dan kini hal yang paling terasing di dunia ini adalah Islam. Untuk menyelamatkannya membutuhkan korban dan berdoalah semoga saya menjadi salah satu korbannya.”

Imam Khomeini ra telah menjadi korban jalan ini. Dengan perantara masyarakat Allah telah menyampaikan beliau pada sebuah posisi sehingga mereka yang kemarin mengatakan, “Najis…dan cucilah kendi itu!” Bila anak Imam Khomeini meminum air dengan kendi tersebut, sekarang tidak lagi bisa bicara. Ketika melakukan perjuangan, sejumlah orang mengatakan, “Imam Khomeini adalah antek Inggris.” Sejumlah orang lainnya mengatakan, “Imam Khomeini adalah antek Amerika.” Sejumlah orang di Najaf mengatakan, “Imam Khomeini tidak shalat.” Demi Allah mereka mengatakan, “Imam Khomeini tidak puasa dan memoleskan bubuk kunyit di mukanya supaya dibilang berpuasa.” Setiap sikap yang diambil oleh Imam Khomeini, pasti ditentang oleh sejumlah orang. Imam Khomeini menentang Shah Pahlevi. Beliau melakukan perlawanan terhadapnya. Imam diasingkan. Sejumlah orang mengatakan, “Memang bisa melakukan perlawanan terhadap raja yang Syiah?” Bila ini bukan kebodohan, lantas apa kebodohan itu? Mereka yang menutup matanya dengan kehodohan dan khurafat, merekalah yang menuduh Imam Khomeini tidak shalat, tidak puasa, berbohong dan lain-lain. Lihatlah ucapan Imam Khomeini yang menyedihkan ini yang mengatakan:

“Pada 15 Khordad 1342 HS tidak hanya menghadapi peluru senjata dan senjata otomatis Shah Pahlevi. Bila hanya ini saja yang harus dihadapi, maka menghadapi Shah akan menjadi mudah. Akan tetapi selain menghadapi Shah, dari dalam harus menghadapi peluru kelicikan dan sikap sok

About byHaqq

Pena adalah senjata yang lebih halus dari atom. Kadangkala terhempas angin, terbuang seperti sampah. Kadangkala terkumpul ambisi, tergali seperti ideologi. Manfaat dan mudharat pena adalah maqamatmu...

Check Also

Inilah Filosofi Wanita yang Harus Dimengerti Lelaki

Ini merupakan intisari dari ceramahnya Ustadz Riyadh Bajrey mengenai filosofi wanita dalam kajian dengan tema ...