Wednesday , December 12 2018
Home / Agama / Kajian / Sifat-Sifat Para Nabi dan Posisi Rasulullah (5)

Sifat-Sifat Para Nabi dan Posisi Rasulullah (5)

Tablig

Tablig (al-tablîgh)[1] adalah sifat ketiga yang dimiliki para anbiya. Jika Anda ingin memperluas pengertian tablig menjadi: “menyampaikan dan menjelaskan kebenaran Islam”; atau mengartikannya sebagai: “menyeru kepada yang baik dan mencegah dari yang mungkar’ (amar ma’ruf nahi munkar), maka hasilnya sama saja, sebab kedua pengertian itu sama-sama membuat Anda menjelaskan kebenaran agung yang menjadi salah satu di antara sekian banyak kebenaran yang berhubungan dengan kenabian.

Tablig adalah tujuan dari keberadaan setiap nabi. Kalau bukan demi melakukan tablig, pastilah diutusnya para rasul akan menjadi sia-sia dan tak bermakna. Melalui para nabi-Nya, Allah Swt. telah menunjukkan betapa besar kemurahan dan kasih sayang-Nya yang tercermin dalam kehidupan mereka. Tanpa tablig, semua anugerah Allah itu tidak akan dapat terefleksikan dengan baik pada umat manusia.

Demikianlah kasih sayang Allah tercermin dari matahari yang selalu tersenyum ketika terbit di pagi hari. Matahari yang menjadi penghangat bagi siapapun yang membutuhkan kehangatan, menjadi bahan bakar bagi yang ingin memasak, dan sekaligus menjadi tangkai kuas yang melukis keindahan semesta aneka warna.

Demikianlah pula halnya para nabi, khususnya Muhammad Saw. yang menjadi teladan paling utama bagi pengejawantahan ke-rahman-an dan ke-rahim-an (rahmâniyyah wa rahîmiyyah) Allah bagi manusia. Sosok yang Allah sendiri menyatakan: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS al-Anbiyâ` [21]: 107).

Kalau saja dakwah para nabi terdahulu tidak pernah datang dan tidak pernah diperbarui, pastilah rahmat Allah tidak akan dapat kita rasakan sehingga kita semua akan terus tersesat kebingungan di tengah sahara kebodohan, kekufuran, dan kesesatan yang mengerikan.

Ketika umat manusia terbenam dalam jurang kebodohan dan ketakutan, embusan nafas Rasulullah tiba-tiba mengetuk pendengarannya untuk memberi gairah hidup ke dalam jiwa manusia serta menyampaikan sabda para nabi terdahulu. Ketika itu terjadi, dunia seakan-akan berubah menjadi taman bunga yang indah memesona dengan jutaan kuntum bunga yang merekah dan ribuan bulbul bertengger di dahan pohon-pohonnya. Kalau itu tak terwujud, maka umat manusia pasti akan gila disebabkan ketakutan dan kesendirian yang mengepungnya.

Siapakah kita sebenarnya? Dari manakah kita berasal? Kemana kita kelak akan pergi?

Pertanyaan-pertanyaan membingungkan seperti itu terus menusuk-nusuk kepala kita seperti mata bor. Nyaris saja kepala kita pecah dibuatnya. Tak ada satu pun jawaban yang kita temukan, sehingga nyeri yang tak tertahankan itu harus terus kita rasakan sepanjang hayat. Dan ketika bayangan masa depan kita melintas di benak kita, yang terlihat adalah gambaran ketika kita telah berubah menjadi tulang yang teronggok sepi di lubang kubur. Di dalam lubang sempit bernama kubur itu kita bakal sendirian dicekam takut dingin gelap yang mencekik hingga relung jiwa. Ketakutan akan kebinasaan karena kematian yang terus mendekat detik demi detik. Ketakutan yang memerosokkan kita ke dalam neraka abadi tak berkesudahan…

Para nabi datang untuk mengajarkan kepada kita ihwal tujuan hidup dan hakikat kematian. Dari merekalah kita semua mengetahui bahwa kelahiran kita di dunia terikat pada satu tujuan; perpisahan kita dengan dunia pasti mengandung hikmah; kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan hanya perpindahan dari satu dimensi ke dimensi lain setelah kita pensiun dari tugas kita di dunia.

Dari para anbiya kita mengetahui bahwa liang kubur hanyalah sekedar tempat persinggahan yang menjadi gerbang menuju alam akhirat. Ketika kita mendengar semua itu dari para nabi, ketakutan kita pun langsung sirna dan kengerian yang mencekam mendadak berubah menjadi ketenteraman. Semua rasa takut musnah bersama segala keraguan yang menggelisahkan hati dan pikiran kita.

Semua nabi membawa risalah semacam itu kepada kita. Tablig yang mereka lakukan kepada kita adalah tujuan dari keberadaan mereka. Ketika kita tahu bahwa tablig menjadi kewajiban kita sebagai umat, maka para nabi menjadikan tablig sebagai tujuan yang akan membuat mereka mampu melihat hikmat di balik diutusnya mereka ke dunia.

Seakan-akan mereka berkata: “Tidak ada tujuan lain dari kedatangan kami ke dunia selain tablig. Allah telah mengutus kami kepada umat manusia agar kami mengusir gelap yang mengepung manusia dari segala arah: depan, belakang, atas, dan bawah; agar mereka semua dapat terus melangkah maju menuju jalan yang lurus tanpa harus menyimpang ke kesesatan, dan agar setan tidak dapat merasuki jiwa mereka untuk menyesatkan mereka dari jalan mereka yang lurus.”

Ya. Kita memang melaksanakan tablig sebagai kewajiban, sedangkan para nabi melaksanakan tablig sebagai tujuan dari keberadaan mereka, muara hidup mereka, dan rahasia penciptaan mereka.

Tiga Landasan Tablig

Tidak syak lagi, kedatangan para nabi dengan membawa risalah yang kemudian mereka sampaikan kepada manusia kebanyakan adalah sebuah hal yang berbeda dengan apa yang dilakukan oleh manusia biasa. Dalam hal ini, para nabi memang sama sekali berbeda dengan semua manusia selain mereka. Di tengah tablig itulah mereka mengajari kita arti tablig dan bagaimana seharusnya tablig dilakukan. Tentu saja hal ini membentuk dimensi lain dalam tablig yang mereka lakukan.

1- Pandangan yang Komprehensif

Ketika para nabi menyampaikan risalah Allah, mereka menunaikan tugas tersebut secara lengkap mulai dari dasar-dasar, kaidah, dan jalan yang benar sebagai pribadi yang menguasai pengetahuan tentang risalah tersebut. Dari para nabi itulah umat manusia menerima risalah secara utuh dan bukan sepotong-sepotong, untuk kemudian umat manusia menerapkan risalah tersebut juga secara utuh tanpa dikurang-kurangi. Seiring dengan itu, sama sekali tidak ada sedikit pun, baik akal, rasionalitas, hati, dan perasaan para nabi yang keluar dari cahaya wahyu sebagaimana tidak ada dari semua itu yang mereka abaikan.

Hal seperti itu dapat terjadi karena posisi para nabi di depan wahyu adalah seperti mayat di tangan orang yang sedang memandikannya. Seakan-akan sang Wahyu bebas membolak-balikkan tubuh para nabi kemanapun semaunya sampai-sampai dapat dikataka bahwa para nabi selalu mengikuti kehendak dan keinginan Allah dalam semua perkara hingga urusan yang terkecil. Kondisi seperti inilah yang terjadi pada diri para nabi. Itulah sebabnya kita melihat para nabi begitu peka terhadap wahyu.

Dari penjelasan di atas kita dapat mengetahui bahwa tablig dan dakwah yang tidak sama dengan teknik tablig dan dakwah yang dipakai para nabi, pasti tidak akan berhasil mencapai tujuannya. Contohnya jika seseorang mengabaikan aspek rasionalitas dalam bertablig, pasti usahanya itu tidak akan mencapai hasil seperti yang diharapkan. Jika orang yang bersangkutan mengabaikan aspek emosional, maka itu juga akan melahirkan manusia yang berjiwa pasif. Apalagi jika orang yang bersangkutan keluar sama sekali dari patron wahyu, pasti ia tidak akan pernah dapat mencapai tujuannya.

Silakan Anda perhatikan semua ideologi buatan manusia yang berjalan di luar wahyu ilahi. Lalu perhatikan pula akhir dan jalan panjang tak berujung yang harus ditempuh oleh ideologi-ideologi tersebut.

Contohnya komunisme yang disokong oleh negara-negara miskin yang telah tertipu sekian lama. Komunisme adalah mimpi bagi banyak negara terbelakang yang tidak mampu menyelamatkan diri dari kehancuran meski telah banyak upaya reformasi, modifikasi, dan renovasi atas ideologi yang mereka anut. Padahal biasanya para tokoh yang menciptakan sebuah ideologi –baik komunisme maupun ideologi yang lainnya- selalu muncul bak seorang nabi palsu. Siapapun yang berupaya untuk menerapkan sistem buatan manusia pasti akan mengalami nasib yang sama dengan para penganut komunismu. Ya. Kelak cepat atau lambat mereka semua akan mengetahui bahwa ternyata mereka telah tertipu.

Dalam dakwah para nabi, peran akal, logika, dan emosi selalu berjalan seiring. Seorang nabi tidak pernah berpikir untuk mengeksploitasi perasaan umat manusia agar mereka mau melakukan demonstrasi jalanan. Seorang nabi tidak pernah asyik di tempat terpencil dengan berbagai teori kosong yang melarang rakyat beraktifitas atau melakukan kegiatan-kegiatan positif. Seorang nabi tidak pernah membuat umatnya menjadi massa anarkis yang memblokir jalan-jalan. Seorang nabi tidak pernah menghalangi luapan emosi umat. Seorang nabi melesakkan risalah Rabbnya ke dalam hati umat manusi serta menyulut semangat kerja untuk mengajak mereka naik ke lelangit kemanusiaan, melesat ke barisan saf para malaikat. Ketika menjelaskan masalah ini al-Qur`an berkata kepada Rasulullah: “Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata…’.” (QS Yusuf [12]: 108).

Inilah jalannya para nabi yang juga merupakan jalan akal, logika, dan hikmah. Di saat yang sama mereka juga tidak pernah mengabaikan perasaan, hati, dan nurani manusia. Semua pihak berperan di tempatnya masing-masing. Para nabi dan pengikut-pengikut mereka menyeru umat manusia ke jalan kebenaran dengan argumentasi yang tepat.

2- Tidak Menunggu Upah

Seorang nabi tidak pernah menunggu upah atas tablig yang dilakukannya, karena seorang nabi melaksanakan dakwahnya sebagai tugas dan tujuan hidup. Semua nabi memiliki semboyan: “…Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka…” (QS Yunus [10]: 72 dan Hud [11]: 29).[2]

3- Menyerahkan Hasil Akhir kepada Allah

Ketika seorang nabi menyampaikan dakwahnya, ia tidak pernah campur tangan atas hasilnya, karena nabi mengetahui bahwa tablig adalah tugasnya. Adapun hasil akhir, penerimaan umat, dan pencapaian tujuan diserahkan kepada Allah Swt.

Setelah pemaparan ketiga landasan tersebut di atas, sekarang kita akan membicarakan tentang esensi karakter tablig dan dakwah dalam lingkup kenabian. Selain itu kita juga akan membicarakan mengenai cara, teknik, dan strategi apa saja yang harus diterapkan oleh para dai ketika berdakwah. Yang paling kita harapkan dari semua ini adalah semoga Allah memperkenankan kita untuk dapat melaksanakan dakwah dengan cara yang Dia sukai dan Dia ridhai. Allah-lah yang telah menuangkan kerinduan untuk berdakwah ke dalam hati kita. Di tangan Allah-lah segala taufik jika Dia memang berkenan memberikannya. Hanya kepada Allah kita percaya dan menyandarkan diri.

Sebagaimana yang telah dikatakan sebelumnya, setiap nabi hanya memikirkan dakwahnya. Berapa banyak nabi yang telah berjuang seumur hidup untuk berdakwah tapi ternyata tidak ada seorang pun yang mau beriman.[3] Tapi toh mereka tetap tenang karena mereka telah menunaikan kewajiban tugas mereka. Tak pernah ada seorang nabi yang berkeberatan dengan hal itu. Tak pernah sekali pun muncul pertanyaan bernada sangsi dari mulut mereka semisal:

Kenapa aku gagal berdakwah? Kenapa tidak ada orang yang mau beriman? Kenapa segenap usahaku berakhir sia-sia? Kenapa aku selalu gagal?

Para nabi hanya memikirkan bagaimana menyampaikan dakwah. Itulah sebabnya, para nabi selalu memandang segala persoalan dengan penuh kesadaran untuk kemudian menunaikan tugasnya dengan baik. Adapun urusan keberhasilan atas dakwah, bukan menjadi bagian dari kewajiban para nabi. Urusan keberhasilan diserahkan kepada Allah. Sebuah ayat al-Qur`an menegaskan hal ini: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya…” (QS al-Qashash [28]: 56).

Berdasarkan hal ini, maka risalah yang diemban para nabi memiliki ciri khusus. Karena jika tidak ada seorang pun yang mau mengimani risalah tersebut, sang nabi yang bersangkutan tidak pernah merasa jemu, gelisah, tertekan, atau menyalahkan orang lain. Alih-alih berhenti, sang nabi akan terus berdakwah menunaikan tugasnya. Para nabi tidak pernah merasa bosan atau malas dalam berdakwah meski mereka harus menghadapi penghinaan dan caci-maki.

Karakter dakwah seperti itu hanya dimiliki para nabi, dan tidak akan mungkin dapat dilakukan oleh manusia biasa. Apalagi sering kita temukan saudara-saudara kita yang langsung patah arang ketika dakwahnya tidak berhasil baik. Sematang apapun seorang dai, pastilah ia tidak akan mampu melepaskan diri dari harapan agar dakwahnya berhasil. Dan ketika seorang dai tidak mampu mencapai sesuatu, terkadang dia akan menunjukkan rasa putus asa. Para nabi tentu tidak memiliki sifat putus asa seperti itu, karena mereka memiliki karakter yang berbeda dan istimewa.

Mari kita lihat Rasulullah Saw. ketika beliau menghadapi kesulitan besar di Perang Uhud. Pada saat itu beliau sama sekali tidak merasa kesal atau pun gelisah. Dalam perang itu Rasulullah mengalami patah gigi, bahkan ada beberapa mata rantai helm tempur yang menancap di wajah beliau, sehingga membuat Abu Ubaidah harus mengalami tanggal gigi ketika berusaha mencabut mata rantai itu dari wajah Rasulullah Saw.[4]

Meskipun darah membasahi wajah beliau yang mulia, tapi Rasulullah tetap berdoa untuk musuh-musuhnya: “Wahai Allah, berilah hidayah kepada kaumku karena mereka tidak mengetahui.”[5]

Dan ternyata memang setelah orang-orang kafir itu masuk Islam, mereka rela mengorbankan jiwa dan raga demi membela Rasulullah. Peristiwa ini dan beberapa peristiwa lain yang serupa telah menunjukkan kepada kita betapa lapang dadanya Rasulullah Saw.

Rasulullah dan semua nabi sebelum beliau tidak ada yang pernah menghadapi kejahatan dengan kejahatan. Alih-alih membalas, mereka selalu tabah memikul derita di jalan Allah tanpa pernah mengeluh.

Suatu ketika Nabiyullah Nuh as. berkata kepada kaumnya: “Nuh menjawab: ‘Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam’.” (QS al-A’râf [7]: 61).

Nuh as. berkata seperti itu kepada kaumnya sebagai tanggapan ketika mereka menuduhnya sesat sebagaimana yang termaktub di dalam al-Qur`an: “Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: ‘Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata’.” (QS al-A’râf [7]: 60).

Dan ternyata tuduhan yang ditujukan kepada para nabi tidak jauh berbeda dengan tuduhan yang sekarang kita hadapi… Kau sesat… Kau terbelakang… Kau hidup di masa kegelapan… dan sebagainya.

Nuh as. lalu berkata kepada kaumnya: “Aku sampaikan kepada kalian amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepada kalian, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian ketahui.” (QS al-A’râf [7]: 62).

Nuh berkata kepada kaumnya bahwa dirinya tidaklah sesat. Yang diinginkannya hanyalah menyampaikan nasehat dan menyelamatkan mereka dari kesesatan dan kekeliruan yang terus mereka jalani. Semua itu dilakukannya karena ia adalah utusan Allah yang diangkat menjadi nabi sebagai rahmat bagi mereka untuk menyampaikan risalah Allah serta memberi mereka cahaya dengan apa yang telah diterimanya dari Allah.

Seiring dengan berjalannya waktu, kekufuran tetaplah kekufuran. Tidak ada yang berubah padanya. Kita dapat melihat pula Nabi Hud as. berkata kepada kaumnya: “Hud berkata: ‘Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikitpun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepada kalian dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagi kalian’.” (QS al-A’râf [7]: 67-68).

Rupanya memang tak ada yang banyak berubah pada diri para nabi dan kaum mereka masing-masing. Tuduhan yang sama dan jawaban yang sama muncul sekali lagi. Semuanya serupa dengan sedikit perubahan susunan kata-kata.

Setelah kita membahas riwayat para nabi yang berhubungan dengan prinsip ini, sekarang mari kita simak apa yang dialami Rasulullah Saw. ketika Allah berfirman kepada beliau: “Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah.” (QS al-Muddatstsir [74]: 1-3).

Allah juga berfirman: “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan.” (QS al-Muzzammil [73]: 1-4).

Ayat ini berisi seruan Allah kepada Rasulullah:

“Wahai kau yang berselimut, waktu tidur sudah habis! Maka bangunlah untuk menyelamatkan orang-orang yang sedang berjalan di tengah kegelapan. Bangunlah dan sampaikanlah peringatan kepada orang-orang yang sedang tersesat jalan itu tentang ujung dari jalan sesat yang mereka tempuh. Jelaskanlah kepada mereka akibat yang akan muncul dari penyimpangan dan kesesatan. Setelah itu agungkanlah Allah dengan takbir yang akan menggetarkan jagad raya, agar semua manusia dan mendengar seruanmu.”

“Wahai kekasih yang berselimut di malam dingin. Tugas kenabian telah menantimu. Bangunlah dan sembahlah Tuhanmu. Kau telah diutus Tuhanmu. Tugas berat tengah menanti untuk kau laksanakan. Semua yang disampaikan-Nya harus kau sampaikan kepada umat manusia. Kau tidak mungkin melakukan semua ini tanpa pertolongan Tuhanmu. Kau takkan mungkin memungkasi semua ini tanpa ibadah kepada-Nya.”

Setiap nabi telah memproklamasikan diri mereka kepada umat manusia seperti yang dilakukan Rasulullah Saw., yaitu bahwa mereka datang untuk menyampaikan risalah tanpa berharap imbalan apa-apa; dan tanpa menautkan hati kepada sesuatu, mengandalkan seseorang, atau melirik kemewahan tertentu. Karena jika hal itu mereka lakukan, pastilah mereka akan kehilangan kejernihan pandangan. Para nabi terus menyampaikan wahyu Ilahi kepada manusia, sebab jika mereka tidak menyampaikan risalah yang terang itu, pastilah umat manusia akan tetap tenggelam dalam kegelapan sehingga mereka akan sulit dibedakan dengan binatang.

Allah telah menetapkan bahwa sejarah anak cucu Adam akan “diintervensi” oleh-Nya dengan diutusnya para nabi. Anda tentu tidak perlu bertanya betapa rusaknya suatu umat yang tidak diturunkan nabi kepada mereka. Kalau pun setelah nabi diutus ternyata manusia menolak memercayainya, maka pasti perbuatan mereka itu akan diperhitungkan kelak. Al-Qur`an menyatakan: “…dan Kami tidak akan meng`azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS al-Isrâ` [17]: 15).

Ayat lain menjelaskan: “Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (QS al-Qashash [28]: 59).

Pada langkah pertama, Allah Swt. mengutus para nabi. Jika kemudian ternyata manusia tetap ingkar walaupun para nabi telah menunaikan tugas mereka dengan baik, maka berarti mereka pantas mendapatkan hukuman dari Allah Swt.

Prinsip ini terus berlaku dari masa ke masa. Bahkan ketika Allah menghukum sebagian orang yang hidup saat ini, maka hal itu berhubungan dengan kaum mukminin, apakah mereka sudah –atau belum- menyampaikan risalah dengan baik. Siapa yang tetap keras kepala setelah mendengar seruan dakwah, tentulah pantas baginya untuk mendapatkan siksa.

Atas dasar inilah kemudian para nabi menggunakan semua strategi dan metode dakwah untuk menyampaikan risalah yang mereka emban tanpa pernah merasa jemu.

Al-Qur`an mengabadikan ucapan Nabi Nuh as. dalam ayat-ayat beriku ini:

Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinga mereka dan menutupkan baju mereka (ke muka) dan mereka tetap (ingkar) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam, maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhan kalian, –sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun’.” (QS Nuh [71]: 5-10).

Nabi Nuh as. berkata: “Wahai Tuhan, sesungguhnya aku menyeru kaumku di setiap malam dan siang. Aku telah mengetuk pintu rumah-rumah mereka. Tapi ternyata dakwahku itu hanya membuat mereka semakin jauh dariku. Mereka terus menentang dan enggan mendengar seruanku. Bahkan agar tidak dapat mendengar dakwahku, mereka menggunakan berbagai macam cara. Terkadang mereka menutup telinga dan terkadang mereka menundukkan kepala sambil bersembunyi di balik pakaian mereka seakan-akan mereka tidak melihatku.

End Notes:

[1] Secara literal berarti “menyampaikan”, penerj
[2] Lihatlah beberapa ayat ini: “…Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah…” (QS Hud [11]: 29); “Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.” (QS al-Syu’arâ` [26]: 109); “Katakanlah: ‘Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu’.” (QS Saba` [34]: 47).
[3] Al-Bukhari, al-Riqâq, 50; Muslim, al-Îmân, 374; al-Tirmidzi, al-Qiyâmah, 16.
[4] Al-Sîrah al-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam 3/84-85.
[5] Al-Syifâ`, Qadhi Iyadh 1/105; al-Bukhari, al-Anbiyâ`, 54; Muslim, al-Jihâd, 105.

Oleh: Fethullah Gülen

 

About admin

Check Also

Cinta Kepada Allah dan Cinta Kepada Manusia; Mungkinkah Dipadukan?

Nabi Muhammad Saww bersabda : “Barangsiapa yang tiada mengasihi manusia maka Allah-pun tiada mengasihinya!” (Kanz al-‘Ummal, ...