Wednesday , December 12 2018
Home / Agama / Kajian / Sifat-Sifat Para Nabi dan Posisi Rasulullah (4)

Sifat-Sifat Para Nabi dan Posisi Rasulullah (4)

Sifat Amanah Pada Rasulullah Saw

Sebelum segalanya bermula, Rasulullah Saw. adalah sosok yang terpercaya. Beliau sangat terpercaya atas risalah yang diberikan Allah Swt., sehingga sama sekali tidak mungkin untuk dibayangkan bahwa beliau akan menyelewengkan amanah ini. Beliau adalah yang paling terpercaya di antara semua makhluk, sehingga semua makhluk dapat menaruh kepercayaan dan bersikap tenang terhadap beliau, sebab Rasulullah telah menunjukkan betapa dahsyatnya kadar sifat amanah yang beliau miliki. Itulah sebabnya Rasulullah mampu menebarkan rasa percaya, ketenteraman, dan ketenangan ke dalam jiwa seluruh umat manusia. Di samping beliau juga mengajari kita tentang betapa pentingnya amanah dalam kehidupan kita.

Mari kita selisik lebih jauh…

A. Amanah dalam Menyampaikan Risalah

Allah telah memilih seorang manusia terpercaya untuk mengemban risalah-Nya. Sang manusia terpilih itu lalu menjalani seluruh hidupnya dalam atmosfer amanah tersebut, hingga mencapai derajat ketika sang rasul menerima wahyu, dia akan begitu berhati-hati agar tidak melewatkan sepatah kata pun dari apa yang disampaikan kepadanya. Sang rasul lalu mengulangi dengan cepat apa yang didengarnya dari Jibril agar dapat langsung menghafalnya dengan benar. Padahal saat itu Jibril belum menuntaskan bacaan wahyu yang disampaikannya. Sang rasul benar-benar khawatir dan bahkan gelisah ketika menerima wahyu karena takut salah, smpai-smapai al-Qur`an lalu mengingatkan: “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” (QS al-Qiyâmah [75]: 16-19).

Al-Qur`an memang merupakan amanah yang dititipkan kepada Rasulullah, dan rupanya beliau sangat khawatir kalau-kalau dirinya tidak dapat dipercaya untuk memikul amanah suci ini. Itulah sebabnya kemudian Alah menenangkan Rasulullah dengan menyatakan bahwa beliau adalah orang yang terpercaya dan akan tetap menjadi orang yang terpercaya.

Rasulullah telah menjalani seluruh hidup beliau di tengah samudera yang bergejolak ini. Rasulullah sangat mengetahui betapa beratnya amanah kudus yang beliau pikul. Itulah sebabnya kemudian beliau berusaha sekuat tenaga untuk menjadi orang yang terpercaya dalam mengembannya.

Demikianlah yang kita lihat pada peristiwa Haji Wada’, ketika Rasulullah menyadari bahwa perjalanan hidupnya akan segera berakhir. Pada saat itu dengan penuh kesadaran akan amanah besar yang diembannya, Rasulullah berkata kepada para sahabat bahwa mereka semua akan bertanggung jawab atas amanah yang mereka pikul.

Atas dasar kesadaran itulah Rasulullah lalu bertanya: ” Apakah aku sudah menyampaikan ini? Apakah aku sudah menyampaikan ini?” Semua yang hadits menjawab: “Ya.” Dan beliau pun menukas: “Wahai Allah, saksikanlah.”[1]

Ya. Amanah agung itu memang berasal dari Allah Swt., disampaikan oleh Jibril as. kepada Rasulullah Saw., lalu beliau tebarkan kepada umat manusia. Pada peristiwa Haji Wada`, Rasulullah ingin meminta kesaksian umat Islam sekali lagi bahwa beliau memang telah menunaikan amanah tersebut, sehingga beliau dapat kembali ke haribaan sang al-Rafîq al-A’lâ dengan tenang.

Di dalam berbagai kitab hadits yang muktabar terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah ra. yang berhubungan dengan amanah Rasulullah Saw. dalam menyampaikan risalah. Dia berkata: “Seandainya Rasulullah memang mau menyembunyikan sesuatu dari apa yang diturunkan Allah kepadanya, pasti beliau akan menyembunyikan ayat yang berbunyi: ‘Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: ‘Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah,’ sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti.’ (QS al-Ahzâb [33]: 37).”[2]

Ayat ini turun berkenaan dengan hak Zaid ibn Haritsah ra. yang oleh Rasulullah sempat diangkat sebagai anak, lalu beliau besarkan dan kemudian beliau nikahkan dengan sepupu beliau yang bernama Zainab binti Jahsy ra. Pada saat itu, rupanya Zainab bersedia menerima Zaid sebagai istri lebih dikarenakan kepatuhannya kepada Rasulullah, meski sebenarnya ia tidak suka menikah dengan Zaid. Demikianlah akhirnya mereka menjadi pasangan yang tidak cocok sehingga Allah memerintahkan agar Rasulullah menceraikan Zainab dari Zaid lalu menjadikannya sebagai istri.

Tentu saja perintah Allah itu terasa sangat berat bagi Rasulullah Saw. karena pada saat itu bangsa Arab menganggap anak adopsi setara dengan anak kandung, sehingga seorang menantu dari anak adopsi tetap dianggap sama dengan menantu dari anak kandung. Apalagi sebelumnya, ibunda Zainab –bibi Rasulullah- telah menawarkan agar Rasulullah menikahi putrinya tapi kemudian beliau tolak. Tapi Rasulullah tak dapat berbuat apa-apa dengan turunnya wahyu tersebut. Yang dapat beliau lakukan adalah melaksanakan perintah yang beliau terima dari Allah Swt. Itulah sebabnya kemudian Ummul Mukminin Aisyah ra. berkata: “Seandainya Rasulullah memang mau menyembunyikan sesuatu dari apa yang diturunkan Allah kepadanya, pasti beliau akan menyembunyikan ayat ini.” Tapi Rasulullah adalah sosok yang terpercaya atas setiap wahyu yang diturunkan kepadanya. Beliau tak mungkin menyembunyikan wahyu Allah meski hanya satu huruf!

Ada sebuah peristiwa lain yang terjadi pada Perang Badar yang dapat menggambarkan betapa sempurnanya sifat amanah yang dimiliki Rasulullah Saw.

Begini ceritanya…

Setelah beberapa orang prajurit Quraisy berhasil ditawan, Rasulullah meminta saran kepada Abu Bakar ra. dan Umar ibn Khaththab ra. tentang nasib para tawanan itu. Kala itu Abu Bakar ra. berpendapat agar semua tawanan itu dibebaskan setelah mereka membayar tebusan. Sedangkan Umar ra. berpendapat agar semua tawanan itu dihukum mati. Adapun pelaksanaan eksekusi diserahkan kepada kerabat yang telah memeluk agama Islam dari masing-masing tawanan itu agar tidak muncul balas dendam di kemudian hari. Tapi rupanya Rasulullah Saw. lebih cenderung bersepakat dengan pendapat Abu Bakar ra. yang menyarankan agar mereka dibebaskan dengan tebusan.

Sekarang mari kita dengar Umar ibn Khaththab menuturkan peristiwa ini secara lebih terperinci…

…maka Rasulullah lalu memilih pendapat Abu Bakar ra. tak menolak saranku. Tapi keesokan harinya, ketika aku mendatangi Rasulullah Saw. dan Abu Bakar ra., kudapati mereka berdua sedang menangis.

Aku pun bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa engkau dan sahabatmu ini menangis? Kalau memang aku harus ikut bersedih, maka aku akan menangis. Tapi kalau ternyata aku tidak harus ikut bersedih, maka aku akan berpura-pura menangis demi tangisan kalian berdua.”

Rasulullah menjawab: “Aku menangis disebabkan saran sahabatmu yang kemudian mengambil tebusan dari tawanan perang. Telah ditampakkan kepadaku siksa bagi mereka yang lebih dekat daripada pohon ini –sebatang pohon di dekat Rasulullah- Dan Allah telah menurunkan ayat: ‘Tidaklah patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kalian menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untuk kalian). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kalian ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kalian ambil. Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang‘ (QS al-Anfâl [8]: 69).” Dengan ayat ini Allah telah menghalalkan pampasan perang bagi umat Islam.[3]

Mari sekarang kita renungkan, kalau memang Rasulullah memiliki kecenderungan untuk menyembunyikan sebagian wahyu yang beliau terima, pastilah beliau akan menyembunyikan ayat ini. Tapi ternyata Rasulullah memang sosok manusia yang sangat terpercaya terhadap wahyu Allah. Pada bagian yang membahas kemaksuman Rasulullah, kita akan membahas kedua ayat tersebut di atas secara lebih rinci.

B. Sang al-Amîn di Hadapan Semesta

Selain terpercaya terhadap wahyu Allah, Rasulullah Saw. juga terpercaya di hadapan semesta. Karena sifat amanah telah tertanam di kedalaman hati dan jiwa beliau. Dalam peristiwa yang diriwayatkan oleh al-Zuhri dari Shafiyyah ra. istri Rasulullah Saw. ini, terkandung pelajaran yang luar biasa.

Al-Zuhri berkata: “Aku mendengar berita dari Ali ibn Husein ra. bahwa Shafiyyah ra. mengabarkan kepadanya bahwa dia mendatangi Rasulullah yang sedang beriktikaf di dalam masjid pada sepuluh hari akhir Ramadhan. Shafiyyah lalu berbicara sebentar bersama Rasulullah, lalu ia beranjak pulang. Rasulullah pun bangkit dan mengantar Shafiyyah pulang. Ketika Shafiyyah sampai di pintu masjid, di Pintu Umm Salamah, lewatlah dua orang Anshar yang langsung mengucapkan salam kepada Rasulullah. Rasulullah pun menyahut: ‘Tenang sajalah kalian, karena ia adalah Shafiyyah binti Huyayy.’ Kedua orang sahabat Anshar itu pun berkata: ‘Subhânallâh wahai Rasulullah.’ Rupanya hal itu benar-benar mereka anggap serius sehingga Rasulullah berkata: ‘Sesungguhnya setan merasuki manusia lewat aliran darah. Sungguh aku takut kalau ia melesakkan sesuatu ke dalam hati kalian berdua’.”[4]

Setan yang bergerak dalam tubuh manusia mengikuti aliran darah memang dapat memasukkan berbagai kebusukan ke dalam hati manusia. Meski mungkin peluang untuk itu sangat kecil: satu perseribu atau satu per satu juta. Dengan munculnya pertanyaan di dalam benak kedua orang sahabat yang melintas itu tentang siapakah gerangan wanita yang berdiri di samping Rasulullah, maka sebenarnya mereka sedang meletakkan kehidupan akhirat mereka yang kekal di dalam bahaya yang besar. Fal’iyâdzu billâh!

Itulah sebabnya kita melihat Rasulullah Saw. –yang menjadi teladan dalam kasih sayang- buru-buru turun tangan untuk membereskan masalah tersebut sehingga tampaklah betapa tingginya kadar amanah yang beliau miliki. Seketika itu Rasulullah langsung menyelamatkan iman kedua sahabat beliau itu.

Demikianlah bukti betapa besarnya perhatian Rasulullah terhadap amanah dan ketenganan. Hal ini tentu tidaklah mengherankan, sebab bukankah Rasulullah sendiri telah memiliki nama “al-Amîn” sebelum diangkat menjadi rasul?[5] Bukankah musuh-musuh Rasulullah sendiri mengakui sifat amanah yang beliau miliki?

Rasulullah memang sosok yang sangat terpercaya, sampai-sampai kalau Abu Jahal yang menjadi musuh besar beliau ditanya kepada siapa dia akan menitipkan harta miliknya, Abu Jahal pasti akan menjawab tanpa ragu bahwa dia akan menitipkannya kepada Muhammad Saw.

Ya. Tak pernah terbersit nama di dalam benak Abu Jahal yang lebih terpercaya dibandingkan Muhammad. Itulah bukti betapa tingginya sifat amanah yang dimiliki Rasulullah Saw.

Bukti lain yang menunjukkan bahwa Rasulullah adalah sosok yang sangat terpercaya adalah sebuah peristiwa ketika ada seorang ibu memanggil anaknya dengan berkata: “Kemarilah, ini ibu punya sesuatu.” Rasulullah yang melihat itu langsung menukas: “Apa yang akan kau berikan padanya?” Si ibu menjawab: “Aku akan memberinya sebutir kurma.” Rasulullah lalu berkata: “Karena kalau kau tidak memberi apa-apa, kau akan dicatat telah melakukan satu kebohongan.”[6]

Sikap yang Rasulullah tunjukkan itu tentu muncul karena beliau telah menyatakan bahwa dusta adalah salah satu tanda kemunafikan. Itulah sebabnya Rasulullah selalu berusaha sekuat tenaga untuk menjauhkan umat manusia dari dusta. Karena dusta adalah salah satu di antara tiga tanda kemunafikan. Dua yang lainnya adalah ingkar janji dan sifat khianat.[7] Sebagaimana halnya Rasulullah Saw. sangat jauh dari kemunafikan, beliau juga sangat jauh dari sifat khianat terhadap amanah.

Bahkan esensi sifat amanah bagi Rasulullah bukan hanya terbatas pada manusia, tapi menjangkau seluruh entitas semesta. Berikut ini sebuah riwayat dari Abdurrahman ibn Abdullah dari ayahnya, dia menuturkan:

Suatu ketika di saat kami sedang bersama Rasulullah dalah sebuah perjalanan, beliau singgah sebentar untuk buang hajat. Tiba-tiba saja kami melihat seekor burung hummarah bersama dua anaknya. Kami pun mengambil kedua anak burung itu sehingga si induk meronta-ronta. Sesaat kemudian Rasulullah muncul dan melihat induk burung itu sedang meronta. Beliau bertanya: “Siapa yang telah mengganggu anak dari induk burung itu? Kembalikanlah anak burung itu kepadanya.”[8]

Ya. Orang-orang yang memiliki sifat amanah dan terpercaya memang tidak pantas melakukan perbuatan seperti yang disebutkan dalam hadits tersebut di atas.

Demikianlah para Rasulullah yang menyerap cahaya kebenaran dari Rasulullah juga telah menjadi orang-orang yang terpercaya. Berikut ini adalah kisah Abu Ubaidah ibn Jarrah ra. yang menjabat sebagai gubernur Syam pada masa kekhalifahan Umar ibn Khaththab ra.:

Ketika Abu Ubaidah mendengar bahwa Heraklius tengah menyiapkan pasukan perang dalam jumlah besar untuk merebut kembali wilayah Syam, Abu Ubaidah hanya memiliki sedikit pasukan yang tidak mungkin dapat mempertahankan Damaskus. Pada saat itu Abu Ubaidah mengumpulkan penduduk Syam dan kemudian menyampaikan kepada mereka bahwa dirinya yang telah memungut jizyah untuk melindungi mereka, ternyata sekarang tidak mampu memenuhi kewajibannya itu. Maka pada saat itu juga Abu Ubaidah mengembalikan semua jizyah yang diterimanya dari kalangan non-muslim karena dia telah gagal melindungi mereka.

Setelah uang pembayaran jizyah dikembalikan, orang-orang non-muslim terheran-heran dengan sifat amanah yang ditunjukkan Abu Ubaidah. Maka lantas para pendeta Nasrani ramai-ramai mendatangi gereja dan kapel untuk berdoa agar kaum muslimin mampu mempertahankan kota dari serangan pasukan Heraklius. Ketika melepas keberangkatan pasukan muslim, para pendeta Nasrani itu berucap: “Semoga Tuhan mengijinkan kalian kembali lagi ke kota ini dan menyelamatkan kami dari kekejaman Heraklius!”[9]

Abu Ubaidah ibn Jarrah ra. telah menjalani hidupnya sebagai sosok terpercaya dan taat hingga namanya bersemayam indah di hati orang-orang Nasrani. Jika saat ini barat enggan mendengar dan memberi perhatian kepada kita, maka mari kita lihat kembali seperti apa tingkah kaum imigran muslim yang datang ke Eropa. Dosa yang mereka lakukan adalah dosa kita juga, karena mereka adalah anak-anak kita. Nama Islam begitu buruk saat ini sebab keterpercayaan dan sifat amanah begitu jauh dari kita. Jika kita dapat kembali memiliki sifat-sifat luhur ini seperti dulu, pastilah semua umat manusia akan kembali memercayai kita. Ketika itu terjadi, kita akan kembali dapat menikmati kesetaraan dalam pergaulan internasional untuk terus melangkah maju ke depan.

Sekarang mari kita selisik seperti apakah kiranya kualitas sifat amanah pada masa kekhalifahan Ottoman masih menguasai wilayah yang sangat luas. Setiap kali pasukan Ottoman melintas di dekat taman dalam perjalanan mereka menuju suatu medan pertempuran, mereka selalu menyantelkan berbagai macam buah-buahan yang mereka bawa di dahan-dahan pohon yang mereka lewati. Dengan cara itu, pasukan Ottoman berhasil menaklukkan hati penduduk wilayah yang akan mereka kuasai alih-alih menguasai mereka dengan kekuatan senjata.

Kalau bukan dengan cara yang elegan seperti itu, tidaklah mungkin bagi pasukan Ottoman untuk dapat menaklukkan sekian banyak negara Eropa lalu berkuasa di wilayah tersebut selama ratusan tahun. Apalagi saat itu di Eropa masih berkobar dendam warisan Perang Salib. Tapi sejarah membuktikan bahwa kekhalifahan Ottoman dapat menguasai semenanjung Balkan dan sebagian besar Eropa hingga empat abad lamanya. Semua itu adalah berkat sikap amanah seperti yang ditunjukkan Abu Ubaidah ibn Jarrah. Itulah sebabnya pasukan Ottoman berhasil memasuki gerbang kota Vienna dengan kerugian minimal di pihak mereka.

Di sepanjang masa kekuasan Ottoman di Eropa, mereka selalu menjadi contoh teladan penerapan sifat-sifat amanah dan terpercaya bagi penduduk Eropa. Saya yakin bahwa darah yang tertumpah demi menjaga keamanan di Turki setelah berdirinya Republik Turki, tidak pernah terjadi sepanjang lima abad kekuasaan Ottoman di Eropa yang terdiri dari bermacam-macam bangsa.

Ya. Berbagai riset menunjukkan bahwa jumlah prajurit yang syahid selama enam abad kekuasaan Ottoman dalam semua perang yang mereka lakukan ternyata jauh lebih sedikit daripada jumlah prajurit yang gugur dalam lima puluh tahun terakhir. Jadi, jika ada pendapat yang menyatakan bahwa kekhalifahan Ottoman hanya menggunakan kekerasan untuk menguasai Eropa, maka jelaslah bahwa pendapat itu salah. Apalagi jika mengetahui kualitas alat transportasi pada masa Ottoman yang sangat sederhana, pasti kita akan tahu bahwa di masa itu penguasaan atas suatu wilayah yang sangat luas tidak mungkin dapat dilakukan hanya dengan kekuatan senjata.

Ya. Inilah rahasia keberhasilan mereka yang pernah menyatukan berbagai suku bangsa di satu atap, di bawah pemerintahan tunggal selama berabad-abad tanpa pernah ada masalah serius yang terjadi. Rupanya para pendahulu kita itu berhasil menaklukkan hati rakyat Eropa sebelum segalanya dimulai. Jadi, adalah merupakan kewajiban bagi setiap dai masa kini untuk dapat menaklukkan hati umat manusia. Itulah satu-satu jalan untuk menaklukkan mereka.

C. Seruan kepada Umat untuk Bersikap Amanah

Selain menjaga wahyu ilahi dan risalah yang diembannya dengan sikap amanah, Rasulullah juga menyeru umat beliau untuk menciptakan sifat amanah di dalam diri mereka masing-masing. Rasulullah selalu berpesan agar setiap individu muslim menjalani hidup dengan amanah. Tidak ada toleransi terhadap sifat khianat, walau sekecil apapun juga. Itulah sebabnya Rasulullah melarang kita menggunjing saudara kita yang lain, meski hanya satu orang. Sebab menggunjing (ghîbah) akan dengan sangat cepat mengotori pelakunya sendiri sebelum sempat disadari.

Suatu ketika seorang perempuan menemui Aisyah ra. dan ketika perempuan itu beranjak pulang, Aisyah memberi isyarat dengan tangannya kepada Rasulullah -yang menunjukkan bahwa perempuan itu berbadan pendek- Seketika itu pula Rasulullah berkata: “Kau telah menggunjingnya!”[10]

Ketika peristiwa istri Maiz ibn Malik terjadi,[11] Rasulullah mengingatkan seorang sahabat untuk tidak mengumpat perempuan itu.[12]

Rasulullah sering merapalkan doa berikut ini: “Wahai Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari lapar karena ia adalah teman tidur yang terburuk; dan aku berlindung kepada-Mu dari khianat karena ia adalah pakaian terburuk.”[13]

Sebagaimana besarnya perhatian Rasulullah untuk menjaga sifat amanah, demikianlah pula perhatian beliau untuk tidak bersikap khianat. Ada sebuah pernyataan menakutkan dari Rasulullah berkenaan dengan orang-orang yang terperosok ke dalam jurang sifat khianat: “Ketika Allah telah menghimpun umat manusia dari yang awal sampai yang akhir di Hari Kiamat, bagi setiap pengkhianat akan diangkat sehelai bendera lalu malaikat berkata: ‘Ini adalah pengkhianat si fulan ibn fulan.”[14]

Roh dan hati Rasulullah selalu tertutup dari segala bentuk kerusakan dan kejahatan. Tapi keduanya selalu terbuka bagi setiap kebaikan walau sekecil apapun. Rasulullah menjalani kehidupan bagi kebaikan dan di dalam atmosfer amanah dan ketenangan, sehingga umat manusia dapat merasa tenang di bawah naungan beliau dan mempercayai beliau. Sungguh rugi siapapun yang berpaling dari Rasulullah, sebab beliau telah membentangkan sayap kasih sayang dan rahmat bagi umat serta siap menyambut siapapun yang mengetuk pintunya.

Selain hidup sebagai sosok terpercaya, Rasulullah juga selalu merasa tenang dan percaya sepenuhnya kepada Allah Swt. Sikap percaya kepada Allah inilah yang menjadi tangga menuju terbentuknya sifat amanah dan terperaya pada diri Rasulullah Saw. yang selalu mengembalikan segalanya kepada Allah Swt. Jadi, sifat amanah yang diturunkan dari hadirat Allah kepada Rasulullah itu kemudian mewujud dalam sifat amanah yang beliau miliki. Ketika “jarak dua busur”[15] itu mendekat, sifat amanah yang beliau itu pun semakin tajam dan menonjol.

Setiap nabi memang memiliki keistimewaan berupa sikap percaya kepada Allah (al-tsiqah bi-llâh) dan tawakal yang tinggi. Kedua sifat ini merupakan karakter pokok serta menjadi akhlak luhur yang harus mereka miliki. Beberapa ayat al-Qur`an telah menjelaskan sifat-sifat para rasul seperti ayat yang berbunyi: “Dan bacakanlah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya: ‘Hai kaumku, jika terasa berat bagi kalian tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepada kalian) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakkal, karena itu bulatkanlah keputusan kalian dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutu kalian (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusan kalian itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kalian memberi tangguh kepadaku.” (QS Yunus [10]: 71).

Seperti itulah Nabi Nuh as. berserah diri kepada Allah dengan segenap kepercayaan. Dia berkata kepada orang-orang kafir: “Jika kalian lari dariku dan dakwahku, maka lakukanlah apapun terserah kalian. Karena aku telah beserah dan percaya sepenuhnya kepada Allah. Jumlah kalian banyak sementara aku sendirian. Akan tetapi ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabaikan aku. Jadi silakan kalian berkumpul dan berembuk dengan semua begundal kalian untuk mencari cara melawan aku. Silakan kalian mengerahkan segala upaya untuk melawan aku. Karena aku dan Allah selalu menunggu apa yang akan kalian lakukan.

Dengan penuh percaya diri Nabi Nuh as. berani berkata seperti itu di hadapan kaumnya yang kafir, sebab dia memiliki kepercayaan yang bulat kepada Allah. Dengan pengetahuan yang telah mencapai ilm al-yaqîn, Nabi Nuh as. yakin bahwa Allah pasti akan melindunginya dari kejahatan manusia. Walaupun kita mengetahui berapa sebenarnya jumlah orang yang ikut menaiki bahtera bersama Nuh as., tapi kita mengetahui bahwa sebagian besar nabi –termasuk Ibrahim as.- adalah keturunan Nuh as. Berkenaan dengan hal ini Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh).” (QS al-Shaffât [37]: 83).

Hal yang sama juga dapat kita temukan dalam riwayat Nabi Hud as. Allah berfirman: “Hud menjawab: ‘Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku dan saksikanlah oleh kalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan, dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu daya kalian semuanya terhadapku dan janganlah kalian memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhan kalian. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus’. ” (QS Hud [11]: 54-56).

Al-Qur`an juga menyatakan bahwa Ibrahim memiliki sikap berserah diri secara total (al-taslîm al-muthlaq) kepada Allah Swt.: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: ‘Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah.’ (Ibrahim berkata): ‘Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali’.” (QS al-Mumtahanah [60]: 4).

Ya. Ibrahim dan orang-orang yang beriman kepadanya telah melihat panji-panji kekafiran dikibarkan kaum kafir. Mereka lalu berkata: “Kami jauh sejauh-jauhnya dari semua yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian dan mengingkari semua thagut kalian. Telah jelas permusuhan antara kami dan kalian sampai kalian mau beriman kepada Allah.”

Pada hakikatnya, “permusuhan” antara orang-orang beriman dan mereka yang menolak beriman telah dimulai sejak masa Adam as. dan terus berlanjut hingga hari ini. Penyebabnya adalah karena keimanan adalah musuh kekufuran; dan kekufuran adalah musuh keimanan. Jadi tidaklah mungkin kedua seteru itu saling berpadu atau bertemu pada satu tempat, karena kekufuran pasti akan berusaha mengenyahkan keimanan laksana kelelawar yang tidak dapat hidup dalam terang. Demikianlah kekufuran selalu susah menghadapi cahaya iman dan sinar kenabian. Itulah sebabnya para pengikut Ibrahim as. yang telah beriman berkata kepada kaum kafir bahwa selama mereka tidak mau beriman, bertawakal, dan berserah diri kepada Allah, maka permusuhan dengan mereka akan terus berkobar.

Kekufuran selalu menolak cahaya kebenaran karena di dalamnya terkandung penyimpangan dan penyakit. Seorang kafir pasti akan melihat segala sesuatu sebagai musuh. Sedangkan seorang mukmin selalu memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi. Setiap kali memandang dunia, seorang mukmin selalu melihat segalanya sebagai benih persaudaraan. Itulah sebabnya seorang mukmin selalu terbuka untuk berdialog serta mencari titik temu dengan semua pihak. Sementara itu, orang kafir selalu menikmati konflik dan permusuhan dengan siapapun. Kelak ketika semua orang beriman kepada Allah, perdamaian universal akan terwujud. Bayangan bahwa kedamaian seperti itu akan terwujud dari orang kafir dan kekufuran adalah sebuah pemikiran yang dangkal dan sesat. Karena kekufuran tidak pernah memiliki sumbangsih apa-apa bagi kemanusiaan selain penindasan dan permusuhan.

Jadi, tidaklah mungkin akan terwujud dialog sejati antara kaum mukmin dan kaum kafir. Adapun apa yang dikatakan Ibrahim kepada ayahnya, maka itu dianggap sebagai sebuah pengecualian. Apa yang diucapkan nabi agung itu hanyalah sekedar ungkapan kasih sayang yang muncul dari kecintaannya kepada ayahandanya. Meski kemudian Ibrahim menyatakan bahwa dirinya tidak akan dapat menjamin keselamatan ayahnya dari hukuman Allah. Ibrahim pun bermunajat: “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali’.” (QS al-Mumtahanah [60]: 4). Ungkapan ini menunjukkan besarnya rasa tawakal dan kepercayaan kepada Allah yang dimiliki Ibrahim as.

Jika kita mengulas kehidupan para nabi dan rasul, pasti akan terlihat jelas sifat-sfiat percaya dan tawakal kepada Allah yang mereka miliki. Tawakal yang dimiliki para nabi tidak sama dengan tawakal yang dimiliki orang kebanyakan atau individu tertentu. Jika tawakal yang dimiliki para nabi begitu istimewa, maka menurut Anda seperti apakah kira-kira tingkat tawakal yang dimiliki sang Sayyidul Anbiyâ`, Rasulullah Saw. sang Nabi Pamungkas?

Allah telah mengajari Rasulullah untuk berkata: “Hasbiyallâh… cukup Allah saja bagiku.” Sejak menerima pengajaran itu, Rasulullah pun menjalani hidupnya dalam ketenangan dan hanya menyandarkan diri kepada Allah dengan penuh rasa percaya dan tawakal pada-Nya. Silakan Anda bayangkan sendiri betapa besarnya sikap menyandarkan diri dan tawakal kepada Allah yang Rasulullah miliki ketika seorang lelaki sejati seperti Ali ibn Abi Thalib ra. berkata tentang Rasulullah: “Sungguh aku telah melihat pasukan kita pada Perang Badar berlindung di belakang Rasulullah. Beliaulah orang terdepan yang paling dekat dengan musuh. Pada hari itu, beliau adalah orang yang paling hebat.”[16]

D. Tawakal yang Mengagumkan

Ketika Rasulullah hendak berangkat hijrah, kediaman beliau di Mekah telah dikepung puluhan orang bersenjata yang telah siap menghabisi beliau. Pada saat itu Rasulullah membaca ayat: “Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (QS Yâsîn [36]: 9), sambil menebarkan segenggam debu. Lalu Rasulullah melangkah keluar dengan tenang melewati para pengepung beliau tanpa sedikit pun menunjukkan ketakutan.[17]

Kala itu, Rasulullah benar-benar telah berhasil menjaga keyakinan dan keberanian beliau untuk kemudian melangkah menuju gua Tsaur. Sebuah gua yang terletak di puncak gunung dan sangat sulit untuk dicapai, termasuk oleh para pemuda. Tapi Rasulullah mampu mendaki puncak gunung itu ketika beliau telah berusia lima puluh tiga tahun!

Sebelum kepergiannya itu, hidup Rasulullah memang laksana untaian mata rantai kesulitan dan penderitaan. Itulah akhir dari penderitaan yang mendera beliau di Mekah. Pada saat itu, seakan-akan Rasulullah tengah memenuhi panggilan sang gua untuk menjadi tuan rumah bagi sang Rasul selama beberapa hari.

Tapi beberapa hari kemudian, setelah mencari ke sana ke mari, orang-orang musyrik Mekah akhirnya tiba di mulut gua Tsaur. Mereka sudah sangat dekat. Hanya kurang dari satu meter.

Bukan main kecutnya Abu Bakar ra. Hatinya gelisah. Wajahnya memucat. Semua itu terjadi karena dia selalu menganggap Rasulullah sebagai titipan amanah yang harus dijaga sebaik-baiknya. Bagaimana jika titipan itu tak berhasil sampai di tujuan?

Namun di saat yang sama Rasulullah sama sekali tidak risau. Wajah beliau tetap tersenyum. Rasulullah adalah sosok yang selalu tenang, sehingga beliau pun menenangkan Abu Bakar ra. dengan berkata: “Wahai Abu Bakar, janganlah kau takut. Sesungguhnya Allah bersama kita!” Lalu beliau melanjutkan: “Menurutmu, apa yang akan terjadi pada dua orang yang Allah telah menjadi yang ketiga bagi mereka?”[18]

Sebuah kisah lain…

Ketika Perang Hunain meletus, pasukan Islam tampak kacau dan centang-perenang tak keruan. Pada saat itu semua pihak hampir yakin bahwa akhir dari pertempuran adalah kekalahan di pihak pasukan muslim. Tapi di tengah situasi genting itu, tiba-tiba Rasulullah memacu kuda beliau –yang sempat dicoba untuk dihentikan oleh Abbas ra.- ke arah barisan musuh seraya berteriak dengan suara menggelegar:

Aku adalah nabi. Bukan sebuah dusta!
Aku adalah anak Abdul Muthallib!
[19]

Keberanian Rasulullah itulah yang akhirnya menyatukan pasukan Islam dalam waktu singkat sehingga membalik keadaan mereka yang semula terancam kekalahan menjadi kemenangan gemilang.

Sebuah riwayat lain…

Ketika Rasulullah sedang tidur di bawah sebatang pohon sepulangnya dari Perang Dzat Riqa’, tiba-tiba muncullah seorang prajurit musuh bernama Ghaurats ibn Harits. Orang kafir itu lalu mengambil pedang Rasulullah yang tergantung di pohon dan kemudian menghunusnya ke arah leher beliau yang sudah terjaga seraya berkata: “Siapa yang dapat menjagamu dariku?”

Disebabkan rasa percaya kepada Allah yang beliau miliki, Rasulullah tetap tenang sambil menjawab: “Allah!”

Tiba-tiba saja Ghaurats ketakutan. Badannya gemetar. Pedang yang digenggamnya jatuh ke tanah. Rasulullah memungut pedang itu lalu balik mengancam si prajurit kafir: “Sekarang, siapa yang dapat menjagamu dariku?”

Bukan main takutnya Ghaurats. Tubuhnya bergetar seperti bulu tertiup angin. Pada saat itulah beberapa prajurit muslim muncul setelah mendengar suara Rasulullah. Mereka pun terkejut demi melihat apa yang terjadi. Setelah mereka mengetahui kejadian itu, keimanan mereka pun bertambah. Sementara Ghaurats dilepaskan begitu saja oleh Rasulullah tanpa dihukum.[20]

Seorang cendekiawan barat yang sangat terkenal, George Bernard Shaw menyatakan: “Muhammad adalah pribadi yang memiliki banyak sifat luhur yang mengagumkan. Tidaklah mungkin memahami sosoknya secara sempurna. Apalagi memahami salah satu sifat utama yang dimilikinya, yaitu kepercayaan mutlak kepada Allah. Sifatnya yang satu ini merupakan sebuah misteri yang tak mungkin dapat dinalar.”

Kepercayaan penuh kepada Allah yang dimiliki Rasulullah memang tidak mungkin dapat diukur dengan standar yang biasa kita pakai. Oleh sebab itu, kedudukan dan derajat Rasulullah di sisi Allah amatlah tinggi, setinggi kepercayaan, keimanan, dan sikap tawakal yang beliau miliki terhadap Allah. Itulah sebabnya, jika saja Rasulullah mau berdoa agar malam berubah jadi siang, gelap berubah jadi terang, atau bahkan batu bara berubah jadi permata, pasti semua itu akan terkabul.

Rasulullah adalah pribadi yang paling banyak menyeru ke arah sikap percaya kepada Allah di antara seluruh semesta. Oleh sebab itu, maka seluruh umat beliau juga harus ikut menyeru manusia untuk percaya kepada Allah. Sebuah ayat al-Qur`an berbunyi: “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kalian) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kalian menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kalian. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS al-Nisâ` [4]: 58).

Ali ibn Abi Thalib ra. menjelaskan sebab turunnya ayat ini dalam hadits berikut ini:

Setelah Mekah ditaklukkan, Rasulullah mengambil kunci-kunci Ka’bah dari Utsman ibn Thalhah dan kemudian beliau membuka sendiri pintu Ka’bah. Tiba-tiba datanglah Abbas ra. yang meminta kunci-kunci tersebut dari Rasulullah karena Abbas menganggap bahwa Utsman ibn Thalhah lebih berhak memegang amanat tersebut. Demikianlah yang terjadi. Setelah ayat ini turun, aku menyerahkan kembali kunci-kunci Ka’bah kepada Utsman ibn Thalhah.[21]

Apa yang dilakukan Ali ibn Abi Thalib ra. ini adalah atas kesadaran bahwa hukum ayat berlaku umum. Apalagi Rasulullah menyatakan bahwa tindakan menyia-nyiakan amanat adalah tanda datangnya Hari Kiamat. Arkian ketika seorang badui bertanya kepada Rasulullah tentang Hari Kiamat, beliau menjawab: “Jika amanat telah disia-siakan, maka tunggulah saat kehancuran.” Si badui bertanya lagi: “Bagaimana amanat disia-siakan?” Rasulullah menjawab: “Jika sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan berhak, maka tunggulah saat kehancuran.”[22]

Ya. Amanat adalah sesuatu yang sangat serius. Tindakan menyerahkan amanat kepada ahlinya juga termasuk bentuk amanat serta amat penting perannya bagi keseimbangan alam. Penyia-nyiaan terhadap amanat akan menyebabkan rusaknya tatanan kehidupan. Jadi, alam semesta yang diisi dengan pelanggaran terhadap amanat sehingga tatanannya rusak adalah sama artinya dengan kehancuran baginya.

Di dalam sebuah hadits lain dikatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin bagi rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya itu. Seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya itu. Dan seorang pelayan adalah pemimpin atas harta milik majikannya, dan dia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya itu. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.”[23]

Yang ingin saya jelaskan di sini adalah bahwa setiap individu harus memercayai individu yang lain, sebab semua entitas wujud semuanya adalah amanat dari Allah. Contohnya, al-Qur`an adalah amanat Allah kepada Jibril as.; lalu al-Qur`an menjadi amanat bagi Rasulullah Saw.; lalu seluruh kebenaran al-Qur`an dan risalah Muhammad menjadi amanat bagi semua umat Islam; dan semua umat manusia adalah amanat bagi Allah Swt.

Semua elemen yang menyokong kehidupan jagad raya dan semua elemen vital dalam kehidupan masyarakat manusia, sebenarnya dapat kita gambarkan sebagai dua buah lingkaran yang saling melintasi antara satu sama lain. Atau dengan kata lain, kerusakan sekecil apapun yang terjadi pada salah satu lingkaran tersebut, pasti akan merusak lingkaran yang lain. Saya kira semua kita sepakat akan hal ini.

Jika terjadi kerusakan pada tataran individu, lalu kerusakan tersebut tidak cepat dipulihkan dalam sesingkat mungkin, maka tidak diragukan lagi dalam waktu relatif singkat kerusakan itu pasti akan berubah menjadi kerusakan parah seperti kanker yang tak tersembuhkan. Oleh sebab itu, untuk mencegah terjadinya kerusakan yang tidak diinginkan, masing-masing “lingkaran” harus menunaikan semua amanat yang menjadi tanggung jawabnya.

Hadits Rasulullah tersebut di atas telah menjelaskan keterkaitan ini dengan tepat. Jika setiap individu dalam sebuah komunitas –mulai dari penjaga malam sampai kepala negara- menyadari amanat yang mereka pikul, pastilah komunitas tersebut akan menjadi komunitas yang ideal karena terdiri dari individu-individu yang terpercaya seperti masyarakat al-Madînah al-Fadhîlah yang konsepnya telah dibayangkan oleh para cendekiawan.

Bahkan disebabkan perannya yang begitu penting dalam kehidupan, sampai-sampai Rasulullah pernah bersabda: “Tidak ada iman bagi seseorang yang tidak memiliki sifat amanah.”[24]

Seseorang yang tidak mampu menjaga amanat yang diberikan kepadanya tidak dapat dianggap memiliki iman yang sempurna. Karena hubungan antara keimanan dan sifat amanah adalah hubungan kait-mengait yang tidak dapat dinafikan salah satunya. Ituah sebabnya kita begitu sulit menemukan pemerintahan yang benar-benar amanah di luar perintahan Islam.

Ya. Seseorang yang memiliki iman sempurna pasti menjadi pribadi yang amanah. Karena jika seseorang tidak mampu menjadi pribadi yang amanah, maka berarti imannya belum sempurna.

Di dalam sebuah hadits lain dinyatakan bahwa Rasulullah menjelaskan tentang ciri-ciri orang mukmin dengan sabda beliau: “Orang mukmin adalah orang yang dipercaya oleh orang lain atas darah dan harta mereka.”[25]

Sampai di sini saya ingin mengulangi lagi sebuah hadits yang telah saya sampaikan pada pembahasan mengenai kejujuran dan kebenaran Rasulullah Saw. tapi saya ketengahkan lagi di sini karena hadits tersebut berhubungan pula dengan sifat amanah. Rasulullah bersabda: “Jaminlah enam hal dari diri kalian, maka aku akan menjamin surga untuk kalian…”[26]

1- “Jujurlah ketika berbicara”

Ya. Ucapan dan tingkah laku kalian memang harus benar, jujur, dan istiqamah agar kalian dapat lurus seperti sebatang lembing.

2- “Tepatilah ketika berjanji”

Mengingkari janji adalah salah satu tanda kemunafikan sebagaimana yang telah dijelaskan secara singkat pada bagian terdahulu.

3- “Laksanakanlah ketika diberi amanat”

Jika kau mendapatkan amanat dari seseorang atas sesuatu, maka jagalah baik-baik amanat itu, jangan kau rusak sangka baiknya padamu, dan bahkan jangan kau rusak husn zhann yang ditunjukannya padamu sampai Hari Kiamat nanti.

4- “Jagalah kemaluan kalian”

Salah satu cara menjaga “kemaluan” adalah dengan menjaga reputasi. Dan jagalah pula nama baik orang lain sebagaimana kalian menjaga nama baik kalian sendiri. Kita akan membahas masalah ini lebih lanjut dalam pembahasan tentang “menjaga kehormatan” (al-‘iffah).

5- “Tundukkanlah pandangan kalian”

Jangan arahkan pandanganmu kepada yang bukan milikmu. Karena pandangan yang haram akan merusak hati. Di dalam sebuah hadits qudsi dikatakan:

“Sesungguhnya pandangan adalah salah satu mata panah di antara sekian banyak mata panah Iblis yang beracun. Siapapun yang meninggalkannya karena takut kepada-Ku, niscaya akan kuganti baginya hal itu dengan keimanan yang dia temukan kenikmatannya di dalam hatinya.”[27]

6- “Kendalikanlah tangan kalian”

Maksudnya adalah jangan sekali-kali kau menggerakkan tangan hanya untuk menyakiti orang lain.

Demikianlah keenam syarat yang harus dipenuhi seseorang untuk dapat menjadi orang yang terpercaya dan akan membuat orang lain tenang. Hidup sebagai orang terpercaya di dunia dengan jaminan kesenangan di akhirat nanti. Siapapun yang mampu menjamin dirinya untuk melakukan keenam hal di atas, Rasulullah akan menjaminkan surga untuknya.

Agar ketenangan dan keterpercayaan dapat menyebar ke seluruh dunia, semua peran penting dalam urusan dunia harus berada di tangan orang-orang yang terpercaya. Seandainya Dunia Islam mampu memikul amanat yang menjadi tanggung jawabnya, pastilah ia akan menjadi contoh bagi seluruh dunia dalam penetapan landasan keseimbangan dan stabilitas dunia. Tapi kalau tidak, maka seluruh dunia –bukan hanya Turki- akan merasakan penderitaan tak terperi.

E. Wahai Tunas Harapan!

Kalian akan kembali menunjukkan kebenaran Islam di pentas dunia. Kalian adalah rangkaian cahaya yang menyemburat dari Cahaya Agung lalu memancar ke seluruh dunia yang telah tenggelam dalam kegelapan. Kalian akan menumbuhkan kembali pohon keimanan yang rimbun dan menaungi jagad raya laksana pohon Thuba[28] yang dedaunan dan bunga-bunganya menaungi surga.

Di masa keemasan itu, semua kata yang terlontar dalam setiap pertemuan internasional menjadi perintah bagi kita. Dengan izin Allah, kalian semua akan mampu mengembalikan masa-masa gemilang dan membebaskan manusia dari masa kegelapan yang sedang kita rasakan ini. Inilah yang diharapkan semua orang dari kalian. Kalianlah tumpuan harapan orang-orang yang hidup terhampar di tanah dan setiap jasad yang terkubur di dalamnya. Bahkan inilah yang diharapkan oleh Rasulullah Saw. dari kalian, sebab jiwa beliau terus berkelana ke tempat-tempat di mana kalian berada, melihat apa yang kalian lakukan, dan tersenyum bersama kalian, meski kalian tidak mampu melihat atau pun merasakan kehadiran beliau.

Kalian pasti bisa menyebarkan ketenteraman dan ketenangan ke sekitar kalian jika kalian mampu tetap menjadi pribadi-pribadi yang amanah dan tidak melenceng dari sikap istiqamah. Ya. Jika kalian bisa mewujudkan semua itu, niscaya hati semua orang akan terbuka untuk kalian. Kemudian sosok kalian akan bersemayam di dalam hati mereka sebagaimana dulu yang dialami oleh leluhur kalian. Tapi jangan pernah kalian lupa bahwa syarat untuk mencapai segala keluhuran itu selalu berkaitan langsung dengan keteguhan kalian dalam menjaga amanat yang kalian pikul.

Jadi, jika kita semua ingin menjadi umat yang diperhitungkan di tataran global serta mampu memainkan peran penting dalam mewujudkan keseimbangan antarbangsa –yang saat ini sudah semakin mendesak-, maka kita semua harus mampu menjadi contoh kebenaran, keadilan, sikap istiqamah, dan ketenteraman.

End Notes:

[1] Al-Bukhari, al-Hajj, 132, al-Maghâzî, 77; Muslim, al-Hajj, 147; Abu Daud, al-Manâsik, 56; Ibnu Majah, al-Manâsik, 76, 84.
[2] Al-Bukhari, al-Tauhîd, 22; Muslim, al-Îmân, 288.
[3] Muslim, al-Jihâd, 58; al-Musnad, Imam Ahmad 1/31-33.
[4] Al-Bukhari , al-I’tikâf , 8; Muslim, al-Salâm, 24; Abu Daud, al-Shaum, 79, al-Adab, 81; Ibnu Majah, al-Shiyâm, 65.
[5] Al-Sîrah al-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam 1/209.
[6] Al-Musnad, Imam Ahmad 3/447; Abu Daud, al-Adab, 80.
[7] Al-Bukhari, al-Îmân, 24; Muslim, al-Îmân, 107.
[8] Abu Daud, al-Jihâd, 112, al-Adab, 164; al-Musnad, Imam Ahmad 1/404.
[9] Umar ibn al-Khaththâb: Jawânibuhu al-Mukhtalifah wa Idâratuhu li-l-Daulah, Syibli Nu’mani 1/213-214.
[10] Abu Daud, al-Adab, 35; al-Tirmidzi, al-Qiyâmah, 51; al-Musnad, Imam Ahmad 6/189.
[11] Peristiwa yang dimaksud adalah ketika istri Maiz ibn Malik sedang dirajam, tiba-tiba darahnya mengenai seorang sahabat yang langsung mengumpat. Rasulullah pun mengingatkan sahabat itu agar tidak mengumpat karena taubat istri Mais telah diterima Allah. penerj
[12] Muslim, al-Hudûd, 23
[13] Abu Daud, al-Witr, 32; al-Nasai, al-Isti’âdzah, 19, 20; Ibnu Majah, al-Ath’imah, 53.
[14] Al-Bukhari, al-Jizyah, 22; Muslim, al-Jihâd, 9; Abu Daud, Al-Jihâd, 150.
[15] Lihat: QS al-Najm [53]: 9.
[16] Al-Musnad, Imam Ahmad 1\86.
[17] Al-Sîrah al-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam 2/127.
[18] Al-Bukhari, Tafsîr Sûrah [9] 9; al-Musnad, Imam Ahmad ¼.
[19] Al-Bukhari, al-Jihâd, 52; Muslim, al-Jihâd, 78.
[20] Al-Bukhari, al-Maghâzi, 31, al-Jihâd, 84; Muslim, al-Fadhâil, 13; al-Mustadrak, Hakim 3/29.
[21] Al-Ishâbah, Ibnu Hajar 2/460; al-Sîrah al-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam 4/55.
[22] Al-Bukhari, al-‘Ilm, 2; al-Musnad, Imam Ahmad 2/321.
[23] Al-Bukhari, al-Jumu’ah, 11; al-Washâyâ, 9; Muslim, al-Imârah, 20; Abu Daud, al-Imârah, 1.
[24] Al-Musnad, Imam Ahmad, 3/135.
[25] Al-Tirmidzi, al-Îmân, 12; al-Nasai, al-Îmân, 8; Ibnu Majah, al-Fitan, 2; al-Musnad, Imam Ahmad 2/206, 210, 379.
[26] Al-Tirmidzi, al-Îmân, 12; Ibnu Majah, al-Fitan, 2.
[27] Kanz al-‘Ummâl, al-Hindi 5/328.
[28] Nama pohon di Sidratul Muntaha, penerj

Oleh: Fethullah Gülen

 

About admin

Check Also

Cinta Kepada Allah dan Cinta Kepada Manusia; Mungkinkah Dipadukan?

Nabi Muhammad Saww bersabda : “Barangsiapa yang tiada mengasihi manusia maka Allah-pun tiada mengasihinya!” (Kanz al-‘Ummal, ...