Wednesday , December 12 2018
Home / Agama / Kajian / Sifat-Sifat Para Nabi dan Posisi Rasulullah (3)

Sifat-Sifat Para Nabi dan Posisi Rasulullah (3)

Amanah

Sifat kedua yang dimiliki para nabi adalah amanah. Kata “amânah” adalah derivasi dari kata “al-îmân“. Jadi, seorang mukmin adalah orang yang memiliki sifat keimanan yang kemudian berkonsekuensi pada munculnya sifat amanah. Sebagaimana halnya pada nabi berada di puncak keimanan, mereka juga berada di puncak sifat amanah. Sifat amanah yang dimiliki para nabi begitu menonjol sehingga dapat dilihat oleh semua orang.

Al-Qur`an sendiri menunjukkan sifat amanah yang dimiliki para nabi dalam beberapa ayat sebagai berikut:

“Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka: “Mengapa kalian tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepada kalian, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.” (QS al-Syu’arâ` [26]: 105-108).

Dalam ayat ini dinyatakan bahwa dulu Nabi Nuh as. berkata kepada kaumnya: “Kenapa kalian tidak mau bertakwa? Padahal aku adalah rasul yang terpercaya untuk kalian serta tidak pernah bersikap khianat.”

Demikianlah di dalam ayat ini kata amanah –yang menjadi sifat para rasul- terlontar langsung dari mulut seorang rasul yang mulia.

Allah juga berfirman: “Kaum `Ad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka: “Mengapa kalian tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepada kalian.” (QS al-Syu’arâ` [26]: 123-125).

Allah berfirman: “Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul, ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka: “Mengapa kalian tidak bertakwa?” Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepada kalian.” (QS al-Syu’arâ` [26]: 160-162).

Sebenarnya masih ada banyak ayat lain yang dapat diketengahkan di sini, tapi saya rasa ayat-ayat di atas cukup untuk kita jadikan contoh.

Kata “al-mu`min” adalah salah satu di antara nama-nama Allah yang baik (al-asmâ` al-husnâ). Oleh sebab itu, maka nama Allah yang satu menjadi salah satu nama yang sangat penting bagi setiap orang yang mempercayai Allah. Namun pertanyaan yang muncul kemudian adalah kenapa “al-mu`min” menjadi salah satu al-asmâ` al-husnâ yang dimiliki Allah?

Jawaban atas pertanyaan ini adalah: Karena Allah adalah Zat yang menjadi sumber bagi segala kepercayaan dan ketenangan (al-tsiqah wa al-ithmi`nân). Allah-lah yang memberi kita sifat “terpercaya”. Terkadang Dia berikan sifat itu setetes demi setetes, tapi terkadang Dia melimpahkan sifat itu seperti air terjun yang deras. Allah-lah yang telah menganugerahi para nabi dengan hiasan sifat terpercaya (al-amn) dan tenang (al-amân). Sementara sifat-sifat terpercaya (al-amn), tenang (al-amân), dan keimanan (al-îmân) akan mengikat kita dengan para nabi; lalu sifat-sifat itu pulalah yang telah mengikat para nabi dengan Allah Swt. Jadi, ikatan inilah yang telah mengantar kita kepada hubungan antara sang Pencipta dan ciptaan-Nya. Uniknya, semua makna yang terkandung dalam sifat-sifat ini tercakup dalam kata-kata yang menjadi derivasi dari kata “al-amânah“. Oleh sebab itu kita tahu bahwa bagian terpenting dalam topik ini adalah memahami hubungan antara sang Khaliq dan makhluk-Nya.

Sebagaimana halnya amanah menjadi sifat utama para nabi dan rasul serta menjadi sifat utama Rasulullah Saw., ternyata amanah juga menjadi sifat utama Malaikat Jibril as. Al-Qur`an menjelaskan kepada kita bahwa Jibril memiliki sifat “yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.” (QS al-Takwîr [81]: 21).

Ya. Jibril memang sangat patuh kepada Allah Swt., dan sesuai dengan tugasnya, Jibril tentu sosok yang sangat terpercaya. Daripada itu, pernyataan yang membuat kita merasa aman dan tenang ini telah diturunkan Allah sang al-Mu`min melalui utusannya Jibril sang al-Amîn kepada para rasul yang terpercaya sebagai anugerah bagi kita dalam bentuk ketenangan dan keamanan.

Berkah al-Qur`an memang tercurah bagi semua makhluk sesuai dengan derajat dan kedudukannya masing-masing. Jibril as. termasuk di antara makhluk yang mendapatkan anugerah Allah tersebut. Suatu ketika, Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah: “Sungguh aku takut yang akan datang nanti. Tapi aku dibuat tenang oleh pujian Allah kepadaku dengan firman-Nya: ‘yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang dita’ati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.’ (QS al-Takwîr [81]: 21).”

Oleh: Fethullah Gülen

 

About admin

Check Also

Cinta Kepada Allah dan Cinta Kepada Manusia; Mungkinkah Dipadukan?

Nabi Muhammad Saww bersabda : “Barangsiapa yang tiada mengasihi manusia maka Allah-pun tiada mengasihinya!” (Kanz al-‘Ummal, ...