Wednesday , December 12 2018
Home / Agama / Kajian / Sifat-Sifat Para Nabi dan Posisi Rasulullah (2)

Sifat-Sifat Para Nabi dan Posisi Rasulullah (2)

Sifat Shidiq Rasulullah SAW

A. Sang al-Amîn sebelum Diangkat Menjadi Rasul

Sebelum diangkat menjadi rasul, Muhammad Saw. tidak pernah dipanggil oleh penduduk Mekah dengan nama asli beiau, melainkan menggunakan julukan “al-Amîn”. Ya. Pada saat itu Muhammad memang lebih terkenal dengan julukannya itu. Jadi sungguh menyenangkan jika sekarang kita mengulang-ulang bacaan wirid “Lâ ilâha illallâh al-malik al-haqq al-mubîn, Muhammad rasûlullâh shâdiq al-wa’d al-amîn…” (Tiada Tuhan selain Allah Maharaja Mahabenar Mahamenjelaskan, Muhammad Utusan Allah yang selalu menepati janji yang terpercaya).

Ketika penduduk Mekah merenovasi Baitullah setelah sebagian dindingnya rusak akibat banjir, muncullah persoalan pelik ihwal siapa yang paling pantas untuk meletakkan kembali Hajar Aswad –sebaiknya kita menyebutnya al-Hajar al-As’ad– di tempatnya semula. Pada saat itu para utusan kabilah telah menghunuskan pedang mereka masing-masing. Rupanya masing-masing mereka menganggap bahwa kabilah mereka lah yang paling pantas mendapatkan kehormatan untuk meletakkan Hajar Aswad hingga nyaris saja pecah pertempuran disebabkan hal itu. Untung saja di tengah perselisihan itu muncul kesepakatan untuk menunjuk siapapun yang pertama kali masuk ke Masjidil Haram sebagai hakim. Seketika itu juga para utusan kabilah memasang mata ke arah gerbang Masjidil Haram menanti siapakah gerangan yang akan muncul.

Sesaat kemudian, tiba-tiba masuklah Rasulullah dengan wajahnya yang cerah bagai purrnama. Sontak para utusan kabilah yang tengah berselisih itu sama berseru: “Itu dia sang al-Amîn… kami rela jika dia yang memutuskan perkara ini… Itu Muhammad!”[1] Padahal saat itu Rasulullah sama sekali tidak tahu apa yang tengah terjadi.

Sikap yang ditunjukkan para utusan itu muncul disebabkan kepercayaan mereka yang penuh kepada Muhammad Saw. Walau pun belum diangkat menjadi nabi, namun Muhammad Saw. telah mendapat kepercayaan dari semua orang, sebab beliau memang memiliki semua sifat yang wajib dimiliki seorang nabi.

Ya. Kelebihan yang sesungguhnya adalah kelebihan yang diakui oleh musuh. Itulah yang terjadi pada Abu Sufyan yang saat itu masih menjadi salah seorang musuh besar Rasululah Saw. tapi mengakui kejujuran beliau.

Dalam sebuah riwayat yang berasal dari Abdullah ibn Abbas ra. yang dinukil dari Abu Sufyan, dia berkata:

Pada suatu ketika Heraklius mengirim utusan kepadaku saat aku ikut bersama kafilah Quraisy yang sedang berniaga di Syam. Kebetulan pada saat itu tengah berlangsung kesepakatan genjatan senjata antara Rasulullah dan kaum musyrik Quraisy. Setibanya di Baitul Muqaddas, Heraklius memanggilku dan rombongan ke istana dengan dihadiri oleh para pembesar Romawi. Setelah menghadirkan seorang penerjemah, Heraklius bertanya: “Siapakah di antara kalian yang paling dekat nasabnya dengan lelaki yang mengaku nabi itu?”

Aku pun menjawab: “Akulah yang paling berdekatan nasab dengannya.”

“Suruhlah ia mendekat,” ujar Heraklius sambil menunjuk ke arahku, “Dan mintalah semua teman-temannya berdiri di belakangnya.”

Heraklius lalu berkata kepada penerjemahnya: “Katakan kepada mereka bahwa aku akan bertanya kepada lelaki ini. Jika ternyata dia berbohong padaku, maka mereka harus mengatakan bahwa dia berbohong.”

Demi Allah, sungguh kalau bukan karena malu untuk berbohong, saat itu aku pasti berbohong. Lalu Heraklius mengajukan pertanyaan pertama kepadaku: “Bagaimana nasab lelaki itu di antara kalian semua?”

“Di antara kami,” jawabku, “Dia memiliki nasab yang istimewa.”

Heraklius bertanya: “Apakah ada di antara kalian yang pernah menyampaikan apa yang disampaikannya itu sebelumnya?”

“Tidak,” jawabku.

“Apakah ada nenek moyangnya yang menjadi raja?” tanyanya lagi.

“Tidak,” jawabku.

“Apakah yang menjadi pengikutnya itu orang-orang terpandang, ataukah orang-orang lemah?” tanya Heraklius lagi.

“Orang-orang lemah,” jawabku.

“Apakah mereka semakin bertambah, ataukah semakin berkurang?” tanyanya.

“Pengikutnya terus bertambah,” jawabku.

“Apakah ada di antara mereka yang murtad setelah memeluk agama barunya?” tanyanya.

“Tidak ada,” jawabku.

“Apakah kalian pernah menemukannya berdusta sebelum dia menyampaikan kenabiannya?” tanyanya lagi.

“Tidak pernah,” jawabku.

“Apakah dia berkhianat?” tanyanya.

“Tidak,” jawabku, “Saat ini kami sedang berada pada masa di mana kami tidak mengetahui apa yang dia lakukan.” Sungguh aku tidak menemukan kata-kata lain selain yang kuucapkan itu.

“Apakah kalian memeranginya?” tanya Heraklius lagi.

“Ya,” jawabku.

“Bagaimana peperangan antara kalian dan dia?” tanyanya.

“Peperangan antara kami dan dia naik turun,” jawabku, “Terkadang dia menang, terkadang kami menang.”

“Apa yang diperintahkannya kepada kalian?” tanyanya.

Aku menjawab: “Dia memerintahkan kami untuk beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, dan meninggalkan apa yang dikatakan oleh nenek moyang kami. Dia juga memerintahkan kami untuk melaksanakan shalat, bersikap jujur, menjaga kehormatan, dan berbuat baik kepada kerabat.”

Lalu Heraklius berkata kepada penerjemahnya: “Katakan kepadanya: ‘Aku bertanya kepadamu tentang nasabnya, ternyata kau mengatakan bahwa dia memiliki nasab yang istimewa. Memang demikianlah seorang rasul diutus di tengah kaumnya. Aku bertanya kepadamu apakah ada orang selain dia yang menyampaikan apa yang disampaikannya, ternyata kau mengatakan tidak. Menurutku, kalau memang ada orang lain yang menyampaikan apa yang dikatakannya itu sebelumnya, maka aku dapat berkata bahwa dia hanyalah orang yang mengikuti omongan orang sebelum dia. Aku bertanya kepadamu apakah ada di antara nenek moyangnya yang menjadi raja, ternyata kau menjawab tidak. Menurutku, kalau memang ada di antara nenek moyangnya yang menjadi raja, maka dapat kukatakan bahwa dia hanyalah orang yang menuntut kekuasaan leluhurnya. Aku bertanya kepadamu apakah kalian pernah mendapatinya berdusta sebelum dia mengaku sebagai nabi, ternyata kau menjawab tidak. Dari situ aku tahu bahwa dia tidak mungkin menyebarkan dusta kepada orang banyak dan berdusta atas nama Allah…”[2]

Sebetulnya hadits di atas masih panjang, tapi tampaknya cukuplah kita kutip sampai di sini. Hal penting yang harus kita perhatikan di sini adalah adanya dua bukti kebenaran Rasulullah Saw., yaitu: pertama, ucapan Heraklius sang Kaisar Romawi sebagaimana yang telah dikutip di atas; kedua, jawaban Abu Sufyan yang mengakui kebenaran Rasulullah Saw. meski saat itu dia belum memeluk agama Islam. Hanya saja sayangnya, ternyata Heraklius menyia-nyiakan kesempatan emas yang menghampirinya itu, sebab kecintaannya kepada kekuasaan telah membuatnya kehilangan peluang untuk mencapai kekuasaan hakiki yang kekal. Setelah mengetahui kebenaran Rasulullah, Heraklius menolak masuk Islam dan bergabung dengan kaum muslimin. Tapi meski begitu, Heraklius tetap menunjukkan penghormatan ketika surat yang dikirimkan Rasulullah sampai ke tangannya. Jadi setidaknya, pengakuan Heraklius atas kebenaran Rasulullah cukup menyenangkan kita.

Sebenarnya, apa yang diucapkan Heraklius memiliki makna yang dalam. Ya. Apakah mungkin seseorang yang tidak pernah sekali pun berdusta kepada orang banyak –meski sekedar gurauan- sampai usia empat puluh tahun, akan dapat berdusta atas nama Allah padahal dia semakin dekat dengan ajal?

Sebelum memeluk Islam, Yasir bertanya kepada putranya yang bernama Ammar: “Hendak ke manakah engkau?”

Dia menjawab: “Menemui Muhammad Saw.”

Ternyata jawaban itu sudah cukup baginya: “Dia adalah al-Amîn (yang terpercaya). Demikianlah penduduk Mekah mengenalnya. Jika dia berkata bahwa dia adalah seorang nabi, maka dia memang benar-benar seorang nabi. Karena tidak ada seorang pun yang pernah menemukannya berdusta.”

Apa yang diucapkan Yasir itu tidak hanya terlontar dari satu dua orang saja, tapi diyakini kebenarannya oleh setiap orang sebelum Rasulullah diangkat menjadi nabi.

B. Selalu Mengajak Orang Lain untuk Bersikap Jujur (Shidiq)

Selain hidup dengan sifat jujur sepanjang hayat, Rasulullah juga selalu mengajak orang lain untuk bersikap jujur. Ada sebuah nasehat Rasulullah yang layak dikutip di sini: “Jaminlah enam hal dari diri kalian, maka aku akan menjamin surga untuk kalian: jujurlah ketika berbicara, tepatilah ketika berjanji, laksanakanlah ketika diberi amanat, jagalah kemaluan kalian, tundukkanlah pandangan kalian, dan kendalikanlah tangan kalian.”[3]

Sungguh, Rasulullah menjalani kehidupan dengan sangat lurus (istiqâmah) selurus berkas cahaya. Rasulullah juga selalu menyeru orang lain untuk menerapkan prinsip istiqamah setelah beliau menerapkannya pada dirinya sendiri dan berhasil mencapai puncak tertinggi di antara ‘kemungkinan’ (al-imkân) dan ‘kewajiban’ (al-wujûb). Puncak paling tinggi yang di atasnya hanya ada al-shidq al-ilâhi. Atau dengan kata lain, di dunia kejujuran (al-shidq), Rasulullah telah mencapai cakrwala tertinggi “maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).” (QS al-Najm [53]: 9).

Dari satu sisi, pencapaian Rasulullah ini berada dalam ranah ‘kemungkinan’, sementara di sisi lain pencapaian beliau telah melampaui ranah ‘kemungkinan’ tersebut. Qadhi Iyadh pernah berkata ketika menjelaskan peristiwa Mi’raj: “Pada saat itu Rasulullah mencapai sebuah posisi yang beliau tidak tahu di mana harus meletakkan kakinya. Sehingga akhirnya beliau diminta untuk meletakkan satu kakinya di atas kakinya yang lain.”

Adalah benar jika dikatakan bahwa Rasulullah adalah seorang ‘manusia’. Akan tetapi ternyata sifat jujur yang beliau miliki telah mengangkatnya ke derajat yang sedemikian tinggi. Beliau pernah berpesan kepada kita: “Jaminlah diri kalian padaku untuk bersikap jujur dan tidak berbohong di dalam hidup kalian, maka aku jaminkan surga untuk kalian.”

Di dalam hadits lain dikatakan: “Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya sikap jujur itu menenangkan, sedangkan dusta membuat gelisah.”[4]

Rasulullah juga bersabda: “Jika kalian menganggap bahwa di dalam kejujuran terkandung kebinasaan, maka sesungguhnya di dalamnya juga terkandung keselamatan.”[5]

Melalui hadits ini Rasulullah meminta kita untuk bersikap jujur. Karena kalau pun kita menganggap bahwa sikap jujur akan membinasakan kita, maka sesungguhnya kejujuran kelak pasti akan mendatangkan keselamatan.

Rasulullah juga bersabda: “Hendaklah kalian bersikap jujur, karena ia menuntun ke arah kebajikan; sementara kebajikan menuntun ke arah surga. Ketika seseorang selalu bersikap jujur sampai sifat itu menyatu dengan dirinya maka akhirnya dia pun akan ditulis di sisi Allah sebagai seorang shiddîq. Hendaklah kalian menjauhi dusta, karena ia menuntun ke arah kejahatan; sementara kejahatan menuntun ke arah neraka. Ketika seseorang selalu berdusta sampai sifat itu menyatu dengan dirinya maka akhirnya dia pun akan ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.”[6]

Jadi jelaslah bahwa keselamatan pasti terkandung di dalam kejujuran. Ketika seseorang mati sambil memegang teguh kejujuran, maka dia akan mati satu kali. Tapi ketika seseorang mati dengan membawa dusta, maka dia akan mati berkali-kali.

Ka’b ibn Malik ra. berkata: “Sungguh aku telah selamat disebabkan kejujuranku.” Ketika kita membahas sifat jujur, kita tentu tidak mungkin melupakan Rasulullah Saw.

Tersebutlah seorang sahabat bernama Ka’b ibn Malik ra. yang terkenal dengan lidahnya yang selalu jujur dan pedangnya yang tajam. Selain itu dia adalah seorang penyair yang dengan syairnya mampu membuat kaum kafir mematung di dalam peristiwa ‘Aqabah. Dia termasuk kalangan awal Anshar. Tapi sayangnya, Ka’b tidak ikut dalam perang Tabuk yang menjadi salah satu perang terberat pada masa itu. Dalam perang Tabuk, sepasukan kecil muslimin harus menghadapi pasukan Kekaisaran Romawi di tengah sahara yang gersang. Mereka bergerak dengan niat suci. Memikul keberanian yang tak tertandingi. Memetik pahala dari Allah hingga maut menjemput.

Diriwayatkan dari Ka’b ibn Malik oleh Imam Ahmad, Imam al-Bukhari, dan Imam Muslim, lewat jalur al-Zuhri:

Tak pernah sekali pun aku tidak ikut dalam perang yang dipimpin Rasulullah, kecuali hanya di perang Tabuk. Padahal aku juga tidak ikut dalam perang Badar. Tapi beliau tidak pernah mengecam seorang pun yang tidak ikut dalam perang itu. Kala itu Rasulullah ingin menyerang kafilah kaum Quraisy sampai akhirnya Allah mempertemukan antara pasukan muslim dan musuh mereka di tempat yang tidak direncanakan. Aku juga ikut bersama Rasulullah pada malam Aqabah, ketika kami membuat perjanjian di dalam Islam. Tapi tidak ada yang lebih kusukai seandainya saja aku ikut dalam perang Badar, karena Badar menjadi peristiwa paling diingat oleh orang melebihi apa yang terjadi pada diriku: aku tidak pernah merasa sekuat dan memiliki kesempatan lebih lapang daripada keadaanku ketika aku tidak ikut dalam perang itu. Demi Allah, tak pernah sebelumnya aku memiliki dua unta tunggangan sekaligus untuk kemudian aku himpun keduanya dalam perang itu. Tak pernah sekalipun Rasulullah berangkat berperang, kecuali pada saat itu juga beliau menyiapkan perang berikutnya. Sampai terjadilah perang itu. Rasulullah Saw. melaksanakan pertempuran di bawah panas yang menyengat, harus melewati perjalanan panjang, serta menghadapi musuh yang banyak. Kaum muslimin pun mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Rasulullah lalu memberi tahu pasukan muslim arah yang beliau inginkan. Saat itu sangat banyak kaum muslimin yang ikut bersama Rasulullah, padahal tidak ada satu kitab pun yang menyatukan mereka. Yang dimaksud dengan ‘kitab’ di sini adalah catatan.

Ka’b melanjutkan…

Saat itu tak ada seorang pun yang ingin tidak ikut serta, kecuali orang itu pasti tahu bahwa hal itu tidak akan diketahui Rasulullah, jika ternyata tidak ada wahyu Allah yang turun. Pada saat itu Rasulullah berangkat berperang ketika pepohonan sedang berbuah dan rimbun. Tapi kaum muslimin bersama Rasulullah mempersiapkan diri untuk berangkat. Maka aku pun bersiap-siap seperti mereka, tapi kemudian aku pulang tanpa berhasil menyiapkan apa-apa. Saat itu aku berkata pada diriku bahwa aku mampu melakukan itu. Aku terus berlama-lama menyiapkan diri sementara pasukan muslim telah mematangkan persiapan. Akhirnya, ketika Rasulullah siap berangkat bersama pasukan muslim, aku belum menyiapkan apa-apa. Aku pun berkata pada diriku bahwa aku akan menyiapkan diri dalam satu dua hari, baru setelah itu aku menyusul mereka. Setelah pasukan berangkat, aku kembali bergegas menyiapkan diri, tapi sampai aku pulang aku tak berhasil menyiapkan apa-apa. Keesokan harinya, aku kembali berusaha menyiapkan diri, tapi sampai aku pulang aku tak berhasil menyiapkan apa-apa. Demikianlah seterusnya sampai akhirnya pasukan muslim memulai pertempuran. Sungguh aku ingin menyusul mereka. Duhai seandainya saja aku melakukan itu, tapi rupanya aku tidak ditakdirkan melakukan itu. Setelah keberangkatan Rasulullah itu, ketika aku keluar ke tengah khalayak. Sungguh aku sedih karena yang kulihat hanyalah lelaki munafik, atau lelaki lemah yang mendapat udzur dari Allah. Rupanya, Rasulullah sama sekali tidak ingat padaku kecuali setelah beliau sampai di Tabuk. Di tengah pasukan di Tabuk beliau bertanya: “Apa yang dilakukan Ka’b?” Seorang lelaki asal Bani Salimah menjawab: “Wahai Rasulullah, dia tertahan oleh pakaian dan tubuhnya.” Tiba-tiba saja Mu’adz ibn Jabal menukas sengit: “Sungguh busuk apa yang kau katakan itu!” Lalu Mu’adz berkata kepada Rasulullah: “Demi Allah wahai Rasulullah yang kami ketahui darinya hanyalah kebaikan.” Rasulullah hanya diam mendengar itu.

Ka’b ibn Malik melanjutkan…

Ketika aku mendengar bahwa Rasulullah sedang berjalan pulan, aku pun gelisah. Sungguh aku sempat berpikir untuk berbohong. Aku berpikir keras bagaimana caranya aku dapat menghindari kemarahan Rasulullah nanti. Bahkan aku menanyakan hal itu kepada keluargaku yang kuanggap cerdas. Sampai ketika aku mendengar bahwa Rasulullah hampir tiba, aku berkebulatan tekad untuk menjauhi kebatilan, karena aku tahu bahwa aku tidak akan menyampaikan kebohongan apapun kepada Rasulullah. Kuhimpun kejujuranku untuk beliau, dan Rasulullah pun tiba.

Setiap kali baru tiba dari sebuah perjalanan, Rasulullah selalu langsung menuju masjid, melakukan shalat dua rakaat lalu duduk bersama umat. Pada saat itulah orang-orang yang tidak ikut berperang untuk menyampaikan alasan mereka masing-masing kepada Rasulullah sambil mengangkat sumpah. Jumlah mereka mencapai delapan puluh orang lebih. Rasulullah menerima semua pernyataan mereka, mengambil sumpah mereka, memohon ampunan untuk mereka, dan menyerahkan urusan yang selebihnya kepada Allah.

Pada saat itulah aku datang menghadap. Ketika aku mengucapkan salam kepada Rasulullah, beliau tersenyum masam seraya berkata: “Kemarilah!” Aku melangkah mendekat dan duduk di depan beliau. Rasulullah lalu bertanya: “Apa yang membuatmu tidak ikut berperang? Bukankah kau sudah akan berangkat?”

“Benar,” jawabku, “Demi Allah, seandainya saja saat ini aku sedang berhadapan dengan siapapun selain engkau, tampaknya aku berani menyampaikan alasan untuk menghindari kemarahannya. Sungguh sebenarnya aku bisa bersilat lidah, tapi demi Allah aku tahu seandainya hari ini aku menyampaikan kebohongan agar kau menerimanya, sungguh aku takut Allah murka padaku. Dan seandainya aku menyampaikan kejujuran padamu, maka kau akan melihat kejujuranku itu. Sungguh aku memohon ampunan Allah atas itu. Demi Allah, aku sama sekali tidak punya alasan. Demi Allah, aku tak pernah merasa begitu kuat dan begitu berkesempatan dibandingkan ketika aku tidak ikut berperang bersamamu.

Rasulullah menyahut: “Aku tahu kau berkata jujur, maka pergilah sampai Allah menetapkan hukuman untukmu.”

Aku pun pergi sehingga membuat beberapa lelaki asal Bani Saimah iba padaku. Mereka membuntuti langkahku lalu berkata: “Demi Allah kami tak pernah menemukanmu berbuat dosa sebelum ini. Kau begitu lemah sehingga kau tak berani menyampaikan alasan kepada Rasulullah sebagaimana yang dilakukan orang-orang yang tidak ikut berperang. Kalau pun kau berbohong, maka dosamu pasti akan terampuni dengan permohonan ampun yang dipanjatkan Rasulullah Saw. untukmu.”

Demi Allah orang-orang itu terus merayuku sampai aku sempat berpikir untuk kembali dan membohongi diriku. Tapi aku lalu berkata kepada mereka: “Apakah ada orang yang senasib denganku?”

“Ada,” jawab mereka, “Ada dua orang yang berkata sepertimu, dan mereka pun mendapat tanggapan yang sama sepertimu.”

“Siapakah kedua orang itu?” tanyaku.

“Murarah ibn Rabi’ al-Amri dan Hilal ibn Umayyah al-Waqifi,” jawab mereka. Kedua nama yang mereka sebutkan itu adalah dua orang lelaki saleh yang ikut perang Badar. Setelah kudengar itu, aku pun berlalu.

Sejak saat itu, Rasulullah melarang umat Islam bertegur sapa dengan kami bertiga yang tidak ikut berperang. Semua orang menjauhi kami dan sikap mereka mendadak berubah sehingga kurasakan bumi seperti menghimpitku karena semuanya tidak lagi seperti yang kukenal.

Hukuman pengucilan terhadap kami bertiga akan berlaku selama lima puluh hari. Sejak saat itu, kedua orang sahabat yang senasib denganku hanya diam di rumah mereka, tapi aku tetap berjalan-jalan seperti biasa dan ikut menghadiri shalat jamaah bersama kaum muslimin yang lain. Aku mendatangi pasar seperti biasa, tapi tak ada seorang pun yang menyapaku. Aku bahkan mendatangi Rasulullah dan mengucapkan salam kepada beliau seusai shalat. Tapi beliau diam seribu bahasa tanpa memedulikan aku yang melihat ke arah bibirnya untuk mencari tahu apakah beliau berkenan menjawab salamku. Setelah itu aku shalat di dekat Raslullah sambil mencuri-curi pandang ke arah beliau. Aku tahu bahwa setiap kali aku menghadap ke arah kiblat, beliau memandangku. Tapi ketika aku melirik ke arah beliau, Rasulullah langsung membuang muka.

Sungguh saat itu aku benar-benar tersiksa. Dan ketika aku tak sanggup lagi menanggung hukuman pengucilan itu, aku mendatangi kediaman Abu Qatadah. Dia adalah sepupuku dan orang yang paling kucintai. Setibanya aku di rumahnya, kuucapkan salam kepadanya, tapi demi Allah dia sama sekali tidak menjawab salamku.

Aku lalu berseru: “Wahai Abu Qatadah, dengan nama Allah kutanya kau apakah kau tahu bahwa aku mencitai Allah dan rasul-Nya?”

Abu Qatadah sama sekali tidak menjawab. Aku pun mengulangi pertanyaanku tapi dia tetap diam. Aku pun mengulangi pertanyaanku, maka terdengarlah jawaban: “Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu!”

Demi mendengar jawaban itu, mendadak air mataku menetes. Aku beranjak meninggalkan tempat itu dan kembali pulang.

Ka’b melanjutkan…

Ketika aku sedang berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba datanglah seorang lelaki Nabatea asal Syam yang biasa menjual bahan pangan di Madinah. Lelaki itu bertanya kepada khalayak: “Siapa yang mau menunjukkan Ka’b ibn Malik kepadaku?”

Orang-orang pun menunjuk ke arahku dan ketika lelaki Nabatea itu tiba di hadapanku, ia menyerahkan sepucuk surat yang ditulis oleh Raja Ghassan. Surat itu berbunyi:

Amma ba’d, kudengar kau mengucilkanmu. Padahal Allah tidak mungkin membuatmu terhina dan disia-siakan. Oleh sebab itu sudah menjadi kewajiban kami untuk menjadi temanmu.

Seusai kubaca surat itu, aku pun menganggap bahwa surat itu adalah sebuah musibah. Aku lalu membuang surat tersebut ke perapian.

Setelah berlalu empat puluh hari dari lima puluh hari yang direncanakan, tiba-tiba utusan Rasulullah mendatangiku seraya berkata: “Rasulullah memerintahkan kau untuk menjauhi istrimu.”

“Apakah aku harus menceraikannya, atau bagaimana?” tanyaku.

“Tidak,” jawab utusan itu, “Kau hanya dilarang mendekati istrimu saja.” Utusan itu lalu menemui kedua orang sahabat lain yang senasib denganku untuk menyampaikan pesan serupa.

Aku pun menemui istriku dan berkata: “Kembalilah kau ke keluargamu dan tinggallah bersama mereka sampai Allah menetapkan urusan ini.”

Lalu datanglah istri Hilal ibn Umayyah menghadap Rasulullah seraya berkata: “Wahai Rasulullah, Hilal ibn Umayyah sudah tua renta yang tidak memiliki pelayan. Apakah kau tidak suka jika aku melayanimu?”

“Tidak,” jawab Rasulullah, “Tapi jangan sampai dia mendekatimu.”

“Demi Allah,” tukas istri Hilal, “Dia tak tergerak untuk melakukan apa-apa. Demi Allah, dia terus menangis sejak awal pengucilan ini sampai sekarang.”

Setelah itu, keluargaku berkata padaku: “Kenapa kau tidak meminta ijin kepada Rasulullah untuk istrimu agar Rasulullah memberi ijin seperti kepada istri Hilal ibn Umayyah untuk melayani suaminya?”

Aku menjawab: “Demi Allah aku tidak akan meminta ijin seperti itu kepada Rasulullah. Sungguh aku tidak tahu apa yang akan dikatakan Rasulullah jika aku meminta ijin kepada beliau padahal aku masih muda.”

Demikianlah akhirnya lima puluh hari pun berlalu sejak Rasulullah melarang kaum muslimin berbicara dengan kami. Ketika aku sedang melaksanakan shalat Shubuh pada hari kelima puluh di belakang rumahku, tepatnya di saat aku sedang duduk berzikir sambil merasakan sesak di dadaku disebabkan lamanya masa pengucilan itu, tiba-tiba aku mendengar suara seseorang berteriak dari arah gunung Sal’ dengan suara sangat keras: “Wahai Ka’b ibn Malik bergembiralah!”

Sontak aku bersujud karena aku tahu bahwa pembebasan itu akhirnya datang. Rasulullah bahkan lalu mengumumkan bahwa Allah telah menerima taubat kami di saat shalat Shubuh pagi itu. Orang-orang lalu ramai menyampaikan berita itu. Orang yang berteriak dari gunung Sal’ itu lalu mendatangi kedua sahabat lain yang senasib denganku untuk menyampaikan berita gembira itu, sementara seseorang berkuda datang mendekatiku. Rupanya seseorang asal Bani Aslam-lah yang telah berteriak dari gunung tadi, sebab suara lebih cepat dibandingkan lari kuda.

Ketika orang yang berteriak dari gunung itu sampai di hadapanku, aku langsung melepaskan jubahku dan kuhadiahkan kepadanya disebabkan berita gembira yang dibawanya. Demi Allah, padahal saat itu itulah jubah satu-satunya yang kumiliki. Aku pun kemudian meminjam dua helai pakaian yang lalu kukenakan untuk menghadap Rasulullah Saw. Sesaat kemudian, orang-orang ramai berdatangan untuk mengucapkan selamat kepadaku atas pengampunan itu. Mereka berkata: “Selamat atas pengampunan Allah bagimu.”

Ka’b melanjutkan kisahnya…

Sesampainya aku di Masjid Nabi, kulihat Rasulullah tengah duduk di tengah para sahabat. Kulihat Thalhah ibn Ubaidillah ra. bangkit dan berlari ke arahku lalu langsung menjabat tanganku seraya mengucapkan selamat. Demi Allah, tak ada sahabat Muhajirin yang bangkit ke arahku selain dia. Itulah sebabnya aku tidak pernah melupakan Thalhah.

Setelah aku mengucapkan salam kepada Rasulullah, beliau lalu berkata dengan wajah berseri-seri: “Bergembiralah kau dengan hari terbaik yang datang padamu sejak kau dilahirkan ibumu.”

“Wahai Rasulullah,” sahutku, “Apakah (pengampunan) ini datang darimu, ataukah dari Allah?”

“Bukan dariku,” jawab beliau, “Tapi dari Allah.”

Ketika sedang gembira, wajah Rasulullah memang tampak bersinar laksana rembulan seperti yang pernah beliau katakan. Setelah aku duduk di hadapan beliau, aku berkata: “Wahai Rasulullah, dengan datangnya pengampunan ini aku berniat mendermakan sebagian hartaku sebagai sedekah untuk Allah dan rasul-Nya.”

Tapi Rasulullah menukas: “Kau peganglah sebagian hartamu sebab itu lebih baik bagimu.”

Aku menyahut: “Aku hanya akan memegang harta yang menjadi bagianku di Khaibar.” Lalu aku berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh Allah telah menyelamatkan aku dengan kejujuranku. Sungguh salah satu bentuk taubatku adalah bahwa aku tidak akan berbicara selain dengan jujur sampai aku mati.” Demi Allah, aku tidak pernah menemukan seorang muslim pun yang diuji oleh Allah dengan kejujuran ucapan –sejak kukatakan itu kepada Rasulullah- sebaik ujian yang diberikan-Nya padaku. Sejak saat itu sampai hari ini, tak pernah sekali pun aku berdusta. Sungguh aku berharap semoga Allah menjagaku dari dusta hingga akhir hayatku.

Setelah peristiwa itu, Allah menurunkan wahyu: “Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS al-Taubah [9]: 119).

Demi Allah, setelah Allah memberiku hidayah Islam, Dia tak pernah memberiku nikmat yang lebih besar dibandingkan pengampunan bagiku saat itu. Bagiku, anugerah Allah itu jauh lebih besar dibandingkan kejujuranku kepada Rasulullah. Aku sama sekali tidak mau berdusta yang akan membuatku binasa seperti orang-orang yang berdusta. Apalagi Allah telah berfirman untuk mengecam para pendusta dengan kecaman yang keras: “Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka Jahannam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu.” (QS al-Taubah [9]: 95-96).

Penerimaan taubat kami bertiga memang ditunda, tidak seperti mereka yang bersumpah di hadapan Rasulullah dan beliau menerima alasan mereka, membaiat, dan memohonkan ampunan untuk mereka sambil menyerahkan yang selebihnya kepada Allah karena Allah sendiri yang akan menentukan segalanya. Itulah sebabnya Allah berfirman: “dan terhadap tiga orang yang ditunda (penerimaan taubat) mereka…” (QS al-Taubah [9]: 118).

Jadi, yang dimaksud dengan ‘penundaan’ di dalam ayat itu bukanlah tindakanku yang ‘menunda-nunda’ untuk ikut berperang bersama Rasulullah, melainkan penundaan diterimanya taubatku dan kedua sahabat lainnya yang datang lebih lambat daripada pengampunan yang diberikan Rasulullah kepada orang-orang yang menyampaikan alasan mereka di hadapan Rasulullah.[7]

Ya. Hakikat misi kenabian memang didirikan di atas pondasi kejujuran dan sikap istiqamah. Setiap nabi pastilah juga orang yang jujur dan mereka memang harus menjadi orang-orang yang jujur, karena nabi adalah sosok yang bertugas menyampaikan semua perintah yang datang kepadanya dari hadirat Allah yang Mahamengetahui yang gaib kepada umat manusia. Seandainya proses penyampaian risalah yang dilakukan para nabi itu sedikit saja ternodai oleh kebohongan, maka pastilah segalanya akan langsung berbalik seratus delapan puluh derajat. Sebab semua prinsip kebenaran yang kita pelajari atas nama kemanusiaan datang melalui tangan para nabi. Jadi jelaslah bahwa misi kenabian harus benar-benar steril dan tidak boleh terkontaminasi oleh kebohongan meski sekecil apapun. itulah sebabnya Allah Swt. berfirman: “Seandainya dia (Muhammad) membuat-buat sebagian perkataan atas (nama) Kami, Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kalian yang dapat menghalangi (Kami) dari pemotongan urat nadi itu.” (QS al-Hâqqah: 44-47).

Dalam menyikapi semua perintah yang datang dari Allah, posisi Rasulullah Saw. memang benar-benar seperti jenazah di tangan orang yang sedang memandikannya yang bebas membolak-balikkan tubuhnya sekehendak hati. Arah pandangan Rasulullah pasti selalu hanya tertuju pada arah yang diperintahkan oleh Allah, meski beliau berada di puncak kedekatan dengan-Nya. Rasulullah tidak mungkin alpa akan hal ini. Alih-alih, kepekaan beliau akan hal ini justru amatlah mendalam dan telah merasuk ke dalam jiwa-raga beliau.

Hingga menginjak usia empat puluh tahun, Rasulullah adalah sosok yang selalu menepati janji sampai-sampai tak ada seorang pun yang pernah mendengar beliau berdusta atau mendapati beliau melanggar janji. Abdullah ibn Abi Hamsa` meriwayatkan: “Sebelum diangkat menjadi rasul, aku pernah melakukan perjanjian jual-beli dengan Rasulullah. Tapi karena ada barang yang masih kurang, maka aku berjanji kepada beliau bahwa aku akan datang membawa kekurangan itu di suatu tempat. Ternyata aku lupa akan janjiku itu. Setelah tiga hari berlalu, barulah aku teringat dan buru-buru mendatangi tempat tersebut. Setibanya di sana, aku benar-benar terkejut karena Rasulullah masih ada di tempat itu dan berkata: ‘Hai anak muda, kau benar-benar menyusahkan aku. Aku telah menunggu di tempat ini selama tiga hari!”[8]

C. Semua Ucapan Rasulullah adalah Tanda Kejujuran Beliau

Sejak dilahirkan, Rasulullah memang telah menjadi sosok yang sangat jujur, terpercaya, dan terpilih. Itulah sebabnya orang-orang langsung menyatakan beriman kepada risalahnya setelah Rasulullah mengumumkan kenabian beliau. Seakan-akan saat itu seluruh jagad raya, bukan hanya manusia, berseru: “Sungguh kau telah berkata benar wahai Rasulullah!” Bahkan setiap ciptaan Allah semuanya mengakui kerasulan Muhammad Saw.

Sampai di sini perkenankan saya berhenti sejenak untuk menyampaikan sebuah pernyataan penting:

Semua ayat al-Qur`an dan sabda nabi kita memiliki kedudukan yang sangat tinggi sehingga tak akan dapat dicapai oleh para filosof dengan akal mereka, para wali dengan hati mereka, atau pun para sufi dengan jiwa mereka. Mereka takkan pernah dapat benar-benar memahami hakikatnya secara sempurna dan tidak akan mampu melahirkan sesuatu yang setara dengannya. Pencapaian manusia biasa untuk menciptakan nas suci adalah tidak mungkin bahkan mustahil. Karena nas suci memiliki tingkat presisi yang tinggi dalam susunan kalimat yang mengandung hubungan langsung antara Zat Allah dengan sifat dan nama-nama baik (al-asmâ` al-husnâ) yang dimiliki-Nya.

Sementara itu melalui pengalaman, semua jiwa luhur yang telah mampu mencapai ketinggian tertentu menyatakan bahwa setiap kali mereka melakukan perjalanan transendental, mereka semakin dapat jelas melihat tingkat kebenaran segala yang dijelaskan oleh al-Qur`an dan sabda Rasulullah Saw. serta kesesuaian antara nas-nas suci itu dengan kebenaran (al-haqq) dan hakikat (al-haqîqah). Mereka mampu mencapai ketinggian seperti ini melalui jalan al-kasyf (penyingkapan tabir) dan al-dzauq (olah batin).

Ya. Apa yang disabdakan oleh Rasulullah seputar masalah ketuhanan selalu mendapatkan konfirmasi akan kebenarannya dari ‘orang-orang khusus’ yang kemudian menjadikannya sebagai kaidah atau landasan pokok. Penyebabnya adalah karena penjelasan yang disampaikan Rasulullah mampu mencapai tingkat sensitifitas yang tinggi, khususnya pada penjelasan tentang masalah ketuhanan, kebangkitan, padang mahsyar, takdir, dan sebagainya. Beliau menjelaskan semua itu secara rinci dan seimbang sehingga tak akan ada seorang pun yang akan dapat menjelaskan mengenai masalah-masalah pelik seperti ini, jika saja Rasulullah tidak pernah menyampaikan penjelasan tentang itu.

Diriwayatkan dari Amr ibn Akhthab ra., dia berkata:

“Suatu ketika setelah Rasulullah melaksanakan shalat Shubuh bersama kami, beliau naik mimbar dan berkhutbah sampai tiba waktu Zhuhur lalu beliau shalat. Setelah itu beliau naik mimbar lagi dan berkhutbah sampai tiba waktu Ashar lalu beliau turun dan shalat. Setelah itu beliau naik mimbar lagi dan berkhutbah sampai matahari terbenam. Pada saat itu beliau menyampaikan kepada kami apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi. Yang paling berpengetahuan di antara kami adalah yang paling kuat hapalannya.”[9]

Ya. Rasulullah telah membuka pintu masa silam dan menjelaskan tentang semua nabi hingga Adam as. lengkap dengan sifat dan karakter mereka masing-masing. Setelah itu Rasulullah mengarahkan pandanganya ke masa depan dan menjelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan Padang Mahsyar, surga, dan neraka. Ya. Rasulullah yang tidak pernah membawa satu buku pun dan tidak pernah menimba ilmu dari siapapun. Lantas bagaimana mungkin beliau dapat memiliki semua pengetahuan itu? Tidak diragukan lagi, Allah-lah yang telah mengajari beliau segala yang belum beliau ketahui sebelumnya baik berkenaan dengan urusan dunia maupun urusan akhirat. Tak mungkin ada cara lain bagi Rasulullah untuk memiliki pengetahuan seluas itu selain hanya dari Allah. Itulah yang diterima dan dipercaya oleh semua orang yang berakal sehat hingga saat ini dan hal itu menjadi bukti lain akan kebenaran Rasulullah Saw.

Rasulullah telah menjelaskan riwayat para nabi dan kemudian menggambarkan rupa wajah mereka dengan penggambaran yang begitu detail seakan beliau sedang melukis wajah para nabi itu. Pada saat itu, orang-orang Ahlu Kitab membenarkan semua keterangan dan penggambaran yang Rasulullah sampaikan tanpa membantahnya sama sekali. Mereka berkata: “Ya. Memang seperti itulah ciri-ciri dan sifat-sifat mereka sebagaimana yang dijelaskan di dalam kitab-kitab kami.”[10]

Bukankah hal ini menjadi bukti tak terbantahkan atas kebenaran risalah yang dibawa Rasulullah?! Seorang ‘manusia biasa’ yang mampu menjelaskan sifat dan ciri-ciri para nabi terdahulu dengan penjelasan terperinci yang diakui kebenarannya oleh para ulama dan agamawan masa itu, tanpa satu pun kitab kuno seperti Taurat atau Injil yang pernah beliau baca.

Topik yang tengah baru diulas ini adalah sebuah topik yang tidak dapat saya jelaskan secara sempurna karena berada di luar kemampuan saya. Demikian pula yang terjadi pada para pembaca. Sebab tidaklah gampang memahami dan menjelaskan topik ini dengan cara yang tepat. Sementara kita tahu, dari pernyataan dan kesaksian orang-orang yang telah mencapai derajat ini -yaitu ribuan wali dan sufi yang menempuh jalan kewalian dan mendaki tangga kewalian setingkat demi setingkat- bahwa semua sabda Rasulullah berada di puncak segala hal. Hal ini tentu membentuk satu dimensi lain pada ranah sifat shidiq dan istiqamah yang beliau miliki. Pembenaran yang dinyatakan oleh orang-orang istimewa itu telah menunjukkan kepada kita bahwa Rasulullah Saw. tidak pernah sekali pun mengungkapkan sesuatu yang menyimpang dari hakikat dan kebenaran. Hal itu terjadi karena apa yang beliau ungkapkan bukan berasal dari diri beliau sendiri, melainkan datang dari wahyu Ilahi yang terhindar dari kebatilan dari sisi mana pun.[11] Itulah yang menjadikan Rasulullah sebagai penguasa segala ungkapan di sepanjang sejarah manusia.

Salah satu hal yang ingin saya paparkan di sini adalah beberapa ucapan Rasulullah yang berhubungan dengan hal-hal gaib[12] dan terbukti kebenarannya setelah empat belas abad kemudian. Ini kembali menjadi bukti kebenaran beliau dan risalah kenabian yang beliau emban. Tapi sebelum masuk ke pembahasan topik ini, saya ingin menjelaskan beberapa masalah seputar pengertian ‘gaib’ agar Anda dapat lebih memahami penjelasan yang akan saya kemukakan di bagian selanjutnya.

Di dalam al-Qur`an, kata ‘gaib’ (al-ghaib) muncul di beberapa tempat dengan arti yang bermacam-macam. Allah berfirman: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS al-An’âm [6]: 59).

Jadi, yang dimaksud dengan ‘gaib’ dalam ayat ini adalah kegaiban yang berada di hadirat ketuhanan Allah sehingga tidak diketahui oleh siapapun selain Dia. Sebuah kegaiban yang tidak diketahui termasuk oleh Rasulullah Saw.

Di ayat lain Allah mengingatkan nabi-Nya: “Katakanlah: ‘Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.’ Katakanlah: ‘Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?’ Maka apakah kamu tidak memikirkan (nya)?” (QS al-An’âm [6]: 50).

Allah berfirman: “Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman’.” (QS al-A’râf [7]: 188).

Di surat al-Jinn kita temukan ayat yang berbunyi: “(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.” (QS al-Jinn [72]: 26-28).

Dari penjelasan ayat ini, saya dapat menjelaskan sebagai berikut:

Siapapun yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw. memiliki pengetahuan atas perkara gaib secara tak terbatas, tampaknya telah bersikap berlebihan. Tapi siapapun yang menyatakan bahwa Rasulullah sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang perkara gaib tampaknya telah bersikap meremehkan. Rasulullah memang tidak mampu mengetahui yang gaib, tapi Allah-lah yang telah menampakkan yang gaib itu kepada beliau. Itulah sebabnya Rasulullah mampu menjelaskan semua perkara penting yang akan terjadi sampai Hari Kiamat tiba, karena seolah-olah beliau melihat semua itu di layar televisi. Inilah yang seharusnya dapat kita pahami dengan baik.

Apa yang dikatakan Rasulullah bukan berasal dari diri beliau sendiri, tapi dari apa yang disampaikan oleh Allah Swt. melalui wahyu. Dan karena Allah adalah sumber bagi semua pengetahuan Rasulullah, maka tentu bukan hanya Rasulullah dan para rasul lainnya yang mengetahui hal-hal gaib itu. Alih-alih, ada sebagian wali dan orang-orang saleh yang dapat mengetahui sebagian dari perkara gaib melalui karamah yang mereka terima. Rasulullah bersabda: “Telah ada pada umat sebelum kalian para muhaddatsûn. Jika ada orang seperti mereka di tengah umatku, maka itu adalah Umar ibn Khaththab.” Ibnu Wahhab menyatakan bahwa yang dimaksud ‘muhaddatsûn’ adalah orang-orang yang mendapat ilham.[13]

Itulah sebabnya kita pernah menemukan Umar ibn Khaththab ra. mendadak menghentikan khutbahnya lalu berseru: “Wahai pasukan! Gunung itu… gunung itu… gunung itu…!” untuk memperingatkan pasukan muslim dari sergapan musuh. Secara ajaib, seruan Umar itu terdengar oleh panglima pasukan muslim sehingga mereka berhasil selamat dari jebakan musuh.[14]

Ada pula banyak waliyullah seperti Muhyiddin Ibnu Arabi, Maulana Jalaluddin Rumi, Imam Rabbani, Musytaq Affandi, dan ratusan lagi lainnya yang telah menyampaikan hal-hal gaib yang kemudian terbukti benar. Hati orang-orang suci seperti mereka selalu terhubung dengan Rasulullah Muhammad Saw., sehingga mereka dapat menangkap pancaran ilham dari cahaya Rasulullah Saw.

Jika bahkan para murid Rasulullah Saw. saja dapat sedekat itu dengan embusan nasîmah rahmâniyyah, ilham ilahi, serta pengetahuan atas perkara gaib, maka apatah lagi Rasulullah yang kualitasnya setimbang dengan seluruh umat beliau? Dan apakah tidak mungkin jika pengetahuan Rasulullah atas perkara gaib itu adalah bagian dari mukjizat beliau?[15]

Terdapat sekitar tiga ratus mukjizat Rasulullah Saw. yang disebutkan di dalam pelbagai kitab hadits terpercaya. Sebagian besar dari mukjizat itu berisi berbagai macam berita dan nubuat tentang hal gaib yang disampaikan Rasulullah. Di sini kita tentu tidak perlu mengulas semua berita gaib atau nubuat yang pernah beliau sampaikan, tapi ada beberapa contoh yang perlu saya paparkan untuk membentuk kerangka berpikir kita dalam pembahasan ini.

Saya akan membagi contoh pemberitaan gaib yang disampaikan Rasulullah dalam tiga bagian:

Pertama: berita-berita gaib yang berhubungan dengan masa Rasulullah sendiri.

Kedua: berita-berita gaib yang berhubungan dengan masa depan, baik masa depan yang dekat maupun masa depan yang jauh.

Ketiga: berbagai fakta yang dijelaskan secara gamblang oleh Rasulullah yang maksudnya baru dipahami setelah ilmu pengetahuan berkembang.

Pertama: Berita-Berita Gaib yang Berhubungan dengan Masa Rasulullah.

1- Di dalam kitab-kitab hadits, khususnya kitab Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim, terdapat sebuah hadits sebagai berikut:

Diriwayatkan dari Anas ra., dia berkata:

Para sahabat sering bertanya kepada Rasulullah hingga membuat beliau terkepung oleh pertanyaan. Pada suatu hari, Rasulullah naik ke atas mimbar dan bersabda: “Apapun pertanyaan yang kalian ajukan padaku, aku pasti akan memberikan penjelasannya kepada kalian.”

Aku pun menoleh ke kanan dan ke kiri, ternyata semua orang tertunduk sambil menangis. Tiba-tiba bangkitlah seorang lelaki yang setiap kali bertengkar, namanya selalu dinisbatkan dengan nama seseorang yang bukan ayah kandungnya. Lelaki itu bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah ayah kandungku?”

Rasulullah menjawab: “Ayahmu adalah Hudzafah.”

Mendengar itu, Umar langsung menukas: “Kami rela Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul. Kami berlindung dari keburukan fitnah.”

Rasulullah menyahut: “Tak pernah kulihat kebaikan dan keburukan sejelas hari ini. Sungguh telah ditampakkan padaku surga dan neraka hingga aku dapat melihat keduanya tanpa dinding (penghalang).”[16]

2- Imam Muslim meriwayatkan di dalam kitab al-Shahîh, sebagaimana pula Imam Abu Daud, dan Imam Nasa`i sebuah hadits dari Anas ra., dari Umar ibn Khaththab ra.:

…lalu Umar menjelaskan tentang perang Badar. Dia berkata: “Sehari sebelum perang terjadi, Rasulullah menunjukkan kepada kami tempat matinya para tokoh musyrik. Beliau bersabda: ‘Ini tempat matinya si fulan besok, insyâ`allâh.’ Maka demi Zat yang mengutus beliau dengan kebenaran, semua orang yang ditunjukkan tempat kematiannya oleh Rasulullah itu sama sekali tak ada yang meleset dari tempat kematian mereka masing-masing.”[17]

Ya. Orang-orang kafir yang semasa hidupnya tak pernah mau beriman kepada Rasulullah Saw., ternyata seusai perang Badar tubuh mereka ‘berbicara’ langsung mengakui kebenaran Rasulullah Saw. Hanya satu hari sebelum perang berkobar Rasulullah menunjukkan tempat kematian mereka, dan setelah perang usai semuanya terbukti benar.

3- Di dalam kitab al-Musnad, Imam Ahmad ibn Hanbal menukil riwayat berikut ini:

Jarir berkata: “Ketika aku hampir sampai di Madinah, kuhentikan tungganganku, kubereskan bawaanku, kukenakan jubahku, lalu kumasuki kota Madinah. Ternyata saat itu Rasulullah sedang berkhutbah dan orang-orang menatap tajam ke arahku. Aku berhenti lalu bertanya kepada temanku yang ada di situ: ‘Hai Abdullah, apakah Rasulullah menyebut-nyebut namaku?’ Dia menjawab: ‘Ya. Beliau menyebut namamu dengan sebutan terbaik. Ketika Rasulullah tadi berkhutbah, beliau bersabda: ‘Sebentar lagi akan datang kepada kalian dari pintu itu salah seorang terbaik yang mendapatkan keberutungan. Ketahuilah bahwa di wajahnya ada sentuhan malaikat’.”[18]

4- Imam Ibnu Katsir di dalam kitab al-Bidâyah wa al-Nihâyah dan Imam Baihaqi di dalam kitab Dalâ`il al-Nubuwwah menyebutkan peristiwa berikut ini:

Suatu ketika Abu Sufyan melihat Rasulullah berjalan dengan diikuti oleh orang banyak. Abu Sufyan lalu bergumam dalam hati: “Apakah lelaki ini biasa berperang?” Maka tiba-tiba Rasulullah mendekat seraya melekatkan tangan beliau di dada Abu Sufyan lalu berkata: “Kalau kau begitu, Allah pasti akan menistakanmu.” Sontak Abu Sufyan menukas: “Aku bertaubat kepada Allah dan aku mohon ampun pada-Nya dengan apa yang tadi terbersit di hatiku.”

Di dalam riwayat lain dinyatakan bahwa setelah peristiwa Penaklukan Mekah, Abu Sufyan ibn Harb duduk-duduk seraya bergumam dalam hati: “Bagaimana seandainya aku mengumpulkan sesuatu untuk Muhammad?” Tiba-tiba Rasulullah mendekat lalu menepuk bahu Abu Sufyan seraya berkata: “Kalau begitu, Allah pasti akan menistakanmu.” Sontak Abu Sufyan mengangkat kepalanya dan melihat Rasulullah telah berdiri di depannya. Abu Sufyan berkata: “Sungguh dulu aku tidak yakin bahwa kau adalah seorang nabi sampai akhirnya datang saat ini.”[19]

5- Ada sebuah peristiwa lain yang terjadi pada Umair ibn Wahb ra. yang pada masa jahiliyah memiliki julukan ‘Syaithân‘ tapi kemudian berubah menjadi ‘Râhib al-Islâm‘ setelah ia memeluk agama Islam. Secara singkat dapat saya sampaikan bahwa semuanya bermula ketika suatu hari Umair yang masih kafir sedang duduk-duduk di Mekah bersama Shafwan ibn Umayyah. Mereka lalu bersepakat bahwa Umair ibn Wahb akan berangkat ke Madinah untuk berpura-pura masuk Islam lalu membunuh Rasulullah Saw. dengan imbalan sejumlah unta dari Shafwan.

Setelah mengasah pedang, Umair lalu bertolak menuju Madinah. Setibanya di tujuan, dia mengumumkan bahwa dirinya telah masuk Islam dan ingin berbaiat di hadapan Rasulullah. Para sahabat pun membawa Umair ke Masjid Nabawi, tapi mereka tidak mempercayai apa yang dinyatakan Umair. Maka para sahabat pun mengelilingi Rasulullah untuk melindungi beliau.

Rasulullah lalu bertanya kepada Umair tentang maksud kedatangannya. Umair menjawab bahwa dia datang untuk memeluk agama Islam. Tapi Rasulullah langsung menyatakan bahwa Umair telah berdusta. Beliau bersabda: “Aku akan menyampaikan kepadamu alasanmu datang ke sini.” Rasulullah lalu menuturkan semua yang telah direncakan Umair berikut kesepakatannya dengan Shafwan di Mekah untuk menghabisi Rasulullah.

Bukan main terkejutnya Umair ketika mendengar itu. Kontan lelaki itu menunduk di hadapan Rasulullah sambil menyatakan keislamannya secara sungguh-sungguh dan bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Allah.[20]

Sejak saat itu, Umair berubah menjadi sahabat Rasulullah yang sangat tekun beribadah dan selalu melakukan mujahadah hingga akhirnya dia dijuluki ‘Râhib al-Islâm‘.

Siapakah gerangan yang telah memberi tahu Rasulullah tentang apa yang dilakukan oleh Umair dan Shafwan di Mekah?

Kedua: Berita-berita Gaib yang Berhubungan dengan Masa Depan

a. Nubuat tentang Masa Depan yang Dekat

Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Usamah ibn Zaid ibn Haritsah ra.

Suatu ketika Rasulullah Saw. menggendongku lalu mendudukkan aku di atas paha beliau. Selain aku, Rasulullah juga mendudukkan Hasan di paha beliau yang lain. Beliau lalu memeluk kami berdua seraya berdoa: “Wahai Allah, kasihilah mereka berdua karena sesungguhnya aku mengasihi mereka.”[21]

Beberapa tahun kemudian, setelah Usamah ibn Zaid dewasa, Rasulullah yang tengah berada di hari-hari terakhir beliau, menunjuk Usamah sebagai panglima pasukan muslim yang telah disiapkan untuk menyerang Romawi. Rupanya Rasulullah ingin mengirim Usamah ke tempat di mana ayahnya gugur sebagai syahid beberapa tahun sebelumnya.

Tapi karena Usamah mengetahui bahwa Rasulullah sedang sakit keras, dia pun memilih untuk menunggu di Madinah dan baru berangkat ke medan pertempuran setelah Rasulullah Saw. mangkat.[22]

Usamah ra. pernah berkata: “Suatu ketika Rasulullah naik ke atas salah satu benteng kota Madinah. Beliau bersabda: ‘Apakah kalian melihat apa yang kulihat? Sungguh aku melihat tempat-tempat terjadinya fitnah di antara rumah-rumah kalian seperti tempat jatuhnya tetesan hujan’.”[23]

Dan ternyata seperti yang dikatakan Rasulullah Saw., beberapa tahun setelah beliau wafat, fitnah besar benar-benar melata di seluruh jalan dan gang kota Madinah. Umar ibn Khaththab ra., Utsman ibn Affan ra., dan Ali ibn Abi Thalib ra. adalah sebagian dari korban fitnah besar tersebut. Apa yang terjadi itu telah membuktikan kebenaran nubuat yang disabdakan oleh Rasulullah Saw.

Berikut ini beberapa contoh nubuat yang disampaikan Rasulullah dan terbukti kebenarannya tidak lama setelah beliau wafat.

1- Fitnah Besar

Sepanjang hayatnya, Umar ibn Khaththab sangat khawatir akan datangnya fitnah besar yang telah disebutkan Rasulullah. Di dalam sebuah riwayat yang berasal dari A’masy dari Syaqiq dari Hudzaifah ra., dia berkata:

Pada suatu hari ketika Umar sedang duduk di tengah para sahabat Rasulullah di masjid, Umar tiba-tiba bertanya kepada mereka: “Siapakah di antara kalian yang hafal hadits Rasulullah Saw. tentang fitnah sebagaimana yang beliau katakan?”

Aku menyahut: “Aku.”

Umar menukas: “Sungguh kau orang yang nekat. Bagaimana beliau bersabda?”

Aku menjawab: “Fitnahnya laki-laki adalah pada keluarganya, hartanya, dirinya, anaknya, dan tetangganya. Semua itu akan dihapus dengan puasa, shalat, sedekah, amar ma’ruf, dan nahi munkar.”

Tapi Umar menyergah: “Bukan itu yang kumaksud. Yang kutanyakan adalah fitnah yang datang bergelombang seperti ombak lautan.”

Aku menyahut: “Ada apa denganmu dan fitnah itu? Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya antara engkau dan fitnah itu ada sebuah pintu yang masih tertutup.”

Umar bertanya: “Apakah pintu itu akan didobrak ataukah dibuka?”

Aku menjawab: “Pintu itu bukan dibuka, tapi didobrak.”

Umar menyahut: “Kalau begitu, maka lebih baik ia tidak ditutup selamanya.”

Orang-orang yang mendengar hadits ini dari Hudzaifah bertanya kepadanya: “Apakah Umar mengetahui siapakah pintu itu?”

Hudzaifah menjawab: “Ya. Dia mengetahuinya sebagaimana dia tahu bahwa sebelum besok datang ada malam ini. Dan aku menyampaikan sebuah hadits yang bukan sebuah kekeliruan.”

Maka orang-orang pun takut untuk bertanya tentang siapakah sang pintu itu kepada Hudzaifah, tapi mereka meminta Masruq untuk menanyakan hal itu. Masruq lalu bertanya kepada Hudzaifah, dan dia menjawab: “Pintu itu adalah Umar.”[24]

Semasa hidupnya, Umar mengetahui hal itu karena dia telah lebih dulu mendengar hadits Rasulullah Saw. tentang fitnah. Dan ketika waktunya tiba, fitnah itu pun muncul seperti yang dikatakan Rasulullah s.a.w….

Umar ditikam oleh seorang Majusi Persia. Pada hari penikaman Umar itulah persatuan umat Islam juga mengalami tikaman yang tepat mengenai dada. Ya. Musuh-musuh Islam telah berhasil memilih sasaran mereka dengan tepat. Sialnya, mereka berhasil mengenai sasaran itu. Dengan wafatnya Umar, gelombang fitnah pun datang bagai gelombang menerjang Dunia Islam. Tentulah benar jika dikatakan bahwa fitnah besar yang terjadi pada saat itu adalah sebuah malapetaka yang mengerikan, tapi di sisi lain, fitnah besar yang menjadi kenyataan itu juga menjadi bukti tak terbantahkan akan kebenaran risalah Rasulullah Saw.

2- Kemenangan

Di dalam kitab Shahîh karya Imam al-Bukhari dan al-Sunan karya Imam Abu Daud disebutkan sebuah riwayat dari Khabbab ibn Aratt ra., dia menuturkan:

Suatu ketika kami mengeluh kepada Rasulullah di saat beliau sedang bertelekan lipatan mantel di bawah naungan Ka’bah. Kami berkata kepada Rasulullah: “Kenapa engkau tidak meminta pertolongan untuk kita? Kenapa engkau tidak berdoa kepada Allah untuk kita?”

Tiba-tiba Rasulullah berkata: “Sungguh sebelum kalian ada orang yang ditanam di sebuah lubang lalu tubuhnya digergaji dari bagian kepala hingga tubuhnya terbelah dua. Tapi itu tidak membuatnya berpaling dari agamanya. Ada pula yang tubuhnya disisir menggunakan sisir besi sehingga dagingnya terkelupas dari tulang. Tapi itu tidak membuatnya berpaling dari agamanya. Sungguh Allah akan menuntaskan semua perkara ini sampai kelak nanti seorang pengendara akan berani melakukan perjalanan dari Sana’a ke Hadramaut tanpa takut apa-apa melainkan Allah saja atau serigala yang menyerang dombanya. Tapi rupanya kalian adalah orang-orang yang terlalu terburu-buru.”[25]

Dan ternyata nubuat Rasulullah di dalam hadits di atas terbukti di kemudian hari.

3- “Kau adalah orang pertama yang akan bertemu aku lagi.”

Di dalam kitab Shahîh al-Bukhâri disebutkan sebuah hadits dari Aisyah ra. yang berisi kenangannya pada hari-hari terakhir Rasulullah Saw., dia menuturkan:

Pada saat itu semua istri Rasulullah berada di sisi beliau, tak ada seorang pun di antara mereka yang pergi. Lalu datanglah Fathimah dengan gaya berjalan yang persis seperti Rasulullah Saw. Ketika melihat kedatangan Fathimah, Rasulullah langsung menyambut putri beliau itu dengan berkata: “Selamat datang putriku.” Lalu Rasulullah meminta Fathimah duduk di sisi kanan beliau.[26]

Setelah itu, Rasulullah membisikkan sesuatu kepada Fathimah, dan tiba-tiba saja Fathimah menangis. Tapi sesaat kemudian Rasulullah memanggil Fathimah lagi dan membisikkan sesuatu kepadanya, dan Fathimah pun tertawa. Kami lalu bertanya kepada Fathimah tentang hal itu. Dia menjawab: “Tadi Rasulullah berbisik kepadaku bahwa nyawa beliau akan dicabut pada sakit yang beliau derita sekarang ini sehingga aku pun menangis. Namun beliau berbisik lagi dan memberi tahu bahwa aku adalah ahlu bait pertama yang akan menyusul beliau sehingga aku pun tertawa.”[27]

Dalam tangisnya kala itu, seakan-akan Fathimah bersyair tentang keadaannya setelah Rasulullah wafat:

Apa yang dapat kutanggung bagi orang yang mencium tanah Muhammad
Bukankah di sepanjang zaman yang menciumnya adalah yang berharga
Musibah telah ditimpakan kepadaku, yang kalau saja musibah itu
ditimpakan kepada siang, niscaya dia akan berbalik jadi malam
[28]

Benar. Ternyata hanya enam bulan setelah Rasulullah wafat, Fathimah menyusul beliau ke alam baka. Tak dapat dipungkiri, wafatnya Fathimah itu menjadi bukti kebenaran nubuat yang disampaikan ayahandanya.[29]

4- Perdamaian di Tangan Hasan ra.

Di dalam enam kitab hadits (al-kutub al-sittah), mayoritas ahli hadits menukil hadits berikut ini:

Suatu hari Rasulullah Saw. yang sedang berada di atas mimbar menunjuk ke arah Hasan ra. seraya bersabda: “Putraku ini adalah seorang sayyid (pemimpin). Semoga dengan dia Allah mendamaikan dua kelompok besar umat Islam.”[30]

Ya. Hasan ra. memang sosok ‘orang mulia dan anak dari orang mulia’ (karîm ibnu karîm), karena dia adalah cucu Rasulullah Saw. Ketika pada suatu saat Hasan diangkat menjadi khalifah, dengan suka rela dia kemudian menanggalkan kekuasaan demi mencegah terjadinya perpecahan di tengah umat Islam. Dengan keputusannya itu, terbuktilah bahwa Hasan memang seorang pemimpin (sayyid) dan anak pemimpin (ibnu sayyid).

Hanya butuh waktu sekitar dua puluh lima sampai tiga puluh tahun bagi nubuat yang disampaikan Rasulullah untuk terbukti kebenarannya persis seperti yang beliau katakan. Setelah wafatnya Ali ibn Abi Thalib ra., para pendukung Umayyah ibn Abi Sufyan menganggap bahwa Hasan ra. adalah penghalang bagi kekuasaan mereka. Tapi Hasan adalah seorang lelaki yang cinta damai. Oleh sebab itu dia rela melepaskan semua haknya agar kedua kelompok besar pasukan muslim dapat berdamai. Apa yang dilakukan Hasan itu juga terbukti dapat mencegah –meski hanya sementara- tercetusnya fitnah besar di tengah umat Islam.[31]

Sungguh tepat apa yang dikatakan oleh seorang penyair tentang Hasan:

Orang mulia anak orang mulia anak orang mulia
Dan kakeknya adalah manusia terbaik

Ketika Rasulullah memberi tahu Hasan tentang haknya, cucu beliau itu masih sangat belia. Tampaknya Hasan belum memahami apa maksud Rasulullah. Atau dengan kata lain, Hasan tidak mungkin dengan sengaja memilih tindakannya ketika dewasa karena apa yang dia dengar dari kakeknya. Rasulullah Saw. menyampaikan nubuat itu karena beliau memang mengetahui apa yang akan dilakukan cucunya. Tindakan yang dilakukan Hasan itu tentu menjadi bukti kebenaran sabda kakeknya.

5- “…dia akan hidup satu abad.”

Diriwayatkan dari Abdullah ibn Busr ra., dia berkata: “Suatu ketika Rasulullah meletakkan tangan beliau di kepalaku seraya bersabda: ‘Anak ini akan hidup satu abad’.”

Ternyata kemudian terbukti bahwa Abdullah ibn Busr benar-benar hidup selama seratus tahun. Kebetulan, Abdullah ibn Busr ra. memiliki kutil di wajahnya. Rasulullah juga bersabda kepadanya: “Dia tidak akan mati sampai kutilnya hilang.” Bertahun-tahun kemudian para sahabat menyatakan bahwa Abdullah ibn Busr memang hidup selama seratus tahun dan ketika dia meninggal dunia, kutilnya telah hilang dari wajahnya.[32]

Sebagaimana yang dikatakan oleh ayat “dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan.” (QS al-Dhuhâ [93]: 4), setiap hari Rasulullah Saw. selalu naik ke anak tangga yang lebih tinggi menuju puncak keutamaan. Setiap hari baru yang beliau lewati selalu lebih baik dari hari yang sebelumnya. Setiap hari beliau selalu membaca istighfar seratus kali.[33]

Demikian pula umat Rasulullah semakin mengenal beliau dari hari ke hari. Iman mereka semakin menguat seiring dengan datangnya hari-hari yang membuktikan kebenaran semua berita tentang masa depan yang disampaikan Rasulullah Saw. Seakan-akan hari-hari itu berkata: “Kau memang benar wahai Rasulullah.”

Sekarang perkenankan saya untuk menyampaikan beberapa contoh nubuat yang disampaikan Rasulullah yang berhubungan dengan masa depan yang jauh dari zaman beliau dan sangat dekat dengan zaman kita sekarang. Selain itu saya juga akan mengutarakan beberapa contoh nubuat Rasulullah yang berhubungan dengan masa depan yang belum kita alami sekarang.

6- Beberapa Nubuat yang Disampaikan Rasulullah saat Perang Parit (Khandaq)

Hampir di semua kitab hadits kita dapat menemukan peristiwa yang terjadi di tengah penggalian parit di pinggiran kota Madinah sebagai berikut.

Pada saat itu, sambil mendampingi para sahabat yang sedang menggali parit, Rasulullah bersyair:

Wahai Allah, tidak ada hidup selain hidup di akhirat
Maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin

Para sahabat juga bersyair:

Demi Allah kalau bukan karena engkau kami takkan mendapat hidayah
Kami juga tidak akan bersedekah dan tidak akan melakukan shalat
Maka turunkanlah ketenangan kepada kami semua
Dan teguhkanlah pendirian kami jika nanti kita bersua

Barra` ibn Azib al-Anshari ra. menuturkan:

Ketika Rasulullah memerintahkan kami untuk menggali parit, di salah satu bagian parit kami menemukan sebongkah batu besar yang sulit diangkat meski menggunakan cangkul. Maka para sahabat pun mengadukan hal itu kepada Rasulullah. Setelah Rasulullah melihat batu besar yang kami temukan itu, beliau pun mengambil cangkul lalu berucap: “Bismillâh!” seraya memukul batu tersebut sehingga pecahlah sepertiganya. Rasulullah lalu berkata: “Allâhu Akbar! Aku diberi kunci-kunci Syam. Demi Allah, sesungguhnya aku melihat istana-istananya yang berwarna merah insyâ`allâh.”

Lalu beliau memukul lagi untuk yang kedua sehingga pecahlah sepertiga bagian yang lain. Rasulullah lalu berkata: “Allâhu Akbar! Aku diberi kunci-kunci Persia. Demi Allah, sesungguhnya aku melihat istana Madain yang berwarna putih.”

Lalu beliau memukul lagi untuk yang ketiga seraya berujar: “Bismillâh!” sehingga pecahlah bagian yang masih tersisa. Rasulullah lalu berkata: “Allâhu Akbar! Aku diberi kunci-kunci Yaman. Demi Allah, sesungguhnya aku melihat gerbang Shana’a dari tempatku sekarang ini.”[34]

Dalam waktu tak lebih dari beberapa tahun saja, Allah menaklukkan negeri-negeri yang disebutkan Rasulullah itu melalui tangan Sa’d ibn Abi Waqqash ra., Khalid ibn Walid ra., dan para panglima muslim lainnya. Semua penaklukan itu tentu menjadi bukti lain yang menunjukkan kebenaran Rasulullah. Tentu saja semuanya akan terjadi seperti itu. Kalau pun sesuatu yang dijanjikan oleh Rasulullah terkesan mustahil atau tidak mungkin terjadi, maka Allah pasti akan membuatnya terjadi sehingga Rasulullah terhindar dari dusta. Bagaimana tidak, padahal Rasululah sendiri pernah menyatakan bahwa Barra` ibn Malik ra. “Kalau dia bersumpah atas nama Allah, niscaya Dia akan menggenapinya.”[35] Melalui hadits ini Rasulullah menyatakan bahwa seandainya Barra` bersumpah atas suatu perkara yang sulit terwujud, maka Allah pasti akan mewujudkannya. Itulah sebabnya para sahabat meminta Barra` maju ke medan perang agar mereka dapat meraih kemenangan.[36]

Jadi bagaimana mungkin jika seorang sahabat saja dapat memiliki keistimewaan seperti ini sementara Rasulullah tidak? Tentu tidak mungkin. Dalam peristiwa penggalian parit, Allah memang telah menampakkan penaklukan negeri-negeri yang disebut Rasulullah ke hadapan beliau yang langsung menyampaikan itu kepada para sahabat.

7- Berita Gembira tentang Keamanan dan Kekayaan

Adi ibn Hatim ra. meriwayatkan:

Ketika kami sedang bersama Rasulullah, tiba-tiba datanglah seseorang mengadukan kelaparan yang dialaminya. Setelah itu datang lagi seseorang yang mengadukan sebuah perampokan. Rasulullah lalu bersabda: “Wahai Adi, apakah kau pernah melihat Hirah?”

“Belum pernah,” jawabku, “Aku hanya mendengar tentang daerah itu.”

Rasulullah bersabda: “Kalau umurmu panjang, kau pasti kelak akan melihat sebuah sekedup yang dinaiki seorang wanita yang melakukan perjalanan dari Hirah sampai dia melakukan Thawaf di Ka’bah tanpa harus takut kepada apapun selain Allah.”

Pada saat itu aku bergumam dalam hati bertanya ke manakah perginya para penjahat yang menebarkan petaka di mana-mana? Rasulullah melanjutkan: “Kalau umurmu panjang, kau pasti akan melihat kekayaan Kisra ditaklukkan.”

“Kisra ibn Hurmuz?” tanyaku.

“Ya,” jawab Rasulullah, “Kisra ibn Hurmuz. Seandainya umurmu panjang, kau pasti akan melihat seorang laki-laki yang membawa segenggam penuh emas atau perak sambil meminta orang untuk menerimanya tapi dia tidak menemukan seorang pun yang mau menerima itu.”

Dan ternyata beberapa tahun kemudian aku benar-benar melihat seorang wanita yang melakukan perjalan dari Hirah dan melakukan thawaf di Ka’bah tanpa merasa takut kepada siapapun selain Allah. Aku juga menjadi salah seorang yang ikut menaklukkan kekayaan Kisra ibn Hurmuz.

Lalu Adi ibn Hatim berkata kepada para penyimak haditsnya: “Kalau kalian berumur panjang, pasti kalian akan melihat apa yang dikatakan Rasulullah Saw.: ‘…ada orang yang membawa segenggam penuh emas atau perak…’.”[37]

Adi ibn Hatim ra. memang tidak mengalami nubuat ketiga yang disampaikan Rasulullah. Akan tetapi ternyata nubuat itu kemudian benar-benar terjadi pada masa Khalifah Umar ibn Abdul Aziz. Di daerah kekuasaannya yang sangat luas, Khalifah Umar ibn Abdul Aziz berhasil menyejahterakan rakyat secara merata sehingga tak ditemukan seorang pun yang miskin. Tentu tidaklah berlebihan jika saya katakan bahwa saat ini, taraf hidup penduduk Amerika Serikat dan negara-negara barat lainnya jauh lebih buruk daripada kemakmuran yang dicapai umat Islam pada masa Umar ibn Abdul Aziz. Hal itu terjadi karena sistem pemerataan kesejahteraan di negara-negara modern amat buruk dan tidak seimbang. Di masa kini, selain kita dapat melihat segelintir orang yang sangat kaya, kita juga dapat menemukan orang-orang yang hidupnya sangat sengsara. Di masa Umar ibn Abdul Aziz, praktik pembagian kesejahteraan yang karut-marut seperti itu tidak pernah terjadi.[38]

8- Gugurnya Ammar ibn Yasir ra. sebagai Syahid

Saat itu kaum muslimin sedang sibuk membangun Masjid Nabawi. Setiap orang ikut bekerja. Sebagian dari mereka membuat batu bata, sementara sebagian yang lain mengangkut bahan bangunan dan membuat dinding. Di tengah kesibukan itu tampak Rasulullah Saw. ikut bekerja. Pada saat itulah lewat Ammar ibn Yasir ra. sambil membawa dua buah batu bata, padahal para sahabat yang lain hanya membawa satu batu bata.

Demi melihat itu, Rasulullah Saw. bersabda: “Kenapa kau lakukan itu?”

“Wahai Rasulullah,” sahut Ammar, “Aku menginginkan pahala.”

Tiba-tiba saja Rasulullah melangkat mendekati Ammar lalu membersihkan debu yang mengotori bahu Ammar seraya berkata: “Waihak,[39] wahai Ammar! Kau akan dibunuh oleh kelompok pembangkang.”[40] Pada bagian ini, sebuah riwayat lalin berbunyi: “Bergembiralah kau! Kau akan dibunuh oleh kelompok pembangkang.”[41]

Selain berkata kepada Ammar, Rasulullah juga menyampaikan kepada Ali ibn Abi Thalib ra. bahwa sahabatnya itu akan mati di tangan kelompok pembangkang.

Beberapa tahun berlalu…

Perang Shiffin pecah. Ammar ibn Yasir ra. berada di tengah pasukan yang membela Ali ibn Abi Thalib ra. sampai akhirnya sahabat Rasulullah itu gugur sebagai syahid. Para pendukung Ali ibn Abi Thalib pun langsung mengetahui bahwa syahidnya Ammar pada saat itu menjadi bukti bahwa kelompok yang melawan merekalah yang disebut pembangkang.[42]

Jadi, adalah benar bahwa peristiwa terbunuhnya Ammar sebagai syahid dalam perang Shiffin merupakan sebuah tragedi. Tapi di balik peristiwa itu, seakan-akan setiap tetes darah Ammar yang tumpah ke tanah menjadi saksi kebenaran nubuat yang disampaikan Rasulullah Saw.

Para pembaca yang budiman, seandainya Allah tidak memberi tahu Rasulullah tentang hal ini, apakah mungkin beliau mengetahui semua itu?

Saat ini memang banyak film fiksi-sains yang menggambarkan berbagai nubuat tentang masa depan. Tapi membuat visualisasi masa depan seperti itu tentu tidaklah sulit karena saat ini umat manusia dapat mengetahui gejala dan tanda-tanda arah kemajuan di masa depan. Apalagi di zaman modern ini tidak lagi sulit bagi siapapun untuk membuat prediksi tentang masa depan dengan melakukan analisa terhadap berbagai hal yang telah ada saat ini.

Tapi tidak demikian halnya dengan hal-hal gaib yang disampaikan Allah kepada Rasulullah Saw. Semua hal itu sama sekali tidak memiliki gejala atau tanda-tanda pendahuluan apapun. Itulah sebabnya menjadi mustahil bagi siapapun, meski sejenius apapun orang itu, untuk dapat menyampaikan sepersepuluh saja dari semua nubuat masa depan atau hal-hal gaib yang disampaikan Rasulullah Saw. Alasannya sederhana, yaitu karena akal manusia memiliki batas yang tidak dapat dilanggar, sehingga menjadi mustahil untuk mengetahui hal-hal gaib seperti itu tanpa bantuan wahyu atau al-ilhâm al-ghaibi (inspirasi transendental).

Rasulullah sama sekali tidak mengetahui semua nubuat itu hanya dari diri beliau, sebab Allah-lah yang telah menyampaikan semua itu kepada beliau. Itulah sebabnya semua nubuat Rasulullah menjadi kenyataan di kemudian hari.

9- Munculnya Kelompok Khawarij

Pada suatu hari ketika Rasulullah Saw. sedang membagikan pampasan perang, datanglah seorang laki-laki bermata cekung, berdahi menonjol, berjenggot lebat, berpipi tebal, dan berkepala botak. Orang itu lalu berkata kepada Rasulullah dengan lancang: “Wahai Muhammad, berlaku adillah kau!”

Rasulullah pun menukas: “Celakalah kau! Siapakah yang akan berlaku adil kalau aku tidak berlaku adil?! Sungguh kau yang merugi jika aku tidak berlaku adil.”[43]

Bagian akhir dari riwayat ini ada yang membaca kata ‘khabta wa khasarta‘ dengan fathah di atas huruf tâ` yang menunjukkan subyek kata ini adalah orang kedua (kau), dan ada pula yang membaca kata ini ‘khabtu wa khasartu‘ dengan dhammah di atas huruf tâ` yang menunjukkan subyek kata ini adalah orang pertama (aku).

Riwayat versi pertama bermakna: Jika seorang nabi saja tidak dapat berlaku adil, maka bagaimana mungkin para pengikutnya akan dapat mempelajari arti keadilan? Padahal tidak diragukan lagi, sebuah masyarakat yang hidup dalam ketidakadilan pasti akan hidup dalam kerugian dan kesengsaraan.

Riwayat versi kedua bermakna: Jika Rasulullah tidak berlaku adil, maka beliau akan termasuk orang-orang yang merugi. Padahal Rasulullah diutus sebagai nabi dan rasul yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Jadi, tidaklah mungkin Rasulullah berlaku tidak adil.

Mari kita lanjutkan hadits di atas…

Setelah melihat kelancangan orang berkepala gundul itu, Umar ibn Khaththab ra. ingin memberi pelajaran kepada lelaki yang tidak tahu sopan-santun itu. Umar berkata: “Izinkan aku memenggal leher orang itu.”

Tapi Rasulullah menukas: “Biarkan dia, karena dia memiliki teman-teman yang akan membuat seorang dari kalian merasa hina dengan shalatnya disebabkan shalat mereka, dan puasanya disebabkan puasa mereka. Mereka selalu membaca al-Qur`an, tetapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka telah keluar dari agama seperti anak panah yang tembus pada sasaran. Ketika mata panahnya dilihat, ternyata tidak ada bekas apa pun. Lalu dilihatlah pangkal mata panahnya, ternyata juga tidak ada bekas apa pun. Lalu dilihatlah batang panahnya, ternyata juga tidak ada bekas apapun. Lalu dilihatlah bulu anak panahnya, ternyata juga tidak ada bekas apapun. Ternyata anak panah itu menembus kotoran perut dan darah tanpa berbekas. Ciri-ciri mereka adalah laki-laki berkuit hitam yang salah satu pangkal tangannya seperti payudara wanita, atau seperti gumpalan daging yang bergerak-gerak. Mereka akan muncul ketika perpecahan terjadi di tengah umat.”[44]

Abu Sa’id al-Khudri ra. menyatakan: “Aku bersaksi bahwa aku telah mendengar hadits ini dari Rasulullah s.a.w dan aku bersaksi bahwa Ali ibn Abi Thalib ra. memerangi orang-orang itu dan aku bersamanya. Ali lalu memerintahkan agar lelaki yang disebut ciri-cirinya itu dicari. Ketika lelaki itu ditemukan, ia pun dibawa ke hadapan Ali sehingga aku melihat lelaki itu memiliki ciri-ciri yang sama persis dengan yang telah disampaikan Rasulullah Saw.”[45]

Jadi jelaslah bahwa ternyata orang-orang yang telah keluar dari agama seperti tembusnya anak panah adalah kaum Khawarij yang pernah diperangi oleh Ali ibn Abi Thalib ra.[46]

Ada sebuah hadits shahih lain yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda tentang Ali ibn Abi Thalib ra.: “Sesungguhnya di antara kalian ada yang akan berperang karena takwil al-Qur`an sebagaimana aku berperang karena turunnya al-Qur`an.”[47]

Maksudnya adalah bahwa Rasulullah memerangi dan menentang beliau ketika al-Qur`an turun sehingga beliau pun memerangi mereka disebabkan hal itu. Tapi kelak akan datang suatu masa ketika al-Qur`an ditakwil secara salah sehingga umat Islam akan memerangi orang-orang itu. Dan seperti yang dapat kita baca di dalam buku-buku sejarah, apa yang dinubuatkan oleh Rasulullah itu memang telah terjadi.

Dari penjelasan ini mungkin muncul kesan bahwa jangan-jangan gembong kelompok Khawarij yang ciri-cirinya telah disebutkan oleh Rasulullah itu memang sengaja diciptakan Allah atau dia sengaja berbuat jahat terhadap umat Islam demi terwujudnya nubuat yang disampaikan Rasulullah. Anda tidak perlu berpikir demikian. Apalagi jika Anda berpikir bahwa orang itu akan mendapatkan pahala karena kejahatan yang dilakukannya itu telah membuktikan kebenaran ucapan Rasulullah.

Jangan pernah berpikir demikian!

Sebab apa yang terjadi sebenarnya adalah seperti yang terjadi pada diri setan yang selalu menggoda manusia sehingga manusia dapat beroleh pahala dari Allah ketika berhasil menolak godaan tersebut.

Jadi, kaum Khawarij yang memerangi umat Islam tidak akan mendapatkan pahala apa-apa karena tindakan mereka telah membuktikan kebenaran Rasulullah, sebab apa yang mereka lakukan itu adalah sebuah kejahatan. Adapun Rasulullah mengetahui kejahatan itu jauh sebelumnya dari berita yang beliau terima dari Allah Swt.

10- Umm Haram dan Perjalanan Laut

Dalam sebuah riwayat dinyatakan bahwa Umm Haram binti Milhan ra. adalah bibi Rasulullah dari hubungan persusuan. Di dalam sebuah riwayat lain dikatakan bahwa dia adalah kerabat ibunda Rasulullah yang setara dengan bibi dari jalur ibu (khâlah). Rasulullah sering menyambangi bibinya ini bahkan beliau sering beristirahat di rumah sang bibi. Pada suatu ketika, di saat Rasulullah sedang rihat di rumah Umm Haram, tiba-tiba beliau terjaga dari tidur dan kemudian tersenyum.

Ketika melihat itu, Umm Haram pun bertanya: “Apa yang membuatmu tertawa?”

“Ada beberapa orang umatku,” jawab Rasulullah, “Kulihat dalam mimpiku mereka sedang melakukan perjalanan mengarungi laut hijau ini bagaikan para raja di atas singgasana.”

“Kalau begitu,” tukas Umm Haram, “Berdoalah kepada Allah agar Dia memasukkan aku di antara orang-orang itu.”

Rasulullah pun berdoa untuk bibinya itu lalu beliau kembali tidur. Ternyata Rasulullah kembali bermimpi seperti mimpi pertama. Beliau pun terjaga sehingga Umm Haram kembali bertanya seperti pada mimpi pertama, dan Rasul pun menjawab seperti sebelumnya.

Umm Haram berkata: “Berdoalah kepada Allah agar Dia memasukkan aku di antara orang-orang itu.”

Rasulullah menjawab: “Engkau termasuk yang pertama.”[48]

Beberapa lama kemudian, mimpi itu terbukti. Umm Haram ikut berlayar bersama Ubadah ibn Shamit ra., suaminya, untuk berperang dalam peperangan pasukan muslim pertama yang menyeberangi laut. Pada saat itu, pasukan muslim dipimpin Muawiyah menuju Cyprus.

Setelah perang usai, rombongan itu melakukan perjalanan darat dan singgah di Syam. Di tempat itu, Umm Haram diminta untuk naik ke punggung seekor hewan tunggangan. Tapi mendadak binatang itu meronta sehingga membuat tubuh Umm Haram terbanting ke tanah dan tewas seketika.[49]

Sampai saat ini, pusara Umm Haram dan suaminya di Cyprus masih terus dikunjungi orang. Setiap tetes air mata orang-orang yang berdoa di pusara itu menjadi saksi kebenaran nubuat yang disampaikan Rasulullah Saw. dengan sangat cermat. Di Cyprus, pusara pasangan yang syahid di jalan Allah menjadi bukti tak terbantah bagi kita semua.

Ya. Perjalanan sejarah rupanya terus menjadi bukti kebenaran semua nubuat yang dulu disampaikan Rasulullah Saw. ketika waktu yang dijanjikan tiba. Itulah sebabnya, hingga saat ini dan sampai kapan pun umat manusia akan selalu dapat menyaksikan sendiri kebenaran bahwa Rasulullah adalah memang Utusan Allah yang selalu menepati janji dan terpercaya. Setiap atom sel-sel tubuh kita seakan berkata: “Kau memang benar wahai Rasulullah.”

Ya. Lidah kita menjadi tumpul ketika harus menyampaikan arti dari semua ini. Tetapi setiap mukmin pasti mendengar bisikan yang sama di dalam hati mereka masing-masing. Sebuah bisikan yang sedemikian kuat sehingga siapapun yang tidak mendengarnya dapat dianggap tidak mau mengakui kebenarannya.

b. Nubuat tentang Masa Depan yang Jauh

1- Bani Qanthura`

Rasulullah pernah menyampaikan bahwa kelak akan muncul satu kaum yang akan menyerang dan menguasai Dunia Islam. Beliau bersabda: “Ketika Akhir Zaman tiba, akan muncul Bani Qanthura` yang berwajah rata, bermata sipit, dan berhidung pesek…”[50]

Berbagai literatur sejarah kemudian menyatakan bahwa kaum yang dimaksud hadits ini adalah bangsa Mongol. Sebenarnya ada dua malapetaka besar yang menimpa Dunia Islam dalam perjalanan sejarah. Petaka pertama terjadi di Andalusia yang dilakukan oleh Raja Ferdinand dan menjadi contoh kekejaman barat yang telah membantai dan membakar kekayaan intelektual kaum muslimin. Petaka kedua adalah serangan pasukan Mongol yang merajalela hingga ke kawasan Anatolia, Suriah, dan Mesir. Pada saat itu semua lambang peradaban dan tamadun di negeri-negeri muslim dihancurkan sebelum mereka membantai umat Islam.

Disebabkan perhatian besar terhadap umat yang beliau miliki, sejak jauh hari Rasulullah telah menyampaikan peringatan kepada mereka akan datangnya malapetaka. Seakan-akan Rasulullah berpesan kepada kaum muslimin bahwa ketika umat Islam harus menerima hukuman dari Allah, Dia akan mengirimkan orang-orang zalim untuk menghukum. Jadi, orang-orang zalim yang menyerang kaum muslimin adalah laksana pedang Allah yang menghukum umat Islam sebagai balasan dari Allah atas kesalahan mereka. Tapi orang-orang zalim itu tidak akan terus berbuat aniaya sekehendak hati mereka, sebab pada tahap selanjutnya Allah akan menghukum mereka setelah umat Islam memetik pelajaran dari petaka yang mereka alami.

Rasulullah telah memperingatkan umat beliau dari hukuman Allah serta mengingatkan mereka agar tidak melakukan hal-hal yang akan membuat Allah murka, sehingga mereka dapat mencegah datangnya malapetaka. Apa yang dilakukan Rasulullah ini mencerminkan kasih sayang dan kepedulian beliau yang besar kepada kita semua.

Setelah enam sampai tujuh abad berlalu, sejarah pun bersaksi akan kebenaran Rasulullah dan risalah yang beliau emban.

2- Penaklukan Istanbul

Di dalam kitab al-Mustadrak, Hakim menukil sebuah riwayat bahwa Rasulullah Saw. telah mengabarkan bahwa umat beliau akan menaklukkan Istanbul yang pada saat itu masih bernama Konstantinopel. Hadits itu berbunyi: “Kalian pasti akan menaklukkan Konstantinopel. Sungguh pemimpin terbaik adalah pemimpin kota itu. Sungguh pasukan terbaik adalah pasukan itu.”[51]

Di setiap masa, banyak pemimpin dan panglima besar yang berusaha menaklukkan Istanbul dengan tujuan agar mereka menjadi pasukan yang meraih berita gembira yang disampaikan Rasulullah. Tapi mereka semua gagal.

Tapi ada seorang sahabat Rasulullah yang bernama Abu Ayyub al-Anshari –yang makamnya di kota Istanbul dianggap sebagai permata berharga bagi kota tersebut- menjadi salah seorang saksi atas serangan sekian banyak pasukan terhadap benteng kota Istanbul dan kegagalan mereka. Sungguh sebenarnya saya merasa berat untuk memaparkan ulang sebuah informasi yang telah dikeratahui semua orang. Tapi meski saya menganggap bahwa apa yang akan saya lakukan ini akan membuang-buang waktu namun saya tetap harus menyampaikan satu dua masalah di bawah ini:

Tokoh Ulubatli Hasan yang berhasil memanjat dinding benteng kota Istanbul pada hari penaklukan kota itu bukanlah seorang prajurit biasa. Alih-alih, dia adalah alumni sekolah Enderun yang merupakan sekolah terbaik yang ada pada saat itu. Selain itu, Hasan adalah sahabat satu perguruan dari Muhammad al-Fatih.

Pada saat itu, ada beberapa orang yang saling bersahabat termasuk di antara mereka adalah Kether Galbi yang menjadi Hakim Besar (qâdhi) pertama di Istanbul; ada pula Ulubatli Hasan, dan al-Fâtih al-Kabîr Muhammad II. Ketiga orang itu menimba ilmu dan tumbuh besar bersama karena mereka merupakan murid-murid di satu sekolah yang sama.

Pada saat peristiwa penaklukan Istanbul berlangsung, Ulubatli Hasan berhasil memanjat dinding kota Istanbul dan mengibarkan bendera kekhalifahan Ottoman di atasnya meski tubuhnya penuh luka. Tak lama setelah itu, Muhammad al-Fatih datang mendampingi Ulubatli yang terkapar di tanah. Sang sultan pun melihat wajah Ulubatli menyunggingkan senyum meski tubuhnya hancur. Sultan Muhammad lalu bertanya kepada sahabatnya itu: “Kenapa kau tersenyum seperti itu, wahai Hasan?” Ulubatli menjawab: “Sungguh Rasulullah telah mendatangi tempat ini. Sungguh aku telah melihat wajah beliau yang indah. Itulah sebabnya aku gembira.”

Bayangkan, Rasulullah telah menubuatkan peristiwa besar itu sejak sembilan abad sebelumnya. Dan menurut Ulubatli, Rasulullah benar-benar datang pada hari penaklukan Istanbul lalu berjalan-jalan di tengah pasukan muslim. Atas dasar peristiwa inilah saya selalu menyatakan bahwa seandainya ada tiga orang yang berstu dengan hati yang ikhlas dan niat yang tulus, pasti roh Rasulullah Saw. akan menemani dan memberkahi mereka.

Demikianlah cerita penaklukan Istanbul yang sebelumnya saya dahului dengan peristiwa syahidnya Abu Ayyub al-Anshari, sebagai bukti lain yang menunjukkan kebenaran Rasulullah Saw. Abu Ayyub al-Anshari memang menjadi salah satu orang pertama yang mendengar berita gembira tentang penaklukan Istanbul. Itulah sebabnya kemudian ia mau menanggung beratnya perjalanan jihad dari Madinah hingga akhirnya tiba di Istanbul yang terletak sangat jauh. Abu Ayyub lalu berwasiat agar jasadnya dimakamkan di dekat gerbang kota Istanbul.[52]

3- Wahn

Selain nubuat yang terbukti di masa lalu, Rasulullah juga telah memberi tahu kita tentang berbagai peristiwa yang akan terjadi di zaman kita sekarang. Salah satu nubuat Rasulullah yang seperti itu adalah sabda beliau yang berbunyi: “Nyaris saja bangsa-bansa lain memperebutkan kalian seperti orang-orang yang sedang makan memperebutkan mangkuk makanan.”

Seorang sahabat lalu bertanya: “Apakah itu disebabkan sedikitnya jumlah kami pada saat itu?”

Rasulullah menjawab: “Pada saat itu justru jumlah kalian sangat banyak. Tapi kalian laksana buih di atas air. Allah pasti akan mencabut rasa segan terhadap kalian dari dada musuh-musuh kalian, dan Allah pasti akan melesakkan al-wahn di dalam hati kalian.”

Seorang sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud al-wahn itu?”

Rasulullah menjawab: “Cinta dunia dan benci kematian.”[53]

Jika kita membaca sekilas hadits di atas, kita akan langsung mengetahui bahwa kelak akan datang suatu masa ketika bangsa-bangsa di dunia akan bersekutu untuk memusuhi kita. Mereka akan merampok semua kekayaan yang kita miliki baik yang tampak maupun yang tersimpan di dalam tanah, untuk kemudian mereka bagi-bagikan kekayaan itu di antara mereka setelah mereka menguasainya. Selain itu dari hadits ini kita juga mengetahui bahwa kita akan menghidangkan makanan yang kita miliki kepada mereka untuk kemudian kita suapkan ke mulut mereka. Kelak mereka akan menelan semua itu dengan tamak dan takkan pernah mengenal kenyang.

Kenapa semua itu terjadi? Karena ketika semua itu terjadi, kita bukan lagi satu umat yang memiliki akar kuat laksana pohon yang kokoh, melainkan menjadi seperti buih dan kotoran yang diombang-ambingkan gelombang. Ya. Ketika perselisihan ideologi dan emosional telah merobek-robek kita menjadi kelompok-kelompok kecil, maka yang muncul kemudian adalah kemakmuran materiil yang dirasakan oleh musuh-musuh kita dan persekutuan mereka untuk melawan, mengalahkan, dan menjajah kita.

Dulu, musuh-musuh Islam sangat gentar terhadap kekuatan kita, karena kita tidak takut mati seperti mereka. Dulu, kita dengan suka cita menyambut kematian karena kita memandang remeh kehidupan dunia yang sama sekali tak berarti dibandingkan kehidupan akhirat. Tapi sekarang kita telah menjadi orang-orang yang sangat takut mati dan begitu mencintai dunia sehingga ketergantungan kita terhadpa kehidupan dunia jauh lebih besar dibandingkan mereka. Musuh-musuh kita telah mengetahui kelemahan kita itu sehingga dengan leluasa mereka berhasil mengeksploitasi kita habis-habisan.

Pada mulanya, hadits ini sering dipahami sebagai pertanda datangnya era Peperangan Salib yang panjang. Akan tetapi jika sekarang hadits ini kita teliti lebih dalam, kita pasti akan dapat melihat bahwa ternyata hadits ini sangat cocok dengan kondisi umat Islam saat ini.

Raif Qara Dagh, penulis buku berjudul Âshifat al-Bitrûl (Bencana Minyak) yang dibunuh disebabkan buku tulisannya itu telah menjelaskan di dalam bukunya tentang berbagai pengkhianatan yang dilakukan terhadap bangsa Turki di abad kesembilan belas dan kedua puluh masehi. Di dalam buku itu dia juga menjelaskan berbagai siasat busuk yang dilancarkan musuh-musuh kita.

Kita semua tentu tahu bahwa musuh-musuh kita telah menjarah kekhalifahan Ottoman dengan rakus. Tujuan mereka hanya satu, yaitu menguasai harta kekayaan kita baik yang tampak maupun yang tidak. Ketamakan mereka itu telah mencapai tingkat kebuasan yang sedemikian busuk hingga melebihi segala kebusukan yang terjadi pada masa Perang Salib. Ya. Musuh-musuh Islam memang telah mengerubuti hidangan yang kita miliki dan kemudian membagi-bagikannya di antara mereka.

Sejak dulu, aliran keyakinan tertentu memang telah mulai mengobarkan fitnah secara diam-diam dengan merusak tatanan pemerintahan Islam pada masa Utsman ibn Affan ra. dan Ali ibn Abi Thalib ra. sehingga mereka berhasil menodai kekuasaan para al-Khulafâ` al-Râsyidûn dengan darah. Setelah itu, keturunan mereka terus menyerang keluarga Utsman dari belakang sambil berusaha sekuat tenaga menghalangi munculnya kepemimpinan tunggal di Dunia Islam. Mereka berlomba-lomba memperebutkan kita seperti orang-orang kelaparan yang mengerubuti hindangan lezat. Seorang penyair yang bernama Muhammad Akif menggubah syair berikut:

Berbagai bencana…
Sebagian dari Hindustan
Sebagian dari para pemakan daging manusia…
Dan ada bencana lain yang tidak aku ketahui.

Semua bencana itu menyatu menggerogoti tubuh kekhalifahan Ottoman dan kemudian mengoyak-ngoyaknya menjadi serpihan kecil sembari merampok kekayaannya. Dulu, kaum salib menyerang kita disebabkan pengaruh doktrin tertentu sehingga menciptakan perang yang diikuti oleh para prajurit Eropa yang dungu. Gerombolan pasukan mereka pada saat itu tertipu oleh hasutan yang menyatakan bahwa perang yang mereka lakukan adalah untuk membebaskan makam Bunda Maria.

Rupanya mereka tidak mengetahui bahwa penghormatan kita terhadap Bunda Maria jauh lebih besar dibandingkan mereka. Karena kita meyakini bahwa Bunda Maria kelak akan menjadi istri bagi Rasulullah Saw. di surga. Sehingga kita selalu menganggap Bunda Maria adalah salah satu Ummul Mukminin.[54] Jadi seandainya saja Bunda Maria masih hidup saat ini, kita pasti akan melindunginya dari siapapun yang ingin menyakitinya.

Yang ingin saya katakan dari penjelasan di atas adalah bahwa isyarat yang terdapat di dalam hadits-hadits tertentu bukan menunjukkan masa-masa Perang Salib yang merupakan hasil dari ideologi dan pemikiran yang keliru. Akan tetapi hadits-hadits itu menunjuk pada kejadian dan peristiwa mengerikan yang sedang atau akan segera terjadi. Hari ini, pihak barat masih kompak bersekutu untuk menindas kita; Dunia Islam masih menjadi ‘hidangan’ yang mereka kerumuni; dan kita masih belum dapat terbebas dari kondisi ini. Jadi, apa yang dinubuatkan oleh Rasulullah pada empat belas abad yang lampau benar-benar terjadi saat ini dan sedang bersama-sama kita alami.

4- Sebuah Fitnah yang Bernama Komunisme

Abdullah ib Umar meriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah Saw. mengarahkan pandangannya ke timur seraya berkata: “Ketahuilah bahwa sebuah fitnah besar akan muncul dari arah ini, yaitu ketika qarn al-syaithân muncul.”[55]

Ada sebuah dugaan kuat bahwa lewat hadits ini Rasulullah Saw. ingin menunjukkan bahwa kelak akan muncul sebuah fitnah besar dari arah timur sebagai pengganti posisi para penjajah Eropa.

Kata ‘qarn‘ yang terdapat di dalam hadits ini memiliki makna ganda: ia bisa berarti ‘tanduk’ yang terdapat pada bagian kepala dari jenis binatang tertentu, tapi ia juga bisa berarti ‘masa’. Saya pribadi berpendapat bahwa arti dari kata ‘qarn‘ di sini adalah ‘masa’. Jadi maksud dari frasa ‘qarn al-syaithân‘ adalah ‘masa kekuasaan setan’ (‘ahd al-syaithân) yang menjadi antonim dari ‘masa kenabian’ (‘ahd al-nubuwwah).

Di bagian dunia sebelah timur, saat ini kita dapat melihat ideologi komunisme yang ditegakkan di atas penindasan, permisifme, dan berbagai bentuk kebejatan moral lainnya. Meskipun saat ini ideologi komunisme –yang merupakan anak haram dari ideologi kapitalisme- tengah tumbuh perlahan, namun ideologi sesat ini masih menjadi musuh paling berbahaya bagi Islam dan sejarah peradaban manusia pada umumnya. Atau dengan kata lain, saat ini komunisme masih menjadi ‘mimpi buruk yang terpendam’.[56] Saya yakin sepenuhnya bahwa yang ditunjukkan oleh Rasulullah adalah masa sekarang ini, karena saat ini ideologi komunisme menguasai wilayah yang sangat luas. Inilah ‘masa kekuasaan setan’ atau al-Qarn al-Syaithâni yang umat Islam telah diperingatkan tentang bahayanya oleh Rasulullah Saw.

5- Kekayaan Sungai Eufrat

Rasulullah Saw. bersabda: “Nyaris saja sungai Eufrat menampakkan kekayaan emas –atau gunung emas-. Barangsiapa yang mengalaminya, maka jangan mengambil sedikit pun darinya.”[57]

Hingga hari ini, berbagai peperangan dan tragedi terus berlangsung di daerah sepanjang sungai Eufrat. Jika kita membuka lembaran sejarah sedikit ke belakang, kita dapat melihat perang antara Iran dan Irak yang terjadi di dekat sungai ini. Pada tahun 1958, juga terjadi pembantaian para keturunan Rasulullah Saw. di dekat sungai Eufrat.

Kedua peristiwa ini tentu tidak dapat menjadi bukti yang menjelaskan hadits tersebut di atas. Karena hadits tersebut menunjukkan sebuah kejadian di masa depan yang akan terjadi di sungai Eufrat. Misalnya, pada suatu saat nanti air sungai Eufrat akan menjadi sangat mahal hingga nilainya menyamai harga emas. Jadi hadits tersebut menggunakan ungkapan metaforis. Atau mungkin pula yang terjadi adalah nilai sumber daya yang dihasilkan sungai Eufrat –setelah dibendung dan dieksplorasi- di suatu masa nanti akan menyamai nilai emas. Atau mungkin pula yang terjadi adalah di suatu saat nanti di sungai Eufrat akan ditemukan sumur minyak atau tambang emas. Tapi satu yang pasti, yaitu bahwa penyebutan sungai Eufrat oleh Rasulullah ini sebenarnya menunjukkan bahaya yang terkandung pada potensinya sehingga menyerupai bom waktu yang mengancam Dunia Islam, karena Rasulullah bersabda di ujung hadits: “…barangsiapa yang mengalaminya, maka jangan mengambil sedikit pun darinya.”

Semua yang dijelaskan di atas memang belum terjadi hingga saat ini, karena semuanya merupakan prediksi masa depan. Tapi kelak ketika semuanya menjadi kenyataan, sekali lagi umat manusia akan bersaksi atas kebenaran sabda Rasulullah Saw. dan kaum muslimin pun akan merasakan energi baru dalam keimanan mereka.

6- Agama Masehi akan Kembali Bersih seperti Semula

Rasulullah bernubuat bahwa ajaran Masehi (Nasrani) akan melebur dengan agama Islam.[58]

Ya. Ketika orang-orang kafir menangkapi kaum muslimin, orang-orang yang memiliki kekuatan udara akan menolong kaum muslimin dengan pertolongan Allah, meski serangan kaum kafir sangat hebat. Selain itu mereka juga akan mengalahkan orang-orang kafir.

Di perang dunia tersebut, mayat-mayat akan bergelimpangan di mana-mana sampai-sampai ‘burung elang’ akan memindahkan mayat-mayat tersebut. ‘Burung elang’ yang disebutkan di sini adalah simbol pihak tertentu yang memiliki ciri-ciri khusus.

7- Kemajuan dalam Bidang Pertanian

Kelak akan terjadi kemajuan luar biasa dalam bidang pertanian. Kemajuan teknologi botani pada saat itu akan dapat menghasilkan buah delima yang demikian besar sehingga cukup untuk dimakan dua puluh orang dan kulitnya dapat dipakai untuk memayungi satu orang. Selain delima, pada saat itu butir gandum juga akan menjadi sangat besar.

Nubuat yang disebutkan di atas belum terjadi hingga saat ini. Tapi semuanya pasti akan terjadi di masa datang dan menjadi bukti kebenaran misi kenabian yang diemban Rasulullah Saw. sehingga akan menguatkan kembali iman kaum muslimin.[59]

Kita memang akan menghadapi ujian berat di masa mendatang yang akan muncul dari balik tabir kegaiban. Akan tetapi ingatlah bahwa di masa depan itu kita hanya akan menemukan cahaya Rasulullah Saw., sebab tanpa cahayanya alam semesta pasti akan tenggelam dalam kegelapan.

8- Disekuilibrium yang Terjadi Saat Ini

Mari kita lihat beberapa nubuat dan pertanda yang berhubungan dengan zaman kita sekarang yang dulu pernah disampaikan Rasulullah Saw. dalam hadits berikut:

“Sesungguhnya tanda Hari Kiamat adalah memberi salam hanya kepada orang tertentu, penyebarluasan kegiatan perniagaan sampai-sampai seorang istri harus membantu suaminya berdagang, putusnya silaturahmi, kesaksian palsu, penyembunyian kesaksian yang benar, dan menggiatnya kegiatan tulis-menulis.”[60]

Keadaan kita saat ini telah menjelaskan hadits ini secara gamblang sehingga tidak perlu ditakwilkan lagi.

Kegiatan perniagaan saat ini telah melipatkan modal jutaan dan bahkan milyaran dolar. Bahkan biaya belanja iklan saja telah mencapai jutaan dolar dengan kaum wanita sebagai peran utama. Tak jarang para wanita terjun langsung ke pasar dan pameran niaga. Anda tentu tidak perlu mengatakan bahwa saya anti perdagangan. Karena apa yang saya kemukakan di sini hanyalah bukti kebenaran pernyataan Rasulullah s.aw.

Hubungan silaturahmi akan mudah diputuskan. Hak-hak orang tua dan keluarga akan diremehkan serta tidak dipedulikan lagi. Tak ada seorang pun yang menjaga tata krama terhadap orang tua. Ketika ayah atau ibu menua dan membutuhkan perhatian lebih, anak-anak akan mengirim mereka ke panti jompo agar mereka orang tua mereka mendapatkan perawatan yang tidak dapat ditemukan di rumah. Padahal Allah Swt. menyatakan bahwa hak orang tua berada tepat di bawah hak Allah.[61] Tapi pesan Allah itu diabaikan begitu saja oleh manusia. Para orang tua akan diperlakukan buruk oleh anak-anak mereka yang durhaka.

Apakah semua itu telah terjadi saat ini? Silakan Anda merenungkannya sendiri.

Di dalam hadits ini, Rasulullah menyatakan bahwa di masa depan kegiatan tulis-menulis akan menggiat sedemikian rupa. Percetakan bekerja siang dan malam untuk menerbitkan ribuan koran, majalah, dan buku. Lembaga-lembaga penerbitan, percetakan, distribusi buku, dan media massa akan berdiri di mana-mana. Rak-rak perpustakaan akan penuh dengan pelbagai macam buku. Kegiatan menulis menjadi begitu bergengsi karena para penulis dan pengarang sangat dihormati masyarakat.

Selain itu, akan tersebar pula kesaksian palsu sehingga kesaksian yang jujur menjadi barang langka. Masyarakat berubah menjadi pabrik produsen kebohongan dan gosip. Kehidupan akan disesaki berita dusta, manipulasi, dan pengkhianatan.

Tapi pembahasan seperti ini biasanya harus dijelaskan dengan sebaik-baiknya. Karena sebagian orang biasanya akan bertanya: “Apakah pernyataan ini benar-benar berasal dari Rasulullah?”

Jawaban atas pertanyaan itu amatlah mudah. Hadits yang dikutip di sini telah ditulis sejak tiga belas abad yang lampau dan sudah termaktub di dalam kitab-kitab hadits. Jadi jika pernyataan itu tidak berasal dari Rasulullah, maka dari manakah gerangan asalnya? Siapakah yang dapat menjelaskan berbagai kejadian yang akan terjadi setelah berabad-abad dengan keterangan seorang saksi mata? Siapakah yang mampu melakukan itu selain Rasulullah? Kalau pun semua nubuat ini berasal dari orang selain Rasulullah yang memiliki penglihatan nurani terhadap masa depan seperti yang beliau miliki, maka apakah sejarah manusia pernah mengenal orang selain beliau yang memiliki kemampuan seperti itu? Tentu tidak….

Semua berita gaib ini memang berasal dari Rasulullah yang telah menerima semua itu dari Allah untuk kemudian beliau sampaikan kepad kita semua. Ya. Semua peristiwa yang terjadi di zaman kita ini menjadi bukti tak terbantahkan atas kebenaran Rasulullah Saw.

9- Ilmu Menyebar Luas

Disebutkan di dalam sebuah hadits qudsi bahwa Allah berfirman: “Aku akan menyebarluaskan ilmu di Akhir Zaman sehingga ia dapat diketahui oleh semua laki-laki dan perempuan, budak dan orang merdeka, anak-anak kecil dan orang dewasa.”[62]

Lihatlah sekarang betapa semua orang dari semua tingkat sosial dapat belajar di bermacam-macam sekolah dengan tingkatan yang beragam untuk berlomba-lomba meraih pengetahuan. Begitu banyaknya jumlah universitas dan sekolah serta pertumbuhan perangkat komunikasi yang digunakan untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan saat ini telah menjadi bukti kebenaran hadits qudsi yang disampaikan Rasulullah tersebut di atas yang menunjukkan era ilmu pengetahuan.

Perkembangan di bidang komunikasi yang terjadi saat ini telah menegaskan kebenaran nubuat yang disampaikan Rasulullah Saw. Seakan-akan semua lembaga ilmu pengetahuan itu berkata kepada Rasulullah: “Apa yang kau sabdakan memang benar!”. Bahkan bisa jadi kelak nanti semua ilmu pengetahuan akan membuktikan kebenaran Rasulullah setelah semuanya kembali ke jalannya yang sejati.

10- Lari dari al-Qur`an

Ada sebuah hadits lain yang berbicara tentang zaman modern. Hadits itu berbunyi sebagai berikut:

“Hari Kiamat tidak akan terjadi sampai Kitabullah menjadi aib dan Islam menjadi aneh.”[63]

Ketika si kafir dapat dengan leluasa menunjukkan kekufurannya secara terang-terangan, si muslim pun akan malu dengan keislamannya, karena setiap kali si muslim bersuara, semua orang akan ramai-ramai mengecamnya. Ketika orang-orang kafir bebas menyebarluaskan kekufuran melalui pemikiran, media massa, dan buku di mana-mana, kaum muslim tidak lagi dapat membaca al-Qur`an dengan suara keras. Ketika semua itu terjadi, tekanan yang menindih umat Islam akan sedemikian berat hingga tidak akan ada seorang pun yang berani menyatakan diri sebagai muslim, kecuali dengan disertai rasa malu meski pun tidak ada larangan atas itu.

Lantas, apakah kita masih memungkiri bahwa kondisi seperti itu mulai terjadi saat ini? Bukankah kondisi seperti itu telah menjadi salah satu malapetaka yang harus dihadapi umat Islam? Bukankah saat ini Islam telah kembali dianggap aneh?

Mari kita tutup ulasan mengenai kondisi yang menyakitkan bagi umat Islam ini dengan perngakuan bahwa Rasulullah telah menyampaikan kepada kita sejak berabad-abad yang lalu bahwa semua ini pasti akan terjadi. Setiap kali sejarah bergerak dan tak pernah jemu membuktikan kebenaran sabda beliau, kita pun harus mengakui kebenaran nubuat yang beliau sampaikan. Duhai kapan semua ini berakhir agar kita dapat berbaiat di hadapan Rasulullah?

11- Relativitas Waktu

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda: “Hari Kiamat tidak akan terjadi sampai Kitabullah menjadi aib, waktu saling mendekat, dan aibnya menjadi batal.”[64]

Kata ‘saling mendekat’ (al-taqârub) yang tercantum di dalam hadits ini berarti: mendekatnya dua hal antara satu sama lain. Jadi, ungkapan hadits ini sebenarnya menunjukkan relativitas waktu. Dari sudut pandang lain dapat pula dikatakan bahwa ungkapan ini menunjukkan bahwa hal-hal yang pada zaman dulu pelaksanaannya membutuhkan waktu lama, sekarang dapat dilakukan dalam waktu singkat. Semua orang sekarang telah mengetahui, tak terkecuali anak kecil sekalipun, bahwa kemajuan industri dan teknologi telah membuat kita semua memasuki dunia yang serba cepat dalam berbagai aspek kehidupan. Selain itu, hadits ini juga menunjukkan bahwa akan muncul alat tranportasi yang memiliki kecepatan super sehingga membuat jarak yang sangat jauh menjadi terasa dekat.

Tapi ada satu hal yang ingin saya jelaskan di sini, yaitu sebuah fakta yang telah diketahui oleh para ahli astronomi dan astro-fisika. Fakta itu menyatakan bahwa ternyata sedikit demi sedikit, planet bumi yang kita huni ini berangsur-angsur berubah bentuk menjadi lonjong. Perubahan ini tentu saja tanpa kita sadari akan berpengaruh pada standar waktu yang kita pakai saat ini.

Ada satu makna lain dari hadits ini yang dapat saya tangkap, yaitu bawa waktu bersifat relatif. Tapi walau bagaimanapun waktu tetaplah waktu. Jadi, seandainya Anda pergi menuju rasi bintang Libra lalu di sana Anda menemukan nebula yang berjarak 40 juta tahun cahaya dan bergerak dengan kecepatan 150 ribu kilometer perdetik, maka Anda pasti akan menemukan standar waktu yang berbeda.

Jika pada suatu hari manusia dapat pergi keluar dari tata surya, maka tidak diragukan lagi bahwa pengertian tentang waktu yang kita ketahui sekarang pasti akan berubah seratus delapan puluh derajat.

Jadi, dengan kalimat sederhana yang berbunyi ‘waktu saling mendekat’, Rasulullah telah menunjukkan akan terjadinya perubahan standar waktu yang sekarang kita gunakan.

Sekarang mari kita bertanya: Apakah pernyataan mengagumkan seperti tersebut di atas itu adalah ucapan seorang manusia? Bukan ucapan sang Penguasa waktu dan tempat yang berhak mengubah keduanya dengan kemahakuasaan-Nya… Siapakah kiranya orang selain Rasulullah yang berabad-abad lampau telah mengetahui fakta mengenai relativitas waktu? Apakah pengetahuan seperti itu dapat dijangkau oleh seorang lelaki buta huruf yang tinggal di tengah masyarakat yang juga buta huruf? Tentu tidak! Allah-lah yang telah memberi tahu semua itu kepada Rasulullah Saw. untuk kemudian beliau sampaikan kepada kita.

Hari, bulan, tahun, dan era terus berlalu. Ilmu pengetahun dan teknologi terus maju dengan amat pesat. Ketika perjalanan ini sampai di tujuannya, kita akan melihat berbagai fakta yang berabad-abad lalu telah disampaikan Rasulullah Saw. sehingga tidak akan seorang ilmuwan pun yang dapat menyembunyikan ketakjuban mereka terhadap beliau. Mereka semua pasti akan berkata: “Kau memang benar wahai Rasulullah!”

12- Penyebarluasan Riba

Kelak akan datang suatu masa ketika riba menyebar luas sampai-sampai tak ada seorang pun yang dapat menyelamatkan diri darinya. Pada masa itu, kalau pun ada yang tidak ikut melakukan riba, tapi ia pasti akan tetap terkena debunya. Ada sebuah hadits yang menunjukkan penyakit yang satu ini. Penyakit yang menjadi penyakit paling berbahaya yang telah terjadi di zaman kita ini. Penyakit yang setiap hari menyebar luas dengan cepat seperti kanker.

“Kelak akan datang kepada manusia suatu zaman yang tidak ada seorang pun dari mereka pada saat itu yang tidak memakan riba. Barangsiapa yang tidak ikut memakannya tetap terkena debunya.”[65]

Ada dua poin penting yang harus kita perhatikan dari hadits ini:

Pertama: Semua uang yang berlaku di seluruh dunia ‘dimasak’ dalam ‘periuk’ riba; semua dana –baik yang riba maupun tidak- dan semua lembaga keuangan –termasuk yang tidak melakukan riba- selalu melakukan kerja sama antara satu sama lain. Jadi, jika ada seseorang yang ingin mencegah dirinya dari kekotoran riba, maka pastilah ia tetap akan terkena ‘debu’-nya yang mengepung dari segala penjuru. Tak ada seorang pun yang dapat selamat dari riba, melainkan hanya sampai pada niatnya saja. Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa niatlah benteng terakhir bagi mereka yang tidak ingin memakan riba.

Kedua: Dalam bahasa Arab, ada pengertian lain dari kalimat “…terkena debunya” yang terdapat di dalam hadits tersebut di atas, yaitu bahwa ketika sebagian manusia memakan riba, maka semua yang tidak mau memakan riba tetap akan terkena ‘debu’ dari riba. Ketika para pemilik modal mengembangkan dan melipatgandakan harta mereka dengan menggunakan riba, di saat yang sama, kelas pekerja akan semakin miskin dan menderita. Pada akhirnya hal ini akan menyebabkan terjadinya konflik antara dua golongan ini yang akan memerosokkan masyarakat ke dalam bencana yang tak jelas ujung pangkalnya, sehingga tak akan ada seorang pun yang dapat selamat dari bencana ini.

Saya yakin bahwa semua yang disebutkan di atas telah terjadi saat ini. Manusia modern telah menyaksikan kedua hal yang dinyatakan oleh hadits tersebut di atas dan dapat merasakan dampak buruk dari keduanya. Hari ini, tak ada satu pun lembaga yang tidak terkontaminasi kotoran riba, baik dari jauh maupun dari dekat. Hari ini, pedagangan global berputar pada poros riba. Di seluruh dunia, praktik riba telah diterima oleh hampir semua orang dan dianggap sebagai bagian dari sistem moneter.

Rasulullah telah memperingatkan umat beliau sejak berabad-abad yang lampau akan datangnya krisis yang akan menimpa masyarakat modern. Beliau meminta agar umat Islam waspada agar mereka tidak terperosok dalam kubangan riba. Tapi tentu saja untuk keluar dari jebakan riba, harus dilakukan upaya keras yang sungguh-sungguh. Itulah sebabnya Islam dikenal sebagai agama yang mengobarkan perang terhadap riba.

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS al-Baqarah [2]: 278-279).

Seandainya kaum muslimin mau memahami sebagian saja dari peringatan yang telah disampaikan al-Qur`an ini, pastilah mereka tidak akan menjadi bangsa yang paling miskin di dunia.

13- Kaum Mukminin akan Bersembunyi

Sebuah hadits lain menggambarkan zaman kita:

“Kelak akan datang pada umat manusia suatu zaman ketika orang mukmin bersembunyi dari masyarakat seperti bersembunyinya orang munafik dari kalian saat ini.”[66]

Apa yang dilakukan kaum munafik pada masa Rasulullah?

Menurut Rasulullah, kelak kaum mukmin akan menggunakan cara dan strategi yang pada masa Rasulullah dipakai oleh kaum munafik untuk merahasiakan identitas mereka dari kaum mukmin. Kaum mukmin akan menyembunyikan jati diri dan ibadahnya, sebab jika mereka tidak melakukan itu, maka mereka akan menghadapi tekanan yang berat. Semua itu dapat terjadi karena kekuatan jahat tidak akan pernah mau memberi kesempatan kepada kaum mukmin untuk hidup di tengah mereka. Kesempatan kerja akan tertutup dan bahkan lembaga negara tertentu akan menolak mereka. Pada saat itu, kaum mukmin akan terhina dan dilecehkan di tengah masyarakat.

Ada sebuah hadits yang menegaskan hadits tersebut di atas:

“Kelak akan muncul fitnah yang memisahkan antara seseorang dengan saudara dan ayahnya. Fitnah merajalela di dalam hati setiap orang sampai Hari Kiamat datang. Pada saat itu seorang mukmin akan dicela disebabkan shalatnya sebagaimana seorang pezina dicela disebabkan perzinaan yang dilakukannya.”[67]

Dulu, seorang pezina terhina disebabkan perzinaan yang memang merupakan sebuah aib. Tapi sekarang perzinaan telah dianggap remeh, bahkan oleh sebagian masyarakat telah dianggap sebagai jenis profesi.

Ya. Jika saat ini kita telah melakukan perjanjian yang berisi penghinaan terhadap shalat yang dilakukan seseorang. Jika kita telah melakukan perjanjian seperti itu, maka kelak akan muncul berbagai macam perjanjian yang berisi penghinaan terhadap shalat yang dilakukan oleh kaum muslimin. Shalat akan dianggap sebagai aib oleh penguasa lalim yang akan menindas orang-orang mukmin, sehingga mereka terpaksa melakukan shalat dan beribadah secara diam-diam.

14- Minyak Bumi di al-Thâlaqân

Rasulullah Saw. bersabda: “Waih bagi al-Thalaqân! Karena Allah memiliki harta berharga di dalamnya yang bukan emas dan bukan perak.”

Dalam bahasa Arab, kata ‘waih‘ digunakan untuk menyampaikan kabar gembira yang mengandung kesusahan seperti halnya senyum masam yang diberikan kepada seseorang. Ketika Rasulullah memberi tahu Ammar ibn Yasir ra. bahwa dia akan gugur sebagai syahid, beliau menggunakan kata waih: “Waihak, wahai Ammar…”[68]

Adapun yang dimaksud dengan ‘al-Thalaqân‘ yang disebutkan dalam hadits tersebut di atas adalah sebuah daerah kaya minyak bumi di Qazwain. Atau dengan kata lain dapat dijelaskan bahwa maksud hadits di atas adalah: “Waih bagi daerah al-Thalaqân! Karena di daerah itu Allah memiliki harta berharga yang bukan berupa emas atau perak.”

Selain minyak mentah, di kawasan ini juga ditemukan bahan-bahan tambang berharga lainnya seperti uranium dan permata. Tapi semua itu tidak akan mengubah apa-apa. Rasulullah telah berbicara tentang harta berharga yang bukan berupa emas atau perak yang baru ditemukan saat ini.

Jadi, bahkan minyak bumi yang baru ditemukan di zaman modern di Qazwain ikut membenarkan nubuat yang disampaikan Rasulullah Saw.

15- Gaya Hidup Mengikuti Ahlu Kitab

Rasulullah telah mengabarkan kepada kita bahwa Dunia Islam akan mengikuti jejak bangsa-bangsa terdahulu atau mengikuti jejak kaum Yahudi dan Nasrani, selangkah demi selangkah, sampai-sampai ketika ada salah seorang dari mereka yang memasukkan kepalanya ke liang biawak, maka kaum muslimin juga mengikuti perbuatan dungu seperti itu.

Rasulullah menjelaskan hal ini dengan kata-kata beliau yang indah: “Kalian pasti akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sedepa demi sedepa, sampai seandainya mereka masuk ke dalam liang biawak, kalian pasti akan mengikuti mereka.”

Para sahabat pun bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?”

Rasulullah menyahut: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?”

Seperti apa posisi kita dan posisi Dunia Islam saat ini, semua orang sudah mengetahuinya. Kita telah kelihangan kepribadian dan kita mulai mengalami krisis kehilangan identitas. Kita mulai berubah menjadi seperti domba-domba yang kebingungan. Bahkan pada satu tahapan sejarah kita pernah mengalami masa ketika semua perangkat yang cukup untuk menghancurkan sebuah negara mengungkung kita dari segala penjuru seperti tentakel-tentakel gurita. Tapi alih-alih meningkatkan kewaspadaan, kita justru terus lalai dan menganggap bahwa jalan menuju kematian itu sebagai tanda-tanda peradaban dan kemajuan.

Ya. Tidak ada satu pun umat di dunia yang pernah mengikuti kebudayaan barat seperti yang kita lakukan. Bahkan kita telah sampai ke tingkat kecanduan yang akut. Tidak ada sesuatu pun yang baru di barat yang tidak kita ikuti dengan membabi-buta tanpa menelitinya lagi. Bahkan sering kali kita menjadi umat yang paling cepat menjiplak gaya hidup barat dibandingkan bangsa-bangsa barat sendiri. Padahal Rasulullah Saw. selalu membedakan diri dari mereka dalam banyak hal, termasuk pada hal-hal sekunder yang tidak terlalu penting.[69]

Tapi hal ini bukanlah topik bahasan kita saat ini. Oleh sebab itu saya tidak ingin menjabarkannya lebih lanjut. Yang saya inginkan adalah menegaskan bahwa berabad-abad yang lampau Rasulullah telah menyampaikan kepada umat Islam bahwa hal-hal seperti ini pasti akan terjadi. Ternyata di zaman kita sekarang inilah semua nubuat itu terjadi. Setiap peristiwa yang dulu telah disampaikan atau diperingatkan oleh Rasulullah dan saat ini menjadi kenyataan tentu menjadi bukti kebenaran Rasulullah Saw.

Ketiga: Nubuat yang Berhubungan dengan Berbagai Cabang Ilmu Pengetahuan

Pada bagian ini, kita akan membahas secara sekilas tentang beberapa sabda Rasulullah dalam berbagai hal yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan modern yang menjadi bukti kebenaran nubuat yang beliau sampaikan.

Bayangkan, ketika Rasulullah Saw. melontarkan suatu pernyataan, ternyata empat belas abad kemudian pernyataan itu terbukti benar sehingga membuat seakan-akan sabda Rasulullah itu telah melampaui ilmu pengetahuan manusia. Jika para ilmuwan besar –dalam bidang mereka masing-masing- membenarkan sabda Rasulullah serta mengakui kebenaran Rasulullah atas nama ilmu pengetahuan, maka tidaklah pantas jika hadits-hadits beliau didustai.

Sains dan teknologi yang mengalami kemajuan luar biasa telah membungkuk di hadapan Rasulullah seraya berkata: “Kau benar, wahai Rasulullah.” Tak ada yang dapat mereka katakan selain itu karena beliau adalah seorang utusan Allah.

A. Obat Segala Penyakit

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Imam Ibnu Majah dinyatakan bahwa Rasulullah bersabda: “Allah tidak pernah menurunkan penyakit melainkan Dia juga menurunkan obatnya.”[70]

Dari hadits ini kita mengetahui bahwa tidak ada satu pun penyakit di dunia yang tidak Allah ciptakan obatnya. Di sepanjang sejarah manusian, tidak ada pernyataan seorang pun yang begitu kuat mendorong umat manusia untuk berusaha mencari ilmu, terlebih dalam bidang medis, seperti sabda Rasulullah ini.

Sabda Rasulullah di atas bermakna bahwa tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya. Atau dengan kata lain, semua obat bagi setiap penyakit pasti ada dan dapat ditemukan dengan perkenan serta pertolongan Allah.

Di dalam riwayat lain dikatakan: “Setiap penyakit ada obatnya.”[71]

Di dalam hadits lain dikatakan: “Berobatlah kalian, karena sesungguhnya Allah tidak pernah menciptakan penyakit melainkan Dia juga telah menciptakan obatnya. Terkecuali satu jenis penyakit: tua.”[72]

Kalau pun para ahli farmasi berhasil mendapatkan cara untuk memanjangkan usia dan menunda kematian secara sementara, maka mereka pasti takkan mampu membuat sel-sel tubuh manusia berhenti menjalani jalan yang telah ditetapkan baginya. Jalan yang telah dimulai dari Alam Roh dan terus berjalan melewati masa kanak-kanak, remaja, dan tua, untuk kemudian berakhir pada kematian yang berlanjut ke Padang Mahsyar. Setelah itu, manusia akan menuju surga atau neraka. Jalan takdir seperti itu tak mungkin dapat dihentikan. Setiap orang harus mengalami kelahiran, tumbuh besar, menua, dan mati. Tapi meski demikian, setiap penyakit yang ada di dunia pasti ada obatnya. Yang perlu dilakukan umat manusia adalah melakukan penelitian dan riset semaksimal mungkin.

Lewat hadits-hadits seperti ini, Rasulullah Saw. telah menyeru para ilmuwan dan siapapun yang diberi anugerah dan kelebihan oleh Allah berikut semua peneliti, untuk berusaha sekuat tenaga menemukan obat atas semua jenis penyakit. Hendaklah para ahli mengerahkan semua sumber daya yang dapat digunakan untuk melakukan riset. Mereka harus berusaha mencari obat bagi semua jenis penyakit yang menjangkiti umat manusia sejak mereka lahir sampai saat maut datang.

Demikianlah pula halnya al-Qur`an juga menyeru manusia untuk menggali ilmu pengetahuan. Bahkan al-Qur`an menuturkan berbagai macam mukjizat para nabi sebagai contoh atas hal ini.

Ya. Selain sebagai teladan di Alam Roh dan menjadi contoh dengan nilai-nilai luhur yang dapat menyelamatkan umat manusia dari jalan yang salah, para nabi juga menjadi pemberi petunjuk (hâdî) dan pembimbing (mursyid) dalam ranah ilmu pengetahuan, atau dalam kawasan yang menjadi tempat berperannya akal manusianya. Di kawasan ini, setiap nabi adalah laksana para Guru Besar yang bertugas memberi bimbingan dan petunjuk.

Dapat pula dikatakan bahwa umat manusia telah menerima kunci petunjuk baik moral maupun spiritual, dari para nabi. Ya. Penjelasan tentang mukjizat para rasul yang termaktub di dalam al-Qur`an dapat menjadi stimulus bagi umat manusia untuk berusaha mencapai batas maksimal yang ditunjukkan para rasul lewat mukjizat mereka.

Misalnya Isa al-Masih ra. yang dengan perkenan Allah mampu menghidupkan orang mati seperti yang disampaikan al-Qur`an kepada kita. Mukjizat yang dimiliki Isa as. ini dalah batas maksimal bagi kemampuan manusia. Kenapa? Karena semua Hukum Alam berakhir di sini, adapun yang selebihnya sudah masuk dalam kawasan adi-alami.

Kemampuan dan keinginan manusia tidak pernah dapat melampaui batas Hukum Alam. Ya. Meski ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia maju pesat, tapi ia takkan pernah bisa mengalahkan mukjizat. Karena mukjizat adalah kawasan yang hanya dapat dihuni oleh para nabi. Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan manusia dapat mencapai batas yang setelah itu hanya ada mukjizat. Islam telah mendorong manusia untuk mencapai batas tersebut.

Jadi ketika al-Qur`an menjelaskan kepada kita tentang mukjizat yang dimiliki Isa al-Masih as., seakan-akan ia berkata kepada kita untuk melihat bahwa jalan pengobatan telah terbuka bagi kita dengan kematian sebagai batas akhir. Semua jenis penyakit yang belum ditemukan obatnya, seperti kanker, AIDS, dan sebagainya, pasti memiliki obat. Para ahli diminta untuk mencari obat tersebut. Berapa banyak penyakit yang sebelumnya dianggap tak terobati, tapi ternyata sekarang telah dapat ditemukan obatnya.

Mari kita ambil contoh lain…

Mukjizat yang dimiliki Nabi Musa as. dapat menjadi pelajaran bagi umat manusia agar menggunakan benda mati untuk melaksanakan pekerjaan tertentu. Saat ini, pintu menuju penggunaan benda mati untuk membantu manusia telah terbuka lebar. Namun perlu diinggat, sehebat apapun teknologi yang dicapai manusia dalam hal ini, mereka tetap takkan mampu mengubah sebatang tongkat menjadi ular hidup, karena peristiwa tongkat menjadi ular telah masuk dalam ranah mukjizat yang bersifat adi-alami. Demikianlah yang dapat kita lakukan hanyalah berusaha sekuat tenaga pada ranah Hukum Alam yang berlaku di jagad raya.

Tampaknya inilah saat yang tepat bagi kita untuk membincangkan bahwa al-Qur`an adalah mukjizat yang tidak akan pernah dapat disaingi oleh kemampuan manusia. Ya. Al-Qur`an memang sebuah mukjizat dari segi sastra dan kehebatan kandungannya yang tidak akan pernah dapat ditandingi manusia. Semua syair dan berbagai ungkapan sastra yang telah menyihir umat manusia dengan keindahannya tidak akan ada yang dapat menandingi atau bahkan sekedat mendekati kedahsyatan al-Qur`an yang diakui menjadi batas terakhir dari kecanggihan susunan kata sebagaimana yang diakui oleh Labid dan pujangga Arab lainnya. Di dalam ayat-ayat al-Qur`an terkandung mukjizat, sehingga ucapan manusia tidak mampu menyainginya.

Kita tidak akan memperpanjang penjelasan ini, karena ada bagian tersendiri dari buku ini yang membahasnya.

Singkatnya dapat kita katakan bahwa mukjizat para nabi adalah batas terakhir bagi ilmu pengetahuan mausia. Al-Qur`an menjelaskan sebagian dari mukjizat-mukjizat itu sebagai dorongan bagi umat manusia untuk berusaha mendekati batas tersebut.[73]

Jadi, umat manusia harus berusaha mencapai titik tertinggi atau mendekati batas maksimal yang ditunjukkan lewat mukjizat yang bersifat adi-alami. Pada saat ini, manusia telah berhasil mencapai kemajuan luar biasa dalam bidang medis hingga mendekati kemungkinan menghidupkan orang mati. Tapi tentu saja kemajuan ini akan berhenti ketika harus berhadapan dengan kematian. Karena kematian, sebagaimana halnya kehidupan, adalah juga makhuk ciptaan Allah. Firman Allah yang berbunyi: “Yang telah menciptakan mati dan hidup…” (QS al-Mulk [67]: 2), mengindikasikan hal ini.

Ya. Maut memang bukan kehancuran atau akhir dari segalanya. Maut adalah kembalinya roh kepada kehendak Allah dan kembalinya amanat kehidupan yang telah dititipkan kepada manusia. Maut adalah akhir dari semua yang dapat disampaikan oleh para motivator dan ilmuwan agar mereka dapat terus maju dalam melakukan apapun demi kemaslahatan umat manusia.

Terdapat banyak hadits yang bersumber dari Rasulullah yang berbicara tentang ilmu kesehatan. Khususnya pada hal-hal yang berhubungan dengan tindakan preventif (preventive medicine) yang menjadi bagian penting dalam ilmu kedokteran. Tentu saja hal ini menjadi wajar karena tindakan mengobati orang sakit sebenarnya masih kalah penting dibandingkan dengan tindakan menjaga kesehatan serta mencegah terjadinya penyakit. Tindakan pencegahan tentu jauh lebih mudah dibandingkan pengobatan setelah penyakit menyerang, sebab pengobatan memang sukar, berat, dan membutuhkan biaya. Oleh sebab itu, Rasulullah Saw. memberi perhatian besar pada tindakan preventif serta menjadikannya sebagai landasan pokok bagi saran dan nasehat yang beliau sampaikan.

Tidaklah mengherankan ketika para tabib Nasrani yang mengunjungi Madinah pada masa Rasulullah Saw. tidak menemukan pekerjaan apa-apa. Hal itu terjadi karena kesetiaan kaum muslimin untuk mematuhi dengan sebaik-baiknya semua pesan Rasulullah s.a.w yang berhubungan dengan kesehatan.

Ketika Rasulullah mengobati penyakit yang menyerang hati dan jiwa manusia, rupanya beliau juga mengobati penyakit jasmani. Rasulullah selalu menjaga serta melindungi para pengikut beliau dari berbagai macam penyakit rohani dan penyakit jasmani.

Pada masa Rasulullah Saw. wabah pes (thâ’ûn) pernah menyerang semenanjung Arab, dan tidak ada seorang pun yang mampu menghentikan penyakit mematikan tersebut. Kala itu, pes memang begitu menakutkan seperti AIDS saat ini. Hanya saja, para sahabat selalu berhati-hati akan serangan penyakit tersebut karena Rasulullah telah memperingatkan mereka. Komunitas muslim yang higienis hidup di negeri mereka sambil menjaga diri dari wabah tersebut dengan gaya hidup mereka yang bersih dan sehat. Barulah ketika sebagian muslim ikut serta dalam pasukan yang berperang di Syam, Suriah, Aleppo, dan Antokia, mereka terserang penyakit ini disebabkan kontak yang terjadi antara mereka dengan daerah-daerah yang mereka datangi di mana beragam penyakit yang berasal dari Bizantium sedang berjangkit.

Itulah pula yang terjadi pada saat wabah penyakit menyerang Amwas[74] yang menyebabkan tewasnya dua puluh lima ribu umat Islam.[75] Pada saat itu, Abu Ubaidah ibn Jarrah menjabat sebagai gubernur di Amwas. Sahabat Rasulullah inilah yang ketika Umar ibn Khaththab ra. ditikam, ia berkata: “Seandainya Abu Ubaidah masih hidup, aku pasti akan mengangkatnya sebagai pemimpin.”[76] Ketika utusan dari Najran datang menghadap Rasulullah Saw. untuk meminta orang yang terpercaya, Rasulullah mengutus Abu Ubaidah ibn Jarrah.[77]

Ya. Abu Ubaidah ibn Jarrah ra. memang salah satu di antara sepuluh sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga dan berhak memimpin umat Islam. Abu Ubaidah tinggal di daerah yang terjangkit wabah yang telah memakan bayak korban.

Peristiwa itu terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Khaththab ra. Pada saat itu Umar dikenal sebagai pemimpin yang suka mendatangi daerah-daerah yang berhasil ditaklukkan untuk mengawasi jalannya pemerintahan di daerah. Kebetulan, saat itu Umar seharusnya mendatangi Amwas juga. Tapi ketika Umar mendengar adanya wabah penyakit di kota itu, dia pun membatalkan kunjungannya.

Pada saat itulah Abu Ubaidah ibn Jarrah bertanya kepada Umar –dalam sebuah riwayat yang berasal dari Ibnu Abbas ra.- : “Apakah kau akan lari dari takdir Allah?”

Umar menjawab: “Untung bukan kau yang berkata begitu, wahai Abu Ubaidah!” Umar memang diketahu tidak pernah mau berselisih pendapat dengan Abu Ubaidah ra.

Umat melanjutkan: “Ya. Kita lari dari satu takdir Allah menuju takdir Allah yang lain. Bukankah jika kau memiliki seekor unta lalu kau menemukan sebuah lembah dengan dua daratan yang berbeda: yang satu subur dan yang satu kering, maka kau pasti akan memilih menggembala di dataran yang subur? Padahal kau menggembala di tempat subur dengan takdir Allah, dan jika kau menggembala di tempat kering, itu juga dengan takdir Allah.”[78]

Seperti itulah intuisi dan bisikan hati Umar ibn Khaththab ra. Tapi akan Umar telah benar dengan pilihannya itu? Apa yang seharusnya dia lakukan, apakah harus terus menuju Amwas ataukah kembali ke Madinah?

Jawaban atas pertanyaan itu muncul dari Abdurrahman ibn Auf ra. yang pergi untuk suatu keperluan. Mari kita lanjutkan hadits yang sedang kita bahas ini…

Abdurrahman berkata: “Aku mengetahui sesuatu tentang hal ini. Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: ‘Jika kalian mendengar ada wabah penyakit yang menyerang suatu daerah, maka janganlah kalian mendatangi daerah itu. Tapi jika kalian sedang berada di suatu daerah yang sedang terserang wabah, maka janganlah kalian meninggalkan daerah itu.”

Demi mendengar itu, Umarpun mengucapkan hamdalah dan berlalu.[79]

Sekarang perkenankan saya bertanya kepada Anda: Bukankah apa yang disabdakan Rasulullah itu adalah pelajaran tentang praktik karantina yang dikenal dalam kedokteran modern?

Rasulullah telah menyampaikan hal seperti itu sejak empat belas abad yang lampau. Jadi agaknya wajar jika ilmu kedokteran modern harus berkata kepada beliau: “Kau memang benar, wahai Rasulullah!”

B. Wabah Lepra dan Karantina

Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad ibn Hanbal dan Imam al-Bukhari dikatakan bahwa Rasulullah bersabda: “Larilah kalian dari lepra seperti kalian lari dari singa.”[80]

Metafora yang digunakan Rasulullah di dalam hadits ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan bakteri penyakit lepra atau pun dengan rupa orang yang sedang terserang lepra yang menjadi mirip singa. Penjelasan seperti itu adalah khayalan yang menggelikan, sebab pengertian semacam itu sama sekali tidak terdapat dan sama sekali tidak dimaksud oleh hadits ini. Anjuran untuk ‘lari’ yang dinyatakan Rasulullah di sini bukan berarti lari seperti pengertian aslinya, melainkan anjuran Rasulullah kepada kita untuk melawan lepra dan mencari cara untuk melindungi diri darinya. Tindakan mencegah penyebaran bakteri lepra itulah yang kini dikenal dengan istilah ‘karantina’ yang diiringi dengan berbagai tindakan medis lainnya. Sebagaimana halnya manusia harus takut kepada singa, maka demikianlah pula orang yang masih sehat jangan bersikap gegabah agar tidak tertular kuman lepra. Singkatnya, semua hadits Rasulullah selalu memiliki arti yang mendalam. Oleh sebab itu, kita perlu berusaha untuk dapat memahaminya dengan baik.

C. Jilatan Anjing

Imam Muslim dan beberapa ahli hadits lainnya menukil sebuah hadits sebagai berikut: “Cara menyucikan bejana kalian yang dijilat anjing adalah dengan dicuci tujuh kali, dan cucian pertama dicampur dengan debu.”[81]

Melalui hadits ini, Rasulullah Saw. mengajarkan kepada kita prinsip sterilisasi, meski saat itu bahan pensteril belum ditemukan. Sains modern telah membuktikan bahwa debu dapat dipakai untuk membersihkan seperti halnya air, karena debu mengandung zat tetrolite dan tetracycline. Dua zat inilah yang saat ini digunakan dalam proses sterilisasi untuk membunuh bakteri tertentu. Jadi jelaslah bahwa ketika Rasulullah memerintahkan umat Islam untuk menggunakan debu di saat mencuci bejana yang terkena jilatan anjing, beliau sedang mengajarkan teknik sterilisasi yang diakui kebenarannya oleh ilmu kedokteran modern.

Tapi ada hal lain yang perlu diperhatikan berkenaan dengan pembahasan ini, yaitu:

Pertama: Ternyata penyakit yang menyerang anjing dapat menyerang manusia disebabkan adanya bakteri di dalam tubuh anjing. Padahal pengetahuan tentang hal ini baru ditemukan oleh kedokteran modern.

Kedua: Kotoran dan air liur anjing dapat membahayakan kesehatan manusia. Jika tindakan pembersihan terhadap kedua zat ini tidak dilakukan segera, maka penyakit yang terkandung di dalamnya akan dapat menyebar. Itulah sebabnya tindakan sterilisasi menjadi sangat perlu dilakukan.

Ketiga: Poin lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa bejana yang sudah disterilisasi dari bakteri pada cucian pertama yang menggunakan debu, harus dicuci lagi sebanyak enam kali –di riwayat lain: tujuh kali-. Saya telah mendapatkan beberapa jurnal terbitan Inggris dan Jerman yang membahas masalah ini dan menyatakan kebenaran anjuran Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw. memang menunjukkan kehati-hatian yang besar terhadap masalah anjing ini. Bahkan beliau pernah suatu ketika memerintahkan agar anjing –atas dasar pendapat beliau- untuk dibunuh.[82] Namun beliau kemudian membatalkan anjuran itu dengan sabda beliau: “Kalau saja bukan karena anjing adalah salah satu jenis di antara berbagai jenis makhluk yang lain, aku pasti sudah memerintahkan agar anjing dibunuh.”[83]

Maksud hadits ini adalah bahwa seandainya saja bukan karena anjing adalah salah satu spesies di antara berbagai macam spesies makhluk yang lain, seperti manusia, tumbuhan, dan benda mati yang kesemuanya memiliki hubungan dalam menjaga ekosistem; dan seandainya saja tidak ada peran tertentu yang dimiliki anjing dalam kehidupan, pastilah Rasulullah akan memerintahkan agar anjing dibasmi. Alasannya adalah karena anjing merupakan hewan pembawa kuman penyakit.

Apa yang dijelaskan terakhir ini, yaitu keputusan Rasulullah mengurungkan niat beliau untuk memerintahkan agar anjing dibunuh juga menjadi mukjizat yang menarik. Alasannya adalah karena Rasulullah telah mengajarkan kepada kita prinsip keseimbangan ekosistem yang baru ditemukan oleh sains modern. Dengan apa yang dilakukannya, Rasulullah telah berpesan kepada kita untuk tidak sembarangan membunuh binatang, termasuk anjing.

Hari ini, setelah lebih dari seribu empat ratus tahun berlalu, kita mulai memperhatikan arti penting menjaga kelestarian keragaman hayati seperti ikan paus, gajah, badak bercula satu, dan sebagainya. Semua itu kita lakukan untuk menjaga ekosistem di bumi. Jadi, sabda Rasulullah yang berbunyi “Kalau saja bukan karena anjing adalah salah satu jenis di antara sekian jenis makhluk lainnya…” telah menjadi sebuah peringatan dini akan pentingnya menjaga keseimbangan alam.

Ya. Allah memang telah menciptakan alam dan meletakkan keseimbangan yang akurat di antara semua makhluk dan semua penghuni semesta. Firman Allah yang berbunyi: “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu.” (QS al-Rahmân [55]: 7-8), telah menunjukkan prinsip yang berlaku universal ini.

Rasulullah adalah sosok yang ‘seimbang’. Jadi adalah wajar jika beliau selalu menjaga keseimbangan dan melarang pembunuhan, bahkan terhadap anjing sekali pun. Dari sabda beliau yang indah ini sekarang kita dapat menggali sebuah makna yang benar-benar baru.

Kalau saja ada orang selain Rasulullah yang mengungkapkan hal seperti ini, lalu orang itu tidak pernah mengatakan apa-apa lagi, maka hal itu sudah cukup untuk membuat orang tersebut pantas menempatkan dirinya di antara para tokoh yang tercatata dalam sejarah. Padahal Rasulullah telah menyampaikan ribuan hadits yang memiliki tingkat kehebatan seperti hadits ini. Jadi mungkin sebaiknya kita kumpulkan saja orang-orang jenius untuk menuntaskan masalah ini.

Sungguh kita tak perlu ragu untuk menyatakan bahwa semua peristiwa dan kejadian pantas untuk berkata kepada Rasulullah Saw.: “Engkau memang seorang Utusan Allah yang selalu jujur dan terpercaya.” Setiap kali ilmu pengetahuan bergerak maju dan semakin canggih, apa yang saya katakan ini tampak semakin jelas. Saya sangat yakin bahwa kelak akan tiba suatu masa ketika semua orang akan mempercayai hal ini.

Saat ini, sains dan ilmu pengetahuan telah menyelam di kedalaman samudera kehidupan untuk meneliti, mempelajari, dan memecahkan semua hakikat yang disebutkan oleh al-Qur`an dan hadits-hadits Rasulullah Saw. Setiap saat selalu ada saja penemuan baru yang membuktikan kebenaran Rasulullah Saw. yang diumumkan langsung oleh para ilmuwan yang memiliki hati bersih dari ribuan podium di seluruh penjuru dunia.

D. Cuci Tangan Sebelum dan Sesudah Makan

Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits berikut ini: Rasulullah Saw. bersabda: “Berkah makanan ada pada wudhu sebelumnya dan wudhu sesudahnya.”[84]

Lewat hadits ini Rasulullah seakan berkata bahwa jika kita ingin mendapatkan berkah makanan, kita diminta untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah makan seperti yang kita lakukan di saat berwudhu.

Dengan hadits ini Rasulullah Saw. telah meletakkan prinsip pokok dalam kebersihan. Sebab jika beliau tidak menyampaikan hal itu kepada para sahabat pada masa itu, mereka tidak akan mengetahui prinsip kebersihan dengan menggunakan akal. Apalagi pada masa itu manusia belum mengetahui berapa juta jumlah kuman yang bersemayam di kuku tangannya. Tapi marilah kita kesampingkan mereka yang hidup di masa Rasulullah, karena coba sekarang Anda katakan kepada saya berapa banyak orang yang benar-benar memahami hakikat ilmiah dari masalah ini?

Selain itu, ada pula kaidah kebersihan yang diajarkan Rasulullah kepada kita, yaitu mencuci tangan setelah bangun tidur sebelum ia dipakai untuk menyentuh barang apapun. Alasannya adalah karena di saat sedang tidur, manusia tidak dapat mengetahui di mana tangannya berada.[85] Rasulullah selalu memberi perhatian serius terhadap kebersihan tangan. Itulah sebabnya kita temukan banyak hadits yang berisi pesan beliau atas hal ini.

Saat ini, para dokter mulai dapat memahami hikmah di balik pesan Rasulullah itu. Setiap orang memang tidak mengetahui apa yang disentuh tangannya ketika sedang tidur. Tangannya bisa jadi menyentuh kotoran, sehingga tidaklah mungkin baginya untuk menggunakan tangan itu tanpa mencucinya terlebih dulu.

Apakah dulu Rasulullah menggunakan mikroskop, sinar x, atau laboratorium tertentu untuk mengetahui bahwa tangan dapat terkontaminasi bakteri hingga beliau merasa perlu untuk memperingatkan umat Islam akan kebersihan tangan? Tentu tidak. Semua teknologi itu belum ada pada masa Rasulullah. Tapi di atas semua itu, ada Dia yang telah menyampaikan kepada Rasulullah tentang semua ini melalui wahyu serta mengajari beliau baik melalui firman yang tertulis maupun firman yang tidak tertulis. Rasulullah kemudian menyampaikan keterangan itu kepada umat beliau. Itulah sebabnya semua ucapan Rasulullah tidak ada yang salah atau pun menyalahi fakta kebenaran yang ditemukan di kemudian hari.

E. Siwak untuk Menjaga Kebersihan Gigi dan Mulut

Di dalam berbagai literatur hadits, termasuk al-Kutub al-Sittah, disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh hampir empat puluh orang sahabat sehingga mencapai derajat mutawatir. Hadits itu berbunyi sebagai berikut:

“Kalau saja bukan karena aku khawatir menyusahkan umatku, aku pasti memerintahkan mereka untuk bersiwak menjelang setiap shalat.”[86]

Kalau saja Rasulullah tidak khawatir akan menyusahkan kita, beliau pasti akan mewajibkan kita untuk bersiwak sebelum shalat seperti halnya wudhu. Sebab jika bersiwak diwajibkan, maka hal itu akan bertentangan dengan semangat Islam yang didirikan di atas kemudahan, padahal tidak semua orang dapat dengan mudah menemukan batang siwak untuk digunakan.

Siwak memang bukan kewajiban, tapi ia merupakan sunah yang tak diragukan keabsahannya. Para ulama masa lalu telah menulis sekian banyak buku mengenai hal ini. Saat ini, banyak peneliti yang membahas siwak dari berbagai sudut pandang ilmiah. Insyâallâh kelak mereka akan menyampaikan hasil penelitian mereka.

Kata ‘al-siwâk‘ berarti ‘membersihkan gigi’. Bersiwak bukan hanya dapat dilakukan menggunakan batang siwak, melainkan juga dapat dilakukan dengan tangan, garam, pasta gigi, atau bahan-bahan lainnya. Ya. Setiap orang dapat membersihkan giginya dengan alat atau bahan apapun yang disukainya. Yang pasti, tidak ada seorang pun yang menyangkal bahwa bersiwak atau membersihkan gigi berguna bagi kesehatan.

Sekarang coba Anda bayangkan jika ada satu agama yang penyampai ajarannya (bukan penciptanya, karena yang menciptakannya adalah Allah, sedangkan sang Rasul hanya menyampaikan) menganjurkan bersiwak lima sampai sepuluh kali setiap hari, serta menjadikan bersiwak sebagai sunah bagi umatnya.

Oleh sebab itu kita dapat mengatakan bahwa agama seperti ini telah lebih dulu memahami konsep kebersihan gigi dan konsep ilmiah perlindungan gigi yang sekarang dikenal dengan istilah dalam bahasa Prancis ‘hygieniqui‘. Saya yakin tak ada seorang pun dokter gigi –apalagi orang awam- yang membersihkan giginya lima sampai sepuluh kali sehari. Karena dulu Rasulullah minimal bersiwak lima sampai sepuluh kali sehari. Bahkan ketika bangun malam untuk shalat, Rasulullah selalu bersiwak.[87] Rasulullah selalu menggunakan siwaknya untuk membersihkan gigi setiap kali usai berwudhu dan sebelum melaksanakan shalat-shalat subuh, duha, zuhur, asar, magrib, dan isya. Begitu pula setiap selesai makan. Jika kita menghitung lagi, maka tampak jelas bahwa Rasulullah bersiwak lebih banyak daripada yang telah sebutkan di atas.

F. Keseimbangan dalam Makanan

Rasulullah bersabda berkenaan dengan tindakan preventif (preventive medicine): “Tidak ada wadah yang diisi penuh oleh anak Adam yang lebih buruk dibandingkan perut. Cukuplah bagi anak Adam makanan yang dapat menegakkan tulang sulbinya. Jika tidak bisa begitu, maka seperti tiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk nafas (udara).”[88]

Terdapat masih banyak hadits lain yang mempertegas hadits tersebut di atas. Salah satunya berbunyi: “Yang paling kutakutkan dari umatku adalah perut gemuk, banyak tidur, malas, dan lemah keyakinan.”[89]

Semua perkara yang disebutkan hadits terakhir bermuara pada satu titik, yaitu siapapun yang menjalani hidupnya dalam kealpaan tanpa pernah mau mengawasi dirinya sendiri, pasti sebagian besar waktunya akan habis untuk tidur dan bermalas-malasan sehingga badannya akan menjadi gemuk disebabkan timbunan lemak yang berlebihan. Padahal semakin gemuk seseorang, akan semakin banyak pula makannya; dan ketika hasrat untuk makan semakin besar, kealpaan hatinya juga pasti akan semakin besar pula. Atau dengan kata lain dapat kita katakan bahwa siapapun yang banyak makan, pasti akan banyak tidur; dan siapa pun yang banyak tidur, pasti akan menjadi orang yang lemah keyakinannya.

Jadi dari sisi mana pun Anda melihat, pasti Anda akan mengetahui bahwa masalah ini telah membuat Rasulullah risau kepada umat beliau. Sampai di sini, saya serahkan pembahasan selanjutnya kepada para ilmuwan di bidang medis untuk melakukan penelitian. Tapi saya yakin, setelah Anda membaca atau mendengar penjelasan mereka, kalian pasti akan dapat melihat seberapa besar kebenaran yang disampaikan Rasulullah Saw. berabad-abad yang lampau. Anda pasti akan melihat bahwa ternyata sabda beliau sama sekali tidak menyimpang dari kebenaran.

G. Celak Mata

Sekarang mari kita beralih ke hadits lain yang berbunyi sebagai berikut: “…dan celak terbaik untuk kalian adalah itsmid…. Ia menajamkan pandangan dan menyuburkan bulu mata.”[90]

Para dokter modern -yang pandangan dan mata hati mereka telah disinari Allah- menyatakan bahwa celak mata adalah salah satu obat terbaik yang dapat memasok kebutuhan nutrisi pada mata dan bulu mata. Saya yakin bahwa di masa mendatang celak mata akan berperan penting dalam dunia fashion dan kesehatan mata.

Selain celak, ada bahan lain yang dapat dipakai untuk bercelak karena memiliki kemampuan yang sama dalam melindungi kulit serta memiliki kandungan antibiotik. Bahan yang saya maksud adalah al-hinnâ`.[91] Penelitian modern telah membuktikan bahwa al-hinnâ` memiliki daya sterilisasi yang lebih besar dibandingkan zat iodium dan morfasilon yang saat ini umum digunakan dalam proses sterilisasi.

H. Jintan Hitam (al-Habbah al-Saudâ`)

Di dalam sebuah hadits yang terdapat di dalam kitab-kitab hadits yang disusun oleh Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, dan Imam Ibnu Majah dinyatakan bahwa Abu Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “…sesungguhnya di dalam jintan hitam (al-habbah al-saudâ`) ini terdapat kesembuhan dari segala penyakit kecuali kematian.”[92]

Di dalam bahasa Arab, frasa ‘segala penyakit’ (kull dâ`) yang terdapat di dalam hadits ini menunjukkan arti banyak. Jadi, seandainya penelitian terhadap jintan hitam dilakukan secara intensif dan maksimal, pastilah akan terkuak semua khasiatnya yang mampu mengobati bermacam-macam penyakit.

Hadits tersebut di atas mengandung dua poin penting, yaitu:

Pertama: khasiat jintan hitam; dan,

Kedua: kematian sebagai ‘penyakit’ yang tidak mungkin dapat disembuhkan.

Tapi sebagaimana yang telah saya lakukan pada pembahasan terdahulu, saya tidak akan mengupas lebih lanjut tentang kajian ilmiah terhadap jintan hitam –yang akan lebih baik jika disampaikan oleh para ilmuwan-, namun di sini saya hanya akan menyampaikan beberapa hal yang terlintas di dalam benak saya.

Ketika seseorang sedang sakit, adalah penting baginya untuk memperbanyak asupan protein, khususnya pada masa penyembuhan. Tapi selain harus mengandung banyak protein, makanan yang dikonsumsi orang yang bersangkutan juga harus memiliki kandungan vitamin dan kalori serta sekaligus juga harus mudah dicerna. Itulah yang dianjurkan oleh para dokter kepada para pasien dengan tujuan agar pasien dapat memperoleh energi serta tidak mengalami gangguan pencernaan. Ternyata, beberapa penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa semua kebutuhan tersebut terdapat di dalam jintan hitam. Sudah terlalu banyak bukti empiris yang dapat kita temukan berkenaan dengan hal ini. Semua itu tentu membuktikan pula bahwa Rasulullah tidak pernah mengucapkan apapun berdasarkan akal beliau semata, sebab semua yang beliau katakan selalu terbukti kebenarannya.

I. Lalat

Mari kita lanjutkan kajian kita dengan menukil sebuah hadits yang tercantum di dalam kitab Shahîh al-Bukhari berikut ini: Rasulullah Saw. bersabda: “Jika seekor lalat masuk ke dalam bejana, maka celupkanlah seluruh badannya lalu buanglah karena di salah satu sayapnya terdapat penyakit dan di sayapnya yang lain terdapat obat.”[93]

Pertama; sebelum memulai pembahasan ini, saya ingin mengatakan bahwa pada masa Rasulullah Saw. tak ada seorang pun yang tahun bahwa lalat membawa kuman penyakit. Selain itu, setiap kali hinggap di atas permukaan air, lalat ternyata selalu mengangkat salah satu sayapnya atau tidak pernah menceburkan kedua sayapnya ke air. Tujuannya adalah agar ia dapat langsung terbang lagi jika harus mendadak terbang dari tempatnya. Akan tetapi, ketika makanan atau minuman kita dihinggapi lalat, maka berarti bahan-bahan itu telah terkontaminasi kuman yang dibawa si lalat.

Kedua; ketika hal seperti itu terjadi, Rasulullah menyarankan agar kita menceburkan semua tubuh lalat ke air lalu membuangnya. Karena pada salah satu sayap lalat terdapat kuman penyakit sementara di sayapnya yang lain terdapat obat yang dapat membunuh kuman yang dibawa sayap yang lainnya. Selain itu, ketika seekor lalat merasakan sentuhan tangan kita pada bagian punggungnya, maka ia pasti akan berusaha untuk melepaskan diri dan pada saat itulah lalat akan mengeluarkan zat anti-bakteri. Demikianlah cara lalat membunuh kuman penyakit yang terdapat pada salah satu sayapnya.

Para ilmuwan yang melakukan penelitian terhadap lalat untuk menemukan jawaban ilmiah atas anjuran Rasulullah ini menemukan fakta bahwa ketika mereka menekan punggung lalat, mereka melihat dengan menggunakan mikroskop bahwa ada sekelompok bakteri yang bergerak ke kanan dan ke kiri. Pada penelitian selanjutnya mereka mengetahui bahwa bakteri yang bergerak itu adalah bakteri baik yang mampu mensterilisasi dan membunuh bakteri jahat yang terdapat pada tubuh lalat.

J. Pendarahan Internal

Di dalam sebuah riwayat yang berasal dari Ummul Mukminin Aisyah ra., dia berkata: “Suatu ketika datanglah Aisyah binti Abi Hubaisy menemui Rasulullah Saw. lalu ia berkata: ‘Wahai Rasulullah, aku adalah wanita yang mengalami istihadhah, sehingga aku tidak dapat bersuci. Apakah aku harus meninggalkan shalat?’ Rasulullah menjawab: ‘Tidak. Sesungguhnya itu adalah pendarahan (sciatica) dan bukan darah haid. Jika waktu haidmu datang, tinggalkanlah shalat. Tapi jika habis waktu haidmu, maka bersihkanlah darah itu lalu shalatlah’.”[94]

Berabad-abad setelah Rasulullah menyampaikan sabda beliau seperti tersebut di atas, kita baru mengetahui bahwa penyebab darah yang muncul di luar masa haid adalah pendarahan internal. Tapi bagaimana mungkin Rasulullah Saw. telah mengetahui fakta ilmiah yang baru diketahui kedokteran modern saat ini sejak empat belas abad lalu? Pastilah Rasulullah mengetahui semua itu dari Allah yang telah memberi tahu itu kepada beliau yang kemudian menyampaikannya kepada kita. Jadi memang jelas terbukti bahwa waktu yang berjalan semakin membuat Rasulullah bertambah agung dan luhur. Saat ini, para ilmuwan mengakui bahwa menyampaikan semua ini pastilah bukan manusia biasa; orang itu pastilah seorang nabi.

K. Khamar tidak Mengandung Obat

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa suatu kali Thariq ibn Suwaid bertanya kepada Rasulullah tentang khamar. Ternyata Rasulullah melarang dan membenci jika Thariq membuat khamar. Setelah mendengar itu, Thariq menyergah: “Tapi aku membuatnya untuk obat.” Rasulullah pun menyahut: “Khamar itu bukan obat, ia adalah penyakit.”[95]

Telah dilangsungkan banyak seminar di seluruh penjuru dunia, termasuk Turki, yang membahas tentang khamar dan bahan memabukkan lainnya yang diisi oleh para ilmuwan. Di semua seminar itu telah disepakati bahwa khamar –meski hanya satu tetes- berbahaya bagi tubuh, akal, dan jiwa manusia serta dapat menyebabkan gangguan serius. Empat belas abad yang lalu Rasulullah Saw. telah menegaskan hal ini dengan sabda beliau yang menyatakan bahwa khamar bukanlah obat, tetapi penyakit.

L. Khitan

Rasulullah Saw. bersabda bahwa ada lima perkara yang termasuk fitrah manusia; salah satunya adalah khitan.[96]

Apa yang dikatakan oleh para ilmuwan modern? Bukankah mereka juga menganjurkan khitan? Bukankah mereka menyatakan bahwa kulup dapat menjadi tempat bersarangnya kuman yang dapat menyebabkan terjadinya kanker? Bukankah mereka mengetahui bahwa cara satu-satunya untuk menghilangkan resiko penimbunan kuman di daerah kulup adalah dengan khitan?

Demikianlah sekarang kita ketahui bahwa masyarakat barat telah memahami masalah dengan baik, bahkan jauh lebih baik daripada sebagian saudara-saudara kita yang masih terbelakang. Saat ini jumlah penduduk Inggris dan Amerika Serikat telah mencapai jutaan orang.

Tiba-tiba saja terlintas di dalam benak saya ucapan sang Badi` al-Zamân Said Nursi: “Saat ini Eropa sedang mengandung bayi Islam yang kelak akan lahir suatu hari nanti. Dan Daulah Ottoman sedang mengandung bayi Eropa yang kelak akan lahir suatu hari nanti.”[97]

Sa’id Nursi melontarkan penyataannya ini pada awal abad ini, dan ternyata salah satunya telah terbukti benar. Sekarang tinggal menunggu dengan sabar prediksi yang kedua juga akan terbukti. Eropa yang tengah mengandung bayi Islam itu sekarang tengah merasakan kontraksi karena sang bayi akan segera lahir. Sebentar lagi, insyaallâh kita akan mendengar suara bayi yang membawa kabar gembira dan harapan baru.

Sampai di sini, kita masih terus membahas topik tentang kebenaran, kejujuran, dan keikhlasan Rasulullah Saw. serta kebenaran dan keikhlasan para nabi yang lain, sebab setiap nabi memang berada di puncak kebenaran dan keikhlasan. Itulah sebabnya kebohongan sama sekali tidak mendapat tempat dalam hidup mereka. Kalau saja mereka bersikap melenceng –meski hanya sedikit- pastilah mereka tidak akan dapat menyeru umat manusia ke arah jalan yang lurus. Apalagi diketahui bahwa mereka semua hanya diutus dengan tujuan untuk menghantarkan umat manusia ke jalan lurus menuju surga dengan cara menjelaskan dan mengenalkan jalan tersebut.

Ya. Seandainya keutamaan dan kejujuran yang dimiliki para nabi itu dapat mewujud, pastilah ia akan muncul dalam sosok terang yang harum. Di sini, kita telah menemukan ribuan bukti di sepanjang sejarah manusia yang menunjukkan kejujuran dan kebenaran Rasulullah Saw.

Saya telah berusaha menghimpun bukti-bukti kebenaran Rasulullah itu dalam tiga kelompok. Meski sebenarnya ini sekedar ikhtiyar yang kami lakukan untuk memudahkan pembahasan, sebab jika tidak demikian maka sebenarnya penjelasan tentang kejujuran dan kebenaran Rasulullah dapat dibagi ke dalam ribuan klasifikasi dengan ribuan bukti dan kesaksian di dalamnya untuk kemudian dipaparkan dengan beragam bentuk. Tidak ada seorang pun yang dapat mengklaim telah berhasil menjelaskan masalah ini dengan sempurna.

Saya sangat yakin bahwa perjalanan sejarah pasti akan menunjukkan kebenaran Rasulullah. Di setiap era, umat manusia akan selalu menemukan perspektif baru dari sabda Rasulullah yang akan menunjukkan kebenaran beliau. Kelak di akhirat, semua manusia akan mengetahui kebenaran Rasulullah. Pada saat itu, semua orang akan mengetahui kebenaran sabda Rasulullah yang menjelaskan Zat Allah, nama-nama-Nya yang baik (al-asmâ` al-husnâ), sifat-sifat-Nya yang agung, beserta segala hal yang berhubungan dengan-Nya. Pada saat itu, kita semua akan dapat melihat surga, bidadari, para ghilmân (bocah-bocah surga), neraka, dan semua perkara gaib yang telah disampaikan Rasulullah Saw. yang semuanya ternyata persis sama dengan apa yang beliau sampaikan. Pada saat itu, semua manusia takkan dapat mengelak untuk berkata: “Engkau memang benar wahai Rasulullah!”.

End Notes:

[1] Al-Sîrah al-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam 1/209; al-Musnad, Imam Ahmad 3/425.
[2] Lihat: al-Bukhari, Bad` al-Wahy, 3, 6; Muslim, al-Jihâd, 74.
[3] Al-Musnad, Imam Ahmad 5/323.
[4] Al-Tirmidzi, al-Qiyâmah, 60; al-Musnad, Imam Ahmad 1/200.
[5] Faidh al-Qadîr, al-Munawi 3/232; Kanz al-‘Ummâl, al-Hindi 3/344.
[6] Al-Bukhari, al-Adab, 69; Muslim, al-Birr, 105; Abu Daud, al-Adab, 80.
[7] Muslim, al-Taubah, 53; al-Bukhari, al-Maghâzî, 79.
[8] Abu Daud, al-Adab, 82.
[9] Muslim, al-Fitan, 25; al-Musnad, Imam Ahmad 5/341.
[10] Muslim, al-Îmân, 271.
[11] Lihat ayat “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS al-Najm [53]: 3-4).
[12] Termasuk pula dalam pengertian gaib di sini segala peristiwa yang belum terjadi, penerj
[13] Al-Bukhari, al-Anbiyâ`, 54; Muslim, Fadhâ`il al-Shahâbah, 23; al-Tirmidzi, al-Manâqib, 17.
[14] Kanz al-‘Ummâl, al-Hindi 12/571.
[15] Lihat: Abu Daud, al-Sunnah, 8; al-Musnad, Imam Ahmad 2/72.
[16] Al-Bukhari, al-Da’awât, 35, al-Fitan, 15; Muslim, al-Fadhâil, 134.
[17] Muslim, al-Jannah, 76, 77; al-Nasai, al-Janâiz, 117.
[18] Al-Musnad, Imam Ahmad 4/360-364.
[19] Dalâil al-Nubuwwah, al-Baihaqi 5/102; al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Ibnu Katsir 4/348.
[20] Al-Ishâbah, Ibnu Hajar 3/36; Rijâl Haula al-Rasûl, Khalid Muhammad Khalid.
[21] Al-Bukhari, al-Adab, 22; al-Musnad, Imam Ahmad 5/205.
[22] Al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Ibun Katsir 2/335; Mukhtashar Târîkh Dimasyq, Ibn Asakir 4/250.
[23] Al-Bukhari, Fadhâil al-Madînah, 8; Muslim, al-Fitan, 9.
[24] Muslim, al-Fitan, 26; al-Bukhari, al-Shaum, 3.
[25] Al-Bukhari, al-Manâqib, 25; Abu Daud, al-Jihâd, 97.
[26] Al-Bukhari, al-Isti`dzân, 43; Muslim, Fadhâil al-Shahâbah, 98, 99; Ibnu Majah, al-Janâiz, 64.
[27] Al-Bukhari, al-Maghâzî, 83; Muslim, Fadhâil al-Shahâbah, 98.
[28] Sîr A’lâm al-Nubalâ`, al-Dzahabi 2/134; Ibnu Majah, al-Janâiz, 65; al-Musnad, Imam Ahmad 3/197.
[29] Al-Bukhari, al-Maghâzî, 38; Muslim, al-Jihâd, 52; al-Musnad, Imam Ahmad 1/6.
[30] Al-Bukhari, al-Shulh, 9; al-Tirmidzi, al-Manâqib, 30; al-Nasâi, al-Jum’ah, 27; Abu Daud, al-Sunnah, 12; al-Musnad, Imam Ahmad, 5/49.
[31] Al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Ibnu Katsir 8/45.
[32] Majma’ al-Zawâid, al-Haitsami 9/404-405.
[33] Muslim, al-Dzikr, 42; Abu Daud, al-Witr, 26.
[34] Al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Ibnu Katsir 4/116; al-Sîrah al-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam 3/230; al-Musnad, Imam Ahmad 4/303.
[35] Al-Tirmidzi, al-Manâqib, 54; Barra` ibn Malik ra. adalah saudara kandung Anas ibn Malik ra.
[36] Al-Ishâbah, Ibnu Hajar 1/143-144.
[37] Al-Bukhari, al-Manâqib, 25.
[38] Al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Ibnu Katsir 9/225.
[39] Dalam bahasa Arab, kata ‘waihak‘ (ويحك) digunakan seperti halnya senyum masam yang ditujukan pada seseorang; kata ini dipakai untuk menyampaikan kabar gembira yang mengandung kesusahan, penerj
[40] Al-Bukhâri, al-Shalâh, 63; Muslim, al-Fitan, 70-73.
[41] Al-Tirmidzi, al-Manâqib, 34.
[42] Kanz al-‘Ummâl, al-Hindi 12/539; al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Ibnu Katsir 7/296.
[43] Muslim, al-Zakâh, 142; al-Bukhari, al-Adab, 95, al-Manâqib, 25.
[44] Al-Bukhari, al-Manâqib, 25, al-Adab, 95; al-Musnad, Imam Ahmad 3/56.
[45] Al-Bukhari, al-Manâqib, 25, al-Adab, 95; al-Musnad, Imam Ahmad 3/56.
[46] Al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Ibnu Katsir 7/320-321.
[47] Al-Musnad, Imam Ahmad 3/82; Majma’ al-Zawâid, al-Haitsami 5/186; 9/133.
[48] Al-Bukhari, al-Jihâd, 3, 8; Muslim, al-Imârah, 160-161.
[49] Al-Ishâbah, Ibnu Hajar 4/441; al-Bukhari, al-Jihâd, 8. Dalam riwayat lain dikatakan bahwa penyebab kematian Umm Haram adalah karena lehernya diinjak hewan yang akan ditungganginya, penerj
[50] Al-Bukhari, al-Jihâd, 95-96; Abu Daud, al-Malâhim, 10; Ibnu Majah, al-Fitan, 36; al-Musnad, Imam Ahmad, 5/40, 45.
[51] Al-Mustadrak, Hakim 4/422; al-Musnad, Imam Ahmad 4/335.
[52] Al-Ishâbah, Ibnu Hajar 1/405.
[53] Abu Daud, al-Malâhim, 5; al-Musnad, Imam Ahmad 5/278.
[54] Kanz al-‘Ummâl, al-Hindi 11/424.
[55] Al-Bukhari, al-Fitan, 16; Muslim, al-Fitan, 45; al-Musnad, Imam Ahmad 2/50, 72.
[56] Penulis melontarkan gagasan ini pada tahun 1989.
[57] Al-Bukhari, al-Fitan, 24; Muslim, al-Fitan, 30; Abu Daud, al-Malâhim, 13.
[58] Lihat: Muslim, al-Îmân, 244-247.
[59] Muslim, al-Fitan, 110; al-Tirmidzi, al-Fitan, 59; al-Musnad, Imam Ahmad 3/182.
[60] Al-Musnad, Imam Ahmad 1/407-408; al-Mustadrak, Hakim 4/98.
[61] Lihat ayat-ayat berikut: “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israel (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua…” (QS al-Baqarah [2]: 83); “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang…” (QS [4]: 36); “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada kedua orang tuamu dengan sebaik-baiknya…” (QS. al-Isrâ` [17]: 23).
[62] Al-Darami, al-Muqaddimah, 27.
[63] Kanz al-‘Ummâl, al-Hindi 14/244.
[64] Majma’ al-Zawâid, al-Haitasmi 7/324.
[65] Ibnu Majah, al-Tijârah, 58; al-Musnad, Imam Ahmad, 2/494; al-Nasai, al-Buyû’, 2.
[66] Kanz al-‘Ummâl, al-Hindi 11/176.
[67] Majma’ al-Zawâid, al-Haitsami 7/307.
[68] Al-Bukhari, al-Shalâh, 63; Muslim, al-Fitan, 70-73; al-Musnad, Imam Ahmad 2/161,164.
[69] Abu Daud, al-Shalâh, 88; al-Musnad, Imam Ahmad, 5/264-265.
[70] Al-Bukhari, al-Thibb, 1; Ibnu Majah, al-Thibb, 1.
[71] Abu Daud, al-Thibb, 11; Muslim, al-Salâm, 69; al-Musnad, Imam Ahmad 3/335.
[72] Al-Tirmidzi, al-Thibb, 2; Ibnu Majah, al-Thibb, 1; 4/278; Abu Daud, al-Thibb, 1.
[73] Al-Kalimât, Badi’ al-Zaman Sa’id al-Nursi, hlm. 279.
[74] Sebuah kota di Palestina, penerj
[75] Al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Ibnu Katsir 7/90-91; al-Kâmil fi al-Târîkh, Ibnu Katsir, 2/560.
[76] Kitab Fadhâil al-Shahâbah, Imam Ahmad ibn Hanbal 2/742.
[77] Al-Bukhari, Fadhâil al-Ashhâb al-Nabi, 21; Muslim, Fadhâil al-Shahâbah, 54-55.
[78] Al-Bukhari, al-Thibb, 30; Muslim, al-Salâm, 98.
[79] Al-Bukhari, al-Thibb, 30; Muslim, al-Salâm, 98.
[80] Al-Bukhari, al-Thibb, 19; al-Musnad, Imam Ahmad 2/443.
[81] Muslim, al-Thahârah, 91; Abu Daud, al-Thahârah, 37; al-Tirmidzi, al-Thahârah, 68; al-Nasai, al-Thahârah, 51, al-Miyâh, 7.
[82] Al-Bukhari, Bad` al-Khalq, 17; Muslim, al-Thahârah 93.
[83] Abu Daud, al-Adhâhî, 21; al-Tirmidzi, al-Shaid, 17; al-Nasai, al-Shaid, 10; Ibnu Majah, al-Shaid, 2; al-Musnad, Imam Ahmad 4/85.
[84] Abu Daud, al-Ath’imah, 11; al-Tirmidzi, al-Ath’imah, 39; al-Musnad, Imam Ahmad 5/441.
[85] Al-Bukhari, al-Wudhû`, 26; Muslim, al-Thahârah, 87; al-Nasai, al-Thaharah, 1, 116; Abu Daud, al-Thahârah, 49; al-Tirmidzi, al-Thahârah, 19.
[86] Al-Bukhari, al-Jumu’ah, 8; Muslim, al-Thahârah, 42; Abu Daud, al-Thahârah, 25; al-Tirmidzi, al-Thahârah, 18; al-Nasai, al-Thahârah, 6; Ibnu Majah, al-Thahârah, 7; al-Musnad, Imam Ahmad 1/80.
[87] Al-Bukhari, al-Wudhû`, 73; Muslim, al-Thahârah, 46, 47.
[88] Al-Tirmidzi, al-Zuhd, 47; Ibnu Majah, al-Ath’imah, 50; al-Musnad, Imam Ahmad 4/132.
[89] Kanz al-‘Ummal, al-Hindi 3/460.
[90] Muslim, al-Salâm, 88; Abu Daud, al-Thibb, 14; al-Tirmidzi, al-Thibb, 5, 9; al-Nasai, al-Zînah, 28; Ibnu Majah, al-Thibb, 6, 25.
[91] Ibu Majah, al-Thibb, 29; al-Tirmidzi, al-Thibb, 13.
[92] Al-Bukhari, al-Thibb, 7.
[93] Al-Bukhari, al-Thibb, 58, Bad` al-Khalq, 17; Abu Daud, al-Ath’imah, 48.
[94] Al-Bukhari, al-Wudhû`, 63; Muslim, al-Haidh, 62; Abu Daud, al-Thahârah, 109, al-Thibb, 11.
[95] Al-Bukhari, al-Libâs, 63, al-Isti`dzân, 51; Muslim, al-Asyribah, 12; al-Nasai, 9, 11; al-Tirmidzi, al-Adab, 14; Ibnu Majah, al-Thibb, 27.
[96] Muslim, al-Thahârah, 49, 56; Abu Daud, al-Thahârah, 29.
[97] Shaiqal al-Islâm aw Âtsâr Sa’îd al-Qadîm, Badi` al-Zamân Said Nursi, hlm. 386.

Oleh: Fethullah Gülen

About admin

Check Also

Cinta Kepada Allah dan Cinta Kepada Manusia; Mungkinkah Dipadukan?

Nabi Muhammad Saww bersabda : “Barangsiapa yang tiada mengasihi manusia maka Allah-pun tiada mengasihinya!” (Kanz al-‘Ummal, ...