Thursday , November 15 2018
Home / Agama / Kajian / Siapa Manusia Pertama di Bumi Terungkap oleh Al-Qur’an

Siapa Manusia Pertama di Bumi Terungkap oleh Al-Qur’an

Teka-teki siapa manusia pertama di bumi akhirnya terungkap oleh Al-Quran. Rasa penasaran yang muncul akibat adanya perseteruan dua isu yang diyakini oleh dua kubu berbeda dalam asal-usul manusia bumi, kini mendapat pencerahan dan jawaban logis.

Melalui penelusuran dan pengumpulan data dari sumber terpercaya, penulis berusaha menyajikan penjelasan kritis secara naratif dan deskriptif.

Sebelum mengungkap sisi-sisi misterius tentang manusia pertama di bumi, mari kita mengenali dua pendapat yang pernah ada.

Pendapat pertama menyatakan bahwa manusia pertama di bumi adalah Manusia Purba

Kubu ini sejalan dengan teori Darwin yang mengatakan bahwa manusia masa kini adalah anak cucu manusia purba. Dengan kata lain, kubu ini mengakui teori evolusi yang dipaparkan Darwin dimana bentuk manusia modern berasal dari transformasi penyempurnaan dari bentuk fisik manusia purba.

Terkait dengan hal tersebut, dalam pelajaran sejarah juga disebutkan  bahwa manusia purba di zaman prasejarah, khususnya yang pernah hidup di Indonesia meliputi varian Meganthropus Palaeojavanicus atau Pithecanthropus Erectus. Keberadaan makhluk ini diketahui dari adanya penemuan fosil di berbagai tempat, umumnya di pulau Jawa. Sedangkan di tempat lain di seluruh dunia, fosil-fosil serupa juga banyak ditemukan. Berdasarkan analisa ilmuwan, fosil ini menunjukkan fakta adanya kehidupan manusia sejak miliaran juta tahun yang lalu. [1]

Oleh karena itu, kubu ini sangat meyakini bahwa manusia pertama yang menghuni planet Bumi adalah manusia purba zaman prasejarah. Dalam arti lain, kubu ini menolak bahwa Nabi Adam AS adalah manusia pertama yang hidup di bumi dan merupakan moyang umat manusia modern.

Pendapat Kedua menyatakan bahwa manusia pertama di bumi adalah Nabi Adam AS

Berbeda dengan pandangan kubu di atas, kubu ini meyakini bahwa Nabi Adam adalah manusia pertama yang hidup di bumi dan menjadi cikal bakal peradaban manusia bermula. Pendapat ini secara tidak langsung menolak adanya teori evolusi yang menyamakan garis keturunan manusia purba dengan Nabi Adam AS.

Sehubungan dengan hal tersebut, kubu ini tidak menerima keberadaan fosil-fosil manusia purba sebagai petunjuk adanya peradaban di zaman prasejarah. Kubu ini menganggap itu bukan peradaban manusia melainkan kehidupan makhluk-makhluk yang serupa saja dengan manusia dan sesungguhnya mereka bukan manusia seperti nabi Adam AS.

Jadi, Siapa Manusia Pertama di Bumi?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, penulis mengutip beberapa ayat al-Quran untuk mengungkap teka-teki dan misteri awal peradaban manusia sesungguhnya.

Al-Baqarah Ayat 30

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan [khalifah] di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui“.

Dari dalil di atas diperoleh sebuah informasi mendasar tentang penciptaan manusia. Ketika Allah bersabda kepada Malaikat tentang akan dihadirkannya seorang khalifah di muka bumi, Malaikat seakan meragukan eksistensi khalifah tersebut dan tampak khawatir khalifah ciptaan Allah tersebut justru akan berbuat kerusakan.

Dengan kata lain, malaikat mempertanyakan mengapa Allah akan menciptakan lagi seorang khalifah di muka bumi dari kalangan manusia sementara telah ada malaikat yang siang malam tak pernah berhenti bertasbih kepada Allah. Malaikat kurang meyakini dan menganggap hal itu sia-sia karena menganggap manusia adalah makhluk yang suka berbuat kerusakan dan menumpahkan darah.

Pertanyaannya, dari mana malaikat mengetahui bahwa manusia itu adalah makhluk perusak dan suka menumpahkan darah tanpa ada pengetahuan sebelumnya tentang sepak terjang manusia. Itu berarti, sebelum Allah SWT menciptakan Adam, ada manusia-manusia yang pernah diciptakan di muka bumi tetapi memiliki ciri khas perusak dan senang dengan kekerasan serta pertumpahan darah.

Fathir Ayat 15 sd. 17

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ ۞ إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ ۞ وَمَا ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ

Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya [tidak memerlukan sesuatu] lagi Maha Terpuji. (15) Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru [untuk menggantikan kamu]. (16) Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah. (17)

Dalam petikan ayat di atas, ditemukan bahwa Allah dapat saja dengan mudah memusnahkan manusia dan menggantikannya dengan manusia yang lain. Seperti itulah yang terjadi dengan manusia sebelum Adam diciptakan. Mereka dimusnahkan karena selalu berbuat kerusakan dan melakukan pertumpahan darah.

Fathir ayat 9

وَاللهُ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَسُقْنَاهُ إِلَىٰ بَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَحْيَيْنَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ كَذَٰلِكَ النُّشُورُ

Dan Allah, Dialah Yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati lalu Kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu“.

Setelah makhluk perusak dimusnahkan kemudian Allah menghidupkan kembali bumi yang mati dan menjadikannya kembali hidup seperti sedia kala.

Kesimpulan

Berdasarkan informasi di atas, maka dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu:

Dalam Surat Al-Baqarah ayat 30 dikatakan bahwa Allah SWT hendak menjadikan “khalifah” di bumi. “Khalifah” di sini menjadi kata kunci untuk menyatakan bahwa manusia berkualifikasi sebagai pembawa pesan-pesan rububiyyah (Kepengayoman Tuhan di bumi) dan disebut sebagai manusia pertama.

Kejadian Khalifah sebagaimana dinyatakan oleh Allah SWT adalah semacam “wayang Tuhan” untuk memancarkan CahayaNya sekaligus sebagai cerminNya agar sifat-sifat kepengayomanNya terejawantah di muka bumi. Lho, kenapa Tuhan harus “memerlukan manusia” untuk mengejawantahkan sifat-sifat kepengayomanNya sehingga ia disebut sebagai khalifah?

Maha Suci Allah dari segala sifat kekurangan, bahwa penjadian khalifah oleh Tuhan bukanlah semata-mata untuk keperluan Tuhan agar sifat-sifatNya terejawantah di muka bumi. Sebab, tanpa manusia pun Tuhan tetaplah berkuasa melakukan itu. Terminologi “khalifah” untuk menunjukkan bahwa Tuhan telah “menjelma” sebagai manusia yang unik dari segala makhluk lain dan tak akan melakukan kerusakan dan pertumpahan darah seperti yang dipertanyakan oleh para Malaikat.

“Khalifah” secara bahasa artinya “Pengganti”. Hal ini berarti bahwa “Khalifah” adalah sebagai “Jelmaan Tuhan” di muka bumi. Manusia yang tidak menjadi Khalifah bukanlah manusia yang berkualifikasi sebagai “Jelmaan Tuhan”. Karena itu, ia pasti suka berbuat kerusakan, ketamakan, keserakahan, peperangan, pertumpahan darah, dan segala bentuk perbuatan yang mengarah kepada kehancuran. Sifat-sifat manusia yang seperti itu bukanlah yang berkualifikasi sebagai khalifah.

Coba perhatikan kandungan hadits Nabi SAW yang sangat populer di kalangan ahlu sufi berikut ini:

كُنْتُ كَنْزًا مَخْفِيًّا فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُعْرَفَ فَخَلَقْتُ الْخَلْقَ لِكَيْ أُعْرَفَ

Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtu an u`rafa fa khalaqtu ‘l-khalq li-kay u’raf

Keadaan Aku dulu adalah khazanah (perbendaharaan) tersembunyi. Aku mendambakan untuk dikenal maka Kuciptakan makhluk sehingga dengan-Ku mereka mengenal-Ku.

Dalam terminologi “Khalifah”, manusia sejati pertama yang membawa pesan-pesan rububiyyah (Kepengayoman) Tuhan di muka bumi adalah Adam AS. Beliau adalah manusia pertama yang dimampukan oleh Tuhan untuk mengenal Tuhan sehingga darinya memancarlah cahaya rububiyyah Tuhan di muka bumi.

Adam adalah “cermin Tuhan” yang memiliki keistimewaan dibanding Malaikat. Apa yang telah dipersepsikan oleh Malaikat tentang manusia, (… Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah…), bukanlah apa yang dimaksud oleh Allah sebagai khalifah di saat menjadikannya. Dalam istilah lain, Adam adalah manusia pertama yang berperadaban. Sedangkan sebelum Adam adalah manusia yang berkebiadaban.

Manusia yang berperadaban dalam perspektif transendental adalah manusia yang sadar akan arti pentingnya nilai-nilai kehidupan di muka bumi setelah mendapatkan pengajaran dan pendidikan dari Allah (rubuubiyah) secara langsung. Kesadaran akan nilai-nilai kehidupan lebih dikarenakan oleh sebuah amanah yang didapatinya ketika dirinya dimampukan oleh Tuhan untuk mengenal kesejatiannya, mengenal Tuhannya.

Renungkanlah penggalan hadits berikut ini.

فَإِنَّ اللهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ

… Sesungguhnya Allah menciptakan Adam seperti rupaNya“.

Jadi, Adam adalah manusia pertama yang sejati, manunggal, dan beradab. Beliau adalah seorang Utusan Tuhan di muka bumi yang oleh karena kemanunggalannya dengan Tuhan maka sifat-sifat rububiyyah Tuhan memancar di muka bumi dan menjadi KhalifahNya (PenggantiNya). Dengan keunikannya itulah, maka Allah SWT memerintahkan Malaikat untuk sujud kepada Adam. Sebuah sujud penghormatan untuk kemuliaan dan kemurahan Tuhan.

وَ إِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوْا لِآدَمَ فَسَجَدُوْا إِلاَّ إِبْلِيْسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَ كَانَ مِنَ الْكَافِرِيْنَ

“Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Bersujudlah kamu kepada Adam!’ maka mereka semua pun bersujud, kecuali Iblis. Dia enggan dan menyombongkan diri, dan dia termasuk dalam golongan orang-orang kafir.” (Al-Baqarah: 34)

Intinya, sebutan Adam sebagai manusia pertama adalah seorang yang benar-benar menjadi ‘manusia’ yang disematkan kepadanya kesadaran akan sifat-sifat rububiyyah Tuhan. Dan Tuhan sendiri yang menyebut Adam sebagai PenggantiNya (‘Khalifah’) di muka bumi. Tanpa disematkan gelar ‘Khalifah’, maka manusia tak akan mampu mengenalNya, tak akan mampu menemukan keadaban-keadaban, tak akan mampu menata, memelihara, merawat dan memanfaatkan bumi dan segala sesuatu yang ada di atasnya.

Tentang bagaimana Tuhan menciptakannya, yang disebut olehNya diciptakan dari tanah, tetaplah merujuk kepada proses-proses reproduksi (proses kausalitas sebagai karakteristik kauniyyat) sebagaimana juga dialami makhluk lain. Silahkan dikaji lebih dalam sambil diiringi dengan perenungan dan kontemplasi.

Demikianlah pembahasan singkat yang membuka tabir teka-teka dan misteri “Siapa Manusia Pertama di Bumi?”. Semua terjawab karena kitab suci Al-Quran, salah satu mukjizat Nabi Muhammad SAW, nabi terakhir umat manusia. Semoga bermanfaat! Wallaahu Muwaffiq ilaa sabiilit taufiiq.

Referensi:

  1. Buku: Sejarah nasional Indonesia: Zaman Prasejarah di Indonesia
  2. Al-Quran

Oleh: Pasulukan Loka Gandasasmita, disumberkan dan diedit dari Ini Rumah Pintar.

About admin

Check Also

Dosa dan “Sebab – Akibat”

Dalam sudut pandang sebab-akibat, dosa yang digambarkan sebagai bentuk kemahabijakan Allah Swt. dapat dirunut sebagai ...