Wednesday , October 17 2018
Home / Ensiklopedia / Analisis / Sertifikasi Ulama

Sertifikasi Ulama

Selasa malam usai dari rumah ustadz Dul Wahab, Sufi tua menemui  Guru Sufi yang sedang berbincang dengan Sufi Sudrun, Sufi Kenthir, Sufi senewen, Dullah, dan Sukiran. Sambil tertawa ia memberitahu bagaimana  rencana ustadz Dul Wahab mengantisipasi gagasan Sertifikasi Ulama, “Dul Wahab sudah menyiapkan dana untuk 20 orang muridnya yang akan menjadi ulama bersertifikat.”

“Dana untuk sertifikasi ulama?” gumam Guru Sufi mengerutkan kening,”Memangnya sertifikasi ulama itu dipungut biaya?”

“Memang belum ada aturannya, kang,” sahut Sufi tua menjelaskan,”Tapi Dul Wahab sudah faham bahwa semua gagasan yang dilontarkan pemerintah dipastikan bermuara ke DUIT. Karena itu, dia sudah siap-siap mengantisipasinya.”

“Memangnya siapa nanti yang berwenang mengeluarkan sertifikat ulama?” tanya Sufi Kenthir.

“Kalau tidak salah Departemen Agama,” sahut Sufi tua.

“Hwarakadah… Departemen Agama?” tukas Dullah dengan suara tinggi.

“Memangnya kenapa kalau Departemen Agama?” kata Sufi tua.

“Berarti sikap ustadz Dul Wahab sudah benar menyiapkan dana.”

Para sufi ketawa. Sebentar kemudian Sufi Sudrun berkata,”Kasusnya nanti bisa seperti ketentuan memiliki SKKB untuk persyaratan melamar kerja di berbagai instansi pemerintah, syarat masuk Akademi Militer, syarat menjadi  Cakades, Cabup, Cagub, Caleg, Capres, bahkan sekedar jadi pasukan kuning.”

“Apa itu SKKB?” sahut Sufi Senewen ingin tahu.”

“Surat Keterangan Kelakuan Baik.”

“Memangnya kenapa dengan Surat Keterangan Kelakuan Baik?” tanya Sufi Senewen belum faham.

“Yang berwenang mengeluarkan SKKB instansi Kepolisian,” jawab Sufi Sudrun.

Para sufi tertawa terbahak-bahak. Sufi Kenthir yang ketawa sampai matanya berair berkata, “Dunia sudah jungkir balik aturannya…”

Setelah ketawa para sufi meredah, Sufi tua berkata,”Masalahnya bukan sekedar UUD – Ujung-ujungnya Duit — bukan pula sekedar kewenangan aneh instansi yang mengeluarkan SKKB dan sertifikat ulama, tetapi menyangkut otoritas ulama dan kemungkinan buruk terjadinya manipulasi data yang berakibat munculnya ulama palsu bersertifikat. Ini sungguh konyol, jangan-jangan nanti muncul aliran agama yang menyoal apakah Nabi Muhammad Saw dulu punya Sertifikat Kenabian?”

“Yang pasti,” sahut Dullah menyela,”Jumlah ulama Wahabi akan membludhak melebihi jumlah ulama sunni.”

Guru Sufi yang sejak  hanya mendengar perbincangan para sufi mendadak berkata,”Yang mencemaskan, kalau setelah gagasan sertifikasi ulama diterapkan, menyusul gagasan lain yang mengerikan…”

“Gagasan apa yang lebih mengerikan dari sertifikasi ulama, Mbah Kyai?” tanya Dullah.

“Ulama yang tidak punya sertifikat dituduh teroris.”

“Ya mulai sekarang para kyai harus sedia duit dulu yang banyak supaya semua punya sertifikat.”

“Masalahnya tidak sesederhana itu, Dul,” sahut Guru Sufi,”Sebab keulamaan di Nusantara bukan sekedar berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam penguasaan ilmu agama, melainkan menyangkut pula aspek pewarisan tradisi keilmuan, tradisi keagamaan, fakta sosial, dan susur galur genetika.”

“Lha apa seorang ulama itu disyaratkan juga unsur genetikanya?” tanya Dullah kurang faham.

Ya pasti itu Dul,” sahut Guru Sufi,”Kamu pikir gelar Kyayi yang disandang para ulama itu darimana? Gelar Kyayi itu berasal dari zaman pra Majapahit untuk keturunan golongan Brahmana. Gelar Kyayi itu setara dengan gelar Gusti bagi golongan ksatria. Jadi sejak zaman kuno dulu, orang yang boleh mengajar agama adalah orang yang punya trah Brahmana yang ditandai gelar Kyayi.”

“Woo begitu ya Mbah Kyai,” Dullah manggut-manggut,”Tapi bagaimana dengan KH Abu Bakar, orang Arab yang fahamnya Wahabi, jadi pemimpin pesantren Wahabi radikal?”

Para sufi ketawa tertawa terbahak-bahak. Sebentar kemudian Sufi tua berkata,”Gelar Kyayi itu gelar untuk golongan Brahmana pribumi yang diwariskan turun-temurun sejak zaman Majapahit akhir sewaktu Islam mulai dianut masyarakat pribumi. Pesantren sendiri adalah perpaduan sistem pendidikan Hindu-Buddha yang disebut Dukuh dan Asrama di mana sejak awal faham keagamaan pesantren adalah Ahlussunnah wal-Jama’ah.”

“Jadi kalau ada orang Arab pakai gelar Kyayi, pasti gelar palsu ya pakde?” kata Dullah manggut-manggut,”Begitu juga kalau ada pesantren berfaham Wahabi, pasti pesantren palsu ya pakde?”

“Ya begitulah fakta riilnya..,” kata Sufi tua,”Mana ada Wahabi mau memakai gelar, sebutan, istilah  non-Islam seperti Kyayi, santri, pesantren, sembahyang, puasa, bedhug, kenduri…”

“Tapi faktanya banyak Wahabi pakai istilah Kyayi dan Pesantren..” sahut Sukiran menyela.

“Kalau itu Ran, kamu baca saja tulisan Samuel P. Huntington yang berjudul The Clash of Civilization and The Remaking of World Order, semua jawaban terkait gonjang-ganjing terorisme berlatar agama sumbernya dari buku pakem itu, termasuk munculnya gagasan Sertifikasi Ulama juga sumbernya dari situ..,” kata Sufi tua.

“Wooo begitu tah,” Sukiran geleng-geleng kepala,”Tak pikir skenario itu sudah tidak dipakai lagi…ternyata..”

Sumber: KH. Agus Sunyoto

About byHaqq

Pena adalah senjata yang lebih halus dari atom. Kadangkala terhempas angin, terbuang seperti sampah. Kadangkala terkumpul ambisi, tergali seperti ideologi. Manfaat dan mudharat pena adalah maqamatmu...

Check Also

Haidar Bagir: Tasawuf Akal, Toleransi, dan Pembelaan Terhadap Syiah

Mizan—yang dalam bahasa Arab artinya “seimbang”—segera jadi buah bibir tatkala menerbitkan buku pertama sekaligus jadi ...