Monday , December 17 2018
Home / Berita / Seputar Teror penembakan aparat

Seputar Teror penembakan aparat

Seputar Teror penembakan aparatPernyataan BIN Berhubungan Aksi Teror Terhadap Polisi

BIN Sudah Ingatkan, ‘Ada Serangan’ Tapi Polisi Lemah

Marciano menjelaskan bahwa informasi adanya teror yang ditujukan kepada Kepolisian sudah lama disampaikan. Bahkan kata dia, polisi juga sudah tahu adanya agenda teror tersebut.

KEPALA Badan Intelijen Negara (BIN), Letnan Jenderal TNI Marciano Norman mengendus bahwa penembakan terhadap polisi merupakan aksi balas dendam. Dendam itu muncul karena adanya kelompok yang sakit hati kepada korps baju coklat yang dipimpin oleh Jenderal Timur Pradopo.

 “Mereka agenda pembalasan terhadap aparat keamanan. Dan itu sudah kita informasikan sejak lama,” kata Marciano di Istana Negara, Jakarta, Sabtu (17/8/13).

 Menurut pria kelahiran Banjarmasin, 28 Oktober 1954 silam itu, kelompok yang melakukan teror kepada polisi tujuannya hanya untuk menggangu stabilitas keamanan. Hanya saja, kelompok yang dimaksud enggan disebutkan.

 “Ini teror dari kelompok-kelompok tertentu yang ingin mengganggu stabilitas keamanan itu sendiri,” katanya.

 Marciano menjelaskan bahwa informasi adanya teror yang ditujukan kepada Kepolisian sudah lama disampaikan. Bahkan kata dia, polisi juga sudah tahu adanya agenda teror tersebut.

 “Mereka agenda pembalasan terhadap aparat keamanan. Dan itu sudah kita informasikan sejak lama,” ucapnya.

Pentingnya Polisi Dapat Pengawalan Brimob

Letnan Jenderal TNI Marciano Norman mengatakan peran Brigade Mobil (Brimob) yang merupakan pasukan elit kepolisian perlu melindungi rekannya dalam bertugas.

Tanpa ada perlindungan dari pengamanan sendiri, mustahil polisi bisa diandalkan untuk menciptakan keamanan di tengah-tengah masyarakat.

“Mereka tidak akan bisa melaksanakan tugasnya kalau mereka sendiri tidak yakin dapat pengamanan yang baik. Harus ada peningkatan pengamanan terhadap aparat keamanan itu sendiri,”. (Pelita Online)

Pelaku Teror Penembakan, Kemungkinan Aparat Anti Teror?

DIREKTUR The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya, mengatakan, bahwa aksi teror yang terjadi belakangan ini, bukan tidak mungkin dilakukan aparat anti-teror sendiri.

Hal ini berdasarkan penelusuran CIIA, dalam kasus teror penembakan di salah satu Mapolsek Palu, Sulawesi Tengah, pada 17 Juli 2013 lalu, ternyata ditemukan pelakunya adalah oknum Densus 88 berinisial YW.

”Kasus tersebut sebenarnya sudah terungkap pada 18 Juli 2013 dengan ditangkapnya YW oleh personel Brimob berinisial R di arena STQ Palu,” ujar Harits (18/9/2013).

Sayangnya, agenda mengumumkan keberhasilan penangkapan pelaku diurungkan setelah diketahui pelaku adalah oknum anggota Densus 88 yang bertugas di Poso. Sebaliknya anggota Brimob berinisial R diciduk dan dibawa ke Mabes Polri.

Hal ini diakui Polda Sulteng dan berdalih kalau peristiwa penembakan tersebut sebagai bentuk uji kesiagaan Mapolsek setempat terhadap ancaman aksi terorisme.

“Dari fakta ini, masyarakat harus sadar bahwa teror dan terorisme merupakan dari sebuah rekayasa untuk kepentingan tertentu,” tandasnya.

Menurutnya, bila teror itu dilakukan aparat dengan memuntahkan peluru hanya untuk kepentingan memberantas terorisme sangat berbahaya.

“Betapa klisenya ketika akhirnya “teror” itu sebagai trigger kesiapan aparat,” ucapnya.

Harusnya, menurut Harits, ini menjadi pelajaran penting bagi masyarakat, untuk memberi masukan dan kontrol bagi semua institusi yang ingin menegakkan keadilan. (PelitaOnline)

Perlu Sinkronisasi antara intelijen, TNI dan Mabes Polri

Sejak minggu terakhir Juli 2013 sampai pertengahan Agustus 2013, sudah terjadi tiga kali penembakan terhadap anggota kepolisian. Pada Sabtu 27 Juli 2013, anggota polisi lalu lintas Polres Metro Jakarta Pusat, Aipda Patah Saktiyono juga ditembak orang tak dikenal. Peristiwa terjadi sekitar pukul 04.30 WIB di Jalan Cirendeu Raya, Ciputat, Tangerang Selatan.

Setelah itu, anggota satuan Pembinaan Masyarakat (Binmas) Polsek Metro Cilandak, Aiptu Dwiatno, Rabu 7 Agustus lalu sekitar pukul 05.00 WIB tewas setelah ditembak orang tak dikenal. Kemudian, pada 16 Agustus 2013 pukul 22.00 WIB, Iptu Kus Hendratno ditembak saat mengendarai sepeda motornya saat patroli, sementara Bripka Ahmad Maulana ditembak setelah mobil yang dikendarai untuk menabrak para pelaku menabrak pohon di Jalan Graha Raya depan Masjid Bani Umar Kelurahan Perigi Baru Kecamatan Pondok Aren, Tangerang.

Dua anggota Polsek Pondok Aren ditembak orang tak dikenal saat menuju ke kantor. Sesaat setelah menembak keduanya, pelaku yang berjumlah dua orang sempat terlibat adu tembak dengan tim buser Polsek Pondok Aren yang berada di tempat kejadian perkara. Selain untuk menyampaikan “pesan khusus”, penembakan tersebut tidak menutup kemungkinan terkait kelompok teror.

Demikian dikemukakan pengamat masalah strategis Indonesia, Tony Sudibyo di Jakarta (17/8/2013) seraya menambahkan, rentetan penembakan OTK terhadap anggota kepolisian diakui atau tidak telah menimbulkan pertanyaan mendasar, apa sebenarnya yang menjadi penyebab pokok (rootcauses)nya. Apakah ini terkait dengan pemberantasan aksi teror, apa pesan-pesan khusus yang disampaikan penembak kepada polisi serta bagaimana langkah mengatasinya.

“Walaupun pihak kepolisian belum memastikan aksi penembakan ini dikaitkan dengan kelompok teroris tertentu, namun penilaian umum yang berkembang di masyarakat menilai aksi ini kemungkinan ada kaitannya dengan aksi pemberantasan terorisme, karena di waktu sebelumnya sudah banyak pernyataan sikap, siaran pers bahkan unjuk rasa yang menuntut Polri khususnya Densus 88 Anti Teror Mabes Polri untuk lebih manusiawi dan humanis dalam menangani kasus teror, bukan dengan cara-cara seperti ini yang juga dinilai organisasi penggiat HAM telah masuk pelanggaran HAM,”urainya.

Menurut peneliti yang pernah bertugas di Aceh ini, strategi dan taktik kelompok teror dibagi dalam beberapa tahap yaitu sabotase, gerilya, teror dan open rebellion atau perang kota. Sabotase, gerilya dan teror dilakukan kelompok teroris jika organisasi dan jumlah mereka tidak kuat, sedangkan jika mereka sudah berani melakukan open rebellion atau perang kota, mengindikasikan organisasi, konsolidasi dan kekuatan mereka sudah bertambah kuat, sehingga berani “head to head war” dengan aparat negara.

“Jika ini yang terjadi, kasus penembakan terhadap anggota kepolisian harus segera diselesaikann dan dicegah sedini mungkin dengan langkah koordinasi dan sinkronisasi gerakan antara intelijen, TNI dan Densus 88 Anti Teror Mabes Polri, karena kemungkinan besar kelompok pelaku sebelumnya sudah mempunyai rekam jejak dalam melakukan kekerasan menggunakan senjata api,” tambahnya. (GFI)

IPW : Intelijen Mabes Polri Sangat Lemah

Setelah anggota Provost Poloairud Bripka Sukardi tewas tertembak Selasa 10 September 2013 lalu, kini giliran anggota Sabhara Mabes Polri Briptu Ruslan yang juga tertembak pada Jumat (13/9/2013) kemarin malam di Cimanggis Depok.

Beruntung kejadian tersebut tidak membuatnya tewas, hanya saja motor yang digunakan oleh Briptu Ruslan dicuri oleh pelaku.

Hal tersebut membuat masyarakat bertanya-tanya akan fungsi dari intelijen Kepolisian Republik Indonesia (Polri), yang selalu lambat dalam memberikan informasi seperti kasus penembakan anggota Mabes Polri.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengakui, intelijen Mabes Polri sangat lemah dalam memberikan informasi secara cepat kepada Mabes Polri.

Sehingga, hal tersebut membuat intelijen Mabes Polri seringkali kebobolan dalam setiap kasus penembakan anggota Polri.

“Mungkin informasi yang masuk ke Mabes Polri terlambat. Intelijen di negeri ini memang sangat lemah, sehingga sering kebobolan,” kata Neta dalam pesan singkatnya kepada Sindonews, Jakarta, Sabtu (14/9/2013).

Selain itu, Neta juga mengatakan agar tidak sering terjadi kebobolan dalam memberikan informasi, Neta berharap ada perombakan di intelijen Mabes Polri. Karena tidak satu atau dua kali intelijen Mabes Polri kebobolan.

“Selain perombakan, Polri perlu bekerja sama dengan BIN (Badan Intelijen Nasional) dan TNI (Tentara Nasional Indonesia) dalam informasi dan mengatur strategi. Intelijen Polri, TNI dan BIN perlu bekerjasama agar maksimal,” tandas Neta. (Sindo)

Atasi Maraknya Penembakan Polri Akan Gandeng BIN dan TNI

Kapolri Jenderal Timur Pradopo mengungkapkan modus operandi dalam rangkaian penembakan antara kasus di Ciputat dan Pondok Aren dengan penembakan di depan Gedung KPK tidaklah sama. Keterangan saksi dan barang bukti yang ditemukan, termasuk modus-modus operandi dan cara-cara eksekusi, berbeda.

“Penembakan ini tidak sama dengan kasus yang ada di Ciputat maupun Pondok Aren, terus dalami dan tim terus melakukan langkah-langkah evaluasi dari proses olah TKP dan uji forensik,” ujar Timur dalam Rapat Kerja Komisi III DPR dengan Kapolri Timur Pradopo di Gedung DPR, Jakarta, Senin (16/9).

Untuk mengungkap dan menangkap pelaku penembakan terhadap empat personel polisi di Ciputat, Cireunde, dan Pondok Aren, Polri harus ada kerja sama dengan komunitas intelijen di Indonesia. Mabes Polri memastikan kejadian penembakan di tiga lokasi pertama terkait dengan pengungkapan kasus-kasus terorisme yang dilakukan Polri sejak Bom Bali I hingga saat ini.

Menurut Timur, dengan telah ditetapkan dua orang sebagai pelaku penembakan terhadap dua personel kepolisian di Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten, beberapa waktu yang lalu, menjadi bukti keyakinan Polri bahwa kedua pelaku terlibat dalam penembakan tersebut. “Kalau tidak yakin, kenapa kami bisa keluarkan DPO. Ini masalah hukum dan (dengan ditetapkan sebagai buronan berarti) ini sudah masuk dalam penyidikan Polri,” ujar Timur.

Karena itu, pihaknya berharap masyarakat sabar menunggu hingga kedua pelaku tersebut tertangkap. Dengan telah ditetapkan sebagai buronan, siapa pun dapat menangkap kedua pelaku, termasuk TNI.

“Sedangkan dalam kasus terakhir (yang menewaskan Aipda Anumerta Sukardi) apakah juga mengait (dengan tiga kasus yang pertama), yang jelas belum ada fakta yang mengaitkan kasus terakhir itu dengan tiga kasus pertama,” ujar Timur.

Timur mengatakan penembakan terhadap empat personel kepolisian merupakan rentetan dari kasus-kasus terorisme yang sebelumnya terjadi di Indonesia. “Empat tahun lalu, ancaman teroris berupa peledakan seperti Bom Bali, Bom JW Marriott, dan di Kedubes Filipina. Itu semua sasaran dalam bentuk strategis atau pusat kegiatan, dan semuanya hampir 100 persen, terungkap dan disidang di pengadilan,” kata Timur.

Diakuinya, untuk meredam aksi terorisme itu sulit karena hanya 5 persen dari narapidana kasus terorisme yang mau tobat dan tidak kembali ke habitatnya semula. Kapolri juga menilai strategi penanggulangan terorisme melalui program deradikalisasi yang dilakukan belum mendapatkan hasil maksimal. “Terbukti masih muncul pelaku dan jaringan terorisme baru, bahkan pelaku lama yang telah selesai menjalankan masa hukumannya, ada beberapa yang masih aktif kembali dalam jaringan teroris,” kata Kapolri.

Timur menjelaskan pemberantasan terorisme harus lintas sektoral, terutama dari Kementerian Agama maupun beberapa organisasi kemasyarakatan. Selain itu, upaya juga dilakukan dengan memberdayakan Badan Pembinaan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas) yang saat ini sudah tergelar diseluruh wilayah polres dan polsek.

Dalam rapat kemarin, Kapolri memaparkan dalam rentang waktu 2 Mei hingga 25 Agustus 2013 Densus 88 telah melakukan upaya penangkapan terhadap terduga teroris yang berasal dari empat kelompok jaringan.

Pertama, adalah kelompok Abu Roban sejumlah 25 orang yang tujuh di antaranya meninggal dunia, sementara kelompok Myanmar sembilan orang. “Itu bukan orang Myanmar, jadi ada kaitan dengan proses yang ada di sana, kemudian ada dinamika yang ada di Indonesia, di mana generasi Torifah Mansuroh,” ujarnya.

Berikutnya adalah menangkap enam orang kelompok jaringan Solo dan terakhir tujuh orang Jaringan Poso yang empat orang di antaranya meninggal dunia.

Terkait kasus-kasus kepemilikan senjata api dan air softgun, dia mengatakan selama 2013 terjadi sebanyak 12 kasus. Barang bukti yang disita adalah 153 air softgun, 31 pucuk senjata api, 28 buah magazin, 128 butir peluru, 38 kantong peluru, tabung gas, dan telah menetapkan 17 orang sebagai tersangka.

Anggota Komisi III DPR, Syarifudin Sudding, meminta kepolisian mengusut tuntas kasus penembakan terhadap prajurit Polri yang terus terjadi. Rangkaian penembakan disinyalir saling terkait dan perubahan modus operandi pelaku dilakukan untuk mengaburkan motif sebenarnya.

“Boleh jadi ada keterkaitan satu sama lain. Orang profesional berusaha untuk menghilangkan jejak. Harus dicermati apa motif dan apa di balik ini semua,” kata Sudding.

Dia mengatakan kepolisian jangan terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa penembakan-penembakan yang terjadi dilakukan oleh teroris. Penyelidikan harus secara menyeluruh mengenai pelaku dan motif penembakan sebab terbuka kemungkinan pelaku merupakan bagian dari sebuah institusi. “Atau dicari juga dari internal (Polri), tujuannya agar kepemimpinan Timur Pradopo ini dianggap lemah,” katanya.

Sudding mengatakan dengan kekuatan yang dimiliki kepolisian akan mampu mengatasi persoalan-persoalan ini. “Jangan lari dari persoalan-persoalan seperti ini. Dan harus dibongkar siapa yang melakukan ini karena ini ancaman terhadap institusi negara,” tandasnya. (KJ)

 

About admin

Check Also

Operasi Pembunuh Bayaran di Yaman: Puncak Gunung Es Militer Swasta

Dilandasi faktor uang dan privatisasi, keberadaan militer swasta kian menjamur di Timur Tengah. Uni Emirat ...