Tuesday , June 25 2019
Home / Relaksasi / Renungan / Sepuluh Butir Kebijakan Mahatma Gandhi (Bagian 4)

Mahatma Gandhi5. Take care of this moment.

"I do not want to foresee the future. I am concerned with taking care of the present. God has given me no control over the moment following." - Aku tidak tertarik untuk melihat apa yang dapat terjadi pada masa depan. Aku tertarik dengan masa kini. Tuhan tidak memberiku kendali terhadap apa yang dapat terjadi sesaat lagi.

Sepuluh Butir Kebijakan Mahatma Gandhi (Bagian 4)

Seperti inilah kejujuran seorang Gandhi. Ia tidak mengaku dapat melihat masa depan. Ia tidak mengaku memperoleh bisikan dari siapa-siapa. Ia mengaku dirinya orang biasa, tidak lebih penting dari orang yang derajatnya paling rendah, paling hina dan dina.

Inilah kekuatan Gandhi. Inilah kesaktian Gandhi.

Gandhi tidak ragu, tidak bimbang, tidak bingung – karena ia hidup dalam kekinian. Ia bisa bertindak sesuai dengan nuraninya, karena tidak menghitung laba-rugi.

Mereka yang ragu, bimbang, dan bingung adalah orang-orang yang tidak bisa hidup dalam kekinian. Mereka selalu menghitung laba-rugi.

Persis seperti partai-partai politik masa kini. Koalisi antara dua partai dengan visi dan misi yang sama sekali berbeda – seringkali terjadi karena urusan perolehan suara. Partai yang sedang populer dapat digandeng, dan menggandeng partai lain walau beda agenda.

Gandhi tidak menafikkan perencanaan – silakan membuat rencana. Asal tidak lupa, bahwa Man Proposes, God Disposes – manusia boleh membuat seribu satu rencana, akhirnya toh Tuhan yang menentukan.

Hendaknya para calon pemimpin kita – calon bupati, gubernur, presiden, anggota legislatif, semuanya – memusatkan seluruh perhatian mereka pada keadaan negeri kita saat ini. Apa yang dibutuhkan negeri kita saat ini?

Urusan perut adalah urusan yang tidak dapat ditunda. Urusan keadilan dan hak asasi tidak dapat ditawar-menawar. Dan, masih banyak urusan-urusan lain yang menjadi tugas dan kewajiban negara. Urusan agama bukanlah urusan negara. Itu sepenuhnya adalah urusan manusia dengan Tuhan.

Mungkinkah kita menempatkan diri sebagai calo, sebagai perantara, untuk menghubungkan manusia dengan Tuhan? Bisakah kita melakukan hal itu?

Berapa besar anggaran kita untuk membina departemen agama dan lembaga-lembaga keagamaan lain? Apa perlu? Untuk apa? Setelah sekian tahun “membina” umat, apakah departemen dan lembaga-lembaga itu berhasil memberi kita seorang Soekarno, seorang Hatta, seorang Sutan Takdir Alisyahbana?

Hingga hari ini pun, para pemikir kita masih merupakan produk pendidikan dasar beberapa dasawarsa yang lalu. Akhir-akhir ini kita belum lagi berhasil melahirkan orang-orang berkaliber seperti Gus Dur, Cak Nur, Syafei Marif dan rekan-rekan mereka yang hampir seluruhnya sudah memasuki usia uzur.

Curahkan seluruh energimu, gunakan seluruh daya dan upayamu – untuk membenahi masa kini. Belajarlah dari kegagalan dan keberhasilan masa silam, karena itulah bekal utama yang kau miliki. Tetapi, janganlah hidup dalam masa silam. Segemilang dan secemerlang apa pun masa silam, ia sudah berlalu. Masa silam tidak dapat mengubah hidupmu kini.

Untuk mengubah hidupmu kini, berkaryalah sekarang dan saat ini juga. Janganlah memboroskan energimu untuk berpikir tentang hasil karyamu. Bila karyamu baik, maka hasilnya pun sudah pasti baik. Yakinilah hal ini.

6. Everyone is Human.

“I claim to be a simple individual liable to err like any other fellow mortal. I own, however, that I have humility enough to confess my errors and to retrace my steps.” – Aku hanyalah seorang manusia biasa yang dapat berbuat salah seperti orang lain juga. Namun, harus kutambahkan bahwa aku memiliki kerendahan hati untuk mengakui kesalahan-kesalahanku dan memperbaikinya.

“It is unwise to be too sure of one’s own wisdom. It is healthy to be reminded that the strongest might weaken and the wisest might err” – Mempercayai kebijakan diri saja adalah tindakan yang tidak bijak. Kita mesti ingat bahwa sekuat apa pun diri kita, bisa menjadi lemah; sebijak apa pun diri kita, masih bisa berbuat salah.

Menjadi “manusia biasa” adalah tujuan hidup setiap manusia. Manusia tidak lahir untuk menjadi sesuatu yang lain. Ia tidak lahir untuk menjadi malaikat atau dewa. Ia lahir untuk menjadi manusia, manusia biasa.

Namun, betapa sulitnya menjadi manusia biasa. Adalah sangat mudah bagi kita untuk mengaku sebagai “ini” dan “itu” – sebagai umat dari agama tertentu – sebagai alumni dari universitas tertentu – sebagai politisi dari partai tertentu. Dan, betapa sulitnya bagi kita untuk mengaku, “aku orang Indonesia”.

Aku bukan orang Arab, bukan Cina, bukan India, bukan Bule… Aku orang Indonesia. Sulit, maha sulit…. Sudah memiliki partai dengan agenda tertentu, masih saja membuat partai lain dengan agenda yang tidak jauh beda, bahkan mirip. Kenapa? Karena, aku ingin menunjukkan bahwa diriku beda, bukan seperti mereka. Aku bukan orang biasa, aku luar biasa.

Adakah seorang pemimpin di antara kita yang mengaku dirinya orang biasa? Orang Indonesia biasa yang kebetulan dipercayai untuk tugas melayani sesama anak bangsa…. adakah seorang pemimpin seperti itu?

Tidak, tidak ada, belum ada…. Untuk memperburuk keadaan ini – kita sebagai rakyat, sebagai pemilih para pemimpin itu – malah menciptakan mitos seputar mereka. Mitos itu pun sesungguhnya hanyalah untuk memuaskan ego kita pribadi.

Pemimpinku rajin berdoa… Wow, hebat, tepuk tangan… Adakah pemimpinmu memiliki hati lembut dan penuh dengan rasa? Adakah pemimpinmu memiliki pikiran yang jernih dan pandangan serta wawasan yang luas? Adakah pemimpinmu memiliki semangat yang membara untuk melayani dan bukan untuk berkuasa?

Kita membutuhkan sosok seorang pemimpin yang tidak hanya berani, tetapi bijak. Tidak hanya menjawab, tetapi membalas dengan penuh welas-asih. Tidak sekedar bertindak, tetapi berperilaku yang baik.

Black campaign yang sering terjadi antara calon pemimpin, ada kalanya bukanlah kemauan para calon sendiri, tetapi kemauan tim sukses mereka, dan partai-partai pendukung mereka. Sehingga pelesetan kata-kata, perusakan citra – semuanya menjadi halal. Komisi Pemilihan Umum memang bukan lembaga agama, sehingga tidak bisa mengeluarkan sertifikat halal bagi kampanye yang sopan dan haram bagi kampanye yang tidak sopan. Maka, berlangsunglah keduanya tanpa kendali moral.

Nilai-nilai luhur terlupakan dalam kampanye. Agama dibawa-bawa. Pertanyaan “kenapa bisa” tak terpikir, apa lagi terjawab.

Agama bisa dibawa-bawa karena kolom agama di kartu tanda pengenal kita, persis seperti di Arab Saudi. Di negara lain mana pun jua, agama tidak menjadi bagian dari urusan instansi kependudukan.

Kita tidak mencari solusi bagi persoalan inti itu, kemudian mencak-mencak sendiri. Di negeri kita, urusan kawin saja menjadi urusan agama, maka ada kalanya suami dan isteri yang masing-masing mau bertahan pada agamanya mesti melakukan kompromi. Salah satu mengalah, dan menerima agama pasangannya. Atau, mengakali kantor catatan sipil dengan cara lain.

Jadilah manusia biasa, pertahankanlah kebiasaanmu….. Jadi pemimpin, jadi profesional, jadi apa saja – kita tetaplah manusia biasa, dengan segala kelemahan dan kekurangan kita.

Mari kita mengajak sesama anak bangsa, kawan dan lawan kita, untuk ikut menjadi manusia biasa. Manusia yang tidak diperbudak oleh sistem, oleh dogma dan doktrin, oleh agamawan dan rohaniwan, oleh lembaga keagamaan dan upacara keagamaan – tetapi berhamba sepenuhnya pada Gusti Allah, pada Hyang Widhi, pada Adi Buddha, pada Tao yang Sejati, pada Bapa di Surga…

Mereka yang telah kehilangan kebiasaan diri – saatnya menemukan kembali. Karena, kebiasaan diri kita adalah kemanusiaan kita – dan bila itu hilang, maka binasalah diri kita. Tanpa kemanusiaan, kita menjadi hewan, menjadi setan…. Tanpa kemanusiaan, kita tidak bisa mengapresiasi kelembutan rasa manusia – kita menjadi keras.

Radar Bali, Senin 7 Juli 2008 

About admin

Check Also

Isra Mi’raj; Peristiwa Metamorfosa Akal

Isra Dari sebagian definisi pada umumnya, barangkali sedikit bisa kita “raba” tentang pengertian umum dari ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *