Monday , December 10 2018
Home / Relaksasi / Renungan / Sepuluh Butir Kebijakan Mahatma Gandhi (Bagian 1)

Mahatma Gandhi(Henrik Edberg, seorang blogger berbakat yang mengaku sangat terpengaruh oleh ajaran Mahatma Gandhi, mengumpulkan sepuluh butir kebijakan ini dari wejangan dan tulisan Sang Mahatma. Sungguh menarik, karena apa yang terpikir oleh sang Mahatma bukanlah sesuatu yang bisa menjadi usang karena waktu. Pemikiran beliau sangat universal..... Ulasan mendalam dalam sepuluh bagian ini saya persembahkan kepada para pemimpin bangsa, khususnya bagi para calon gubernur Bali dan siapa yang akan terpilih nanti, semoga berkenan...... a.k.)

Sepuluh Butir Kebijakan Mahatma Gandhi (Bagian 1)

“You must not lose faith in humanity.
Humanity is an ocean;
if a few drops of the ocean are dirty,
the ocean does not become dirty.”

Hendaknya kau tidak berputus asa terhadap kemanusiaan.
Kemanusiaan bagaikan samudera.
Beberapa tetes air kotor tidak mampu mengotori seluruh samudera.

 

Kepercayaan Sang Mahatma, keyakinannya pada manusia, pada kemanusiaan dan perikemanusiaan sungguh luar biasa. Kepercayaan ini, keyakinan ini muncul dari eksperimen yang dilakukannya sepanjang hidup – eksperimen dengan dirinya sendiri.

Ia tidak hanya menemukan benih-benih kebaikan di dalam dirinya, tetapi juga benih-benih keburukan. Ia berhasil menemukan Kebenaran, tetapi juga kepalsuan; Cinta-kasih dan Kelembutan, juga kebencian dan kekerasan. Maka, ia melakukan jihad besar, jihad melawan napsu sendiri.

Barangkali hanyalah segelintir di antara kita yang tahu betapa besar peran sebuah ayat dari Al-Qur’an yang berhasil mengubah Mohandas menjadi Mahatma. Di Afrika Selatan, Mohandas muda – seorang pengacara lulusan Inggris – dipermalukan oleh kondektur kereta api berkulit putih. Ia ditendang keluar dari gerbong yang diperuntukkan bagi kulit putih.

Saat itu ia memperoleh hiburan, ilham, semangat dan keberanian dari sebuah ayat Al-Qur’an yang dibukanya secara acak. Ia harus menolak kezaliman – ya….. tetapi, adalah seorang Gandhi pula yang menentukan sendiri “cara” untuk menolak kekerasan. Bila para radikal di negeri kita dan di mancanegara mengartikan ayat tersebut sebagai anjuran untuk mengangkat senjata, maka Gandhi justru sebaliknya.

Ia menolak kezaliman dengan cara yang tidak zalim. Ia juga memahami betul anjuran Yesus, Sang Masiha, bahwa kejahatan tidak mesti dilawan dengan kejahatan.

Gandhi menempuh jalur tanpa kekerasan untuk menghadapi kekerasan. Dan, dia berhasil. Dia keluar sebagai pemenang, tanpa mempermalukan pihak yang kalah. Dengan cara itu, tanpa sengaja ia melakoni salah satu butir kebijakan Nusantara.

Sepuluh Butir Kebijakan yang dipetik dari ajaran beliau ini bukanlah Sepuluh Perintah, bukanlah urusan agama, tetapi urusan nilai-nilai keagamaan. Ini bukanlah urusan Tuhan, tetapi urusan Ketuhanan. Ini adalah urusan manusia dan kemanusiaan, urusan spiritualitas.

Bila Anda masih terjebak dalam pengotakan agama – maka butir-butir ini bukanlah bagi Anda. Karena, pengotakan semacam itu menjauhkan diri Anda dari manusia, kemanusiaan, dan perikemanusiaan. Pengotakan seperti itu, membuat manusia menjadi fanatik, fasis, radikal. Padahal Agama hanyalah jalan, sarana, untuk mengungkapkan kemanusiaan manusia.

1. Change Yourself.

“You must be the change you want to see in the world.” – Kau sendiri mesti menjadi perubahan seperti yang kau inginkan terjadi dalam dunia ini.

Perubahan mesti dimulai dari diri sendiri. Janganlah mengharapkan perubahan dari dunia luar. Janganlah menunda perubahan diri hingga dunia berubah. Coba perhatikan, dunia ini senantiasa berubah. Dirimu saja yang tidak ikut berubah. Maka, kau menciptakan konflik antara dirimu dan dunia ini.

Mereka yang sedikit-sedikit menggunakan isu SARA (Suku, Agama, Ras dan…….), sesungguhnya masih hidup dalam masa lalu – masa ketika isu SARA di negeri ini memang diciptakan untuk menindas siapa saja yang ingin ditindas oleh pihak yang berkuasa.

Isu SARA sudah tidak ada, kecuali di dalam benak kita sendiri. Maka, apa saja yang keluar dari benak itu, dari pikiran itu – sudah pasti berbau SARA. Bila pikiran semacam itu menelurkan sebuah partai politik, LSM, perkumpulan, atau apa saja – maka semuanya akan memiliki aroma SARA.

Pengotakan manusia berdasarkan suku, ras, agama, kepercayaan dan lain sebagainya – lahir dari pikiran yang masih belum dewasa. Pikiran yang masih hidup dalam masa lampau, masih sangat regional – belum universal.

Pikiran seperti inilah yang telah mengacaukan negeri kita saat ini. Kita hidup dalam kepicikan pikiran kita, dalam kotak-kotak kecil pemikiran kita – tetapi ingin menguasai seluruh Nusantara, bahkan kalau bisa seluruh dunia. Jelas tidak bisa.

Dunia telah mengakui asas Anti-Kekerasan yang dikumandangkan oleh Mahatma, kita malah menolaknya: “Ah, tidak ada tuh konsep tanpa kekerasan di dalam agama saya.”

Kita menantang, “Panutan saya pun melakukan kekerasan terhadap mereka yang dianggapnya musuh karena kemunafikan mereka. Mereka yang bicara tentang anti-kekerasan tidak memahami agama secara keseluruhan. Mereka memahaminya setengah-setengah.”

Padahal, sesungguhnya si penantang itu sendiri yang memahami agama setengah-setengah. Urusan kontekstual tempo doeloe dibawa hingga masa kini. Kekuasaan dan kedudukan pun digunakan untuk membela kejahatan dan kekerasan yang dilakukan atas nama agama.

Kita masih hidup dengan ego kita, keangkuhan dan arogansi kita; kebencian dan amarah kita, kelemahan dan kekerasan hati kita…. Dengan jiwa yang masih kotor itu, kita ingin memperoleh kekuasaan, kedudukan, harta – maka jelaslah kita menghalakan segala macam cara.

Berubahlah, bila kau ingin menjadi pemimpin – ubahlah sikapmu dari penguasa menjadi pelayan. Bila kau masih belum mampu mengendalikan dirimu sendiri, napsumu sendiri – maka janganlah berharap kau dapat mengendalikan keadaan di luar diri.

Bagi seorang pemimpin, “Perubahan Diri” menjadi tantangan utama. Partai mana pun yang mendukungmu, begitu terpilih menjadi pemimpin kau harus mampu memisahkan diri dari visi, misi, dan kepentingan partai yang “terbatas” dan memikirkan kepentingan rakyat yang “luas”.

Jaket partai harus kau tanggalkan, sebagaimana dianjurkan oleh Bapak Bangsa Bung Karno, dan jaket kebangsaan yang mesti kau pakai.

Begitu terpilih sebagai pemimpin, kau sudah tidak dapat lagi mewakili kepentingan kelompok, kau mesti mewakili kepentingan seluruh rakyat.

Mampukah kau menjadi pemimpin seperti itu? Mampukah kau mengubah diri?

Bila jawabanmu “ya” – maka, lanjutkan perjalananmu untuk menyelami butir kedua kebijakan Mahatma…..

Radar Bali, Kamis 26 Juni 2008 

 

About admin

Check Also

Mendekonstruksi Agama Lewat Politik Kebencian

Hiruk pikuk jagat politik jelang Pilpres 2019 hampir tak pernah sepi, dari soal narasi nyinyir ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *