Tuesday , December 18 2018
Home / Berita / Selamat Sore [Calon] Presiden

Selamat Sore [Calon] Presiden

Selamat Sore [Calon] PresidenOleh: Erwin Usman*

Presiden Indonesia Yang Mulia,

Saya tak hendak mengajar Yang Mulia soal bagaimana mengatur pemerintahan dan menata pembangunan. Juga soal bagaimana membuat hati dan pikiran masyarakat Indonesia bisa damai, dan berkeadilan sosial.

Kenapa? Pertama, karena itu sudah ada amanatnya dalam Undang-Undang Dasar 1945, Pancasila, dan ribuan peraturan di bawahnya. Yang Mulia bisa membaca-ulang risalah konstitusi itu, biar tak khilaf dalam bertindak.

Yang kedua, sudah banyak ahli dan pakar di sekitar Yang Mulia yang cakap dan mahfum membentangkan peta masalah dan menunjukan solusi terbaik soal itu.

Ketiga, demikian juga sudah tak terkira rekomendasi, artikel, buku, jurnal, dan sejenisnya dari beragam sektor, baik individu, lembaga swadaya masyarakat, universitas, badan-badan swasta maupun pemerintahan, yang mengurai dengan sangat jeli urusan-urusan itu.

Bagi saya itu lebih dari cukup Yang Mulia. Di sini, saya sekedar menyampaikan: harapan. Yang Mulia boleh sebut ini “surat terbuka”.Presiden Yang Mulia,

Jika dikehendaki Tuhan Yang Masa Esa, dalam lima tahun ke depan, Yang Mulia berkuasa, saya hendak menyampaikan tiga hal.

Ketiga hal ini, saya ajukan dengan pertimbangan, Yang Mulia dan para pembantu di kabinet akan berani dan sanggup melakukannya. Apalagi ini untuk martabat dan kedaulatan bangsa. Tentu saja, selayaknya Presiden, dukungan luas rakyat, utamanya yang di akar rumput, sangat penting diraih untuk secara bergotong royong menjalankan asa ini.

Pertama, tegakkan hukum seadil-adilnya. Yang korupsi dan mencuri uang rakyat hukum seberat-beratnya. Mulailah hidup sederhana dari Yang Mulia dan keluarga sendiri. Lalu, di partai pengusung Yang Mulia, para pembantu pemerintahan, sampai yang terbawah. Karena rakyat butuh contoh dari pemimpinnya. Bukan butuh pidato dan upacara-upacara.

Buatlah sistem yang terbaik untuk ini. Ajak para ahli terbaik untuk bahas ini. Sudah jenuh kita dengar dan saksikan, nyaris tiap hari, ada saja koruptor tertangkap atau diadili.Tertangkap satu, seribu yang lain lakukan lagi.

Yang Mulia mesti dukung Komisi Pemberantasan Korupsi untuk bisa bekerja lebih baik dan cepat berantas korupsi. Sebaiknya tindakan ini dimulai dari istana presiden dan keluarga atau kolega dekat di partainya.

Apakah Presiden tak malu jika pidato hidup sederhana, tapi datang ke rakyat miskin dengan pesawat jet, mobil jeep dan kuda yang harganya milyaran rupiah? Belum lagi, bawa pasukan pengawal yang banyak dan tentu saja butuh dana besar untuk operasional mereka itu?

Jangan lupa Yang Mulia, usut dan kejar harta para koruptor BLBI, Bank Century, serta Soeharto dan kroninya. Biar dana-dana itu bisa dipakai untuk bangun sekolah, pusat kesehatan rakyat terpadu, beasiswa anak-anak miskin, pinjaman bergulir bagi UKM, pengadaan sarana air bersih, dukungan listrik untuk desa, perbaikan infrastruktur dasar rakyat, pembangunan industri dasar, serta memperkuat pertahanan nasional.

Kedua, kembalikan kedaulatan rakyat atas kekayaan alam. Sudahi menjual kekayaan alam untuk kepentingan imperealisme dan makin jayanya barisan korporasi. Penuhi dahulu urusan dan kepentingan nasional. Kuatkan koperasi dan sektor-sektor usaha kerakyatan. Yang Mulia bisa jadikan Pasal 33 UUD 1945 sebagai panduan sekaligus pondasi menjalankan program ini.

Yang tak kalah penting, kunjungilah pada kesempatan pertama lokasi tambang asing, migas dan perkebunan skala besar. Daftarnya banyak sekali. Yang Mulia bisa pilih sepuluh korporasi yang terkakap. Di sana Yang Mulia bisa melihat bentang neokolonialisme tumbuh subur. Dari situ Yang Mulia bisa tentukan sikap dan posisi politik. Lihat dahulu faktanya. Periksa pajak mereka, perlakuan pada buruhnya, penguasaan lahan yang super luas, bagaimana cara mereka mendapatkan konsesi itu, serta tuntaskan konflik agraria dan masalah lingkungan hidup yang menyertainya.

Ketiga, tegakkan kedaulatan ekonomi bangsa. Yang Mulia tentu paham, bahwa APBN kita tiap tahun sudah megap-megap akibat tekanan bayar utang. Dengan jumlah total utang pemerintah dan swasta mencapai Rp3.000 Triliun yang ada sekarang ini rasanya susah masuk di akal kami.

Yang Mulia Presiden mesti tegas pada Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, IMF, dan sekutunya. Cara membangun bangsa dengan tergantung pada utang luar negeri, sudahi. Lakukan moratorium. Sambil, kumpulkan semua ahli dan pakar, untuk merumuskan tindakan ekonomi politik yang konstitusional, agar beban utang yang dibuat rezim sebelumnya, bisa dihapuskan. Apalagi, utang-utang terdahulu itu, banyak dibuat dengan skema agar mudah dikorupsi birokrasi. Selain didesain untuk intervensi hukum dan kebijakan publik agar menjadi ramah pada modal asing dan kuasa kapitalisme.

Katakan saja pada tuan dan nyonya dari Bank Dunia dan sekutunya itu, bahwa cukuplah mereka membantu Indonesia selama ini. Biarkan kami menjalankan wasiat “Trisakti” Bung Karno.

Yang Mulia Presiden Indonesia,

Karena Yang Mulia saya dengar gandrung pada ide dan gagasan-gagasan besar sang Proklamator Indonesia, Bung Karno. Maka sebagai risalah akhir, perkenankan saya mengutip dua pesannya.

Apakah kita mau Indonesia merdeka yang kaum kapitalisnya merajalela, ataukah yang semua rakyatnya sejahtera, yang semua orang cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang pangan kepadanya?”

Sungguh Tuhan hanya memberi hidup satu kepadaku, tidak ada manusia mempunyai hidup dua atau hidup tiga. Tetapi hidup satunya akan kuberikan, insya Allah Subhanahuwata’ala, seratus persen kepada pembangunan tanah air dan bangsa. Dan… dan jikalau aku misalnya diberikan dua hidup oleh Tuhan, dua hidup ini pun akan aku persembahkan kepada tanah air dan bangsa.

Yang Mulia Presiden,

Demikian saja harapan saya sebagai orang biasa di negeri ini. Doa saya semoga Yang Mulia diberkati Tuhan Yang Maha Penyayang kesehatan lahir dan batin untuk menuntun bangsa Indonesia pada keadaan yang lebih adil, damai, makmur dan sejahtera.

*) Penulis adalah pembelajar hukum sumberdaya alam di Indonesia Mining and Energy Studies [IMES] Jakarta.

About admin

Check Also

Penjajahan Hening Ala Cina

Telaah Kecil Geopolitik atas Terbitnya Alipay dan WeChat di Indonesia Kepentingan nasional yang paling utama ...